Pembacaan Pertama:
Pembacaan Mazmur:
Bait Pengantar Injil. Alleluia:
Pembacaan dari Injil Santo
Markus:
Kalender Liturgi 2026 Tahun A/II.
Warna Liturgi Merah.
Madah
Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius:
Saudara terkasih, engkau telah mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokhia, di Ikonium dan di Listra. Semua penganiayaan itu kuderita, dan Tuhan telah melepaskan daku dari semua itu. Memang setiap orang yang mau hidup saleh dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya. Sebaliknya orang jahat dan penipu akan bertambah jahat; mereka menyesatkan dan disesatkan.
Tetapi engkau, hendaklah tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu. Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus. Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian orang-orang kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
1. Pengejar dan lawanku banyak, tetapi aku tidak menyimpang dari peringatan-peringatan-Mu.
2. Dasar firman-Mu adalah kebenaran dan untuk selama-lamanya segala hukum-Mu yang adil.
3. Para pembesar mengejar aku tanpa alasan, tetapi hanya terhadap firman-Mu hatiku gemetar.
4. Besarlah ketenteraman orang-orang yang mencintai hukum-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka.
5. Aku menantikan keselamatan yang datang dari pada-Mu, ya Tuhan, dan perintah-perintah-Mu kulakukan.
6. Aku berpegang pada titah dan peringatan-peringatan-Mu, sebab seluruh hidupku terbuka di hadapan-Mu.
Bait Pengantar Injil – Yohanes 14:23
R. Alleluia, alleluia.
Barangsiapa mengasihi Aku, akan mentaati sabda-Ku. Bapa-Ku akan mengasihi dia, dan Kami akan datang kepadanya.
R. Alleluia, alleluia.
Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus:
Pada suatu hari Yesus mengajar di Bait Allah, katanya, “Bagaimana ahli-ahli Taurat dapat mengatakan, bahwa Mesias adalah anak Daud? Daud sendiri berkata dengan ilham Roh Kudus, ‘Tuhan telah bersabda kepada Tuanku: Duduklah di sisi kanan-Ku, sampai musuh-musuh-Mu Kutaruh di bawah kaki-Mu.’ Jadi Daud sendiri menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia sekaligus anaknya?” Orang yang besar jumlahnya mendengarkan Yesus dengan penuh minat.
Untuk renungan kita hari ini:
Bahan renungan ini sesuai untuk semua lapisan masyarakat khususnya untuk kegunaan peribadi, keluarga dan komuniti. Setiap kelompok dan kumpulan mahupun Kongregasi yang ada di dalam Yesus, Maria, Yusuf Pelayanan Kasih (Blessed and Saints and the Nine Choirs of Angels) digalakkan untuk menggunakannya secara bebas.
Renungan pembacaan pada hari ini.
Kehidupan Para Orang Kudus.
Peringatan Wajib Santo Bonifasius – Uskup & Martir
Bahasa Indonesia (klik disini)
I. St. Bonifasius lahir pada tahun 680, di Kirton daerah Devonia (Devonshire), dan menerima nama Winfridus pada Pembaptisannya. Sejak usia lima tahun, ia begitu senang mendengar ajaran tentang Allah & hal-hal surgawi. Beberapa biarawan yang bertugas melakukan Misi di negerinya datang ke rumah ayahnya. Begitu terkesannya Winfridus dengan perilaku para biarawan yang membangun itu serta ajaran-ajaran mereka, sehingga timbullah keinginan membara dalam benaknya untuk menjalani kehidupan membiara. Meski masih kanak-kanak, kesan akan kebajikan yang terbekas pada hatinya sejak saat itu takkan pernah bisa dihapuskan.
II. Ia menjadi Rohaniwan
Ayahnya pertama-tama percaya bahwa keinginan Winfridus menjadi Biarawan akan pudar seiring bertambah usianya; namun ayahnya itu salah & keinginannya itu justru membesar hari demi hari. Sia-sia ia menggunakan segenap wibawanya untuk mengarahkan Winfridus kepada ide-ide lain serta kegemaran-kegemaran yang berbeda. Namun ketika jatuh sakit parah, ayahnya itu mengenali tangan Tuhan yang menghajarnya sebagai hukuman karena ia menghambat kehendak-Nya terlaksana. Tak lagi ia mengganggu anaknya & diizinkannya Winfridus mengikuti panggilannya. Winfridus menghabiskan tiga belas tahun di Biara Escancester (Exeter), di bawah bimbingan Kepala Biara suci Wolfardus. Di sana, pelajaran tata bahasa yang digelutinya dibaktikannya dengan penuh kerajinan untuk tujuan doa dan meditasi. Tanpa menjadi rohaniwan, ia mengamalkan segala mati raga yang dilakukan Komunitas itu, yang di dalamnya ia menjadi anggota sejak mengambil kaul.
III. Kemudian, lepas diutus ke Biara Nutcell (di Dioses Winchester. Biara ini telah dihancurkan oleh bangsa Demark dan tidak pernah dibangun kembali) yang dipimpin oleh Winbertus yang tersohor & terkenal baik karena sekolahannya maupun keteraturan disiplinnya, ia membuat kemajuan besar dalam Kesastraan, Retorika, Sejarah & pengetahuan tentang Kitab Suci. Kepala Biaranya pun sejak saat itu menugaskan Winfridus mengajar ilmu-ilmu yang sama. Tugas itu dilaksanakannya dengan amat gemilang. Namun pada saat itu juga, ketika orang lain mendapat manfaat dari terang pengajarannya, ia sendiri menyempurnakan diri dengan faedah berganda yang didapatkannya dari matangnya akal seiring silih bergantinya tahun serta kewajibannya untuk meneruskan pelajaran-pelajaran mendasar itu dengan penuh keteraturan.
IV. Ketika sampai usia tiga puluh tahun, Kepala Biaranya mengangkat Winfridus menjadi Imam. Sejak saat itu, ia bekerja terutama dalam pelayanan sabda & pengudusan jiwa-jiwa. Reputasi kebajikan dan hikmatnya begitu harum, sehingga para Superior menugaskannya dengan amanat yang sangat penting untuk membantu Bertualdus, Uskup Agung Kantuaria (Canterbury). Itu dilaksanakannya dengan penuh keberhasilan; dan tugas itu membuktikan kelayakannya yang begitu besar, sehingga Bapak Uskup Agung & Raja Ine yang saleh memandang tinggi Winfridus. Para Uskup dari Provinsinya pun mengundangnya ke semua Sinode yang mereka langsungkan di kemudian hari & tak henti-hentinya mereka dalam membuat Keputusan, meminta pendapat Winfridus sebelumnya.
V. Ia pergi berkhotbah di Frisia
Winfridus yang suci itu terbakar dengan semangat demi kemuliaan Allah & keselamatan jiwa-jiwa. Malam dan siang ia mengeluhkan rakyat yang masih tenggelam dalam gelapnya penyembahan berhala. Tergerak oleh desakan-desakan saleh ini, ia meminta nasihat dari Surga supaya tahu apabila dirinya terpanggil untuk menjadi Misionaris. Tak lagi mampu meragukan panggilannya, ia pun berbicara kepada Kepala Biaranya di tahun 716 & dan darinya memperoleh izin untuk pergi mewartakan Injil kepada orang-orang kafir di Frisia. Namun ia mendapati kesulitan-kesulitan besar dalam pelaksanaan usahanya itu. Kesulitan-kesulitan utama yang dihadapinya timbul karena peperangan yang sedang dilakukan Karolus Martelus (Pembesar Istana Prancis) & Radbodus (Raja Frisia). Namun Hamba Allah itu tetap maju sampai ke Ultrayektum (Utrecht), ibu kota negara tersebut. Kepada Sri Raja, ia meminta diberi kebebasan untuk mewartakan Firman Allah; namun dengan hati keras, permohonannya itu ditolak. Maka Winfridus kembali menempuh jalan menuju Britania & kembali ke biaranya.
VI. Winbertus meninggal dunia beberapa waktu kemudian; karena itu, Winfridus pun dipilih sebagai penerusnya dan semua pemungutan suara semufakat memilih Winfridus. Sia-sia dirinya berusaha menghindari Jabatan tersebut, dengan mengajukan alasan bahwa dirinya terpanggil untuk mewartakan Iman kepada bangsa-bangsa kafir. Ia kembali bersuara tentang tugasnya itu dan kali ini ia mengalami keberhasilan, ketimbang yang sebelumnya. Sebab, ia melibatkan Daniel, Uskup Winchester, supaya bisa mendapat pelepasan jabatannya, serta izin agar ada seorang Kepala Biara lain yang dinobatkan sebagai penggantinya.
VII. Misi-misinya di Jerman
Setelah tinggal dua hari di Britania, ia pergi ke Roma & memperkenalkan diri kepada Paus Gregorius II, untuk memohon berkat dari Sri Paus, bersama kuasa yang dibutuhkannya untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa kafir. Gregorius menyuruhnya memperlihatkan beberapa Surat kepada Uskupnya. Usai membaca surat-surat itu, ia bercakap-cakap selama beberapa waktu dengannya. Percakapan itu semakin memperbesar bobot kesaksian baik yang diberikan oleh Uskup Daniel dari Winchester tentang Winfridus. Sri Paus, penuh rasa hormat terhadap orang kudus itu, memperlakukannya dengan begitu baik & memberikannya kuasa penuh untuk mewartakan Injil kepada seluruh penyembah berhala di negeri Jerman. Ia menyediakannya banyak Relikui, dan kemudian, setelah memberikannya berkat, Sri Paus memberikannya berbagai surat rekomendasi tertuju kepada para Pangeran Kristiani yang mungkin dijumpainya pada perjalanannya.
VIII. Misionaris suci itu pergi tanpa menunda-nunda menuju Jerman. Di Bavaria & Thuringialah Winfridus pertama-tama melaksanakan tugas apostoliknya. Di sana, ia membaptis banyak orang kafir. Ditemukannya umat Kristen di Bavaria & provinsi-provinsi yang bertetangga dengan Prancis; namun akibat berurusan dengan kaum penyembah berhala, segala cinta akan Iman hampir padam dalam diri mereka. Para Uskup dan Imamnya pun hampir tidak lebih suci daripada para Umat. Winfridus membawa mereka supaya berubah perilakunya & memberi wejangan-wejangan kepada mereka berkat pidato-pidatonya yang kuasa, supaya hidup seturut semboyan-semboyan Injil & menaati disiplin Gereja yang telah mereka langgar berat-berat.
IX Mendapat kabar bahwa Karolus Martelus telah menjadi penguasa Frisia dengan kematian Raja Radobdus & bahwa sejak saat itu, dirinya memiliki kebebasan untuk mewartakan Injil di sana, ia pergi ke negeri itu (Frisia) sesegera mungkin. Pekerjaannya digarap bersama dengan Wilibrordus, Uskup suci, selama selang waktu tiga tahun. Banyak jiwa dimenangkannya demi Yesus Kristus. Namun segera setelah mengetahui bahwa St. Wilibrordus berencana menjadikannya sebagai penerusnya, ia meninggalkan Misi itu, sebab tak ingin dirinya menanggung beban Keuskupan. Alasan penolakannya adalah Sri Paus telah menugaskannya untuk mewartakan Injil kepada para Penyembah Berhala di Jerman. Lepas meninggalkan Frisia, ia menjelajahi Hasia (daerah negeri Jerman, Hesse dalam bahasa Jerman) & suatu wilayah di Saxonia. Di mana-mana ia sibuk membaptis orang-orang pagan & mendirikan bangunan-bangunan Gereja bagi mereka atas reruntuhan kuil-kuil dari berhala-berhala mereka.
X. Ia dikonsekrasikan sebagai Uskup
Namun ia mengabari Sri Paus tentang keberhasilan Misi-Misinya, dalam sepucuk surat yang ditulisnya kepada Sri Paus & dikirimkannya melalui salah seorang rekan kerjanya. Pada saat itu juga, ia meminta nasihat tentang beberapa kesulitan yang dihadapinya dalam melaksanakan pelayanannya. Sri Paus memuliakan Tuhan oleh sebab kabar baik yang diterimanya. Ucapan selamat dituliskan oleh Sri Paus kepada Misionaris suci itu. Ia juga memerintahkannya dalam surat yang sama, agar ia pergi ke Roma. Hamba Allah itu segera taat & sampai di kota itu pada tahun 723. Gregorius II meminta darinya sebuah Pengakuan Iman, seperti yang dilakukan kepada para Uskup terpilih yang akan dikonsekrasi. Sri Paus lalu mengajukan berbagai pertanyaan mengenai keadaan negeri-negeri konvert tersebut & beberapa hari kemudian, Sri Paus mengonsekrasikannya sebagai Uskup. Pada kesempatan itulah, seturut laporan Wilibaldus, Sri Paus mengubah nama orang kudus itu dari Winfridus (namanya) menjadi Bonifasius. Namun tampaknya perubahan itu sudah terjadi lebih lama. Sebab, kita melihat pada surat-surat Hamba Allah itu, bahwa sudah sebelumnya, ia menyandang nama Bonifasius bersama-sama dengan Winfridus.
XI. Bonifasius (demikianlah panggilan Santo ini sejak saat itu), bersumpah akan menjaga kemurnian Iman & kesatuan Gereja. Ditinggalkannya pada makam St. Petrus, sebuah salinan sumpah tersebut, yang ditulis oleh tangannya sendiri. Sri Paus memberikannya kitab Hukum Kanon pilihan untuk dijadikannya sebagai kaidah berperilaku. Sri Paus juga memberi rekomendasi baik pada surat-surat itu kepada Karolus Martelus, kepada para Pangeran & para Uskup melalui Distrik yang mungkin akan dilewatinya.
XII. Orang kudus itu pun kembali ke Hasia, dan di sana melanjutkan karya-karyanya, juga dengan penuh keberhasilan.
XIII. Pada waktu itu, banyak penduduk Hasia yang dibawa masuk iman Katolik & diteguhkan oleh rahmat roh tujuh kali lipat,[1] menerima penumpangan tangan; sedangkan yang lain, bahwasanya masih belum dikuatkan rohnya, menolak seluruh pelajaran iman yang murni. Selain itu, beberapa dari mereka sering kali sembunyi-sembunyi, namun terkadang secara terbuka, memberi persembahan kepada pepohonan dan mata air. Beberapa secara rahasia, yang lain secara terbuka, mempraktikkan persembahan kurban dan ilmu ramal, sulap dan jampi-jampi; beberapa memalingkan perhatian mereka kepada ilmu nujum dan pertanda-pertanda serta berbagai macam ritual pengorbanan;[2] sedangkan yang lain, yang lebih sehat pikirannya, meninggalkan segala paganisme serta kebarbaran dan sama sekali tak melakukan hal-hal ini.
XIV. Berkat nasihat dan petuah warga yang lebih sehat pikirannya ini, St. Bonifasius berupaya menumbangkan[3] sebuah pohon ek yang luar biasa besar di tempat bernama Gaesmere,[4] dan julukan yang disandang pohon itu dari nama pagan tuanya, adalah Pohon Ek Yupiter.[5] Dan ketika dengan kekuatan hatinya yang tabah, ia sudah membuat potongan pada bagian bawah pohon itu,[6] hadirlah sejumlah besar orang pagan,[7] yang dalam jiwa mereka yang menggebu-gebu mengutuki musuh dewa-dewa mereka. Namun ketika sisi depan pohon itu baru terpotong sedikit saja,[8] tiba-tiba pohon ek yang besar padat itu dihempaskan oleh ledakan Ilahi dari atas, jatuh ke tanah, menanggalkan mahkota batangnya selagi jatuh; dan seakan-akan, oleh karena rencana Yang Mahatinggi, pohon itu juga meledak menjadi empat belahan batang yang sama besarnya, sama panjangnya. Itu disaksikan sedemikian rupa adanya oleh saudara-saudara yang berdiri di sana. Melihat hal ini, orang-orang pagan yang sebelumnya mengutuk, sekarang justru percaya dan memberkati Tuhan, dan meninggalkan cercaan mereka dahulunya. Dan kemudian, atas nasihat saudara-saudaranya, uskup amat suci itu membangun oratorium kayu dari kayu pohon tersebut, dan mendedikasikannya dalam penghormatan kepada St. Petrus Rasul.
XV. Ia dijadikan Primat atas seluruh Jerman
Dengan naiknya Gregorius XIII ke Takhta St. Petrus pada tahun 732, Bonifasius mengutus perwakilan untuk berkonsultasi dengannya tentang kesulitan-kesulitan baru yang timbul bagi St. Bonifasius. Sri Paus menerima para perwakilannya dengan penuh hormat & memercayakan mereka sebuah Palium agar dibawa oleh St. Bonifasius, yang akan digunakannya pada perayaan Misteri-Misteri ilahi dan pada konsekrasi Uskup. St. Bonifasius juga pada waktu yang sama dijadikannya Uskup Agung & Primat atas seluruh Jerman, dengan kuasa penuh untuk mendirikan Keuskupan di mana-mana atau di tempat kebutuhan tampak baginya.
XVI. Bonifasius melakukan perjalanan ketiganya ke Roma di tahun 738. Tujuannya adalah mengunjungi makam para Rasul & berdiskusi dengan Sri Paus tentang Gereja-Gereja yang telah didirikannya. Sri Paus memberikannya segala tanda kehormatan yang pantas bagi kekudusannya yang besar itu, dan menobatkannya sebagai Legatus Takhta Apostolik di Jerman.
XVII. Didirikannya beberapa Keuskupan
Sepulangnya ke negeri itu, Bonifasius dipanggil ke Bavaria oleh Adipati Odilo, supaya mengoreksi beberapa penyelewengan di sana. Karena untuk seluruh negeri Bavaria, baru ada Keuskupan Batavia (Passau), di sana ia mendirikan Keuskupan Salzburg, Freisingheim dan Ratisbonne, yang diteguhkan oleh Sri Paus pada tahun 739. Tidak lama setelahnya, ia mendirikan tiga Keuskupan Baru: satu di Erfordia (Erfurt), untuk Thuringia; yang lain di Barabourg, yang lalu dipindahkan ke Paderbrona (Paderborn), untuk Hasia; yang ketiga di Herbipolis (Würzburg), untuk Frankonia. Ditambahkannya pula Keuskupan Akstadium (Eichstätt) pada Palatinatus Bavaria.
Dengan meninggalnya Gregorius III pada bulan November tahun 741, Zakharia menjadi penerusnya. Seperti pendahulunya, Sri Paus punya rasa hormat yang besar kepada Bonifasius & meneguhkan segala yang telah sebelumnya dilakukan sehubungan Gereja Jerman.
Pada masa itulah tiba revolusi terkenal, yang mengalihkan Mahkota Prancis kepada keluarga yang lain. Karolus Martelus meninggal di tahun 741, pada usia 50 atau 55 tahun. Di bawahnya ada delapan puluh enam orang yang memerintah Prancis dengan jabatan Pembesar Istana, dengan hikmat dan keberanian yang begitu besar. Telah ditaklukkannya Burgundia dan Aquitania. Telah dipermalukannya bangsa Saxon & diraihnya beberapa kemenangan atas bangsa Sarasin yang menduduki Spanyol. Setelah kematiannya itu, jabatan Pembesar menjadi jabatan terwaris secara keturunan.
Karlomanus, putra sulung Karolus, meneruskannya dalam Pembesar Istana Austrasia, yakni, dari wilayah Lotaringia (Lorraine) & dari wilayah Jerman yang pada waktu itu tunduk kepada Prancis. Diutusnya Odilo dan Teodorikus (Thierry), yang satu Adipati Bavaria, yang lain Adipati Saxonia. Ia mewajibkan kedua-duanya supaya membayar upeti kepadanya. Bukannya Karlomanus mencintai perang, namun tujuan utamanya adalah memberi damai kepada rakyat, melindungi Agama dan memajukan perkembangan ilmu pengetahuan yang berguna. Dikerahkannyalah segenap wibawanya untuk menyokong semangat St. Bonifasius dalam segala yang dikerjakannya demi memperluas pengetahuan akan nama Yesus Kristus.
XVIII. Ia mengutuk Adalbertus & Klemens
Sekitar waktu itu, Iblis menghasut dua Pemalsu untuk mengganggu Gereja Jerman yang baru lahir itu. Yang satu bernama Adalbertus (terlahir sebagai Fransiskus), mengaku mengetahui rahasia-rahasia hati. Diberikannya kepada rakyat tak terdidik, sejumput rambut dan potongan-potongan kukunya, agar mereka percaya bahwa itu adalah relikui-relikui. Dia bahkan menulis secara pribadi, Riwayat Hidupnya sendiri, yang penuh dengan keajaiban-keajaiban konyol. Nama yang disandangnya dalam karya itu adalah nama seorang amatir yang penuh keangkuhan & keras hati mengikuti khayalan-khayalannya sendiri. Pemalsu kedua bernama Klemens, lahir di Skotlandia. Ia menolak disiplin Gereja dan mengajarkan bahwa ketika Yesus Kristus dulu turun ke Neraka, Ia membebaskan seluruh jiwa orang terkutuk. Ia juga mengajukan kesalahan-kesalahan lain mengenai predestinasi. Santo Bonifasius mengutuk kedua orang itu dalam sebuah Konsili yang dilangsungkan di Jerman. Dan Karlomanus memenjarakan mereka. Putusan St. Bonifasius dan para Uskup yang dihimpunnya, sejak saat itu diteguhkan oleh Sri Paus dalam sebuah Sinode di Roma pada tahun 743.[9] Di tahun 745, Bonifasius mengadakan sebuah Konsili lain di Lesinia (Lessines). Ini adalah sebuah Istana para Raja Austrasia, bertempat di Athum (Ath) di Dioses Kamerakum (Cambrai).
XIX. Melihat Rasul Bangsa Jerman penuh roh Allah, Karlomanus berperilaku seturut pandangan Bonifasius dalam segala sesuatu yang berkenaan keselamatannya. Ajaran-ajaran yang dia terima dari Bonifasius membakarnya dengan semangat baru terhadap Allah. Ia bahkan mulai berencana meninggalkan dunia sepenuhnya. Setelah menyerahkan Negara-Negaranya serta putranya, Drogonus, kepada Pipinus Pendek, ia pergi ke Roma mengunjungi makam para Rasul serta tempat-tempat devosi lainnya. Usai kemudian menyuruh pulang para pendampingnya, ia menerima jubah biarawan dari tangan Paus Zakharia, mengasingkan diri ke Gunung Sorakte (Soratte dalam bahasa Italia) & di sana membangun Biara yang menyandang nama St. Silvester. Ada banyak kunjungan dari daerah tetangga Roma ke sana, terutama dari wilayah Para Tuan Fransiskus, sehingga ia meminta nasihat Sri Paus tentang cara menghindari begitu banyaknya gangguan. Pergilah dirinya mengurung diri di Gunung Kasinus (Monte Cassino); di sana, ia hidup beberapa tahun penuh semangat dan kerendahan hati.[10] Dirinya sangat bersukacita karena bisa melakukan tanggung jawab Biara, seperti bekerja di dapur, menjaga kawanan domba & menggali tanah di taman.[11] Ia meninggal dunia di Vienne pada tahun 1755, pada sebuah perjalanan yang diwajibkan padanya untuk pergi ke Prancis, untuk beberapa perkara sehubungan Ordonya.
XX. Pipinus Pendek, saudaranya, pertama-tama memerintah dengan jabatan Pembesar Istana. Namun di tahun 752, ia terpilih Raja atas dasar mufakat bulat Negara. Kilderikus III sebelumnya telah diturunkan dari takhtanya, dipotong rambutnya dan dikurung dalam Biara. Ialah Pangeran yang mengakhiri Wangsa Raja Meroving.
XXI. Para penulis modern menggambarkan Pipinus sebagai seorang Pangeran yang berhiaskan berbagai macam sifat yang dimiliki para Raja agung. Mereka berkata bahwa semangatnya terhadap Agama & cintanya terhadap Gereja, menyamai keberanian, hikmat & pengalaman yang dimilikinya. Dan karena itulah, dari ia membangun landasan kemuliaan yang begitu besarnya, yang dibawa oleh putranya kepada Kekaisaran Prancis. Raja baru itu ingin dimahkotai oleh Uskup dari Negerinya yang paling suci, karena itu ia memilih Bonifasius dalam upacara tersebut. Upacara itu berlangsung di Agusta Suesonium (Soissons). Semua Ordo negara itu menghadiri upacara tersebut. St. Bonifasius memimpin sebuah Sinode yang berhimpun pada kota itu.
XXII. Bonifasius disebut sebagai Legatus Santo Petrus atau Takhta Suci, pada Konsili pertama yang dilangsungkannya di Jerman. Konsili Lesinia dan Agusta Suesonium secara pasti meneguhkan bahwa kuasa yang tersemat pada Jabatan itu, begitu besarnya di Prancis. Ia memohon kepada Paus Zakharia supaya mengutus seorang Legatus ke Kerajaan itu, supaya dirinya boleh terbebas dari beban yang dipanggulnya: namun permohonannya itu ditolak Sri Paus. Namun berkat suatu privilese Istimewa, Paus Zakharia mengizinkannya memilih secara pribadi, orang yang diinginkannya sebagai penerusnya di Jerman setelah kematiannya.
XXIII. Meski Bonifasius adalah Metropolitan Jerman, beberapa tahun masih harus berlalu sampai ia tinggal di sebuah kota tertentu. Takhtanya pertama-tama ditetapkan di Kolonia (Köln), lalu di Mogunsia (Mainz), yang Uskupnya bernama Gervilio, dimakzulkan pada sebuah konsili pada tahun 745. Paus Zakharia mengutus kepada Metropolis Keuskupan-Keuskupan Atuatikum (Tongeren), Kolonia, Wormasia (Worms), Spira (Speyer) dan Ultrayektum (Utrecht), orang-orang yang sudah ditetapkan oleh St. Bonifasius, dan mereka yang sudah sebelumnya diajukan untuk menduduki Takhta Wormasia, seperti Strasburgum (Strassburg), Agusta Vindelikorum (Augsburg), Koira (Chur) dan Konstanz. Gencatan senjata pada waktu itu menjadi bagian dari Kekaisaran Prancis. Tidak lama setelah itu, Kolonia dijadikan sebagai Keuskupan Agung. Beberapa Gereja lainnya mendapat privilese yang sama; namun Keprimatan Mogunsia selalu dijaga, demi kenangan akan Rasul Jerman yang suci itu.
XXIV. Ia mendatangkan dari Inggris, orang-orang yang tersohor kekudusannya
Demi menginspirasi bangsa barbar untuk mengayomi sikap lemah lembut dan saleh yang difirmankan dalam Injil, Bonifasius mendatangkan pria dan wanita dari Inggris yang unggul dalam Kebajikan. Datanglah sejumlah pria seperti St. Wigbertus, St. Burkardus dari Herbipolis (Würzburg), St. Lulus & St. Wilibaldus dari Akstadium (Eichstätt). Para wanitanya termasuk St. Lioba, saudara St. Bonifasius sendiri, St. Tekla, St. Walpurgis, St. Bertigita & St. Kontrudis. Bonifasius memberi mereka kepempimpinan atas biara-biara yang telah dibangunnya di Thuringia, Bavaria serta tempat-tempat lainnya. Di tahun 746, ia meletakkan landasan Biara Fuldense (Fulda), yang sejak lama merupakan tempat dibesarkannya bibit-bibit calon orang besar …
XXV. Tulisannya kepada Raja bangsa Mersia
Kendati penuh tanggung jawab yang dituntut oleh gereja-gerejanya serta institusi-institusi baru, Bonifasius terus meluaskan giat semangatnya di negeri-negeri terpencil, terutama di negeri tempat kelahirannya. Ketika mendapat kabar di tahun 745, bahwa Etelbaldus, Raja bangsa Mersia, menodai kebajikan yang dahulu dimilikinya dengan kejinya kenajisan & bahwa perilakunya yang menyesatkan itu ditiru oleh banyak orang, St. Bonifasius menulis kepada Sri Raja dengan amat tegas dan mendesak, menasihatinya supaya bertobat.
“Ingatlah, ujarnya kepada Sri Raja, betapa memalukannya diri anda itu, karena anda hidup di bawah kezaliman hasrat yang brutal & dengan kekejian-kekejian anda, anda menghina Allah yang telah memberikan rakyat yang sedemikian kuasanya di bawah pemerintahan anda. Kasihanilah jiwa anda sendiri dan jiwa rakyat anda, yang harus anda pertanggungjawabkan.”[12]
Terusnya, “begitu besarnya hormat kepada kesucian di kalangan pagan dan Saxonia kuno, sehingga seandainya seorang Perawan dinyatakan bersalah atas percabulan, atau seorang wanita menikah atas perzinaan, mereka akan dicekik & jasad mereka dibakar. Barang siapa menodai mereka, digantung di tempat abu perempuan-perempuan itu berada. Di waktu lain, para wanita dicambuki punggungnya oleh orang-orang sesama jenis kelamin & ditikam beberapa kali dengan besi tajam. Mereka diarak dari Desa ke Desa; mereka disiksa secara demikian & siksaannya berlangsung sampai mereka mati.”
“Kalau orang-orang Pagan, yang tak mengenal Allah benar, menunjukkan kasih yang begitu besar terhadap kesucian, betapa besarnya kasih yang harus anda punya, anda yang adalah orang Kristen dan Raja.”
“Ingatlah nasib malang Seolredus, pendahulu anda & Osredus, Raja Northumbria. Kedua Pangeran ini menjalani hidup najis, dan direnggut oleh kematian mendadak di tengah-tengah kekacaubalauan hidup mereka.”
XXVI. Beberapa penulis percaya bahwa Etelbaldus bertobat dengan tulus & bahwa ia membayar kejahatan-kejahatannya dengan penitensi. Kepercayaan mereka ini terutama didasari oleh perbuatan-perbuatan baik yang mereka lihat dilakukannya. Mungkinkah beranggapan bahwa ia sudah insaf, menimbang dirinya memberikan Pulau Croyland agar sebuah biara dibangun di sana, menimbang dirinya mendirikan Biara di Repton & memberikan undang-undang yang sedemikian baiknya kepada Gereja? Walau bagaimanapun, seorang pemberontak bernama Beornredus merampas mahkota dan nyawanya di tahun 755.
XXVII. Korespondensinya dengan Inggris
St. Bonifasius menulis sepucuk surat edaran kepada para Uskup, Imam, Diakon, Kanonik, Biarawan, Rohaniwati dan seluruh Rakyat Inggris. Dinasihatinya mereka dengan amat lembut, supaya mempersatukan doa-doa mereka & agar mereka memohon kepada Allah, yang menginginkan keselamatan seluruh umat manusia, agar Ia sudi, dengan kerahiman-Nya, memberkati karya orang-orang yang mengerjakan pengudusan jiwa-jiwa.
XXVIII. St. Bonifasius menulis beberapa kali kepada Inggris, agar kepadanya dikirimkan berbagai buku dari negara itu, terutama Karya St. Beda, yang diberinya nama Pelita Gereja.[13] Ia memohon kepada Kepala Biara Wanita Edburgis[14] supaya memberikannya Surat-Surat St. Petrus yang ditulis dengan abjad keemasan. Dengan itu, ia bertekad mengilhami orang-orang duniawi dan tak terdidik, supaya lebih menghormati Kitab Suci kita. Masih ingin dirinya memuaskan devosinya kepada Pangeran Para Rasul, yang disebutnya sebagai Pelindung misinya.
XXIX. Melalui beberapa suratnya, bisa dilihat adanya kesatuan kasih antara para Misioner & Klerus Inggris, dan bahwa dari pihak satu dan lainnya, mereka saling terlibat satu sama lain untuk memercayakan jiwa-jiwa yang meninggalkan kehidupan ini kepada Allah. Dalam surat yang ditulisnya kepada Kepala Biara Aderius,[15] ia menganjurkannya supaya mempersembahkan Kurban Suci Misa demi para Misionaris yang mati belum lama itu. Dalam surat yang ditulisnya kepada seorang Rohaniwati,[16] ia berkata bahwa dirinya harus banyak menderita, baik karen para penyembah berhala, maupun karena orang-orang Kristen palsu serta para rohaniwan jahat. Namun begitu besar semangat kasihnya, sehingga ia ingin semakin menderita. Keinginannya yang terbesar adalah menyerahkan nyawa demi Ia yang telah mati bagi kita. Tiada yang lebih indah selain yang dinyatakannya sebagai tanggung jawab para Pastor, dalam sepucuk surat kepada Kutbertus, Uskup Agung Kantuaria (Canterbury):[17] “Marilah kita bertarung, ujarnya, demi perkara Tuhan, pada hari-hari penuh kegetiran dan penderitaan ini. Kalau ini kehendak Allah, marilah kita mati demi hukum suci para Bap akita, supaya kita bisa sampai kepada warisan kekal bersama mereka. Janganlah kita seperti anjing bisu, penjaga malam yang tertidur & tentara-tentara bayaran, yang lari ketika melihat serigala; namun alih-alih, jadilah kita para gembala yang penuh perhatian & waspada. Marilah kita berkhotbah kepada orang yang besar dan yang kecil, kepada yang kaya dan yang miskin; kepada orang-orang dari segala usia & kondisi, di waktu baik dan di waktu buruk.” Dalam homili-homilinya, St. Bonifasius memberi pengajaran-pengajaran yang sangat baik tentang kebenaran-kebenaran dan praktik-praktik agama Kristiani; namun ia sering kembali mengajar tentang kudusnya kewajiban-kewajiban yang terjalin pada Pembaptisan & tentang perlunya bersetia kepada kewajiban-kewajiban itu.
XXX. Ia menobatkan penerusnya
Bonifasius menggunakan izin Paus Zakharia untuk memilih penerusnya sendiri. Matanya telah tertuju kepada Santo Lulus, dahulu Biarawan Malmesburia (Malmesbury). Dikonsekrasikannya St. Lulus menjadi Uskup Agung Mogunsia (Mainz) di tahun 754. Kepada St. Lulus diserahkannya tanggung jawab untuk menyelesaikan Gereja Fuldense (Fulda), serta gereja-gereja yang telah dirintisnya di Thuringia.
St. Bonifasius juga menasihati St. Lulus agar mengerahkan segenap tenaganya demi mengonversikan sisa-sisa penyembahan berhala. Pada saat itu juga, ia menulis kepada Fulradus, Kepala Biara St. Dionisius, untuk memohonnya supaya membuat Raja Pipinus menerima pilihannya.
Imbuhnya, “Penyakit-penyakitku memperingatkan aku, bahwa hanya tersisa sedikit waktu bagiku untuk hidup; mintalah kepada Pangeran agar melindungi para muridku, yang hampir semuanya berada di negeri asing. Para imam tersebar di berbagai tempat untuk melayani Gereja. Para Rohaniwan tinggal di sebuah biara kecil, tempat mereka bekerja mengajar anak-anak. Ada yang hidup di perbatasan negeri-negeri pagan, tanpa punya sedikit pun harta duniawi. Mereka bisa mendapat makanan mereka; namun mustahil bagi mereka untuk mendapatkan pakaian, kalau mereka tidak sekurang-kurangnya dibantu orang.”
Pipinus mengabulkan permintaannya. Paus Stefanus II meneguhkan penobatan St. Lulus, yang di kemudian hari pergi mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa Jerman yang masih belum memeluk Iman.
XXXI. Mendapati dirinya dalam kebebasan, St. Bonifasius meneruskan panggilan yang telah didapatkannya dari Surga, demi menggarap konversi orang-orang kafir. Tak bisa dirinya mengecap istirahat sedikit pun, sebab masih ada jiwa-jiwa yang belum mengenal Yesus Kristus. Dan juga, ia merasa dirinya semakin terbakar akan keinginan untuk menumpahkan darah demi Iman, dan didapatkannya firasat bahwa dirinya akan segera berjumpa dengan maut.
XXXII. Segera setelah membereskan perkara-perkara Gerejanya, ia pergi bersama beberapa Rekan yang penuh semangat, untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa Barbar yang menghuni pesisiran paling terpencil di Frisia. Ia mengonversikan sejumlah besar dari mereka, yang menerima Pembaptisan. Hari menjelang Pentakosta adalah hari yang ditandainya untuk memberi Sakramen Penguatan kepada orang-orang baru dibaptis itu. Karena ia tak bisa menempatkan mereka semua dalam sebuah Gereja, ia mengusulkan agar mereka diberi Sakramen itu di padang terbuka. Tempat yang dipilihnya ada di dekat Dokkum & agak lebih jauh dari Sungai Bordne.[18] Didirikannya tenda-tenda di sana, dan ia pun pergi ke sana pada hari yang ditentukan. Namun ketika sedang berdoa di sana dan menanti orang-orang Kristen baru itu, bangsa kafir berlari dengan senjata dalam genggaman tangan & mengeroyok tendanya. Para hambanya sudah bersiap untuk menghalau orang-orang Barbar itu. Namun mereka tidak melakukannya, sebab Bonifasius melarang mereka melawan kekerasan dengan kekerasan, dengan memberi tahu mereka bahwa dirinya sudah sejak lama merindukan hari ia berjumpa Yesus Kristus. Mereka bahkan dianjurkannya agar menderita maut dengan penuh sukacita, sebab itu akan membukakan pintu bagi mereka untuk masuk kehidupan kekal. Namun para penyembah berhala itu mengeroyok St. Bonifasius & membantainya, bersama lima puluh dua orang Kristen lainnya, di tanggal 5 Juni 755.[19] Usai pembantaian itu, orang-orang kafir mulai menjarah tenda Bonifasius; namun alih-alih menemukan uang, mereka hanya menemukan buku-buku & relikui-relikui, yang mereka cerai-beraikan di mana-mana, atau yang mereka sembunyikan di rawa-rawa & liang-liang.
XXXIII. Sebagian hal-hal ini ditemukan antara lain dalam tiga volume yang masih terjaga di Biara Fuldense (Fulda). Volume pertamanya adalah sebuah salinan Injil yang ditulis tangannya secara pribadi; yang kedua, sebuah harmoni Perjanjian Baru; yang ketiga ternoda oleh darah sang Martir, memuat surat St. Leo kepada Teodorus, Uskup Freyus, diskursus St. Ambrosius tentang Roh Kudus & Risalah Bapa yang sama ini tentang manfaat kematian.
XXXIV. Jasad St. Bonifasius dipindahkan kemudian ke Ultrayektum (Utrect), ke Mogunsia (Mainz) dan ke Fuldense (Fulda). Santo Luluslah yang menyimpannya dalam Biara Fuldense, yang sampai pada saat ini bagaikan suatu hiasan yang mulia. Ada sejumlah mukjizat yang terjadi dari abad ke abad, dan ini diceritakan oleh para Bolandis dalam karya mereka, Acta Bonifaciana.
XXXV. Seorang Hamba Allah sejati hanya bernapas demi Dia & hanya menyibukkan diri dengan cara untuk mendapatkan kemuliaan bagi Dia. Ia bekerja & berdoa tiada henti demi membuat diri-Nya meraja dalam hatinya. Ia ingin agar semua hati terbakar cinta kasih akan Dia; supaya semua lidah terus-menerus memadahkan puji-pujian-Nya; agar segala makhluk, bersama dengan Roh-Roh terberkati, tiada punya tujuan lain selain melaksanakan kehendak-Nya dengan cara yang tersempurna. Tiada bahaya yang menakutkannya, tiada kesulitan yang menghentikannya, dalam perkara bekerja mengonversikan bahkan satu jiwa saja. Pengorbanan harta benda serta nyawanya tak berharga apa-apa bagi dia; bahkan itu akan diserahkannya seribu kali, kalau mungkin dilakukannya, demi mencegah Kemegahan Ilahi dihina oleh seorang pendosa.
Bag. I-XII diambil dari Alban Butler, Vie des pères, des martyrs, et des autres principaux saints [Riwayat Hidup Para Bapa, Martir dan Para Kudus Utama Lainnya], karya bahasa Prancis yang diterjemahkan dari karya asli berbahasa Inggris, Tomus V, Paris, Chez Barbou, rue des Mathurins, MDCCLXVII, dengan persetujuan & privilese Sri Raja, hal. 115-121.
Bag. XIII-XIV diambil dari Wilibaldus, The Life of St. Boniface [Riwayat Hidup St. Bonifasius], Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh George W. Robinson, Sekretaris Harvard Graduate School of Arts and Sciences, Cambridge, Harvard University press, London, 1916, hal. 62-64.
Bag. XV, dst. diambil dari Alban Butler, Vie des pères, des martyrs, et des autres principaux saints [Riwayat Hidup Para Bapa, Martir dan Para Kudus Utama Lainnya], karya bahasa Prancis yang diterjemahkan dari karya asli berbahasa Inggris, Tomus V, Paris, Chez Barbou, rue des Mathurins, MDCCLXVII, dengan persetujuan & privilese Sri Raja, hal. 121-139.
[1] Yesaya xi, 2; Isidorus Hispalensis, Etymologiae, vii, 3; Santo Agustinus, De Sermone Domini, i, 4; J. F. Böhmer, Regesta Imperii, i. I (edisi III, oleh Engelbert Mühlbacher, Innsbruck, 1899), hal. 38, no. 76a.
[2] E., 43.
[3] Succidere.
[4] Lokasinya tidak pasti. Di Hesse, ada beberapa tempat bernama Geismar.
[5] Terjemahan Latin Batara Thor, dari bangsa Teutonik.
[6] Cum arboret succidisset. Pada potongan pertama atau bawah, yang dibuka sampai ke pertengahan batang pohon dari sisi pohon yang padanya diinginkan agar pohon itu jatuh.
[7] Seperti yang diungkapkan oleh Otloh, “Ad … arboris incisionem magna paganorum multitude concurrit ”: pastinya berhimpun dari ladang tani dan pedesaan bermil-mil di sekelilingnya, seiring kapaknya semakin lama semakin menembus kayu yang keras itu.
[8] Ad modicum quidem arbore praeciso. Tentang potongan kedua, atas, atau depan, di sisi yang dihadapi pengapak dan para penontonnya, ketika pohonnya tumbang ke sisi yang berseberangan.
[9] Conc. T. 6. p. 14. 15. & Saint Bonif. Ep. 138.
[10] Lihatlah Kisah Sejarah Gunung Kasinus, Buku Sejarah Eginardus & kisah-kisah sejarah lainnya dari masa itu.
[11] Karlomanus meneladani beberapa Raja Anglia-Saxonia. Seolwulfus, Raja Northumbria, yang riwayat hidupnya dikarang oleh St. Beda, adalah raja kedelapan yang undur diri dari Mahkota untuk menjadi Biarawan. Ia mengambil jubah di Lindisfarna (Lindisfarne) pada tahun 737, seperti yang dilaporkan oleh Hoveden, Simeon dari Durham & Matius dari Westminster. Di tahun itu juga, Frisisgita, Ratu Saxonia Barat, pergi ke Roma dan menerima kerudung Rohaniwati di sana.
[12] Parce ergo anima tua, fili charissiime, parce multitudini populi, tuo pereuntis exemplo, de quorum animabus redditurus es rationem. Ep. 19. p. 76. & ap. Gulielm. Malmesb. c. I. l, I. de Gestis Angl. Regum.
[13] Ep. 9. p. 73.
[14] Ep. 28.
[15] Ep. 26.
[16] Ep. 16. p. 75.
[17] Ep. 105.
[18] Jaraknya 6 lieues dari Liewarden, dan Timur Laut dari Frisia Barat.
[19] Para rekan martir St. Bonifasius termasuk Uskup Eoban, Wintrung, Gautier, Adelhere (Para Imam); Hamond, Strichald & Bosa (Diakon); Waccar, Gonderhar, Williker & Hadulfus (Biarawan). Yang lain orang awam.
Doa Permohonan Pagi dan Petang menurut ajaran Tradisi Suci dan Gereja Katolik
Doa permohonan ini wajib didoakan oleh semua ahli yang ada di dalam Yesus, Maria, Yusuf Pelayanan Kasih (Blessed and Saints and the Nine Choirs of Angels). Doa ini boleh didoakan secara peribadi, keluarga, di dalam komuniti terutama sekali untuk kegunaan kelompok atau kumpulan yang telah ditubuhkan. Setiap Kongregasi wajib mendoakan doa-doa permohonan yang telah disediakan mengikut doa resmi Gereja Katolik yang ditetapkan dan diatur secara liturgi dan yang berakar pada Tradisi Suci dan Gereja Katolik.
Doa Permohonan Pagi
Saudara-saudara, para martir telah wafat demi sabda Allah. Marilah kita memuji penebus kita, saksi yang setia, dan berkata:
U: Engkau telah menebus kami dalam darah-Mu.
P: Ya Tuhan, para martir-Mu rela mati untuk memberi kesaksian tentang iman mereka,* berikanlah kebebasan rohani kepada kami.
P: Para martir-Mu mengakui iman mereka sampai menumpahkan darahnya,* berilah kami kemurnian dan keteguhan iman.
P: Para martir-Mu mengikuti jejak-Mu dengan memanggul salib mereka,* semoga kami dengan berani menanggung kesukaran-kesukaran hidup.
P: Para martir-Mu membasuh pakaian mereka dalam darah Anak Domba,* semoga kami mengalahkan serangan hawa nafsu dan bujukan dosa.
Doa tambahan: Setelah doa-doa ini selesai didoakan, anda semua boleh menggunakan doa dari kata-kata anda sendiri secara spontan dan mengikut keadaan dan situasi masing-masing.
Bapa Kami
Doa Penutup
Tuhan, keteguhan para martir, semoga santo Bonifasius menjadi pembela kami. Iman yang diajarkannya dengan mulut telah dimeteraikannya dengan darah. Kiranya iman itu kami pegang teguh dan kami amalkan dengan setia. Demi Yesus Kristus, Putera-Mu dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amen.
Madah
Doa Permohonan Petang
Raja para martir sudah
mempersembahkan diri dalam perjamuan malam terakhir dan menyerahkan hidup-Nya
di salib. Marilah kita mengucap syukur kepada-Nya dengan berkata:
U: Kami memuliakan Dikau,
ya Tuhan.
P: Kami memuliakan Dikau,
ya Tuhan, sebab Engkau telah mengasihi kami sampai akhir. Engkaulah penyelamat
kami, Engkaulah sumber kekuatan dan teladan bagi setiap martir.
U: Kami memuliakan Dikau,
ya Tuhan.
P: Engkau memanggil semua
orang berdosa yang bertobat, kepada kehidupan abadi.
U: Kami memuliakan Dikau,
ya Tuhan.
P: Hari ini kami
mempersembahkan darah perjanjian baru yang Kaucurahkan demi pengampunan dosa.
U: Kami memuliakan Dikau,
ya Tuhan.
P: Berkat rahmat-Mu kami
tetap bertekun dalam iman sampai pada hari ini.
U: Kami memuliakan Dikau,
ya Tuhan.
P: Kami percaya bahwa
arwah orang beriman Kauterima dalam kemuliaan-Mu.
U: Kami memuliakan Dikau,
ya Tuhan.
Doa tambahan: Setelah doa-doa ini selesai didoakan, anda semua boleh menggunakan doa dari kata-kata anda sendiri secara spontan dan mengikut keadaan dan situasi masing-masing.
Bapa Kami
Doa Penutup
Tuhan, keteguhan para martir, semoga santo Bonifasius menjadi pembela kami. Iman yang diajarkannya dengan mulut telah dimeteraikannya dengan darah. Kiranya iman itu kami pegang teguh dan kami amalkan dengan setia. Demi Yesus Kristus, Putera-Mu dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amen.
Jonathan Fabian Ginunggil,
Pelayan Atasan Tertinggi / Most High Servant,
Yesus, Maria, Yusuf Pelayanan Kasih / Jesus, Mary, Joseph Ministry of Love
(Blessed and Saints and the Nine Choirs of Angels)
My vocation is Blessed and Saints.
"I am the most humble of all the Saints in Heaven" Mary, Mother of God."
"I am the handmaid of the Lord, said Mary ‘let what you have said be done to me."
Mother Mary is the most humble Saint in Heaven and she is also the Mother of God for us all
(Luke 1:38)
No comments:
Post a Comment