Popular Posts

Friday, June 12, 2026

13 June 2026 (Sabtu) | SABTU HARI BIASA | Peringatan Wajib Hati Tersuci Santa Perawan Maria

13 June 2026 (Sabtu)

SABTU HARI BIASA

Peringatan Wajib Hati Tersuci Santa Perawan Maria (klik disini)

Pembacaan Pertama: Kitab Pertama Raja-Raja 19:19-21

Pembacaan Mazmur: Mazmur 16:1-2a.5.7-8.9-10; Refren: 5a

Bait Pengantar Injil. Alleluia: Lukas 2: 19

Pembacaan dari Injil Santo Lukas: Lukas 2:41-51

Kalender Liturgi 2026 Tahun A/II.

Warna Liturgi Putih.

Madah

O ratu kami yang mulia
Luhur tiada taranya
Engkau merangkul memangku
Tuhan Allah penciptamu.

Pintu yang ditutup Hawa
Dibuka putera bunda
Engkaupun turut berjasa
Membukakan gerbang surga.

Kami anggap tugas luhur
Untuk mengucapkan syukur
Dengan menyanyikan madah
Atas anugerah Allah.

Dimuliakanlah Bapa
Bersama Putra dan Roh-Nya
Yang melimpahkan kurnia
Kepada bunda Maria.
Amen.

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja 19:19-21

“Elisa bersiap-siap lalu mengikuti Elia.”

    Pada suatu ketika pergilah Elia menemui Elisa, putera Safat, yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, dan dia sendiri mengendalikan yang kedua belas. Elia lewat di dekatnya dan melemparkan jubah kepadanya. Segera Elisa meninggalkan lembu-lembunya, mengejar Elia dan berkata, “Perkenankanlah aku mencium ayah ibuku, lalu aku akan mengikuti Engkau.” Jawab Elia kepadanya, “Baiklah! Pulanglah dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu.” Elisa lalu meninggalkan Elia, mengambil pasangan lembu itu dan menyembelihnya. Lalu ia memasak dagingnya dengan kayu bajak itu sebagai kayu api, dan memberikan daging itu kepada orang-orangnya, dan mereka pun memakannya. Kemudian bersiaplah Elisa, lalu mengikuti Elia dan menjadi pelayannya.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 16:1-2a.5.7-8.9-10; Refren: 5a

Ref. Bahagia kuterikat pada Yahwe. Harapanku pada Allah Tuhanku.

1.   Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung. Aku berkata kepada Tuhan, “Engkaulah Tuhanku!” Ya Tuhan, Engkaulah bagian warisan dan pialaku. Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.

2.  Aku memuji Tuhan, yang telah memberi nasihat kepadaku, pada waktu malam aku diajar oleh hati nuraniku. Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

3.  Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak sorai, dan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan orang kudus-Mu melihat kebinasaan.

BAIT PENGANTAR INJIL: Lukas 2: 19

R. Alleluia, alleluia.

Maria menyimpan segala perkara itu dalam hati dan merenungkannya.

R. Alleluia, alleluia.

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas 2:41-51

(Umat) : Dimuliakanlah Tuhan

Yesus pada umur dua belas tahun dalam Bait Allah

    Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada hari raya Paskah. Ketika Yesus telah berumur dua belas tahun, pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim pada hari raya itu. Sehabis hari-hari perayaan, ketika mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem tanpa diketahui orang tua-Nya. Karena mereka menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan kenalan mereka. Karena mereka tidak menemukan Dia, kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia. Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam bait Allah; sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka. Dan semua orang yang mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan segala jawab yang diberikan-Nya. Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya, “Nak, mengapa Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku cemas mencari engkau.” Jawab Yesus kepada mereka, “Mengapa Bapak-Ibu mencari Aku? Tidakkah tahu, bahwa Aku harus berada di rumah Bapa-Ku?” Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya

Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

Untuk renungan kita hari ini:

Bahan renungan ini sesuai untuk semua lapisan masyarakat khususnya untuk kegunaan peribadi, keluarga dan komuniti. Setiap kelompok dan kumpulan mahupun Kongregasi yang ada di dalam Yesus, Maria, Yusuf Pelayanan Kasih (Blessed and Saints and the Nine Choirs of Angels) digalakkan untuk menggunakannya secara bebas.

Renungan pembacaan pada hari ini.

    Penampilan dan identiti kita ini boleh di lihat dari sikap dan cara kita hidup setiap hari. Seringkali kita melihat rakan-rakan atau pasangan perempuan kita ini memiliki penampilan yang mirip dengan anaknya. Wajahnya, cara bicara, cara berjalan yang sama, juga sifat atau karakter yang serupa. Boleh jadi, sebagai seorang isteri, kita mendidik anak-anak kita dengan baik sehingga tingkah laku mereka sama baiknya dengan kita. Dan apa yang dimiliki oleh orangtua diwariskan pada anak-anak. Saya menggunakan kehidupan keluarga hari ini kerana ianya perlu di teliti kembali tentang cara hidup dan pelayanan kita semua disini yang ada di dalam Yesus, Maria, Yusuf Pelayanan Kasih (Blessed and Saints and the Nine Choirs of Angels). Saya mengimani bahawa percintaan kita sebagai manusia itu baik. Ini kerana percintaan dan perkahwinan itu adalah karunia dan panggilan daripada Tuhan. Apabila seorang gadis mulai merasakan cinta di hatinya terhadap seorang lelaki, dia mulai akan mengalami tanda-tanda cinta di hati. Boleh jadi gadis itu seakan-akan mengelamun sendirian, dan perasaan sayang dan kasih itu di bawa ke alam hidupnya. Setiap hari perasaan itu akan memancarkan kata-kata dari hati yang indah, apabila masanya sudah tiba gadis itu telah melihat sendiri peribadi lelaki pujaannya ada di depan matanya. Mari kita baca pembacaan hari ini dan merenungkan kebaikan Tuhan terhadap kita semua.

    Pembacaan Injil pada hari ini menggambarkan kisah perkembangan keluarga Nasaret, iaitu tempat di mana kanak-kanak Yesus diutus Allah Bapa menjadi manusia. Yusuf dan Maria membimbing Yesus menurut tradisi Yahudi. Ketika mereka pergi ke Bait Allah, Yesus dinyatakan hilang setelah terpisah dari Maria dan Yusuf. Dan ternyata Yesus tinggal di Bait Allah bersama dengan para ahli Taurat dan orang Yahudi. Melalui kisah Injil ini, terdapat banyak gambaran bagaimana Hati Kudus Yesus selaras dan menyatu dengan Hati Bunda Maria Tidak Bernoda. Relasi mereka menembus batas kekeluargaan. Seperti halnya Yesus bersatu dengan Bapa-Nya, demikian pula Maria Bersatu dengan Yesus Kristus, Putera Allah. Kesucian Maria terlihat melalui sikap kesediaannya dan kerendahan hatinya untuk menerima kehendak Allah dan menerima Yesus di dalam hati dan doanya serta seluruh perjalanan hidupnya. Relasi inilah yang perlu kita lihat bagaimana sebuah keluarga itu akan berkembang di masa hadapan. Sebagai contoh, apabila saya berkahwin dengan seorang gadis yang baik dan sederhana, anak-anak saya itu juga akan mewarisi penampilan yang mirip dengan saya dan isteri saya. Wajah anak-anak, cara mereka bercakap, dan cara mereka berjalan yang sama, juga sifat atau karakter yang serupa dengan saya dan isteri saya. Kemudian, anak-anak kami itu akan bertumbuh dan membesar dengan baik sehingga tingkah laku mereka juga sama baiknya dengan kami berdua. 

    Dan apa yang dimiliki oleh saya sebagai bapa dan isteri saya sebagai seorang ibu itu akan diwariskan pada anak-anak kami. Inilah relasi yang saya maksudkan disini. Ini juga panggilan Tuhan untuk kita yang memilih cara hidup dan pelayanan disini. Seperti Bunda Maria, kita sebagai pengikut Yesus dipanggil untuk menyatukan hati kita dengan Hati Yesus dan membiarkan hidup kita dituntun dan diarahkan oleh Tuhan. Sikap rendah hati yang dimiliki Bunda Maria ini memampukan dia untuk taat dan membiarkan dirinya dituntun oleh Roh Allah sehingga menuju kepada kesucian hati. Marilah kita berdoa kepada Tuhan agar kita juga mampu bersikap rendah hati dan taat agar kuasa Tuhan bekerja dalam diri kita. Relasi dan hubungan kita dengan Tuhan haruslah ada pada setiap peribadi kita semua. Kita lakukan ini setiap hari agar hidup ini sungguh-sungguh membawa penghiburan dan berkat kepada orang lain. Seperti yang saya telah jelaskan di awal perkongsian saya disini:

1. Kita yang mewarisi kebudayaan dan adat resam dari nenek moyang di dalam masyarakat Kadazan Dusun Murut Rungus (KDMR) tetap berkait rapat di dalam keluarga, komuniti, pekerjaan dan juga untuk pelayanan di Gereja.

2. Semoga kehadiran kita di dunia ini mengundang kita semua untuk berjalan bersama dalam langkah kasih hati Kudus Yesus dan ikut serta membawa berkat kegembiraan, damai, persatuan dan suka cita kepada semakin banyak orang yang kita jumpai. Langkah-langkah ini perlu agar kita tidak pernah lupa untuk membawa masyarakat kita di Sabah untuk hidup dalam perpaduan, solidariti dan damai. Pesta Kaamatan pada 30-31 Mei 2026 baru-baru ini merupakan sebahagian daripada kehidupan kita untuk merasakan kasih Allah di setiap suku kaum kita yang mewarisi kebudayaan dan adat resam dari nenek moyang di dalam masyarakat Kadazan Dusun Murut Rungus (KDMR).

3. Sokongan penuh dalam doa kepada pertandingan Unduk Ngadau merupakan doa kasih kita kepada semua peserta Unduk Ngadau. Tuhan itu baik dan sentiasa mendengarkan doa-doa kita. Walaupun duduk berjauhan dari pentas KDCA, doa kita itu mampu mengalirkan akan kasih Allah untuk sepanjang acara dan aktiviti Unduk Ngadau ini. Saya mengimbas kembali ini kerana Hati Kudus Yesus ini ada di dalam kehidupan kita yang tidak kita sedari. Lihatlah akan tanda-tanda zaman ini, yang memerlukan seorang pendoa dan pelayan yang baik, untuk ikut serta di dalam doa komuniti dan Gereja Universal di seluruh dunia. Jika ini yang kita lakukan melalui cara hidup dan pelayanan kita, semua orang dapat mengalami rahmat keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus.

    Mari kita baca seterusnya apa itu relasi dan hubungan yang ada di dalam kehidupan Keluarga Kudus Nazareth ini. Maria dan Yusuf pernah mengalami kepanikan yang luar biasa. Mereka kehilangan Yesus seketika. Dan selama tiga hari mereka mencari-Nya dengan cemas. Dalam ayat ini, kita bawa dalam doa sebentar dan cuba untuk membayangkan perasaan mereka pada waktu itu. Kemungkinan ada di antara kita akan mulai terfikir yang muncul pada ketika itu adalah rasa bingung, takut, atau mungkin bertanya-tanya mengapa hal itu boleh terjadi. Namun dalam keadaan kegelisahan itu, mereka akhirnya menemukan Yesus di Bait Allah. Pengalaman ini sering kali serupa dengan perjalanan hidup kita. Ada saat-saat tertentu kita juga merasa kehilangan arah hidup. Doa kita juga seolah-olah tidak terjawab. Rencana dan usaha kita yang sudah di atur juga tidak terlaksana. Kita merasakan beban oleh kerana pembelajaran kita di sekolah, pekerjaan, keluarga, atau panggilan dan cara hidup kita disini terasa begitu berat. Dalam situasi seperti itu, kita mudah berfikir bahawa Tuhan jauh atau meninggalkan kita. Pembacaan Injil pada hari ini juga mengingatkan kita bahawa walaupun Maria dan Yusuf tidak memahami sepenuhnya apa yang terjadi, Allah tetap berkarya. 

    Dan dalam peristiwa yang membingungkan itu, Allah sedang menuntun mereka untuk semakin mengenal misteri panggilan Putra-Nya, Yesus Kristus. Demikian pula dalam hidup kita semua. Allah tidak pernah berhenti menyertai langkah-langkah kehidupan kita. Kehadiran-Nya tidak selalu kita sedari di dalam kemudahan atau keberhasilan. Sering kali Tuhan itu hadir dalam kesabaran saat menanggung kesulitan dan dalam kekuatan untuk bangkit semula setelah jatuh, dan dalam harapan yang tetap menyala ketika jalan di depan terasa gelap. Inilah tanda-tanda zaman yang saya renungkan di masa kini. Saya berdoa agar kehidupan keluarga kita masing-masing sungguh-sungguh mengalami relasi dan hubungan yang benar daripada Tuhan. Dan setelah mengalami sentuhan rasa rohani dan inspirasi akan pembacaan ini, saya menggalakkan agar anda semua melakukan doa dan renungan seterusnya dengan melakukan Lectio Divina. Ambillah pembacaan hari ini dan teruskan berdoa. Kamu sendiri akan menemukan bahawa relasi dan hubungan itu ada di dalam doa anda semua secara peribadi dengan Tuhan.

Doa Permohonan Pagi dan Petang menurut ajaran Tradisi Suci dan Gereja Katolik

Doa permohonan ini wajib didoakan oleh semua ahli yang ada di dalam Yesus, Maria, Yusuf Pelayanan Kasih (Blessed and Saints and the Nine Choirs of Angels). Doa ini boleh didoakan secara peribadi, keluarga, di dalam komuniti terutama sekali untuk kegunaan kelompok atau kumpulan yang telah ditubuhkan. Setiap Kongregasi wajib mendoakan doa-doa permohonan yang telah disediakan mengikut doa resmi Gereja Katolik yang ditetapkan dan diatur secara liturgi dan yang berakar pada Tradisi Suci dan Gereja Katolik. 

Doa Permohonan Pagi

Penyelamat kita telah sudi lahir dari perawan Maria. Marilah kita menyembah Kristus dan berkata:

U: Semoga bunda-Mu mendoakan kami, ya Tuhan.

P: Kristus, matahari sejati, perawan Maria telah mendahului Engkau seperti fajar mendahului siang,* semoga kami hidup dalam cahaya kedatangan-Mu.

P: Sabda kekal, Engkau telah memilih Maria menjadi bunda-Mu yang tak bernoda,* bebaskanlah kami dari noda dosa.

P: Penyelamat kami, pada saat penderitaan dan wafat-Mu, bunda-Mu berdiri di kaki salib,* semoga berkat doanya, kami mengambil bagian dalam penderitaan-Mu dengan gembira hati.

P: Yesus Yang Mahamurah, ketika terpaku pada salib, Engkau menyerahkan Maria kepada Yohanes sebagai bundanya,* semoga kami hidup selaku putera Maria yang sejati.

Atau:
Penyelamat kita telah sudi lahir dari perawan Maria. Marilah kita menyembah Kristus dan berkata:

U: Semoga bunda-Mu mendoakan kami, ya Tuhan.

P: Penyelamat dunia, berkat kekuatan penebusan-Mu, Engkau telah melindungi bunda-Mu terhadap noda dosa,* lindungilah kamipun terhadap dosa.

P: Penebus kami, Engkau menjadikan santa Maria tempat kediaman Roh kudus,* penuhilah kami juga dengan Roh-Mu.

P: Sabda kekal, Engkau telah mengajar bunda-Mu memilih bagian yang terbaik,* semoga kami meneladan dia dan tekun mendengarkan sabda-Mu.

P: Raja para raja, Engkau telah mengangkat bunda-Mu ke surga dengan jiwa raganya,* semoga hati kami tetap terarah kepada-Mu.

P: Penguasa surga dan dunia, Engkau mentakhtakan Maria menjadi ratu yang mulia,* semoga kamipun Kauizinkan masuk ke dalam kemuliaan abadi.

Doa tambahan: Setelah doa-doa ini selesai didoakan, anda semua boleh menggunakan doa dari kata-kata anda sendiri secara spontan dan mengikut keadaan dan situasi masing-masing.

Bapa Kami

Bapa kami yang ada di surga, Dimuliakanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mudi atas bumi seperti di dalam surga.

Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan,tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.

Doa Penutup

Ya Tuhan, dengan meriah kami mengenangkan perawan Maria dan kami percaya bahwa ia berdoa bagi kami. Semoga karena doanya Engkau berkenan melimpahkan rahmat-Mu kepada kami. Demi Yesus Kristus, Putera-Mu dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amen.

PEMBUBARAN UMAT

PENUTUP

Dalam perayaan meriah, kalau ada paderi atau diakon, umat dibubarkan sebagai berikut:

I (Paderi) : Tuhan sertamu (atau Tuhan bersamamu)

U (Umat) : Dan bersama rohmu

I (Paderi) : Semoga saudara sekalian diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa dan Putera, dan Roh Kudus.

U (Umat) : Amen.

Atau dalam perayaan sederhana dan untuk doa secara peribadi, ibadat doa penutup ini ditutup sebagai berikut:

P: Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup kekal.
U: Amen.

Madah

Salam bintang laut
Bunda Yesus Kristus
Sebab engkau ikut
Membantu penebus.

Tolonglah yang papa
Bimbinglah yang buta
Hiburlah yang duka
Sembuhkan yang luka.

Kami mohon iman
Mohon pengharapan
Supaya bertahan
Dalam cinta Tuhan.

Terpujilah Bapa
Bersama Putera
Serta Roh-Nya pula
Selama-lamanya.
Amen.

Doa Permohonan Petang

Marilah kita memuji Allah, Bapa Yang Mahakuasa, dan bersuka ria di hadapan-Nya.
Sebab Ia telah merahmati santa Maria yang disebut bahagia oleh semua bangsa.
Maka hendaklah kita berdoa dengan rendah hati:

U: Terimalah doa Maria dan kasihanilah kami.

P: Engkau telah mengangkat Maria menjadi bunda yang bermurah hati,* semoga semua orang yang ditimpa mara bahaya mengalami cintanya.

P: Engkau menghendaki Maria sebagai ibu keluarga di rumah Yesus dan Yusuf,* semoga berkat doanya semua ibu memupuk cinta kasih dalam rumah tangganya.

P: Engkau menguatkan Maria, ketika ia berdiri di kaki salib, dan menggembirakan hatinya dengan kebangkitan Putera-Mu,*hiburkanlah orang yang bersusah dan kuatkanlah harapan mereka.

P: Engkau membuka hati Maria untuk mendengarkan sabda-Mu dan menyerahkan dirinya kepada-Mu sebagai hamba yang setia,* semoga berkat doanya, kami menjadi hamba dan murid Putera-Mu.

P: Engkau telah memahkotai Maria di surga,* semoga semua arwah bersuka ria di dalam kerajaan-Mu bersama para kudus.

Doa tambahan: Setelah doa-doa ini selesai didoakan, anda semua boleh menggunakan doa dari kata-kata anda sendiri secara spontan dan mengikut keadaan dan situasi masing-masing.

Bapa Kami

Bapa kami yang ada di surga, Dimuliakanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mudi atas bumi seperti di dalam surga.

Berilah kami rezeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan,tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.

Doa Penutup

Ya Tuhan, dengan meriah kami mengenangkan perawan Maria dan kami percaya bahwa ia berdoa bagi kami. Semoga karena doanya Engkau berkenan melimpahkan rahmat-Mu kepada kami. Demi Yesus Kristus, Putera-Mu dan pengantara kami, yang hidup dan berkuasa bersama Engkau dalam persekutuan Roh Kudus, sepanjang segala masa. Amen.

PEMBUBARAN UMAT

PENUTUP

Dalam perayaan meriah, kalau ada paderi atau diakon, umat dibubarkan sebagai berikut:

I (Paderi) : Tuhan sertamu (atau Tuhan bersamamu)

U (Umat) : Dan bersama rohmu

I (Paderi) : Semoga saudara sekalian diberkati oleh Allah yang mahakuasa, Bapa dan Putera, dan Roh Kudus.

U (Umat) : Amen.

Atau dalam perayaan sederhana dan untuk doa secara peribadi, ibadat doa penutup ini ditutup sebagai berikut:

P: Semoga Tuhan memberkati kita, melindungi kita terhadap dosa dan menghantar kita ke hidup kekal.
U: Amen.

Jonathan Fabian Ginunggil,
Pelayan Atasan Tertinggi / Most High Servant,
Yesus, Maria, Yusuf Pelayanan Kasih / Jesus, Mary, Joseph Ministry of Love 
(Blessed and Saints and the Nine Choirs of Angels)

My vocation is Blessed and Saints.

"I am the most humble of all the Saints in Heaven" Mary, Mother of God."

"I am the handmaid of the Lord, said Mary ‘let what you have said be done to me."

Mother Mary is the most humble Saint in Heaven and she is also the Mother of God for us all
(Luke 1:38)

Petikan dan Rujukan:

Una Fedeltà Che Genera Futuro: Surat Apostolik Bapa Suci Paus Leo XIV dalam rangka Peringatan 60 tahun Dekrit Konsili Optatam Totius dan Presbyterorum Ordinis

SURAT APOSTOLIK BAPA SUCI PAUS LEO XIV
DALAM RANGKA PERINGATAN 60 TAHUN
DEKRET KONSILI
OPTATAM TOTIUS DAN PRESBYTERORUM ORDINIS

UNA FEDELTÀ CHE GENERA FUTURO
Kesetiaan yang Melahirkan Masa Depan

1. Kesetiaan yang melahirkan masa depan juga merupakan panggilan bagi para imam zaman ini. Dengan menyadari bahwa ketekunan dalam perutusan apostolik memberi kita kesempatan untuk memikirkan masa depan pelayanan, kita juga dapat menolong orang lain merasakan sukacita panggilan imamat. Peringatan 60 tahun Konsili Vatikan II, yang dirayakan pada Tahun Yubileum ini, menjadi kesempatan untuk merenungkan kembali karunia kesetiaan yang berbuah ini. Kita melaksanakannya sembari mengingat ajaran Dekret Optatam Totius dan Presbyterorum Ordinis, yang promulgasikan masing-masing pada 28 Oktober dan 7 Desember 1965. Kedua dekret tersebut lahir dari semangat Gereja yang sama, yaitu Gereja yang merasa dipanggil menjadi tanda dan sarana persatuan bagi semua bangsa, serta terdorong untuk memperbarui diri, dengan kesadaran bahwa “pembaruan yang diharapkan bagi seluruh Gereja sangat bergantung pada pelayanan imamat yang dihidupkan oleh Roh Kristus.” [1]

2. Kita tidak sedang merayakan peringatan hanya sekadar formalitas. Kedua dokumen tersebut berdiri kokoh di atas pemahaman Gereja sebagai Umat Allah yang sedang berziarah dalam sejarah. Keduanya menjadi tonggak penting dalam refleksi tentang hakikat dan misi pelayanan pastoral, serta persiapan untuk pelayanan itu. Sampai sekarang pun keduanya tetap segar dan sangat relevan. Karena itu, saya mengundang semua komunitas Kristiani untuk terus membaca kedua teks tersebut dan mempelajarinya, terutama di seminari-seminari dan di semua tempat pembinaan calon imam.

3. Dekret Optatam Totius dan Presbyterorum Ordinis, yang berakar kuat dalam tradisi ajaran Gereja tentang sakramen Imamat, membawa refleksi tentang pelayanan imamat ke hadapan Konsili dan menunjukkan perhatian sidang Konsili terhadap para imam. Tujuannya adalah merumuskan syarat-syarat yang dibutuhkan untuk membentuk imam generasi masa depan sesuai dengan pembaruan yang didorong oleh Konsili, sambil tetap menjaga identitas pelayanan itu. Pada saat yang sama, kedua dekret itu juga menampilkan sudut pandang baru yang melengkapi refleksi sebelumnya, dalam kerangka perkembangan doktrinal yang sehat. [2] Karena itu, kita harus menjadikannya kenangan yang hidup dengan menanggapi panggilan yang disampaikan dekret-dekret ini kepada seluruh Gereja: memperkuat pelayanan imamat setiap saat dan setiap hari, dengan mengambil daya dari akarnya, yaitu ikatan antara Kristus dan Gereja. Dengan begitu, para imam, bersama semua orang beriman dan demi melayani mereka, dapat menjadi murid-murid misioner sesuai dengan Hati-Nya.

4. Dalam enam puluh tahun sejak Konsili, umat manusia telah mengalami dan masih mengalami perubahan-perubahan yang menuntut kita untuk terus meninjau kembali perjalanan yang telah ditempuh serta menyesuaikannya dengan ajaran Konsili secara konsisten. Dalam masa itu, Gereja juga telah dipimpin oleh Roh Kudus untuk mengembangkan ajaran Konsili tentang sifat komunalnya sesuai dengan bentuk Gereja yang sinodal dan misioner. [3] Dengan maksud inilah Surat Apostolik ini saya tujukan kepada seluruh Umat Allah: agar kita bersama-sama menimbang kembali identitas dan peran pelayanan tertahbis dalam terang apa yang Tuhan minta dari Gereja pada masa ini, sambil meneruskan karya besar pembaruan Konsili Vatikan II. Saya mengusulkan agar ini dilihat melalui lensa kesetiaan: kesetiaan sebagai rahmat Allah dan sekaligus sebagai jalan pertobatan terus-menerus untuk menjawab panggilan Tuhan Yesus dengan sukacita. Saya ingin memulai semuanya ini dengan ucapan syukur atas kesaksian dan pengabdian para imam di seluruh dunia, yang mempersembahkan hidup mereka, merayakan kurban Kristus dalam Ekaristi, mewartakan Sabda, mengampuni dosa, dan setiap hari dengan murah hati membaktikan diri bagi saudara-saudari mereka, terutama mereka yang paling menderita dan hidup dalam kekurangan.

Kesetiaan dan pelayanan

5. Setiap panggilan dalam Gereja lahir dari perjumpaan pribadi dengan Kristus, “yang memberi kehidupan cakrawala baru dan dengan demikian arah yang menentukan.” [4] Sebelum ada komitmen apa pun, sebelum ada cita-cita pribadi yang baik, sebelum ada pelayanan apa pun, selalu ada suara Sang Guru yang memanggil: “Datanglah dan ikutilah Aku” (Mrk 1:17). Tuhan kehidupan mengenal kita dan menerangi hati kita dengan tatapan kasih-Nya (lih. Mrk 10:21). Ini bukan hanya suara batin, melainkan dorongan rohani yang sering sampai kepada kita melalui teladan murid-murid Tuhan lainnya dan menjadi nyata dalam pilihan hidup yang berani. Kesetiaan pada panggilan, terutama saat ujian dan godaan datang, menjadi kuat bila kita tidak melupakan suara itu, bila kita tetap mampu mengingat dengan penuh semangat suara Tuhan yang mengasihi, memilih, dan memanggil kita. Kita juga perlu mempercayakan diri pada pendampingan yang tak tergantikan dari mereka yang berpengalaman dalam hidup rohani. Gema Sabda itu, seiring waktu, menjadi prinsip persatuan batin dengan Kristus, yang sangat penting dan tidak dapat digantikan dalam hidup apostolik.

6. Panggilan kepada pelayanan tertahbis adalah anugerah Allah yang bebas dan tak ternilai. Pada dasarnya, panggilan bukanlah paksaan dari Tuhan, melainkan tawaran penuh kasih tentang rencana keselamatan dan kebebasan bagi hidup kita. Kita menerimanya ketika, oleh rahmat Allah, kita menyadari bahwa di pusat hidup kita terdapat Yesus, Tuhan. Dengan demikian, panggilan kepada imamat tumbuh sebagai penyerahan diri kepada Allah dan karena itu juga kepada Umat-Nya yang kudus. Seluruh Gereja berdoa dan bersukacita atas karunia ini dengan hati yang penuh harapan dan syukur, seperti diungkapkan Paus Benediktus XVI pada penutupan Tahun Imam: “Kami ingin membangkitkan sukacita karena Allah begitu dekat dengan kami, dan rasa syukur atas kenyataan bahwa Dia mempercayakan diri-Nya kepada kelemahan kami; bahwa Dia memimpin dan menopang kami hari demi hari. Kami juga ingin menunjukkan sekali lagi kepada kaum muda bahwa panggilan ini, persekutuan pelayanan bagi Allah dan bersama Allah ini, memang ada – bahkan, bahwa Allah sedang menanti ‘ya’ kami.” [5]

7. Setiap panggilan adalah anugerah dari Bapa dan harus dijaga dengan setia dalam dinamika pertobatan terus-menerus. Ketaatan pada panggilan dibangun setiap hari melalui mendengarkan Sabda Allah, merayakan sakramen – terutama Ekaristi – mewartakan Injil, dekat dengan mereka yang terpinggirkan, dan hidup dalam persaudaraan imamat, sambil menjadikan doa sebagai tempat utama perjumpaan dengan Tuhan. Setiap hari, imam seakan kembali ke danau Galilea, tempat Yesus bertanya kepada Petrus, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15), untuk memperbarui jawaban “ya”-nya. [6] Dalam arti ini, kita dapat memahami maksud Optatam Totius tentang pembinaan imamat: pembinaan itu tidak boleh berhenti pada masa seminari saja (lih. no. 22), tetapi harus membuka jalan bagi pembinaan yang terus berlanjut dan permanen, sehingga terbentuk dinamika pembaruan manusiawi, rohani, intelektual, dan pastoral yang berlangsung terus-menerus.

8. Karena itu, semua imam dipanggil untuk terus merawat pembinaan diri mereka, agar karunia Allah yang diterima dalam sakramen Imamat tetap hidup (lih. 2Tim 1:6). Maka, kesetiaan pada panggilan bukanlah sikap statis atau menutup diri, melainkan perjalanan pertobatan harian yang meneguhkan dan mematangkan panggilan yang sudah diterima. Dalam semangat ini, tepatlah untuk mendorong inisiatif seperti konferensi bina lanjut para imam yang diadakan di Vatikan pada 6–10 Februari 2024, dengan lebih dari delapan ratus penanggung jawab bina lanjut dari delapan puluh negara. Sebelum menjadi usaha intelektual atau pembaruan pastoral, bina lanjut pertama-tama adalah kenangan hidup dan pembaruan terus-menerus atas panggilan pribadi dalam perjalanan bersama.

9. Sejak saat panggilan dan masa pembinaan awal, keindahan dan keteguhan perjalanan dipelihara oleh Sequela Christi, mengikuti Kristus. Setiap gembala, sebelum mendedikasikan diri untuk memimpin kawanan, harus selalu ingat bahwa ia sendiri adalah murid Sang Guru, bersama saudara-saudari lainnya. Sebab “sepanjang hidup, kita selalu menjadi ‘murid’, dengan kerinduan terus-menerus untuk menjadi serupa dengan Kristus.” [7] Hanya hubungan sebagai pengikut yang taat dan murid yang setia itulah yang dapat menjaga pikiran dan hati tetap pada arah yang benar, apa pun gejolak hidup yang dihadapi.

10. Dalam beberapa dekade terakhir, krisis kepercayaan terhadap Gereja yang dipicu oleh pelecehan yang dilakukan oleh anggota klerus – sesuatu yang membuat kita malu dan mengingatkan kita untuk rendah hati – telah membuat kita semakin sadar betapa mendesaknya pembinaan yang integral. Pembinaan itu harus menjamin pertumbuhan dan kematangan manusiawi para calon imam, bersama dengan kehidupan rohani yang kaya dan kokoh.

11. Tema pembinaan juga sangat penting ketika menghadapi kenyataan mereka yang, setelah beberapa tahun bahkan puluhan tahun, meninggalkan pelayanan. Kenyataan yang menyedihkan ini tidak boleh ditafsirkan hanya dari sisi hukum, tetapi harus membuat kita memandang dengan perhatian dan belas kasih sejarah hidup saudara-saudara itu dan berbagai alasan yang mungkin membawa mereka pada keputusan tersebut. Tanggapan yang pertama-tama perlu diberikan adalah komitmen pembinaan yang diperbarui, yang tujuannya adalah “sebuah perjalanan keakraban dengan Tuhan yang melibatkan seluruh pribadi, hati, akal budi, kebebasan, dan membentuknya menjadi serupa dengan Gembala yang Baik.” [8]

12. Karena itu, “seminari, dalam bentuk apa pun, seharusnya menjadi sekolah kasih sayang […], kita perlu belajar mencintai dan melakukannya seperti Yesus.” Maka saya mengajak para seminaris untuk membuat refleksi batin tentang motivasi yang menyentuh semua aspek hidup mereka: “Sebenarnya, tidak ada sesuatupun dalam diri kalian yang harus dibuang, tetapi semuanya harus diterima dan diubah sesuai dengan logika butir gandum, agar kalian menjadi orang-orang dan imam yang bahagia, menjadi ‘jembatan’ dan bukan penghalang bagi pertemuan dengan Kristus bagi semua orang yang mendekati kalian.” [9] Hanya imam dan pribadi yang dibaktikan yang matang secara manusiawi dan kuat secara rohani – yaitu mereka yang dimensi manusiawi dan rohaninya terintegrasi dengan baik dan karena itu mampu menjalin relasi yang autentik dengan semua orang – yang dapat menjalani komitmen selibat dan mewartakan Injil Kristus yang bangkit secara kredibel.

13. Jadi, yang dibutuhkan adalah menjaga dan mengembangkan panggilan dalam perjalanan pertobatan terus-menerus dan kesetiaan yang selalu diperbarui. Ini tidak pernah menjadi perjalanan pribadi semata, tetapi mengikat kita untuk saling menjaga. Dinamika ini selalu merupakan karya rahmat yang merangkul kemanusiaan kita yang rapuh dan menyembuhkannya dari narsisme dan egosentrisme. Dengan iman, harapan, dan kasih, kita dipanggil untuk mengikuti Kristus setiap hari dengan menaruh seluruh kepercayaan kepada Tuhan. Persekutuan, sinodalitas, dan misi tidak dapat terwujud bila, di dalam hati para imam, godaan untuk mengutamakan diri sendiri tidak digantikan oleh logika mendengarkan dan melayani. Seperti ditekankan Benediktus XVI, “imam adalah hamba Kristus, dalam arti bahwa keberadaannya, yang secara ontologis diserupakan dengan Kristus, memiliki watak yang pada dasarnya relasional: ia ada di dalam Kristus, demi Kristus, dan bersama Kristus untuk melayani sesama manusia. Justru karena ia milik Kristus, imam secara radikal melayani umat manusia: ia adalah pelayan keselamatan mereka, kebahagiaan mereka, pembebasan sejati mereka, sambil terus bertumbuh dalam penerimaan kehendak Kristus melalui doa dan ‘berbagi hati’ dengan-Nya.” [10]

Kesetiaan dan persaudaraan

14. Konsili Vatikan II menempatkan pelayanan khusus para imam dalam martabat yang sama dan persaudaraan semua orang yang dibaptis. Hal ini dinyatakan dengan jelas dalam Dekret Presbyterorum Ordinis: “Para imam Perjanjian Baru, meskipun berdasarkan sakramen Imamat mereka menjalankan tugas yang luhur dan tak tergantikan sebagai bapa dan guru di tengah dan bagi umat Allah, tetaplah murid-murid Tuhan seperti umat beriman lainnya, yang dipanggil untuk ikut serta dalam Kerajaan-Nya oleh kasih karunia Allah. Di tengah semua orang yang dilahirkan kembali melalui air Baptisan, para imam adalah saudara-saudara sebagai anggota dari satu Tubuh Kristus yang sama, yang pembangunannya adalah tugas semua orang.” [11] Dalam persaudaraan dasar yang berakar dalam Baptisan dan menyatukan seluruh Umat Allah, Konsili juga menyoroti ikatan persaudaraan khusus di antara para pelayan yang ditahbiskan, yang berdasar pada Sakramen Tahbisan itu sendiri: “Semua imam, yang dipersatukan dalam Tahbisan Imam, diikat satu sama lain oleh persaudaraan sakramental yang erat. Secara khusus mereka membentuk satu presbiterium dalam keuskupan tempat mereka bertugas di bawah Uskup mereka. […] Karena itu, masing-masing terikat kepada anggota presbiterium lainnya oleh ikatan khusus kasih apostolik, pelayanan, dan persaudaraan.” [12] Jadi, persaudaraan imamat, sebelum menjadi tugas yang harus diwujudkan, adalah anugerah yang melekat dalam rahmat Tahbisan. Harus diakui bahwa karunia ini mendahului kita: persaudaraan tidak dibangun semata-mata oleh niat baik dan usaha bersama, tetapi merupakan karunia rahmat yang membuat kita mengambil bagian dalam pelayanan Uskup dan terwujud dalam persekutuan dengannya serta dengan sesama imam.

15. Karena itu, para imam dipanggil untuk menanggapi karunia persaudaraan itu dengan menunjukkan dan meneguhkan dalam hidup mereka apa yang sudah ditetapkan di antara mereka, bukan hanya oleh rahmat baptis, tetapi juga oleh sakramen Tahbisan. Setia pada persekutuan berarti pertama-tama mengalahkan godaan individualisme, yang tidak sejalan dengan tindakan misioner dan pewartaan Injil yang selalu menyangkut seluruh Gereja. Bukan kebetulan bahwa Konsili Vatikan II hampir selalu menyebut para imam dalam bentuk jamak: tidak ada gembala yang berdiri sendiri. Tuhan sendiri “menetapkan dua belas orang […] supaya mereka menyertai Dia” (Mrk 3:14). Ini berarti tidak mungkin ada pelayanan yang terpisah dari persekutuan dengan Yesus Kristus dan dengan tubuh-Nya, yaitu Gereja. Menjadikan dimensi relasional dan komunal dari pelayanan tertahbis ini semakin nyata, dengan kesadaran bahwa kesatuan Gereja lahir dari “kesatuan Bapa, Putra, dan Roh Kudus,” [13] adalah salah satu tantangan utama untuk masa depan, terutama di dunia yang ditandai oleh perang, perpecahan, dan pertentangan.

16. Persaudaraan imamat harus dipandang sebagai unsur pembentuk identitas para pelayan, [14] bukan sekadar ideal atau slogan, melainkan kenyataan yang harus diperjuangkan dengan semangat baru. Dalam hal ini, memang sudah banyak yang dilakukan dengan melaksanakan arahan Presbyterorum Ordinis (lih. no. 8), tetapi masih banyak yang perlu dilakukan. Misalnya, perlu ada pemerataan ekonomi antara mereka yang melayani paroki miskin dan mereka yang melayani komunitas yang lebih sejahtera. Selain itu, di banyak negara dan keuskupan, jaminan kesehatan dan pensiun yang memadai bagi para imam masih belum terjamin. Perhatian timbal balik – terutama kepada rekan-rekan yang lebih sendirian dan terisolasi, juga kepada mereka yang sakit dan lanjut usia – tidak boleh dianggap kurang penting daripada perhatian kepada umat yang dipercayakan kepada kita. Inilah salah satu tuntutan dasar yang saya sampaikan kepada para imam pada perayaan Yubileum mereka baru-baru ini: “Bagaimana mungkin kita, para pelayan, dapat menjadi pembangun komunitas yang hidup, jika di antara kita sendiri tidak terlebih dahulu ada persaudaraan yang sejati dan tulus?” [15]

17. Di banyak tempat – terutama di Barat – muncul tantangan baru dalam kehidupan para imam, yang berkaitan dengan mobilitas zaman sekarang dan rapuhnya struktur sosial. Akibatnya, para imam tidak lagi tertanam dalam konteks yang kohesif dan beriman seperti dahulu, yang dulu menopang pelayanan mereka. Hal ini membuat mereka lebih rentan terhadap bahaya kesepian, yang dapat memadamkan semangat apostolik dan menyebabkan penarikan diri yang menyedihkan. Karena itu pula, mengikuti petunjuk para pendahulu saya, [16] saya berharap agar di semua Gereja lokal muncul komitmen baru untuk membangun dan mendorong bentuk-bentuk hidup bersama, sehingga “para imam dapat saling membantu dalam memupuk kehidupan rohani dan intelektual, bekerja sama secara lebih efektif dalam pelayanan, dan pada akhirnya menghindari bahaya kesepian.” [17]

18. Di sisi lain, perlu diingat bahwa persekutuan imamat tidak boleh dipahami sebagai penyeragaman pribadi, karisma, atau talenta yang sudah Tuhan berikan kepada masing-masing. Penting agar dalam presbiterium keuskupan, dengan kebijaksanaan Uskup, ditemukan keseimbangan antara pemanfaatan karunia-karunia itu dan pemeliharaan persekutuan. Sekolah sinodalitas, dalam arti ini, dapat menolong semua orang untuk secara batin menerima keberagaman karisma dalam suatu sintesis yang memperkuat persekutuan presbiterium, setia kepada Injil dan ajaran Gereja. Di masa yang penuh kerentanan ini, semua pelayan tertahbis dipanggil untuk hidup dalam persekutuan dengan kembali pada hal-hal yang pokok dan mendekati orang-orang, agar tetap menjaga harapan yang dinyatakan dalam pelayanan yang rendah hati dan konkret. Dalam cakrawala ini, pelayanan diakon tetap – yang dibentuk serupa dengan Kristus Sang Hamba – menjadi tanda hidup dari cinta yang tidak tinggal di permukaan, tetapi rela merendah, mendengarkan, dan memberikan diri. Keindahan Gereja yang terdiri dari imam dan diakon yang bekerja bersama, dipersatukan oleh semangat yang sama terhadap Injil dan kepekaan terhadap kaum miskin, menjadi kesaksian yang terang tentang persekutuan. Menurut perkataan Yesus (lih. Yoh 13:34-35), dari kesatuan yang berakar dalam kasih timbal balik inilah pewartaan Kristen memperoleh kredibilitas dan kekuatannya. Karena itu, pelayanan diakonat – terutama ketika dijalani dalam persekutuan dengan keluarga sendiri – adalah anugerah yang harus dikenali, dihargai, dan didukung. Pelayanan sederhana namun mendasar dari para pria yang mengabdikan diri dalam kasih mengingatkan kita bahwa misi tidak dijalankan dengan tindakan-tindakan besar saja, tetapi melalui persatuan dalam kerinduan akan Kerajaan Allah dan kesetiaan sehari-hari kepada Injil.

19. Sebuah gambaran yang indah dan bermakna tentang kesetiaan pada persekutuan tampak dalam Surat Santo Ignatius dari Antiokhia kepada Jemaat di Efesus: “Sebaiknya kalian berjalan sesuai dengan pikiran uskup, hal yang memang sudah kalian lakukan. Presbiterium kalian, yang layak diingat dan layak bagi Allah, berada dalam keselarasan sempurna dengan uskup, seperti senar pada kecapi. Karena itu, dalam kesatuan dan kasih persaudaraan kalian, Yesus Kristus dipuji. […] Maka, sangat bermanfaat bagi kalian untuk berada dalam kesatuan yang tanpa cacat, supaya selalu mengambil bagian dalam Allah.” [18]

Kesetiaan dan sinodalitas

20. Sekarang saya sampai pada hal yang sangat dekat di hati saya. Ketika berbicara tentang identitas para imam, Dekret Presbyterorum Ordinis pertama-tama menyoroti hubungan mereka dengan imamat dan misi Yesus Kristus (lih. no. 2), lalu menunjukkan tiga koordinat utama. Pertama, hubungan dengan uskup, yang menjumpai dalam diri para imam “rekan kerja dan penasihat yang diperlukan”, dan dengan mereka ia membangun hubungan persaudaraan dan persahabatan (lih. no. 7). Kedua, persekutuan sakramental dan persaudaraan dengan para imam lain, sehingga bersama-sama mereka ikut serta “dalam karya yang sama” dan menjalankan “satu pelayanan”, bekerja semua “untuk tujuan yang sama”, walaupun mereka menangani tugas yang berbeda-beda (no. 8). Ketiga, hubungan dengan kaum awam, di tengah-tengah siapa para imam, dengan tugas khas mereka, tetap merupakan saudara di antara saudara-saudari, berbagi martabat baptisan yang sama, menggabungkan “usaha mereka dengan usaha kaum awam”, dan memanfaatkan “pengalaman serta keahlian mereka di berbagai bidang kegiatan manusia, sehingga bersama-sama dapat mengenali tanda-tanda zaman.” Alih-alih mendominasi atau memusatkan segala tugas pada diri sendiri, “mereka harus mengenali dengan rasa iman karunia-karunia, baik yang sederhana maupun yang luhur, yang dengan berbagai cara diberikan kepada kaum awam” (no. 9).

21. Di bidang ini masih banyak yang harus dilakukan. Dorongan dari proses sinodal adalah ajakan kuat dari Roh Kudus agar kita mengambil langkah-langkah yang tegas ke arah ini. Karena itu, saya menegaskan kembali keinginan saya untuk “mengundang para imam […] agar membuka hati mereka dan ikut serta dalam proses-proses ini” [19] yang sedang kita jalani. Dalam hal ini, sesi kedua Sidang Sinode XVI, dalam Dokumen Akhirnya, [20] mengusulkan perubahan dalam relasi dan proses. Sangat penting agar di semua Gereja lokal diambil inisiatif yang tepat supaya para imam memahami pedoman-pedoman dokumen itu dan mengalami kesuburan gaya Gereja yang sinodal.

22. Semua ini menuntut komitmen pembinaan pada setiap tingkat, terutama dalam pembinaan awal dan berkelanjutan para imam. Dalam Gereja yang makin sinodal dan misioner, pelayanan imamat tidak kehilangan sedikit pun pentingnya dan relevansinya; sebaliknya, pelayanan itu justru bisa makin terarah pada tugas-tugasnya yang khas dan khusus. Tantangan sinodalitas – yang tidak menghapus perbedaan, tetapi menghargainya – tetap menjadi salah satu kesempatan utama bagi para imam di masa depan. Seperti diingatkan dalam Dokumen Akhir yang disebut tadi, “para imam dipanggil untuk menjalani pelayanan mereka dengan sikap dekat dengan orang-orang, ramah, mau mendengarkan semua orang, dan terbuka pada gaya sinodal” (no. 72). Untuk menerapkan eklesiologi persekutuan dengan lebih baik, pelayanan imam perlu bergerak melampaui model kepemimpinan yang eksklusif – yang menjadikan hidup pastoral terpusat dan membebankan semua tanggung jawab pada dirinya sendiri – menuju kepemimpinan yang makin kolegial, dengan kerja sama antara para imam, diakon, dan seluruh Umat Allah, dalam saling memperkaya yang merupakan buah dari beragam karisma yang dibangkitkan Roh Kudus. Seperti diingatkan Evangelii Gaudium, imamat pastoral dan keserupaan dengan Kristus Sang Mempelai tidak boleh membuat kita menyamakan kuasa sakramental dengan kekuasaan, karena “keserupaan imam dengan Kristus Sang Kepala – yaitu sebagai sumber utama rahmat – tidak berarti suatu pengagungan yang menempatkannya di atas segala yang lain.” [21]

Kesetiaan dan misi

23. Identitas para imam dibentuk oleh kenyataan bahwa mereka ada untuk misi dan tidak terpisahkan dari misi itu. Sesungguhnya, siapa pun yang “berusaha menemukan identitas imamat dengan meneliti dirinya sendiri secara introspektif mungkin tidak akan menemukan apa-apa selain tanda-tanda yang berkata: ‘keluarlah’; keluarlah dari dirimu sendiri, keluarlah mencari Allah dalam adorasi, keluarlah dan berikan kepada umatmu apa yang telah dipercayakan kepadamu. Umatmu akan menolongmu merasakan dan menikmati siapa dirimu, apa namamu, apa identitasmu, dan akan membuatmu bersukacita dengan seratus kali lipat yang dijanjikan Tuhan kepada hamba-hamba-Nya. Jika engkau tidak keluar dari dirimu sendiri, minyak menjadi basi dan pengurapan tidak dapat berbuah.” [22] Seperti diajarkan Santo Yohanes Paulus II, “para imam adalah, dalam Gereja dan bagi Gereja, perwujudan sakramental Yesus Kristus sebagai Kepala dan Gembala; mereka secara berwibawa mewartakan firman-Nya, mengulangi tindakan pengampunan dan penawaran keselamatan-Nya, terutama melalui Baptisan, Pengakuan Dosa, dan Ekaristi; mereka menjalankan kepedulian kasih-Nya sampai pada pemberian diri yang total bagi kawanan, yang mereka bawa dan kumpulkan dalam kesatuan kepada Bapa melalui Kristus dalam Roh.” [23] Dengan cara inilah panggilan imamat dinyatakan di tengah sukacita dan perjuangan pelayanan yang rendah hati kepada sesama – pelayanan yang sering tidak dihargai dunia, tetapi justru sangat dibutuhkannya. Bertemu dengan saksi-saksi iman yang kredibel akan Kasih Allah yang setia dan penuh belas kasih adalah salah satu jalan utama pewartaan Injil.

24. Dalam dunia modern saat ini, yang ditandai oleh ritme hidup yang mendesak dan kecemasan karena terlalu terhubung, yang sering membuat gelisah dan mendorong ke arah aktivisme, setidaknya ada dua godaan yang menyusup dan melawan kesetiaan pada misi ini. Yang pertama adalah mentalitas efisiensi: nilai seseorang diukur dari kinerjanya, dari banyaknya kegiatan dan proyek yang diselesaikan. Dengan cara berpikir ini, apa yang dilakukan dianggap lebih penting daripada siapa dirinya, sehingga hierarki sejati identitas rohani terbalik. Godaan kedua adalah ketenangan yang pasif: karena takut menghadapi situasi sekitar, kita mundur ke dalam diri sendiri, menolak tantangan pewartaan Injil, dan menjadi malas serta pesimis. Sebaliknya, pelayanan yang penuh sukacita dan semangat – meskipun tetap membawa kelemahan manusiawi – dapat dan harus dengan penuh gairah menjalankan tugas mewartakan Injil ke setiap bidang masyarakat, khususnya budaya, ekonomi, dan politik, agar segala sesuatu dipersatukan dalam Kristus (lih. Ef 1:10). Untuk mengatasi dua godaan ini dan menjalani pelayanan yang gembira serta berbuah, setiap imam harus tetap setia pada misi yang telah diterimanya, yaitu karunia rahmat yang disampaikan oleh Uskup pada saat Tahbisan Imamat. Setia pada misi berarti mengambil paradigma yang ditegaskan Santo Yohanes Paulus II ketika beliau mengingatkan bahwa kasih pastoral adalah prinsip yang mempersatukan hidup seorang imam. [24] Justru dengan menjaga agar api kasih pastoral tetap menyala – yakni kasih Sang Gembala yang Baik – setiap imam dapat menemukan keseimbangan dalam hidup sehari-hari dan mampu membedakan mana yang sungguh berguna dan mana yang benar-benar merupakan bagian khas dari pelayanannya, sesuai dengan petunjuk Gereja.

25. Keselarasan antara kontemplasi dan tindakan tidak dicari melalui penerapan cepat berbagai skema kerja, juga bukan melalui sekadar menyeimbangkan aktivitas, tetapi dengan menempatkan dimensi Paskah sebagai pusat pelayanan. Menyerahkan diri tanpa syarat tidak boleh berarti mengorbankan doa, studi, atau persaudaraan imamat; sebaliknya, semua itu harus masuk dalam cakrawala yang sama, sejauh semuanya diarahkan kepada Tuhan Yesus yang wafat dan bangkit untuk keselamatan dunia. Dengan demikian, janji-janji yang diucapkan dalam Tahbisan Imam pun menjadi nyata. Bersama sikap lepas bebas terhadap harta benda, hal itu menumbuhkan dalam hati imam pencarian yang tekun dan ketaatan pada kehendak Allah, sehingga Kristus memancar dalam setiap tindakannya. Misalnya, hal ini tampak ketika seseorang menjauh dari segala bentuk personalisme dan pencarian pujian diri, walaupun perannya kadang-kadang menuntut tampil di depan umum. Dibentuk oleh misteri yang dirayakan dalam liturgi suci, setiap imam harus “menghilang supaya Kristus tinggal, merendahkan diri supaya Dia dikenal dan dimuliakan, menyerahkan diri sepenuhnya supaya tidak seorang pun kehilangan kesempatan untuk mengenal dan mengasihi-Nya.” [25] Karena itu, tampil di media, memakai media sosial, dan semua sarana yang tersedia saat ini harus selalu pertimbangkan dengan bijaksana, dengan menjadikan pelayanan bagi pewartaan Injil sebagai ukuran penilaian. “‘Segala sesuatu diperbolehkan bagiku!’ Ya, tetapi tidak semuanya berguna” (1Kor 6:12).

26. Dalam setiap situasi, para imam dipanggil untuk memberi jawaban yang nyata – lewat kesaksian hidup yang sederhana dan kudus – terhadap kerinduan besar akan relasi yang autentik dan tulus dalam masyarakat masa kini. Mereka melakukannya dengan menjadi saksi Gereja yang adalah “ragi yang efektif bagi ikatan, relasi, dan persaudaraan keluarga manusia”, “yang mampu memelihara relasi: dengan Tuhan, antara laki-laki dan perempuan, dalam keluarga, dalam komunitas, di antara semua orang Kristen, di antara kelompok-kelompok sosial, dan di antara agama-agama.” [26] Untuk itu, para imam dan kaum awam – bersama-sama – perlu melakukan pertobatan misioner yang sungguh-sungguh, yang mengarahkan komunitas-komunitas Kristen, di bawah bimbingan para gembala mereka, “untuk melayani misi yang dijalankan umat beriman di dalam masyarakat, dalam kehidupan keluarga dan pekerjaan.” Seperti dicatat oleh Sinode, “dengan demikian akan tampak lebih jelas bahwa paroki tidak berpusat pada dirinya sendiri, tetapi terarah pada misi dan dipanggil untuk mendukung komitmen banyak orang yang dengan berbagai cara hidup dan memberi kesaksian tentang iman mereka dalam profesi serta kegiatan sosial, budaya, dan politik.” [27]

Kesetiaan dan masa depan

27. Saya berharap peringatan kedua dekret Konsili ini dan perjalanan yang kita jalani untuk mewujudkan serta memperbaruinya dapat menjadi Pentakosta panggilan yang baru dalam Gereja. Semoga darinya lahir panggilan-panggilan yang kudus, panggilan kepada pelayanan imamat yang suci, banyak, dan tekun, sehingga tidak pernah kekurangan pekerja bagi panenan Tuhan. Dan semoga dalam diri kita semua tumbuh kehendak untuk sungguh-sungguh terlibat dalam promosi panggilan serta doa tanpa henti kepada Pemilik panenan (lih. Mat 9:37-38).

28. Disertai doa, kekurangan panggilan imamat – terutama di beberapa wilayah dunia – menuntut kita semua untuk menilai kembali seberapa efektif praktik-praktik pastoral Gereja. Memang benar bahwa penyebab krisis ini bisa bermacam-macam dan bergantung pada konteks sosial-budaya. Namun pada saat yang sama, kita perlu berani mengajukan tawaran yang kuat dan membebaskan kepada kaum muda, serta menumbuhkan dalam Gereja-Gereja lokal “lingkungan dan bentuk-bentuk pastoral orang muda yang dipenuhi Injil, tempat panggilan untuk penyerahan diri total dapat muncul dan bertumbuh.” [28] Dalam keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah berhenti memanggil (lih. Yoh 11:28), kita harus selalu mengingat perspektif panggilan dalam setiap bidang pastoral, terutama dalam pastoral kaum muda dan keluarga. Ingatlah: tidak ada masa depan tanpa perhatian pada semua panggilan.

29. Sebagai penutup, saya bersyukur kepada Tuhan yang selalu dekat dengan umat-Nya dan berjalan bersama kita, memenuhi hati kita dengan harapan dan damai untuk dibawa kepada semua orang. “Inilah, saudara-saudari, yang saya harapkan menjadi kerinduan besar pertama kita: sebuah Gereja yang bersatu, tanda persatuan dan persekutuan, yang menjadi ragi bagi dunia yang diperdamaikan.” [29] Saya juga berterima kasih kepada kalian semua, para gembala dan kaum awam, yang membuka pikiran dan hati terhadap pesan profetis dari dekret-dekret Konsili Presbyterorum Ordinis dan Optatam Totius, serta bersedia bersama-sama mengambil makanan rohani dan dorongan darinya untuk perjalanan Gereja. Saya mempercayakan semua seminaris, diakon, dan imam kepada perantaraan Perawan Maria yang Tak Bernoda, Bunda Penasihat yang Baik, dan kepada Santo Yohanes Maria Vianney, pelindung para pastor paroki dan teladan bagi semua imam. Sebagaimana disampaikan oleh Pastor dari Ars: “Imamat adalah cinta hati Yesus.” [30] Cinta yang begitu kuat sehingga mampu mengusir awan kebiasaan, keputusasaan, dan kesepian; cinta yang total yang diberikan kepada kita sepenuhnya dalam Ekaristi. Cinta Ekaristi, cinta imamat.

Diberikan di Basilika St. Petrus, Roma, pada 8 Desember, Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda, pada Tahun Yubileum 2025, tahun pertama kepausan saya.

LEO XIV

[1] Konsili Vatikan II, Dekrit Optatam Totius tentang pembinaan imam, Pendahuluan.

[2] Lihat S. J.H. Newman, An Essay on the Development of Christian Doctrine (Notre Dame, 2024). Dalam konteks ini, saya juga mengingat seruan Optatam Totius, no. 16, tentang pembaruan dan pengembangan studi keagamaan, yang sampai sekarang masih terus berlangsung.

[3] Lihat Sinode Para Uskup, Untuk Gereja Sinodal: Persekutuan – Partisipasi – Misi, Dokumen Persiapan (2021), no. 1; Fransiskus, Pidato pada Peringatan 50 Tahun Pendirian Sinode Para Uskup (17 Oktober 2015).

[4] Benediktus XVI, Ensiklik Deus Caritas Est (25 Desember 2005), no. 1.

[5] Benediktus XVI, Homili pada Misa Penutupan Tahun Imam (11 Juni 2010).

[6] “Ketika bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi-Nya, Ia tidak menanyainya karena ingin mengetahui kasih sang murid, melainkan untuk menunjukkan besarnya kasih-Nya sendiri,” St. Yohanes Krisostomus, De Sacerdotio, II, 1: SCh 272 (Paris, 1980), 104, 48–51.

[7] Kongregasi untuk Para Klerus, Karunia Panggilan Imam. Ratio Fundamentalis Institutionis Sacerdotalis (8 Desember 2016), no. 57.

[8] Pidato kepada para peserta Pertemuan Internasional “Imam yang Bahagia – ‘Aku telah memanggil kamu sebagai sahabat’ (Yoh 15:15),” yang diselenggarakan oleh Dikasteri untuk Para Klerus dalam rangka Yubileum Para Imam dan Seminaris (26 Juni 2025).

[9] Renungan dalam rangka Yubileum Para Seminaris (24 Juni 2025).

[10] Benediktus XVI, Katekese (24 Juni 2009).

[11] Konsili Vatikan II, Dekrit Presbyterorum Ordinis tentang pelayanan dan kehidupan para imam, no. 9.

[12] Konsili Vatikan II, Dekrit Presbyterorum Ordinis tentang pelayanan dan kehidupan para imam, no. 8.

[13] St. Siprianus, De Dominica Oratione, 23: CCSL 3A (Turnhout, 1976), 105.

[14] Lihat Kongregasi untuk Para Klerus, Karunia Panggilan Imam. Ratio Fundamentalis Institutionis Sacerdotalis (8 Desember 2016), no. 87–88.

[15] Pidato kepada para peserta Pertemuan Internasional “Imam yang Bahagia – ‘Aku telah memanggil kalian sebagai sahabat’ (Yoh 15:15),” yang diselenggarakan oleh Dikasteri untuk Para Klerus dalam rangka Yubileum Para Imam dan Seminaris (26 Juni 2025).

[16] Lihat St. Yohanes Paulus II, Surat Apostolik Pasca-Sinode Pastores Dabo Vobis (25 Maret 1992), no. 61; Benediktus XVI, Surat Apostolik dalam bentuk motu proprio Ministrorum Institutio (16 Januari 2013).

[17] Konsili Vatikan II, Dekrit Presbyterorum Ordinis (7 Desember 1965), no. 8.

[18] St. Ignatius dari Antiokhia, Ad Ephesios, 4, 1–2: SCh 10 (Paris, 1969), 72.

[19] Pidato kepada para peserta Yubileum tim sinodal dan badan-badan partisipatif (24 Oktober 2025).

[20] Sinode Para Uskup, Dokumen Akhir Sesi Kedua Sidang Umum Biasa ke-16, Untuk Gereja Sinodal: Persekutuan, Partisipasi, Misi (26 Oktober 2024).

[21] Fransiskus, Surat Apostolik Evangelii Gaudium (24 November 2013), no. 104.

[22] Fransiskus, Homili pada Misa Krisma (17 April 2014).

[23] St. Yohanes Paulus II, Surat Apostolik Pasca-Sinode Pastores Dabo Vobis (25 Maret 1992), no. 15.

[24] Lih. Ibid., 23

[25] Homili pada Misa Kudus pro Ecclesia (9 Mei 2025).

[26] Sinode Para Uskup, Dokumen Akhir Sesi Kedua Sidang Umum Biasa ke-16, Untuk Gereja Sinodal: Persekutuan, Partisipasi, Misi (26 Oktober 2024), no. 20 dan 50.

[27] Ibid., 59; 117.

[28] Pidato kepada para peserta Pertemuan Internasional “Imam yang Bahagia – ‘Aku telah memanggil kalian sebagai sahabat’ (Yoh 15:15),” yang diselenggarakan oleh Dikasteri untuk Klerus dalam rangka Yubileum Imam dan Seminari (26 Juni 2025).

[29] Homili pada Awal Pelayanan Kepausan (18 Mei 2025).

[30] “Imamat adalah cinta hati Yesus,” dalam Bernard Nodet, Pastor Ars. Pemikirannya, Hatinya (Paris, 1995), 98.

Peringatan Wajib Hati Tersuci Santa Perawan Maria

(The Memorial of the Immaculate Heart of the Blessed Virgin Mary)

    Peringatan ini dirayakan setiap hari Sabtu setelah Hari Raya Hati Kudus Yesus. Dalam perayaan ini, Gereja mengajak umat untuk merenungkan Hati Maria yang Tidak bernoda iaitu hati yang penuh kasih, setia, dan menderita bersama Putranya, Yesus Kristus dalam karya keselamatan dunia.
Makna Hati Tersuci Maria
Hati Tersuci Maria melambangkan:
1. Kasih yang murni dan tidak terbagi kepada Allah.
2. Kepedulian yang penuh kelembutan kepada sesama terutama yang menderita.
3. Penderitaan batin yang mendalam terutama pada waktu menyertai Yesus dalam sengsara-Nya hingga berdiri di kaki salib.
Hati Maria adalah cermin dari Hati Putranya, Yesus Kristus iaitu murni, penuh pengorbanan, dan terbuka bagi keselamatan semua orang.
Sejarah Singkat Devosi dan Perayaannya
1. Abad ke-17: Devosi kepada Hati Maria mulai dipopulerkan oleh Santo Yohanes Eudes, seorang imam Prancis yang juga mempromosikan devosi kepada Hati Kudus Yesus. Ia merumuskan misa dan ofisi khusus untuk menghormati Hati Maria.
2. Abad ke-19: Devosi ini semakin tersebar luas, terutama setelah penampakan Maria di Fatima (1917), di mana Bunda Maria meminta agar dunia dipersembahkan kepada Hati-Nya yang Tak Bernoda sebagai sarana pertobatan dan perdamaian dunia.
3. 1944: Paus Pius XII secara resmi menetapkan Pesta Hati Tersuci Maria untuk seluruh Gereja, awalnya dirayakan pada tanggal 22 Agustus. Beliau menekankan bahawa Maria, dalam kasih dan penderitaannya, turut ambil bagian secara rohani dalam karya penebusan Kristus.
4. 1970-an (pada Konsili Vatikan II): Tarikh liturgi diperbarui dan pesta ini dipindahkan ke hari Sabtu setelah Hari Raya Hati Kudus Yesus untuk menegaskan relasi dan hubungan erat antara Hati Yesus dan Hati Maria.
Mengapa Kita Merayakannya?
Dengan merayakan Hati Tersuci Maria, umat diajak untuk:
1. Meneladani ketaatan dan kelembutan hati Maria dalam mengikuti kehendak Allah.
2. Menumbuhkan kasih yang tulus dan pengampunan, seperti yang dipancarkan dari hati Maria.
3. Bersatu dalam doa dan pertobatan, memohon perlindungan Maria bagi Gereja dan dunia.

No comments:

The First Holy Martyrs of the Holy Roman Church

These “ proto-martyrs ” of Rome were the first Christians persecuted en masse by the Emperor Nero in the year 64 , before the martyrdom of ...