Ajaran Gereja Katolik dan Tradisi mengenai Yesus yang adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia.
Pendahuluan:
Sebagai orang yang beriman kepada Tuhan Yesus Kristus dan Gereja-Nya yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik, kita semua perlu tahu siapakah Yesus Kristus yang kita sembah dan muliakan di dalam kehidupan kita setiap hari. Untuk menjawab segala persoalan, keraguan, tentangan dan kesulitan dari ajaran-ajaran sesat serta agama-agama lain yang masih menolak dan tidak mengakui Alkitab dan Tradisi Gereja Katolik, disini telah disediakan bahan bacaan dan informasi yang betul agar semua umat Katolik yang ingin memahami kebenaran dan cintakasih Allah tersebut dapat mengetahuinya secara benar dan tepat dan tidak akan murtad mengikuti agama lain serta meninggalkan Iman Katolik mereka lagi. Bagi umat Katolik yang masih belum mengenal Yesus secara peribadi khususnya di dalam doa, inilah ajaran menurut Gereja Katolik kita yang dapat membantu sesama kita untuk mempertahankan kepercayaan kita terhadap kasih Allah di dalam peribadi Yesus Kristus dan Gereja-Nya di dunia masa kini. Tetapi apa yang tertulis disini bukanlah untuk di baca begitu sahaja tetapi perlu dihayati dan dipraktikkan sesuai dengan pemahaman kita dan panggilan hidup kita masing-masing .
Bab Pertama:
Yesus, sungguh Allah dan sungguh manusia.
Pada umumnya, kita mengasihi seseorang yang sudah kita kenal sebelumnya. Selanjutnya, jika kita sungguh- sungguh mengasihi orang itu, maka tentu kita ingin mengenalnya lebih dalam. Hal ini juga berlaku dalam hubungan kita dengan Kristus. Siapakah Kristus itu bagi kita? Siapakah Kristus itu sebenarnya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini seharusnya membawa kita untuk lebih mengenal dan mengasihi Dia. Yesus menjadi Penyelamat kita manusia, kerana Dia adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Kerana Kristus adalah Allah maka Dia sudah ada sebelum dunia ini diciptakan. Namun Dia rela menjelma menjadi manusia oleh kerana mengasihi kita. Pada saat waktunya genap Yesus memilih untuk dilahirkan ke dunia dan maka Putera Tunggal Allah yang tidak terbatas telah masuk ke dalam sejarah manusia. Hakekat ke-Allahan dan ke-manusiaan Kristus ini adalah ciri khas Yesus yang telah membuat-Nya berbeza dari para nabi ataupun orang kudus manapun.
Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia. Bagi orang Katolik, sebutan bahawa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia tidaklah asing. Namun apakah kita sungguh memahaminya? Apakah kita mengetahui dasar-dasarnya mengapa dikatakan bahwa Yesus Kristus adalah Putera Tunggal Allah yang menjadi manusia sehingga Dia adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia?
Istilah Teologi yang menjelaskan ciri khas Pribadi Yesus ini adalah “hypostatic union“. Ini merupakan misteri Kristus yang tidak sepenuhnya dapat kita fahami selama kita hidup di dunia ini namun begitu jelas diajarkan dalam Alkitab Katolik kita. Yesus Kristus adalah Juru Selamat manusia yang menghapuskan dosa-dosa kita. Yesus adalah Pengantara kita yang menghubungkan kita dengan Allah. Sebagai manusia Yesus dengan kehendak bebas-Nya mempersembahkan kurban penghapus dosa iaitu diri-Nya sendiri dan kerana Dia adalah Tuhan, maka korban-Nya ini bernilai tidak terbatas sehingga mampu menghapus semua dosa manusia di sepanjang sejarah. Jika Gereja Katolik mempertahankan kebenaran ini, adalah kerana kedua hal ini, ke-Allahan Yesus dan kemanusiaan-Nya adalah “kedua hal yang sama pentingnya dalam karya keselamatan Allah.” ((Lihat George D Smith, D.D, PhD. ed., The Teaching of the Catholic Church, A Summary of Catholic Doctrine, (New York: The Macmillan Company, 1960) p. 361))
Protestant Kenotic Christology: apakah itu?
Pengertian tentang ke-Allahan dan kemanusiaan Yesus sangatlah penting jika kita ingin mengenal siapa Yesus yang sesungguhnya. Tanpa pemahaman ini, kita akan mempunyai gambaran yang keliru tentang Yesus Kristus. Dewasa ini kita mengenal teori-teori baru dari para peneliti Alkitab/ exegete modern yang berusaha memisahkan Kristus yang kita imani dengan Yesus menurut sejarah (the Christ of Faith and the Jesus of history). Pandangan ini sesungguhnya berakar dan tidak terlepas dari pendapat yang mengatakan bahawa selama hidup-Nya di dunia (33.5 tahun) Yesus itu ‘hanya’ manusia biasa, bukan Tuhan [walaupun disertai oleh Allah Bapa dan Roh Kudus secara istimewa]; dan baru setelah kebangkitan-Nya, Yesus adalah Tuhan.
1) Pandangan di atas mengambil dasar utama dari Fil 2: 6-11 yang mengatakan bahawa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”. Pandangan ini dikenal dengan ajaran Martin Luther, Protestant Kenotic Christology, ((Lihat De libertate christiana (Weimar, 1883), vol. 7, p.65)) yang pada dasarnya bukan memahami bahawa Yesus mempunyai dua kodrat (iaitu Allah dan manusia) dalam satu Peribadi-Nya semasa hidup-Nya di dunia, melainkan membaginya menjadi dua tahap: tahap pengosongan (state of self- emptying) dan tahap pemuliaan (state of exaltation) sesudah kebangkitan. Dengan demikian, Luther tidak membezakan kodrat dan Peribadi Yesus, sehingga sebenarnya ajarannya mempunyai kemiripan dengan campuran ajaran Arianism dan Monophisitism iaitu ajaran yang menyimpang pada abad ke-3 dan ke-5.
Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan mengetahui bahawa interpretasi yang dipegang oleh Bapa Gereja adalah bahawa yang dimaksud oleh Paulus dalam “pengosongan diri” ini adalah bahwa Peribadi kedua dari Trinitas iaitu Sang Firman Allah, mengambil rupa manusia melalui Inkarnasi, agar dengan demikian Dia dapat menderita dan mati. Maka dikatakan Dia yang “dalam rupa Allah mengambil rupa seorang hamba” sehingga di dalam rupa tersebut Dia “merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib.” Maka disini yang tidak dipertahankan Kristus adalah ketidakterbatasanNya sebagai Allah, bahawa sebagai Allah Dia tidak mungkin menderita dan mati sedangkan dengan menjelma menjadi manusia Dia dapat menderita dan mati. Maka dari teks itu sendiri sebenarnya tidak menunjukkan bahawa dengan mengambil rupa sebagai manusia, Yesus berhenti menjadi Allah. Sebab dari kodrat-Nya, Allah tidak mungkin berhenti menjadi Allah ataupun berubah dari yang sempurna - dalam Trinitas - menjadi tidak sempurna - kerana pada satu periode Allah tidak berupa Trinitas. Kerana kalau demikian, maka Allah mempertentangkan Diri-Nya sendiri dan ini tidak mungkin (lih.2 Tim 2:13). Silakan membaca artikel bagaimana membuktikan bahawa Tuhan itu ada, silakan klik untuk melihat dengan akal budi kita bagaimana Tuhan tidak mungkin berhenti menjadi Tuhan atau berubah menjadi tidak sempurna. Di atas semua itu mari kita merenungkan kebenaran yang tertulis dalam Mzm 49:8-9, bahawa seorang manusia tidak akan boleh memberikan tebusan (dosanya) kepada Allah; maka untuk itu, untuk menjadi tebusan dosa bagi banyak orang, maka Yesus tidak mungkin ‘hanya’ manusia, Dia harus sekaligus Allah, agar dapat menyelamatkan umat manusia dengan wafat-Nya di kayu salib.
Jika kita memahami kodrat Allah, maka kita mengetahui bahawa Allah tidak dapat menjadi tidak sempurna. Allah Trinitas adalah Allah yang maha sempurna dan kekal, alfa dan omega dan sungguh tidak terbatas oleh waktu. Maka jika ada yang terbatas dalam diri Yesus itu adalah kerana keterbatasan kodrat manusia (yang terbatas oleh ruang dan waktu), sedangkan kuasa-Nya sebagai Allah tetap sempurna. Kerana itulah dalam penjelmaan-Nya sebagai manusia Dia dapat mengampuni dosa dalam nama-Nya sendiri (Mt 9:2-8; Mk 2:3-12; Lk 5:24, 7:48), melakukan banyak mukjizat dalam nama-Nya (Mat 8: 26; 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), menyembuhkan yang sakit (Mat 8:1-16, 9:18-38, 14:36, 15: 29-31) dan membangkitkan orang mati dalam nama-Nya sendiri (Luk 7:14; Yoh 11:39-44), dan para malaikat pun melayani Dia (Mat 4:11). Ini tidak mungkin terjadi jika pada waktu penjelmaan-Nya Dia bukan Allah. Silakan membaca lebih lanjut dalam artikel ini, silakan meneruskan untuk melihat secara obyektif betapa banyaknya bukti yang menunjukan bahawa pada saat hidup-Nya di dunia Yesus itu sungguh-sungguh Allah iaitu dari segala perkataan dan perbuatan yang dilakukan-Nya. Untuk menilai bahawa ucapan dan perbuatan Yesus itu “hanya” perbuatan manusia biasa adalah sikap yang “menutup mata” terhadap kenyataan yang sesungguhnya tidak perlu dibuktikan. Menolak untuk percaya bahawa selama 33.5 tahun hidup-Nya di dunia Yesus bukan Tuhan adalah satu bentuk penyelewengan pengetahuan tentang Peribadi Yesus. Ini hampir saja serupa bahawa seseorang menolak kenyataan bahawa matahari itu sumber terang walaupun sudah jelas-jelas cahayanya tersebar ke mana-mana.
Mereka yang menganggap Yesus “hanya” manusia biasa semasa hidupnya, menyetarakan Dia dengan para nabi sebelum Kristus. Padahal kita mengingat bahawa bahkan para nabi tersebut tidak pernah mengampuni dosa ataupun melakukan mukjizat dalam nama mereka sendiri ataupun mengajar dengan kuasa mereka sendiri. Lihat saja bagaimana ungkapan ayat-ayat Alkitab dalam Perjanjian Lama dimana berkali-kali disebutkan, “Berfirmanlah Allah kepada (Musa/ nabi-Nya) “, sedangkan dalam Injil, Yesus tidak terhitung mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadaMu”. Jangan lupa bahawa para nabi bahkan sudah menubuatkan kedatangan hamba Tuhan yang adalah Allah sendiri. Selanjutnya, silakan meneruskan di sini untuk membaca nubuat-nubuat para nabi akan kedatangan Yesus yang adalah Tuhan.
2) Berikutnya pandangan ini (Protestant Kenotic Christology) juga mengambil ayat- ayat dari Rom 4:24, 6:4, 8:11; 1Kor 4:14, 1Kor 6:14, Kis 2:24, 3:25, 10:40, yang mengatakan bahawa Yesus itu “dibangkitkan” oleh Allah. Sehingga kesimpulan pendapat ini adalah Yesus bukan Allah sehingga tidak dapat bangkit sendiri melainkan perlu dibangkitkan oleh Allah. Padahal di ayat-ayat yang lain dalam Alkitab juga dikatakan demikian, bahawa Yesus bangkit (bukan dibangkitkan), misalnya di Mat 28:6; Mk 16:6, 9; Luk 24:34.
Apakah ayat-ayat tersebut bertentangan? Tentu tidak! Kuncinya adalah, 1) kita harus memahaminya dengan pemahaman para rasul itu sendiri; 2) kita membaca ayat-ayat tersebut dan juga Flp 2:6-11 dengan kesatuan dengan ayat-ayat Alkitab yang lain. Dengan demikian, kita mengetahui bahawa para rasul percaya bahawa Yesus semasa hidupNya adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh manusia. Maka dari kodrat-Nya sebagai manusia Dia dibangkitkan Allah, sedangkan dari kodrat-Nya sebagai Allah, maka Dia bangkit dengan kuasa-Nya sendiri. Ini adalah pemahaman Gereja sejak awal mula dan berkali-kali ditegaskan namun yang paling jelas dalam Konsili Chalcedon (451), di mana dikatakan:
“Kristus mempunyai dua kodrat, yang tidak tercampur baur, tanpa perubahan, tidak dapat dibagi-bagi dan dipisahkan. Dia menjadi satu Peribadi dan satu hakikat (hypostatis), tidak terbagi menjadi dua peribadi, namun kedua kodrat itu membentuk Peribadi Yesus yang unik, satu dan sama.” ((Denz. 148; DS 301-2))
Singkatnya, sudah seharusnya hal ‘pengosongan diri’ Kristus (Fil 2:6-11) dan perihal kata ‘dibangkitkan’, jangan dilepaskan konteksnya dengan keseluruhan Alkitab yang menyatakan bahawa Yesus pada saat hidupnya di dunia itu sungguh- sungguh Allah, walaupun Dia juga sungguh-sungguh manusia. Pandangan yang melepaskan konteks itu sebenarnya bukan merupakan pengajaran para rasul dan jika diperhatikan juga bukan merupakan maksud Rasul Paulus yang menuliskannya. Silakan membaca tulisan Rasul Paulus yang lain yang menujukkan bahawa Yesus adalah Allah pada saat penjelmaan-Nya sebagai manusia seperti yang tertulis pada surat kepada jemaat di Kolose dan Ibrani.
Bab Kedua:
Dasar Alkitab.
Maka mari dengan kerendahan hati kita merenungkan ayat-ayat Alkitab berikut ini yang mendasari para Bapa Gereja mengajarkan adanya dua kodrat (iaitu Allah dan manusia) dalam satu Peribadi Yesus. Mari kita memohon rahmat Roh Kudus agar kita dimampukan untuk melihat kedalaman misteri Allah ini seperti yang diwahyukan-Nya sendiri kepada kita melalui Kitab Suci:
1). Kesaksian dari Rasul Yohanes iaitu murid yang dikasihi Yesus secara istimewa menunjukkan bahawa Yesus adalah Tuhan. Justru kerana kedekatannya dengan Yesus maka kita selayaknya percaya kepada kebenaran kesaksian Rasul Yohanes tentang Yesus. Yoh 1:1 14: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita dan kita telah melihat kemuliaan-Nya iaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.”
Rasul Yohanes memulai Injilnya dengan menyatakan bahawa Yesus adalah Tuhan. Sesungguhnya untuk membuktikan ke- Allahan Yesuslah maka Yohanes menuliskan Injilnya yang merupakan kitab Injil yang terakhir. Dalam Yoh 20:31 dikatakan, “tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahawa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.”
Jadi kerana Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah sendiri, maka ertinya, kebersamaan dengan Allah dalam kepenuhannya itu tidak terputuskan oleh penjelmaan-Nya menjadi manusia dalam diri Yesus.
2). Kesaksian Rasul Petrus: Mat 16:16, “Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Rasul Petrus adalah orang yang pertama mengakui dengan mulutnya tentang ke-Allahan Yesus semasa Yesus hidup di dunia. Dan Yesus membenarkan iman Petrus ini dengan mengatakan bahawa Bapa di Syurgalah yang menyatakan hal ini kepadanya (ay.17). Yesus kemudian mempercayakan Gereja-Nya ke dalam pimpinan Petrus (ay. 18) Gereja Katolik dengan setia mengajarkan pengakuan iman Petrus ini bahawa Yesus Kristus, adalah sungguh Anak Allah yang hidup. Mesias Anak Allah yang hidup ini tidak boleh diturunkan menjadi manusia biasa yang bukan Allah, sebab jika demikian Dia bukan sungguh-sungguh Anak Allah.
Setelah kebangkitan Kristus, Rasul Petrus memberikan kesaksian di hadapan Mahkamah Agama, “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia [Yesus Kristus], sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” (Kis 2:14).
Sebab hanya di dalam nama Tuhan-lah manusia dapat diselamatkan.
3). Kesaksian dari Malaikat Gabriel yang berkata kepada Bunda Maria, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.” (Luk 1: 35). Maka kita ketahui bahawa oleh Roh Kudus yang turun atas Maria, maka Yesus bukanlah manusia biasa, namun Anak Allah.
4). Perkataan Elisabet yang ditujukan kepada Bunda Maria, dalam Luk 1:42: “Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?” Jika Yesus hanya manusia biasa tentu Elisabet tidak berkata demikian.
5). Kesaksian Yesus sendiri tentang Diri-Nya ada di dalam Injil Luk 2:49: Perkataan Yesus yang pertama yang dicatat di Alkitab adalah pernyataan-Nya tentang identiti-Nya sebagai Putera Allah, “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahawa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Sedangkan kehidupan awam Yesus dimulai dengan pernyataan Allah Bapa kepada Yesus pada saat Pembaptisan di sungai Yordan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:17). Jika yang memberi kesaksian tentang Yesus sebagai Putera Allah adalah Allah Bapa sendiri, maka selayaknya kita percaya bahwa Yesus adalah Allah.
Di dalam Injil Yoh 8:58: Yesus sendiri mengatakan bahawa Dia adalah Allah dengan mengatakan bahawa Dia sudah ada sebelum Abraham, “sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Jika Dia “hanya” manusia biasa Dia tidak dapat berkata demikian sebab sebagai manusia biasa Dia tidak mungkin ada sebelum Abraham. Perkataan-Nya ini hanya masuk di akal jika Dia adalah Allah yang keberadaan-Nya tidak terbatas oleh waktu dan kemudian menjadi manusia sehingga dapat mengatakan pernyataan tersebut dengan ucapan mulut manusia dalam diri Yesus.
Di dalam Injil Yoh 13:13, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” Ini adalah pernyataan yang sangat jelas yang dikatakan Yesus dalam Perjamuan Terakhir sebelum kebangkitan-Nya. Maka tidak mungkin bahawa Dia baru menjadi Tuhan setelah kebangkitan-Nya sebab jika demikian maka Dia tidak akan berkata demikian kepada para murid-Nya.
Selanjutnya kita harus dengan jelas melihat bahawa di seluruh Injil, dalam mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Anak Allah, Yesus tidak menyamakan Diri-Nya secara betul-betul dengan kita yang juga disebut anak-anak Allah. Kita yang percaya kepada-Nya adalah anak-anak angkat Allah sedangkan Kristus adalah Anak Allah yang Tunggal yang sehakekat dengan Allah (istilahnya, homo-ousios, the only begotten Son). Maka tepatlah jika Yesus mengatakan, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa. Percayalah kepada-Ku, bahawa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku” (Yoh 14:9, 11) Tidak ada satu nabipun yang dapat berkata demikian; tidak ada seorang manusiapun yang berhak berkata demikian kalau Dia bukan sekaligus Allah.
6). Sekarang mari kita melihat kesaksian Rasul Paulus dalam surat-suratnya untuk melihat keutuhan pengajaran Rasul Paulus:
Kol 1:15-20: “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan kerana di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu. Dia yang lebih utama dari segala sesuatu. Kerana seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. ”
Yesus menjadi “gambar Allah” yang hidup pada saat Dia menjelma menjadi manusia. Dan kepenuhan Allah ini adalah kesempurnaan Allah yang diam di dalam-Nya sehingga ertinya selama hidup-Nya di dunia dan selama-lamanya, Yesus adalah Allah. Jika tidak demikian, tentunya tidak dikatakan “kepenuhan Allah diam di dalam Dia.” Selanjutnya oleh kerana sifat-Nya sebagai Allah dan manusia maka Dia dapat “mengadakan pendamaian” antara Allah dan manusia. Jika Dia hanya manusia biasa saja maka Yesus tidak boleh mendamaikan Allah dan manusia dengan sempurna; sebab Dia hanya seperti nabi-nabi yang lain yang datang sebelum Kristus. Ini tidak sesuai dengan nubuat para nabi dan bahkan pengajaran Yesus sendiri dalam perumpamaan penggarap kebun anggur (Mat 21:33-46; Luk 20: 9-19). Kalau Dia ‘hanya’ manusia biasa yang bukan Allah, Dia tentu tidak mengajarkan demikian.
Maka Flp 2:6-7 ” Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi manusia”, selayaknya dibaca berdampingan dengan Kol 1:15-20, yang menyatakan keistimewaan dan keutamaan Kristus yang tidak terdapat dalam manusia yang lain oleh kerana Dia adalah Tuhan. Sebab hanya di dalam Tuhanlah segala sesuatu dapat diciptakan. Dan Tuhan yang di dalamNya semua diciptakan ini menjelma menjadi manusia dalam rupa seorang hamba agar gambaran Allah yang merendahkan Diri dapat diwujudkan. Maka walaupun “mengosongkan diri” selama hidup-Nya di dunia, Yesus tetaplah Tuhan; hanya saja Yesus mengambil rupa manusia.
Ibr 1: 2-3: “Pada zaman akhir ini, Dia (Allah) telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya yang telah Dia tetapkan sebagai yang berhak menerima segala yang ada. Yesus adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.”
Kita ketahui bahawa “Allah telah berbicara” melalui Yesus kepada para rasul dan pengikut-Nya pada saat Dia menjelma menjadi manusia. Pada saat menjadi manusia itulah Yesus menjadi gambaran Allah yang hidup yang sebelum penjelmaan-Nya tidak kelihatan. Kerana Yesus adalah “cahaya kemuliaan Allah”, maka tidak mungkin Yesus berhenti menjadi Allah kerana Allah tidak mungkin kehilangan “cahaya kemuliaan-Nya” walaupun hanya 33.5 tahun.
Maka ini sangat sesuai dengan perkataan Yesus sendiri pada Injil Yoh 17:4-5, di mana Dia berkata, “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.”
Gal 4:4-5: “Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.” Maka dari ayat ini terlihat bagaimana Rasul Paulus membezakan Yesus sebagai Anak Allah yang diutus oleh Allah Bapa sedangkan kita adalah anak yang ‘diangkat’ kerana ditebus oleh Kristus Anak-Nya yang Tunggal.
Jadi, kita adalah anak-anak angkat Allah di dalam Kristus (Ef 1:5), kerana kita baru dapat disebut anak-anak Allah jika kita mempunyai hidup ilahi yang diberikan oleh Kristus kepada kita iaitu jika kita menerima Roh Kudus-Nya (lih. Rom 8:11). Hidup ilahi oleh Roh Kudus ini tidak terputuskan sebab oleh Roh Kudus itulah yang menjadikan Yesus yang menjadi janin dalam rahim Bunda Maria, sebagai Anak Allah yang menjelma menjadi manusia.
Gereja Katolik kita memang mengajarkan bahwa ketika lahir di dunia, Yesus Kristus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh manusia. Ini adalah sesuatu misteri yang tidak akan pernah lagi terulangi terjadi dalam sejarah manusia, bahawa seseorang Peribadi adalah sungguh- sungguh Allah dan sungguh- sungguh manusia. Memang oleh kerana keunikan-Nya itu, di sepanjang sejarah banyak orang berusaha menyederhanakannya, namun malah akhirnya tidak konsisten dan sesuai dengan ajaran Alkitab itu sendiri.
Bab Ketiga.
Communicatio Idiomatum dalam diri Yesus.
Maka berdasarkan penjelasan di atas, Gereja Katolik mengajarkan dalam satu Peribadi Yesus terdapat dua kodrat iaitu Allah dan manusia sehingga terdapat predikat-predikat yang dapat ditujukan kepada kedua kodrat itu yang ditujukan pada satu Peribadi Yesus. Predikat-predikat yang sesuai dengan kedua kodrat ini yang ditujukan pada satu Peribadi Yesus dalam Teologi disebut sebagai “Communicatio Idiomatum.” Ini kita lihat jelas dalam ayat-ayat Alkitab, sebagai berikut:
1. Mi 5:1: Mesias adalah seorang yang akan lahir di Betlehem (kemanusiaan Kristus) yang permulaannya sudah sejak purbakala (ke-Allahan Kristus).
2. Yes 9:5: Seorang anak laki-laki akan lahir (kemanusiaan Kristus) yang akan disebut sebagai Allah yang perkasa (ke-Allahan Kristus).
3. Yoh 8:58: Yesus berkata (dalam kemanusiaannya), bahawa sebelum Abraham jadi, Aku ada (ke-Allahan Kristus).
4. Yoh 14:6: Yesus berkata, “Aku adalah jalan (ditujukan kepada kemanusiaan-Nya), Kebenaran dan Hidup” (ditujukan kepada ke-Allahan-Nya).
5. Fil 2:5-11: Allah mengambil rupa seorang hamba, menjadi manusia dan wafat di kayu salib (kemanusiaan dan ke-Allahan Kristus).
6. 1 Kor 2:8, dikatakan "kalau sekiranya mereka [penguasa dunia] mengenal-Nya, mereka tidak akan menyalibkan Tuhan yang mulia.” Kristus adalah Tuhan yang mulia dalam ke-Allahan-Nya, yang disalibkan dalam kemanusiaan-Nya. Jika dikatakan dalam Injil, “Yesus mati”, maka yang dikatakan mati di sini adalah Yesus dalam seluruh keperibadiaan-Nya yang adalah Tuhan dan manusia. Memang secara hakekat Tuhan tidak boleh mati namun dalam Peribadi Yesus terdapat juga kodrat manusia selain dari kodrat Tuhan maka Yesus dapat mati. Namun justru kerana hakekat/ kodrat Yesus sebagai Allah, maka Dia dapat bangkit dari kematian-Nya dan ini menjadi mukjizat yang terbesar yang dilakukan oleh-Nya (Mat 28:1-10; Mk 16:1-8; Luk 24:1-12; Yoh 20:1-10).
Heresi sepanjang sejarah Gereja dan tanggapan para Bapa Gereja
Berikut ini adalah ajaran-ajaran sesat yang yang terjadi di sepanjang sejarah Gereja yang berusaha menyederhanakan misteri ke-Allahan dan kemanusiaan Yesus berserta dengan tanggapan dari para Bapa Gereja untuk ‘meluruskannya’, yang jika diringkas demikian:
1. Docetism, Gnosticism, Manichaeism (abad ke- 1-3): menolak kemanusiaan Yesus: Penderitaan Yesus di salib dianggap sebagai “kepura-puraan”/ dan bukan sesuatu yang sungguh-sungguh terjadi.
Tanggapan para Bapa Gereja:
St. Ignatius dari Antiokhia (35- 110), “Hanya ada satu Tabib yang aktif dalam tubuh dan jiwa. Tuhan di dalam manusia, hidup sejati dalam kematian, putera Maria dan Putera Allah, yang pertama [sebagai putera Maria] dapat menderita, sedang yang kemudian [ sebagai Putera Allah] tidak dapat menderita, Yesus Kristus, Tuhan kita.” (St. Ignatius dari Antiokhia, Surat kepada jemaat di Efesus, Bab 3). Kesaksian St. Ignatius adalah sangat penting kerana dia adalah murid Rasul Yohanes yang adalah murid yang dikasihi oleh Yesus.
St. Cyril dari Yerusalem (313-386), “Maka percayalah kepada Putera Tunggal Allah yang demi menebus dosa kita turun ke dunia dan mengambil bagi-Nya sifat manusia seperti kita, dan dilahirkan oleh Perawan Maria dan dari Roh Kudus, dan menjadi manusia, tidak hanya kelihatannya saja atau hanya seperti sandiwara/ “show“, melainkan sungguh-sungguh terjadi; bukan hanya melalui Perawan Maria seperti melalui sebuah saluran; tetapi daripadanya dibuat menjadi sungguh-sungguh daging, dan [Dia] makan dan minum seperti kita. Sebab jika Inkarnasi hanya sebuah bayangan maka keselamatan kita hanyalah sebuah bayangan juga. Kristus terdiri dari dua kodrat, manusia di dalam apa yang terlihat, namun [juga] Tuhan di dalam apa yang tak terlihat. Sebagai manusia [Dia] sungguh-sungguh makan seperti kita namun sebagai Tuhan [Dia] memberi makan lima ribu orang dari lima buah roti (Mat 14:17- dst). (St. Cyril dari Yerusalem, Cathecheses, No. 4:9)
2. Adoptionism (abad ke- 2 dan 3) menolak ke-Allahan Kristus. Kristus dianggap sebagai anak adopsi Allah Bapa, namun sebagai anak yang terbesar.
Tanggapan para Bapa Gereja:
Tertullian (160- 220) dalam menjelaskan Inkarnasi berkata, “Kita melihat dengan jelas dua hal yang menjadi satu, yang tidak tercampur baur, tetapi yang disatukan di dalam satu Peribadi, Yesus Kristus, Tuhan dan manusia. Kedua kodrat ini bertindak berbeza sesuai dengan karakternya masing-masing” (Tertullian, Adversus Praxean, bab 27)
St. Thomas Aquinas (1225- 1274): “Ada orang-orang seperti Ebion dan Cerinthus, dan kemudian Paul Samosata dan Photius yang mengakui kemanusiaan Yesus saja. Tetapi, ke-Allahan ada di dalam Dia dengan semacam partisipasi yang istimewa terhadap kemuliaan ilahi. Pandangan ini [Adoptionism] merosakkan misteri Inkarnasi kerana menurut pandangan ini, Tuhan tidak mungkin mengambil daging untuk menjadi manusia tetapi seorang manusia yang kemudian menjadi Allah.” (St. Thomas Aquinas, Summa contra gentiles, ch. 28, nos. 2-5. Trans. by Charles J. O’Neil) Heresi ini [Adoptionism] seolah berkata, “manusia dibuat menjadi Firman” daripada “Firman itu menjadi manusia” (Yoh 1:14). “Jika Kristus bukan sungguh-sungguh Tuhan, bagaimana kita mengertikan perkataan St. Paul, “Ia mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba?” (Flp 2: 6-7, 9). (Ibid.)
3. Arianism (abad ke 3 -4) menolak Allah Tritunggal. Kristus dianggap bukan Tuhan namun sebagai malaikat yang tertinggi (super-angel).
Heresi ini diluruskan oleh:
St. Athanasius (296-373), “Putera Allah ada di dalam Allah Bapa dan Bapa ada di dalam Putera. Mereka adalah satu tidak terbagi menjadi dua tetapi mereka [dikatakan] dua kerana Bapa adalah Bapa dan bukan Putera, demikian sebaliknya; dan kodrat mereka [Bapa dan Putera] adalah satu. Allah Putera adalah Tuhan, dalam satu hakekat (homo- ousios) dengan Allah Bapa. Jika Allah Putera mempunyai awal (ertinya diciptakan oleh Bapa), maka terdapat suatu waktu di mana Allah tidak mempunyai Sabda atau Kebijaksanaan yang adalah cahaya kemuliaan-Nya (Ibr 1:3); ini bertentangan dengan wahyu Allah mahupun akal sehat. Kerana Bapa itu tetap selamanya, maka Sabda-Nya dan Kebijaksanaan-Nya pasti juga tetap selamanya.” (St. Athanasius, Four Discourses Against the Arians, n.3:3, 4, in NPNF, 4:395)
St. Gregorius Nazianzen (328-389), “Putera Allah berkenan untuk menjadi dan dipanggil sebagai Anak Manusia, tidak kerana Dia mengubah Diri-Nya (kerana Dia tidak dapat berubah); tetapi dengan mengambil bagi diri-Nya sesuatu yang bukan Dia (iaitu manusia, sebab Dia penuh dengan kasih kepada manusia), sehingga Yang tak terfahami menjadi dapat difahami. Maka yang tidak dapat tercampur menjadi tercampur, Roh dengan daging, kekekalan dengan waktu, Dia yang tidak dapat menderita menjadi dapat menderita, yang Kekal dapat menjadi mati. Karena Iblis setelah ia menipu kita dengan harapan agar kita menjadi tuhan, ia mendapatkan dirinya sendiri tertipu oleh penjelmaan Tuhan dalam kodrat manusia; sehingga dengan menipu Adam. Ia harus berhadapan dengan Tuhan, maka Adam yang baru [Yesus Kristus] menyelamatkan Adam yang lama” (St. Gregory of Nazianzen, Oration 39)
Konsili Nicea (325) yang menghasilkan Credo Nicea: Kristus adalah “sehakikat dengan Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.”
4. Apollinarisme (abad ke-4) yang menolak kemanusiaan Yesus dengan mengajarkan bahawa Yesus tidak mempunyai jiwa manusia; ke-Allahan-Nya menggantikan jiwa manusia itu.
Tanggapan para Bapa Gereja:
St Athanasius, St. Basil, St. Gregorius Nazianzen dan St. Gregorius dari Nissa (abad ke-4) yang mengajarkan bahawa kalau Kristus tidak mempunyai jiwa manusia, maka Dia bukan sungguh-sungguh manusia. Jika Kristus tidak mengangkat / mengambil baginya jiwa manusia, Dia tidak dapat menebus jiwa manusia.
Konsili Konstantinopel (381) dan Sinode Uskup di Roma (382): Sabda Tuhan tidak menjadi daging untuk menggantikan jiwa manusia melainkan untuk mengambilnya, menjaganya dari dosa dan untuk menyelamatkannya. Pengajaran Apollinaris dinyatakan sesat.
5. Nestorianisme (abad ke-4-5) yang menolak keutuhan Peribadi Yesus. Maka Maria dilihat hanya sebagai ibu Yesus sebagai manusia dan bukan ibu Yesus yang adalah Tuhan. Yesus dikatakan sebagai hanya “Temple of the Logos” dan bukannya “Logos“/ Sabda itu sendiri.
Tanggapan Bapa Gereja:
St. Cyril dari Alexandria (380-444) menjelaskan bahawa Maria adalah Bunda Allah sebab Kristus adalah Allah: “Saya hairan akan pertanyaan yang menanyakan apakah Perawan Suci harus disebut sebagai Bunda Allah, sebab itu hampir sama dengan menanyakan apakah Puteranya Putera Allah atau bukan?” (St. Cyril of Alexandria, Epistle 1,4). Dia mengambil baginya kodrat kemanusiaan secara penuh dari Bunda Maria supaya Dia dapat menderita dalam kemanusiaan-Nya bagi kita. “Yesus memberikan tubuh-Nya untuk mati [bagi kita], meskipun secara kodrat-Nya [sebagai Allah] Dia adalah hidup dan kebangkitan.” (Lihat St. Cyril of Alexandria, First Letter to Nestorius, trans. Henry Percival, in Nicene and Post Nicene Fathers, 14: 201-205) Kemudian dalam surat keduanya yang dibacakan dalam Konsili Efesus (431) St. Cyril mengajarkan, “Sang Sabda, setelah menyatukan secara hypostatik dalam Diri-Nya, daging yang dihidupi oleh jiwa manusia yang rasional, Yesus menjadi manusia dan disebut sebagai Anak Manusia.” Dengan Inkarnasi maka Putera Allah menjelma menjadi manusia dalam rahim Maria. Ini terjadi dalam saat yang bersamaan sehingga bukan terjadi manusia terlebih dahulu, baru kemudian Sabda itu turun memenuhinya. Dengan demikian maka Yesus dapat mengatakan bahawa kelahiran-Nya dalam daging itu sungguh-sungguh adalah kelahiran-Nya. “Maka para Bapa Gereja tidak segan-segan mengatakan bahawa Perawan Suci (Maria) adalah Bunda Allah.” (D 111, St. Cyril of Alexandria, Second Letter to Nestorius, Ibid.)
Maka kita dapat mengatakan bahawa pada Yesus terjadi dua macam ‘kelahiran’, yang pertama adalah sebagai Allah, Dia lahir/ berasal dari Bapa sebelum segala abad dan yang kedua, Yesus lahir sebagai manusia melalui Bunda Maria.
6. Monophisitism (abad ke-5) yang menolak adanya kemanusiaan Kristus, dan adanya dua kodrat dalam diri Yesus (sebagai Allah dan manusia). Dikatakan oleh bidaah ini bahawa sebelum inkarnasi ada dua kodrat namun setelah inkarnasi hanya satu iaitu ke-Allahan-Nya.
Tanggapan para Bapa Gereja:
St. Leo Agung (440-461) dengan tulisannya yang terkenal, “Tome of Leo” mengajarkan, “Tanpa kehilangan sifat-sifat yang berkenaan dengan kodrat dan hakikatnya, di dalam Satu Peribadi, kemuliaan mengambil kerendahan, kekuatan mengambil kelemahan, kekekalan mengambil kematian, dan untuk membayar hutang yang menjadi kondisi kita, kodrat yang tidak boleh berubah disatukan dengan kodrat yang boleh berubah sehingga untuk memenuhi kepentingan kita, satu Pengantara kita antara Allah dan manusia, [iaitu] Manusia Yesus Kristus dapat mati dengan kodrat-Nya sebagai manusia namun tidak dapat mati dengan kodrat-Nya sebagai Allah. Maka Allah yang benar sungguh lahir di dalam keseluruhan dan kesempurnaan kodrat manusia lengkap di dalam segala sesuatunya sebagai Allah, dan lengkap di dalam segala sesuatunya sebagai manusia. Dia mengambil rupa seorang hamba tanpa noda dosa, Dia menaikkan kodrat manusia tanpa mengurangi kodrat ke-Allahan-Nya: sebab pengosongan Dirinya adalah dengan membuat Yang tidak kelihatan menjadi kelihatan, Pencipta dan Tuhan atas segala sesuatu mahu menjadi mahluk ciptaan, adalah perendahan Diri bukan kerana kegagalan kuat kuasa-Nya namun kerana pernyataan belas kasihan-Nya. Kedua kodrat [ke- Allahan dan ke-manusiaan-Nya] tetap mempertahankan karakter yang sesuai tanpa menghilangkan satu sama lain, ke-AllahanNya tidak menghapuskan karakter hamba, ke-hamba-anNya tidak mengurangi karakter ke-Allahan-Nya. Di dalam kelahiran-Nya yang baru [sebagai manusia] Dia yang tidak kelihatan dibuat menjadi kelihatan. Allah semesta alam mengambil rupa seorang hamba, menyembunyikan kemuliaan-Nya yang besarnya tidak terhingga, Dia yang kekal tidak segan untuk tunduk di bawah hukum kematian. Sebab setiap kodrat melakukan apa yang sesuai dengan kodratnya dengan keterlibatan yang timbal balik dari kodrat lainnya. Kodrat yang satu [ke-Allahan] berkilau dengan mukjizat-mukjizat, kodrat yang lain [kemanusiaan] jatuh dalam luka-luka. Seperti Sabda yang tidak menarik diri dari kesetaraan-Nya dengan Allah Bapa yang mulia maka tubuh-Nya juga tidak membuang kodrat-Nya sebagai manusia. Sebab (dan ini harus disebut lagi dan lagi) Peribadi yang satu dan sama itu adalah sungguh Putera Allah dan sungguh Putera manusia. (Denz 143-144)
Konsili Chalcedon (451):
“Bahawa Sang Putera, Tuhan Yesus Kristus kita, adalah satu dan sama, sama sempurna di dalam Ke-Allahan-Nya dan sama sempurna di dalam kemanusiaan-Nya, sungguh Allah, sungguh manusia, mempunyai jiwa manusia yang rasional dan sebuah tubuh, sehakikat dengan Bapa di dalam ke-Allahan dan sehakikat dengan kita di dalam kemanusiaan, ‘sama dengan kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa’ (Ibr 4:15), berasal dari Bapa sebelum segala abad dalam kodrat ke-Allahan-Nya, lahir di dalam waktu bagi kita dan bagi keselamatan kita dari Perawan Maria, Bunda Allah dalam kodrat kemanusiaan-Nya. Kita mengakui Kristus yang satu dan sama, Sang Putera, Tuhan, yang Tunggal, di dalam dua kodrat, tanpa tercampur baur, tanpa perubahan, tidak dapat dibagi-bagi dan dipisahkan. Perbezaan kodrat tidak pernah dihapuskan dengan persatuannya melainkan sifat-sifat dari kedua kodrat itu yang tetap tidak terganggu dan keduanya bersama-sama membentuk satu Peribadi dan hakikat (hypostasis), tidak terbagi menjadi dua peribadi tetapi di dalam Putera Tunggal yang satu dan sama, Sabda Ilahi, Tuhan Yesus Kristus”
7. Monothelitism (abad ke-7) yang menolak kemanusiaan Yesus dengan mengatakan bahawa di dalam diri Yesus hanya ada satu keinginan dan satu prinsip tingkah laku / operasi iaitu yang dari Allah saja.
Tanggapan Bapa Gereja:
St. Paus Agatho (678-681), “Sebab kami menolak penghujatan yang membagi-bagi dan yang mencampuradukkan [kedua kodrat dalam Diri Yesus]. Kerana Tuhan Yesus Kristus yang sama mempunyai dua kodrat maka Dia juga mempunyai dua keinginan dan dua operasi iaitu [menurut] Allah dan manusia: Keinginan dan operasi Ilahinya sesuai dengan hakikat Allah sepanjang segala abad: sedangkan kemanusiaan-Nya Dia menerima dari kita, mengambil kodrat kita di dalam waktu. Sesudah Inkarnasi-Nya maka ke-Allahan-Nya tidak dapat difikirkan tanpa kemanusiaan-Nya dan kemanusiaan-Nya tanpa ke-Allahan-Nya.” (St. Pope Agatho, Letter in preparation for the 6th Ecumenical Council, Constantinople III, trans. by Henry R Percival in NPNF, 14:331-333).
Konsili Lateran (649):
Cann. 10 - 11 mengajarkan bahawa Yesus mempunyai dua kehendak dan operasi [Allah dan manusia] yang disatukan secara terus menerus dan bahawa melalui kehendak bebas-Nya dan operasi-Nya itulah Dia mengerjakan keselamatan kita.
Konsili Konstantinopel III (680-681):
“Dan kami menyatakan adanya dua keinginan di dalam Dia dan dua prinsip operasi tindakan yang tidak mengalami pembagian, perubahan, keterpisahan, pencampur-adukkan sesuai dengan pengajaran para Bapa Gereja. Dan kedua keinginan tersebut tidak dalam pertentangan, seperti yang dikatakan oleh para bidat, tetapi keinginan manusia-Nya mengikuti dan tidak menahan ataupun berebut melainkan taat kepada keinginan Ilahi yang mahakuasa.”
8. Agnoetae (abad ke-6) yang menolak kepenuhan pengetahuan Yesus sebagai manusia sebagai akibat dari persekutuannya dengan Allah (sehubungan dengan akhir zaman Mrk 13:32).
Tanggapan Bapa Gereja:
St. Paus Gregorius Agung (540-604):
“Allah Putera yang Mahatahu mengatakan bahawa Dia tidak tahu harinya [akhir zaman, sehingga] Dia tidak menyatakannya bukan disebabkan oleh hal itu sebab Dia sendiri tidak tahu, tetapi kerana Dia tidak mengizinkan hal tersebut diketahui sama sekali. Putera Tunggal Allah yang menjelma menjadi manusia yang sempurna untuk kita pasti mengetahui hari dan saatnya Penghakiman Terakhir di dalam diriNya sebagai manusia namun demikian Dia tidak mengetahui hal itu dari keadaannya sebagai manusia. Sebab untuk maksud apa bahawa Dia yang menyatakan DiriNya sebagai Kebijaksanaan Allah yang menjelma jika ada sesuatu yang tidak diketahui olehNya sebagai Kebijaksanaan Allah? Juga tertulis bahawa, Allah Bapa menyerahkan segala sesuatu ke dalam tanganNya [Yesus Kristus di dalam Yoh 13:3]. Jika disebutkan segala sesuatu tentu termasuk hari dan saat Penghakiman Terakhir. Siapa yang begitu naif untuk mengatakan bahawa Allah Putera menerima di dalam tangan-Nya sesuatu yang tidak diketahui olehNya?” (Pope St. Gregory the Great, Denz. 248)
St. Maximus (580-662):
Jika para nabi saja dapat mengetahui hal- hal di masa depan yang akan terjadi, betapa lebih lagi Kristus dapat mengetahui semua itu melalui kesatuan-Nya dengan Sang Sabda. (Lihat Quaestiones et dubia 66 (I, 67), PG 90: 840).
Bab Keempat.
Tanggapan Gereja Katolik terhadap Protestant Kenotic Christology.
Sedangkan untuk menanggapi Kristologi Kenotik menurut Protestant, Paus Pius XII dalam memperingati Konsili Chalcedon yang ke 1500 telah menulis surat ensiklik Sempiternus Rex pada tahun 1951 yang menolak penyalah-ertian ayat Filipi 2:7 pada mereka yang berfikir bahawa tidak ada keilahian di dalam Sabda yang menjadi manusia dalam diri Kristus. Menurut Bapa Paus ini adalah maksud yang keliru seperti halnya heresi Docetism yang mengklaim sebaliknya (iaitu yang mengecam kemanusiaan Yesus). Ini mengurangi keseluruhan misteri Inkarnasi dan Penebusan. Selanjutnya Bapa Paus menegaskan kembali apa yang telah ditetapkan di dalam The Tome of Leo, “Yesus yang sungguh-sungguh Allah telah lahir, lengkap di dalam ke-Allahan-Nya, dan lengkap di dalam kemanusiaan-Nya.” (Lihat Ep. xxviii,3. PL 54: 763. Cf. Serm. xxiii, 2. PL 56:201)
Dan kita perlu ingat bahawa Konsili Kalsedon adalah sebuah konsili ekumenis yang berlangsung dari tahun 8 Oktober sampai dengan 1 November tahun 451 di Kalsedon (sebuah kota di Bithinia di Asia Kecil) yang kini merupakan bahagian kota Istanbul di sisi Asia dari selat Bosforus dan dikenal sebagai distrik Kadıköy. Konsili ini adalah yang ke-4 dari tujuh Konsili Ekumenis dalam agama Kristen dan oleh kerana itu dianggap infalibel (tidak bercela) dalam definisi dogmatisnya oleh Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur. Konsili ini menolak doktrin monofisitisme dari kaum pengikut Eutikus dan menetapkan Pengakuan Iman Kalsedon yang menggambarkan kemanusiaan penuh dan keilahian penuh dari Yesus peribadi kedua dari Tritunggal Kudus.
Monofisitisme pula (berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata iaitu mono yang bererti satu dan phusis yang bererti kodrat atau hakikat). Jika disatukan nama ini bererti persatuan kodrat dan dalam bahasa Inggris pula dikenali dengan Monophysitism. Monofisit adalah ajaran yang diklaim sebagai ajaran bidaah oleh Konsili Khalsedon pada tahun 451. Aliran ini memahami bahawa Kristus hanya memiliki satu kodrat iaitu kodrat ilahi kerana kodrat kemanusiaan-Nya telah terserap dalam keilahian-Nya.
Awal mula monofisit.
Cyrillus adalah seorang uskup Aleksandria yang setuju bahawa iman akan inkarnasi Allah hanya terjamin jika communicatio idiomatum diterima tanpa syarat dan gelar Theotokos diberikan kepada Bunda Maria, maka akibat ini perhatian Cyrillus tertuju pada soteriologis. Dis menaruh perhatian dan sekaligus menentang pandangan soteriologis dan pemahaman kodrat Yesus yang difahami oleh Nestorius. Komen Cyrillus pada ekaristi Nestorius yang menurutnya dalam ekaristi yang hadir di altar hanyalah tubuh manusia sehingga daya ilahi tidak ada. Bermula dari keperihatinan inilah Cyrillus menegaskan bahwa Logos ilahilah yang menjelma ke dalam Yesus Kristus. Dia meleburkan kedua kodrat demi kesatuan subjek iaitu kodrat ilahi pada Yesus Kristus. Maka ajaran ini juga diteruskan oleh Rahib Eutykhes. Pandangan Cyrillus dari Aleksandria sebenarnya menjadi dasar Miafisitisme yang dianuti oleh Gereja Ortodoks Oriental namun miafisit sering kali dianggap sama dengan monofisit.
Teologi Monofisit.
Monofisit pula melihat bahawa kodrat yang Yesus miliki hanyalah kodrat yang satu dan kudus (ilahi). Terdapat dua doktrin utama dalam monofisit:
1). Eutychianisme menyakini bahawa kodrat manusiawi dan ilahi pada Kristus tergabung menjadi suatu kodrat yang tunggal iaitu kodrat kemanusiaannya telah hilang seperti memasukan madu ke dalam laut. Sesuai dengan nama alirannya tokohnya adalah Eutykhes seorang rahib di biara arkimandrit di Konstantinopel. Apollinarisme mempercayai bahawa Kristus memiliki tubuh dan dasar hidup manusiawi tetapi Logos Ketuhanan telah menggantikan nous, atau "dasar pemikiran", dapat dianalogikan tetapi tidak identik dengan akal.
Bab Kelima.
Gnostisisme dan Pelagianisme.
Gnostisisme (bahasa Yunani: γνῶσις gnōsis, pengetahuan) merujuk kepada bermacam-macam gerakan keagamaan yang beraliran sinkretisme pada zaman dahulu kala. Gerakan ini pula mencampurkan berbagai ajaran agama yang biasanya pada intinya mengajarkan bahawa manusia pada dasarnya adalah jiwa yang terperangkap di dalam alam semesta yang diciptakan oleh tuhan yang tidak sempurna. Secara umum dapat dikatakan Gnostisisme adalah agama dualistik yang dipengaruhi dan memengaruhi filosofi Yunani, Yudaisme, dan Kekristenan. Istilah gnōsis merujuk pada suatu pengetahuan esoteris yang telah dipaparkan. Dari sana manusia melalui unsur-unsur rohaninya diingatkan kembali akan asal-usul mereka dari Tuhan yang lebih tinggi. Yesus Kristus dipandang oleh sebagian sekte Gnostis sebagai perwujudan dari makhluk ilahi yang menjadi manusia untuk membawa gnōsis ke bumi. Pada mulanya Gnostisisme dianggap sebagai cabang aliran sesat dari Kekristenan namun sekte Gnostis telah ada sejak sebelum kelahiran Yesus. Keberadaan kaum Gnostik sejak Abad Pertengahan semakin berkurang disebabkan pengikutnya memeluk Islam atau akibat dari Perang Salib Albigensian (1209–1229). Gagasan Gnostis kembali muncul seiring dengan bertumbuhnya gerakan mistis esoteris pada akhir abad ke-19 dan abad ke-20 di Eropa dan Amerika Utara.
Untuk memahami dan mengetahui mengapa Gereja Katolik kita menolak ajaran-ajaran sesat tersebut serta mempertahankan Alkitab dan Tradisi kita sejak dari dulu lagi, disini saya memberikan penjelasan ajaran yang benar dan tepat menurut apa yang tertulis disini oleh Bapa Suci kita Pope Francis: Apostolic Exhortation Gaudete Et Exsultate of the Holy Father Pope Francis on the call to holiness in today's world.
Bab Dua.
Dua Musuh Halus Kesucian.
35. Di sini saya ingin menyebut dua bentuk kekudusan palsu yang boleh menyesatkan kita: gnostisisme dan pelagianisme. Kedua-dua ini adalah dua ajaran sesat dari zaman Kristian awal namun ia terus melanda kita. Pada zaman kita juga ramai orang Kristian mungkin tanpa disedari boleh terpedaya dengan idea-idea yang menipu ini yang mencerminkan imanentisme antroposentrik yang menyamar sebagai kebenaran Katolik. Marilah kita lihat dua bentuk keselamatan doktrin atau disiplin ini yang menimbulkan "elitisme narsis dan autoritarian, di mana bukannya menginjil, seseorang menganalisis dan mengklasifikasikan yang lain, dan bukannya membuka pintu rahmat, seseorang meletihkan jiwanya atau tenaganya dalam memeriksa dan mengesahkan. Dalam kedua-dua kes, seseorang tidak benar-benar mengambil berat tentang Yesus Kristus atau orang lain".
Gnostikisme Kontemporari.
36. Gnostikisme menganggap “kepercayaan subjektif semata-mata yang minatnya hanyalah pengalaman tertentu atau sekumpulan idea dan cebisan maklumat yang bertujuan untuk menghiburkan dan mencerahkan tetapi yang akhirnya membuat seseorang terpenjara dalam pemikiran dan perasaannya sendiri”.
Akal tanpa Tuhan dan tanpa daging.
37. Syukur kepada Tuhan sepanjang sejarah Gereja sentiasa jelas bahawa kesempurnaan seseorang tidak diukur dengan maklumat atau pengetahuan yang mereka miliki tetapi dengan kedalaman amal mereka. "Gnostik" tidak memahami perkara ini kerana mereka menilai orang lain berdasarkan keupayaan mereka untuk memahami kerumitan doktrin tertentu. Mereka menganggap intelek sebagai terpisah daripada daging dan dengan itu menjadi tidak mampu menyentuh daging penderitaan Kristus dalam orang lain, terkurung kerana mereka berada dalam ensiklopedia abstrak. Pada akhirnya dengan menguraikan misteri mereka lebih suka "Tuhan tanpa Kristus, Kristus tanpa Gereja, Gereja tanpa umatnya".
38. Sudah tentu ini adalah kesombongan yang dangkal: terdapat banyak pergerakan di permukaan tetapi fikiran tidak digerakkan atau terjejas secara mendalam. Namun gnostikisme menggunakan daya tarikan yang mengelirukan bagi sesetengah orang memandangkan pendekatan gnostik adalah ketat dan didakwa murni dan boleh kelihatan memiliki keharmonian atau ketertiban tertentu yang merangkumi segala-galanya.
39. Di sini kita perlu berhati-hati. Saya tidak merujuk kepada rasionalisme yang bertentangan dengan kepercayaan Kristian. Ia boleh hadir dalam Gereja baik di kalangan orang awam di paroki dan guru-guru falsafah dan teologi di pusat-pusat pembentukan. Gnostik berpendapat bahawa penjelasan mereka dapat membuat keseluruhan iman dan Injil dapat difahami dengan sempurna. Mereka memutlakkan teori mereka sendiri dan memaksa orang lain untuk tunduk kepada cara pemikiran mereka. Penggunaan akal yang sihat dan rendah hati untuk merenung ajaran teologi dan moral Injil adalah satu perkara. Ia adalah satu lagi untuk mengurangkan pengajaran Yesus kepada logik yang dingin dan keras yang berusaha untuk menguasai segala-galanya.
Doktrin tanpa misteri.
40. Gnostikisme adalah salah satu ideologi yang paling jahat kerana walaupun terlalu meninggikan pengetahuan atau pengalaman tertentu, ia menganggap visi realitinya sendiri sebagai sempurna. Oleh itu mungkin tanpa disedari ideologi ini memakan dirinya sendiri dan menjadi lebih rabun. Ia boleh menjadi lebih khayalan apabila ia menyamar sebagai kerohanian tanpa badan. Untuk gnostisisme "dengan sifatnya sendiri berusaha untuk menjinakkan misteri", sama ada misteri Tuhan dan rahmat-Nya, atau misteri kehidupan orang lain.
41. Apabila seseorang mempunyai jawapan untuk setiap soalan, itu adalah tanda bahawa mereka tidak berada di jalan yang betul. Mereka mungkin nabi palsu yang menggunakan agama untuk tujuan mereka sendiri untuk mempromosikan teori psikologi atau intelektual mereka sendiri. Tuhan melampaui kita secara tak terhingga; dia penuh dengan kejutan. Kita bukan orang yang menentukan bila dan bagaimana kita akan bertemu dengannya; masa dan tempat yang tepat untuk pertemuan itu bukan bergantung kepada kita. Seseorang yang mahukan segala-galanya jelas dan pasti menganggap untuk mengawal transendensi Tuhan.
42. Kita juga tidak boleh mendakwa untuk mengatakan di mana Tuhan tidak kerana Tuhan hadir secara misteri dalam kehidupan setiap orang dengan cara yang Dia sendiri pilih dan kita tidak boleh mengecualikan ini dengan kepastian yang kita anggap. Walaupun kehidupan seseorang kelihatan hancur sepenuhnya, walaupun kita melihatnya dihancurkan oleh maksiat atau ketagihan, Tuhan hadir di sana. Jika kita membiarkan diri kita dibimbing oleh Roh dan bukannya prasangka kita sendiri, kita boleh dan mesti cuba mencari Tuhan dalam setiap kehidupan manusia. Ini adalah sebahagian daripada misteri yang tidak dapat diterima oleh mentaliti gnostik, kerana ia di luar kawalannya.
Batasan akal.
43. Bukan mudah untuk memahami kebenaran yang telah kita terima daripada Tuhan. Dan lebih sukar untuk menyatakannya. Jadi kita tidak boleh mendakwa bahawa cara kita memahami kebenaran ini membenarkan kita untuk menjalankan pengawasan yang ketat ke atas kehidupan orang lain. Di sini saya akan perhatikan bahawa dalam Gereja terdapat cara yang sah wujud bersama cara yang berbeza untuk mentafsir banyak aspek doktrin dan kehidupan Kristian; dalam kepelbagaian mereka, mereka "membantu untuk menyatakan dengan lebih jelas kekayaan besar firman Tuhan". Memang benar bahawa "bagi mereka yang mendambakan kumpulan doktrin monolitik yang dijaga oleh semua dan tidak meninggalkan ruang untuk nuansa, ini mungkin kelihatan tidak diingini dan membawa kepada kekeliruan". Sesungguhnya beberapa aliran gnostikisme mencemuh kesederhanaan konkrit Injil dan cuba menggantikan Tuhan trinitarian dan berinkarnasi dengan Kesatuan yang unggul di mana kepelbagaian yang kaya dalam sejarah kita lenyap.
44. Sebenarnya doktrin atau lebih baik pemahaman dan ungkapan kita tentangnya, “bukanlah sistem tertutup, tanpa keupayaan dinamik untuk mengemukakan soalan, keraguan, pertanyaan. Persoalan rakyat kita, penderitaan mereka, perjuangan mereka, mimpi, ujian dan kebimbangan mereka, semuanya mempunyai nilai tafsiran yang tidak boleh kita abaikan jika kita ingin mengambil serius prinsip penjelmaan. Tertanya-tanya mereka membantu kita tertanya-tanya, soalan mereka menyoal kita”.
45. Kekeliruan berbahaya boleh timbul. Kita boleh berfikir bahawa kerana kita mengetahui sesuatu, atau dapat menjelaskannya dalam istilah tertentu, kita sudah menjadi orang suci, sempurna dan lebih baik daripada "masa jahil". Santo John Paul II memberi amaran tentang godaan di pihak Gereja yang lebih berpendidikan tinggi "untuk merasa lebih tinggi daripada ahli beriman yang lain". Sebenarnya apa yang kita fikir kita tahu harus sentiasa mendorong kita untuk bertindak balas sepenuhnya terhadap kasih Tuhan. Sesungguhnya, "kamu belajar untuk hidup: teologi dan kekudusan tidak dapat dipisahkan".
46. Apabila Santo Francis dari Assisi melihat bahawa beberapa muridnya terlibat dalam pengajaran dia ingin mengelakkan godaan untuk gnostisisme. Dia menulis kepada Santo Antonius dari Padua: “Saya gembira anda mengajar teologi suci kepada saudara-saudara, dengan syarat anda tidak memadamkan semangat doa dan pengabdian semasa belajar seperti ini”. Francis mengiktiraf godaan untuk mengubah pengalaman Kristian menjadi satu set latihan intelektual yang menjauhkan kita daripada kesegaran Injil. Saint Bonaventure sebaliknya menegaskan bahawa kebijaksanaan Kristian sejati tidak boleh dipisahkan daripada belas kasihan terhadap sesama kita: “Kebijaksanaan yang paling mungkin adalah berkongsi dengan berbuah apa yang kita perlu berikan. Walaupun belas kasihan adalah teman kebijaksanaan, ketamakan adalah musuhnya”. "Ada aktiviti yang bersatu dengan renungan tidak menghalang yang terakhir tetapi memudahkannya seperti kerja-kerja belas kasihan dan pengabdian".
Pelagianisme Kontemporari.
47. Gnostikisme memberi laluan kepada ajaran sesat yang lain dan begitu juga pada zaman kita. Seiring berjalannya waktu ramai yang menyedari bahawa bukan ilmu yang menjadikan kita lebih baik atau menjadikan kita kudus tetapi jenis kehidupan yang kita jalani. Tetapi ini secara halus membawa kembali kepada kesilapan lama gnostik yang hanya diubah daripada dihapuskan.
48. Kuasa yang sama yang disifatkan oleh gnostik kepada akal yang lain kini mula dikaitkan dengan kehendak manusia kepada usaha peribadi. Ini adalah kes dengan pelagian dan semi-pelagian. Sekarang bukan kecerdasan yang menggantikan misteri dan rahmat tetapi kehendak manusia kita. Dilupakan bahawa segala-galanya "tidak bergantung pada kehendak atau usaha manusia, tetapi pada Tuhan yang menunjukkan belas kasihan" (Rm 9:16) dan bahawa "dia lebih dahulu mengasihi kita" (rujuk 1 Yoh 4:19).
Wasiat yang kurang merendah diri.
49. Mereka yang menyerah kepada pemikiran pelagian atau semi-pelagian ini, walaupun mereka bercakap dengan hangat tentang anugerah Tuhan, “akhirnya hanya percaya pada kuasa mereka sendiri dan merasa lebih tinggi daripada orang lain kerana mereka mematuhi peraturan tertentu atau tetap setia kepada gaya Katolik tertentu.” Apabila sebahagian daripada mereka memberitahu yang lemah bahawa semua perkara boleh dicapai dengan rahmat Tuhan, jauh di lubuk hati mereka cenderung untuk memberikan idea bahawa semua perkara boleh dilakukan oleh kehendak manusia, seolah-olah ia adalah sesuatu yang murni, sempurna, maha kuasa yang kemudiannya ditambahkan rahmat. Mereka gagal untuk menyedari bahawa "tidak semua orang boleh melakukan segala-galanya", dan bahawa dalam kehidupan ini kelemahan manusia tidak disembuhkan sepenuhnya dan sekali untuk selamanya dengan rahmat. Dalam setiap kes seperti yang diajarkan oleh Santo Augustine, Tuhan memerintahkan anda untuk melakukan apa yang anda boleh dan meminta apa yang anda tidak boleh dan sesungguhnya untuk berdoa kepadanya dengan rendah hati: "Berikan apa yang anda perintahkan, dan perintahkan apa yang anda kehendaki".
50. Akhirnya kekurangan pengakuan ikhlas dan penuh doa tentang batasan kita menghalang rahmat daripada bekerja dengan lebih berkesan dalam diri kita kerana tiada ruang yang tersisa untuk membawa potensi kebaikan yang merupakan sebahagian daripada perjalanan pertumbuhan yang ikhlas dan tulen. Rahmat tepatnya kerana ia membina alam semula jadi tidak menjadikan kita manusia luar biasa sekaligus. Pemikiran seperti itu akan menunjukkan terlalu banyak keyakinan terhadap kebolehan kita sendiri. Di bawah ortodoksi kita, sikap kita mungkin tidak sesuai dengan pembicaraan kita tentang keperluan untuk rahmat dan dalam situasi tertentu kita akhirnya boleh meletakkan sedikit kepercayaan kepadanya. Melainkan kita dapat mengakui keadaan kita yang konkrit dan terhad, kita tidak akan dapat melihat langkah-langkah sebenar dan mungkin yang Tuhan tuntut daripada kita pada setiap saat setelah kita tertarik dan diberi kuasa oleh pemberian-Nya. Rahmat bertindak dalam sejarah; lazimnya ia mengambil alih kita dan mengubah kita secara progresif. Jika kita menolak realiti sejarah dan progresif ini, kita sebenarnya boleh menolak dan menghalang rahmat walaupun kita memujinya dengan kata-kata kita.
51. Apabila Tuhan berbicara kepada Abraham, Dia memberitahunya: “Akulah Tuhan Yang Mahakuasa, berjalanlah di hadapan-Ku dan jangan bercela” (rujuk Kej 17:1). Agar tidak bercela seperti yang dikehendaki-Nya, kita perlu hidup dengan rendah hati di hadapan-Nya, berselubung kemuliaan-Nya; kita perlu berjalan dalam kesatuan dengannya, mengiktiraf cintanya yang berterusan dalam hidup kita. Kita perlu hilangkan ketakutan kita sebelum kehadiran itu yang hanya boleh untuk kebaikan kita. Tuhan adalah Bapa yang memberi kita hidup dan sangat mengasihi kita. Sebaik sahaja kita menerima dia dan berhenti mencuba hidup kita tanpa dia, penderitaan kesepian akan hilang (rujuk Mzm 139:23-24). Dengan cara ini kita akan mengetahui kehendak Tuhan yang menyenangkan dan sempurna (lih. Rom 12:1-2) dan membenarkan Dia membentuk kita seperti tukang periuk (lih. Is.29:16). Selalunya kita berkata bahawa Tuhan tinggal di dalam kita tetapi lebih baik untuk mengatakan bahawa kita tinggal di dalam Dia, bahawa Dia membolehkan kita tinggal dalam cahaya dan kasih sayang-Nya. Dia adalah bait suci kita; kami meminta untuk tinggal di rumah Tuhan seumur hidup kami (lih. Mzm 27:4). “Sebab satu hari di pelataran-Mu lebih baik daripada seribu hari di tempat lain” ( Mzm 84:10). Di dalam dialah kesucian kita.
Ajaran Gereja yang sering diabaikan.
52. Gereja telah berulang kali mengajar bahawa kita dibenarkan bukan oleh kerja atau usaha kita sendiri tetapi oleh rahmat Tuhan yang sentiasa mengambil inisiatif. Bapa-bapa Gereja bahkan sebelum Santo Augustine dengan jelas menyatakan kepercayaan asas ini. Santo John Chrysostom berkata bahawa Tuhan mencurahkan ke dalam kita sumber semua karunia-Nya bahkan sebelum kita memasuki pertempuran. Santo Basil the Great menyatakan bahawa orang beriman memuliakan Tuhan sahaja kerana "mereka menyedari bahawa mereka kekurangan keadilan sejati dan dibenarkan hanya melalui iman kepada Kristus".
53. Sinode of Orange (The Second Synod of Orange) mengajar dengan kuasa yang kukuh bahawa tiada seorang pun manusia boleh menuntut, merit atau membeli karunia anugerah ilahi dan bahawa semua kerjasama dengannya adalah anugerah terdahulu daripada anugerah yang sama: “Bahkan keinginan untuk disucikan pun berlaku dalam kita melalui pencurahan dan kerja Roh Kudus”. Selepas itu Konsili Trente sambil menekankan kepentingan kerjasama kita untuk pertumbuhan rohani menegaskan kembali ajaran dogmatik itu: “Kita dikatakan dibenarkan secara percuma kerana tiada apa pun yang mendahului pembenaran, baik iman mahupun perbuatan yang layak mendapat rahmat pembenaran; kerana 'jika ia adalah dengan rahmat, ia tidak lagi berdasarkan perbuatan; jika tidak, kasih karunia bukan lagi kasih karunia' (rujuk Rom 11:6)”.
54. Katekismus Gereja Katolik juga mengingatkan kita bahawa karunia rahmat "melebihi kuasa akal dan kehendak manusia" dan bahawa "berkenaan dengan Tuhan, tidak ada hak yang ketat untuk sebarang jasa di pihak manusia. Antara Tuhan dan kita terdapat ketidaksamaan yang tidak terukur”. Persahabatan-Nya melampaui kita; kita tidak boleh membelinya dengan kerja kita, ia hanya boleh menjadi hadiah yang lahir daripada inisiatif penyayangnya. Ini mengundang kita untuk hidup dalam rasa syukur yang penuh sukacita atas pemberian yang sama sekali tidak layak ini, kerana "setelah seseorang mendapat rahmat, rahmat yang sudah dimiliki tidak boleh di bawah jasa". Orang-orang kudus mengelak daripada menaruh kepercayaan pada pekerjaan mereka sendiri: “Pada malam kehidupan ini aku akan muncul di hadapan-Mu dengan tangan kosong kerana aku tidak meminta kepada-Mu, Tuhan, untuk menghitung pekerjaanku. Semua hakim kami mempunyai noda di hadapanmu”.
55. Ini adalah salah satu keyakinan besar yang telah dipegang teguh oleh Gereja. Ia begitu jelas dinyatakan dalam firman Tuhan sehingga tidak boleh dipersoalkan lagi. Seperti perintah kasih yang tertinggi, kebenaran ini harus mempengaruhi cara hidup kita kerana ia mengalir dari hati Injil dan menuntut kita bukan sahaja menerimanya secara intelek tetapi juga menjadikannya sumber kegembiraan yang menular. Namun kita tidak boleh meraikan pemberian percuma persahabatan Tuhan ini melainkan kita menyedari bahawa kehidupan duniawi dan kebolehan semula jadi kita adalah pemberian-Nya. Kita perlu "mengakui dengan gembira bahawa hidup kita pada dasarnya adalah anugerah dan mengakui bahawa kebebasan kita adalah rahmat. Ini tidak mudah hari ini, dalam dunia yang menganggap ia boleh menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri, hasil kreativiti atau kebebasannya sendiri".
56. Hanya atas dasar pemberian Tuhan yang diterima dengan bebas dan diterima dengan rendah hati kita boleh bekerjasama dengan usaha kita sendiri dalam transformasi progresif kita. Pertama-tama kita harus menjadi milik Tuhan, mempersembahkan diri kita kepada Dia yang lebih dahulu berada di sana, dan mempercayakan kepada-Nya kemampuan kita, usaha kita, perjuangan kita melawan kejahatan dan kreativiti kita, supaya pemberian-Nya yang percuma itu dapat tumbuh dan berkembang dalam diri kita: “ Kerana itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah” (rujuk Rm 12:1). Untuk perkara itu, Gereja sentiasa mengajar bahawa kasih sayang sahaja membuat pertumbuhan dalam kehidupan rahmat mungkin, kerana "tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna" ( 1 Kor 13:2).
Pelagian baru.
57. Namun sesetengah orang Kristian berkeras untuk mengambil jalan lain iaitu pembenaran dengan usaha mereka sendiri, penyembahan kehendak manusia dan kebolehan mereka sendiri. Hasilnya adalah rasa puas diri yang mementingkan diri sendiri dan elitis, kehilangan cinta sejati. Ini terungkap dalam pelbagai cara berfikir dan bertindak yang nampaknya tidak berkaitan: ketaksuban terhadap undang-undang, penyerapan dengan kelebihan sosial dan politik, keprihatinan yang teliti terhadap liturgi, doktrin dan prestij Gereja, kesombongan tentang kebolehan mengurus perkara-perkara praktikal dan kebimbangan yang berlebihan terhadap program bantuan diri dan pemenuhan peribadi. Sesetengah orang Kristian menghabiskan masa dan tenaga mereka untuk perkara-perkara ini, daripada membiarkan diri mereka dipimpin oleh Roh dalam jalan kasih.
Sebagai tambahan: Ini juga ada kaitannya dengan individu, keluarga dan komuniti yang bertindak segera tanpa melibatkan seseorang yang peka akan keadaan dan situasi tertentu. Tindakan untuk mengambil keputusan tanpa melibatkan kehadiran seseorang secara nyata dan fizikal boleh menyebabkan seseorang individu, keluarga dan komuniti yang membuat keputusan secara pemikiran idelogi dan sebab/alasan tertentu boleh tersesat jalan dan mengakibatkan memilih jalan hidup yang salah. Jalan kasih Tuhan dan bimbingan Roh Kudus adalah jalan, kebenaran dan kehidupan yang boleh menyedarkan kita di mana silapnya kita selama ini. Selain itu doa dan kebenaran di dalam kasih Allah merupakan kehidupan orang beriman agar di dalam kesatuan Allah, kita dapat bertumbuh secara rohani dan dapat melakukan perbezaan roh-roh di dalam kehidupan seharian kita agar unsur-unsur ajaran sesat tersebut dapat kita atasi dengan bantuan rahmat dan pertolongan dari Tuhan. Diingatkan bahawa kita tidak boleh bertindak sendirian dan mengikuti kehendak diri kita sendiri serta usaha untuk menjawab semua persoalan serta menyakinkan orang lain bahawa setiap persoalan dan kehidupan misteri ada jawapannya. Perangai dan perwatakan setiap orang seperti ini perlu diatasi dengan segera agar unsur-unsur ajaran, peraturan serta kehidupan sosial yang membebankan dan aktiviti/acara yang diikuti dapat dielakkan serta merta dan menolak penyertaan yang telah diberikan. Pilihan kita adalah sungguh-sungguh untuk mengikuti ajaran Yesus Kristus dan Gereja-Nya yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Bukan populariti, gelaran kemenangan mahkota kejuaraan sesuatu festival/pesta atau perayaan, anugerah serta duniawi yang kita sembah dan muliakan. Ini boleh membawa kita kepada pemikiran yang negatif serta keliru kerana percaya akan keputusan yang kita lakukan tanpa melibatkan kehadiran Tuhan dan bimbingan Roh KudusNya. "Jadi saya menggalakkan semua orang untuk merenung dan membezakan di hadapan Tuhan sama ada mereka mungkin hadir dalam kehidupan mereka" (Bapa Suci Pope Francis).
58. Tidak jarang, bertentangan dengan dorongan Roh, kehidupan Gereja boleh menjadi sekeping muzium atau milik segelintir orang terpilih. Ini boleh berlaku apabila sesetengah kumpulan Kristian terlalu mementingkan peraturan, adat atau cara bertindak tertentu. Injil kemudiannya cenderung untuk dikurangkan dan disempitkan, kehilangan kesederhanaan, daya tarikan dan rasa. Ini mungkin satu bentuk pelagianisme yang halus kerana ia nampaknya menundukkan kehidupan rahmat kepada struktur manusia tertentu. Ia boleh memberi kesan kepada kumpulan, pergerakan dan komuniti dan ia menjelaskan mengapa selalunya mereka bermula dengan kehidupan yang sengit dalam Roh hanya untuk menjadi fosil atau rosak.
59. Sebaik sahaja kita percaya bahawa segala-galanya bergantung pada usaha manusia yang disalurkan oleh peraturan dan struktur gerejawi, kita secara tidak sedar merumitkan Injil dan menjadi hamba kepada pelan tindakan yang meninggalkan sedikit ruang untuk kerja rahmat. Santo Thomas Aquinas mengingatkan kita bahawa ajaran yang ditambahkan kepada Injil oleh Gereja harus dikenakan dengan sederhana "supaya tingkah laku orang beriman menjadi membebankan" kerana kemudian agama kita akan menjadi satu bentuk perhambaan.
Rumusan Undang-undang.
60. Untuk mengelakkan perkara ini, eloklah kita sentiasa mengingatkan diri kita bahawa terdapat hierarki kebaikan yang mendorong kita mencari perkara yang penting. Keutamaan adalah milik kebajikan teologi yang menjadikan Tuhan sebagai objek dan motifnya. Di tengah-tengah adalah sedekah Santo Paulus berkata bahawa apa yang benar-benar penting ialah "iman yang bekerja melalui kasih" (Gal 5:6). Kita dipanggil untuk melakukan segala usaha untuk memelihara amal: “Barangsiapa mengasihi orang lain, ia telah memenuhi hukum kerana kasih adalah kegenapan hukum” (rujuk Rm 13:8.10). “Sebab seluruh hukum itu tersimpul dalam satu perintah, ‘Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri’” (Gal 5:14).
61. Dengan kata lain di tengah-tengah rimbunan ajaran dan preskripsi, Yesus membuka jalan untuk melihat dua wajah, wajah Bapa dan wajah saudara kita. Dia tidak memberi kita dua lagi formula atau dua lagi arahan. Dia memberi kita dua wajah, atau lebih baik lagi, satu sahaja: wajah Tuhan terpantul dalam banyak wajah lain. Kerana dalam setiap saudara dan saudari kita terutamanya yang paling kecil, yang paling lemah, yang tidak berdaya dan yang memerlukan, imej Tuhan ditemui. Sesungguhnya, dengan sisa-sisa manusia yang lemah ini, Tuhan akan membentuk karya seninya yang terakhir. Kerana "apa yang bertahan, apa yang bernilai dalam hidup, apa kekayaan yang tidak hilang? Sesungguhnya dua ini: Tuhan dan sesama kita. Kedua-dua kekayaan ini tidak akan hilang!”.
62. Semoga Tuhan membebaskan Gereja daripada bentuk-bentuk baru gnostisisme dan pelagianisme yang membebaninya dan menghalang kemajuannya di sepanjang jalan menuju kekudusan! Penyimpangan ini mengambil pelbagai bentuk, mengikut perangai dan perwatakan setiap orang. Jadi saya menggalakkan semua orang untuk merenung dan membezakan di hadapan Tuhan sama ada mereka mungkin hadir dalam kehidupan mereka.
Bab Keenam.
Kesimpulan dan Penutup.
Dengan mempelajari dan merenungkan ayat- ayat Alkitab dan juga tulisan para Bapa Gereja sesungguhnya kita dapat melihat secara obyektif bahawa sejak dari awal sesungguhnya iman para rasul dan para Bapa Gereja adalah: dalam Diri Yesus, Putera Allah yang menjelma menjadi manusia, terdapat dua kodrat iaitu Allah dan manusia. Sehingga Yesus Kristus dalam hidupnya di dunia adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Jadi anggapan yang mengatakan bahawa Yesus hanya manusia biasa ketika hidup selama 33.5 tahun di dunia (pandangan Kenotik Protestan) sebenarnya merupakan ajaran yang diberikan oleh Martin Luther namun ajaran ini tidak pernah diajarkan oleh para rasul dan para Bapa Gereja. Martin Luther mengajarkan Fil 2:7 dengan melepaskan konteksnya dengan ayat-ayat lainnya di Alkitab, atau tepatnya menggabungkan dengan beberapa ayat lainnya yang kelihatannya mendukung pendapatnya dan menginterpretasikannya kemudian bahawa Putera Allah berhenti menjadi Allah selama 33.5 tahun sewaktu Yesus hidup di dunia.
Sesungguhnya kenyataan ini layak membuat kita semua merenung dan menyadari bahawa dengan merenungkan Alkitab saja tanpa membaca pengajaran para rasul dan Bapa Gereja dapat menghantar kita pada kesimpulan yang keliru yang tidak saja tidak sesuai dengan ayat-ayat Alkitab lainnya, namun juga tidak sesuai dengan akal sehat. Namun tentu saja kita tak boleh memaksakan apa yang menjadi ajaran Gereja Katolik kepada mereka yang tidak dapat atau tidak mahu menerimanya. Hanya mereka yang mencari kebenaran dan memiliki keterbukaan akan pimpinan Roh Kudus akan melihat kebenaran dari ajaran para Bapa Gereja yang dijaga dengan setia oleh Magisterium Gereja Katolik.
Memang jika seseorang menutup mata terhadap kenyataan sejarah dan pengajaran para Bapa Gereja dia dapat menginterpretasikan suatu ayat sesuai dengan pengertiannya sendiri. Atau bahkan dengan berani mengatakan bahawa yang paling benar adalah pengertiannya sendiri dan semua pengertian para Bapa Gereja (dan bahkan para rasul) itu keliru semua. Jika kita pernah berfikir demikian mungkin ada baiknya kita memeriksa ke dalam batin kita dan mohon kepada Roh Kudus karunia kerendahan hati untuk jujur melihat ke dalam diri kita. Semoga kita dapat melihat begitu banyaknya keterbatasan yang kita miliki dalam pemahaman Alkitab dan justru kerana itu, kita perlu dengan rendah hati mempelajari dan melihat dengan hati terbuka terhadap semua pengajaran yang diberikan oleh orang- orang yang lebih mendalami Sabda Tuhan daripada kita. Dan semoga kita dapat dengan lapang hati melihat bahawa mereka yang paling mengenal Peribadi Yesus adalah mereka yang pernah hidup, makan, berjalan bersama Yesus, yaitu Bunda Maria, Santo Yusuf dan dan Para Rasul. Pengajaran Para Rasul itulah yang diteruskan oleh para Bapa Gereja dan Magisterim Gereja Katolik dengan setia dan jika kita ingin mengenal dan mengasihi Kristus maka sudah selayaknya kita belajar dari mereka. Jika mereka mengajarkan bahawa Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia sewaktu hidup-Nya di dunia maka siapakah kita untuk mengatakan sesuatu yang lain daripada itu?
Kita mohon kepada Tuhan untuk memahami misteri kasih-Nya dalam diri Yesus yang adalah Allah dan manusia. Kita juga mohon karunia kerendahan hati untuk menerima pengajaran-Nya walaupun belum sepenuhnya dapat kita fahami dengan sempurna. Semoga Roh Kudus-Nya memimpin kita semua agar kita dapat menerima kebenaran yang Dia nyatakan melalui Sabda-Nya, pengajaran Para Rasul dan para penerus mereka. Dan sebagai penutup dan kesimpulan ajaran Alkitab dan Tradisi Gereja Katolik kita, disini telah disediakan doa serta rujukan dasar Alkitab tentang syahadat panjang yang selalu kita doakan setiap hari. Tetaplah setia kepada Tuhan Yesus Kristus dan Gereja-Nya. Jangan sesekali melakukan murtad dan mengikuti ajaran serta agama yang lain. Yesus adalah sungguh-sungguh manusia dan sungguh-sungguh Allah. Dialah kasih Allah dan Dialah jalan untuk masuk ke Syurga. Dialah pengetahuan untuk memahami kebenaran. Dialah juga yang akan memberikan kita kehidupan yang kekal di Syurga. Berdoalah dan percayalah hanya dalam nama Yesus mukjizat dan keajaiban pasti terjadi dan Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani.
Syahadat Panjang / Syahadat Nicea-Konstantinopel.
Aku percaya akan satu Allah,
Bapa yang mahakuasa,
pencipta langit dan bumi,
dan segala sesuatu yang kelihatan
dan tak kelihatan;
dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah yang tunggal.
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad,
Allah dari Allah,
Terang dari Terang,
Allah benar dari Allah benar.
Ia dilahirkan, bukan dijadikan,
sehakikat dengan Bapa;
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.
Ia turun dari surga untuk kita manusia
dan untuk keselamatan kita.
Ia dikandung dari Roh Kudus,
Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia.
Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus;
Ia menderita sampai wafat dan dimakamkan.
Pada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
Ia akan kembali dengan mulia,
mengadili orang yang hidup dan yang mati;
kerajaan-Nya takkan berakhir.
aku percaya akan Roh Kudus,
Ia Tuhan yang menghidupkan;
Ia berasal dari Bapa dan Putra,
yang serta Bapa dan Putra,
disembah dan dimuliakan;
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
aku percaya akan Gereja
yang satu, kudus, katolik dan apostolik.
aku mengakui satu pembaptisan
akan penghapusan dosa.
aku menantikan kebangkitan orang mati
dan hidup di akhirat.
amin.
Berikut adalah dasar alkitab tentang syahadat panjang:
Aku percaya akan satu Allah
(Ul 6:4; Mrk 12:29, 32)
Bapa
(Mat 5:48, 6:9; Mrk 14:36; Luk 23:46; Yoh 5:18)
Yang mahakuasa
(Ayb 37:23; Mat 26:64)
Pencipta langit dan bumi
(Kej 1:1, 14:9; Kis 4:24; Why 10:6)
dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan
(Kol 1:16)
dan akan satu Tuhan Yesus Kristus
(Kis 2:36, 15.11, 16:31; Rm 5:1; 1Tes 5:28; 2Tes 3:18)
Putra Allah yang tunggal.
(Yoh 1:14, 18; Yoh 3:16,18)
Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad
(Luk 1:35; Yoh 1:1-3)
Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar.Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa
(Ibr 1:3)
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya.
(Ibr 1:3)
Ia turun dari surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita.
(Yoh 3:13)
Ia dikandung dari Roh Kudus,Dilahirkan oleh Perawan Maria, dan menjadi manusia.
(Mat 1:18-25; Luk 1:35)
Ia pun disalibkan untuk kita, waktu Pontius Pilatus
(Mat 27:26; Mrk 15:15; Luk 23:24; Yoh 19:16)
Ia menderita sampai wafat dan dimakamkanPada hari ketiga Ia bangkit menurut Kitab Suci.
(1Kor 15:3-4)
Ia naik ke surga
(Luk 24:51; Kis 1:9-10)
duduk di sisi Bapa.
(Mrk 16:19; Kol 3:1)
Ia akan kembali dengan mulia, mengadili orang yang hidup dan yang mati
(Rm 14:9; 2Tim 4:1)
Kerajaan-Nya takkan berakhir.
(Luk 1:33)
Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan
(Yoh 14:26; Yoh 16:7-11; Kis 2:17; 2Kor 3:6)
Ia berasal dari Bapa dan Putra, yang seta bapa dan Putra disembah dan dimuliakan
(Yoh 14:16; Rm 16:27; 2Tim 4:18)
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.
(Ibr 1:1; 1Ptr 1:10-11)
aku percaya akan Gereja yang satu,
(Yoh 17:21; Rm 12:5)
kudus,
(Yoh 17:17, 19; Ef 5:25-27)
katolik
(Mat 28:19)
dan apostolik.
(Mat 28:20)
aku mengakui satu pembaptisan akan penghapusan dosa.
(Kis 2:38; Kis 22:16)
aku menantikan kebangkitan orang mati
(Kis 24:15; Rm 6:5; 2Kor 4:14)
dan hidup di akhirat.
(Yoh 3:16; Yoh 5:29; Yud 21)
Amin
(Mzm 106:48; 2Kor 1:20)
Syahadat pendek / Syahadat para Rasul:
Aku percaya akan Allah,
Bapa yang Mahakuasa,
pencipta langit dan Bumi
Dan akan Yesus Kristus,
PutraNya yang tunggal, Tuhan kita
Yang dikandung dari Roh Kudus,
dilahirkan oleh perwan Maria.
Yang menderita sengsara
dalam pemerintahan Ponsius Pilatus,
disalibkan wafat dan dimakamkan,
Yang turun ketempat penantian,
pada hari ketiga bangkit
dari antara orang mati
Yang naik ke Syurga,
duduk disebelah kanan
Allah bapa yang Mahakuasa.
Dari situ ia kan datang
mengadili orang hidup dan mati.
Aku percaya akan Roh Kudus,
Gereja katolik yang Kudus,
persekutuan para kudus
Pengampunan Dosa,
Kebangkitan badan,
Kehidupan kekal.
Amin.
Disediakan dan dikemaskini oleh:
Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.
No comments:
Post a Comment