[LECTIO DIVINA]
Pendahuluan.
1). Sebelum kita memulakan dan memahami apakah itu Lectio Divina menurut ajaran Tradisi Gereja Katolik kita, marilah kita melihat kembali secara teliti ajaran Gereja kita serta pemahaman yang tertulis disini agar hati dan fikiran kita di bimbing oleh Roh Kudus. Ini amat penting kerana tanpa bantuan dan bimbingan dari Roh Kudus kita semua boleh tersesat dan keliru untuk berdoa khususnya untuk melakukan dan mempraktikkan Lectio Divina ini di dalam kehidupan seharian kita.
2). Secara umumnya prinsip-prinsip Lectio Divina diungkapkan sekitar tahun 220, yang kemudian dipraktekkan oleh para biarawan Katolik, terutama pada masa monastik dari Santo Pachomius, Agustinus, Basil, dan Benedict. Paus Benediktus XVI dalam khotbahnya pada tahun 2005 menyatakan, "Saya secara khusus ingin mengingatkan kembali dan merekomendasikan tradisi kuno lectio divina: membaca Kitab Suci dengan tekun dan disertai dengan doa yang menghasilkan dialog yang intim di mana pembaca akan mendengar Allah yang sedang berbicara, dan dalam doa, menanggapi Dia dengan hati yang terbuka dan penuh kepercayaan."
3). Lectio Divina ( bahasa Latin untuk "Bacaan Ilahi") ialah amalan monastik tradisional membaca kitab suci, meditasi dan doa yang bertujuan untuk menggalakkan perhubungan dengan Tuhan dan untuk meningkatkan pengetahuan tentang Tuhan. Ini merupakan sebuah cara untuk berdoa dengan Kitab Suci yang memanggil orang untuk mempelajari, menyelami, mendengarkan, dan akhirnya berdoa dari Sabda Tuhan. Istilah Lectio Divina berasal dari Origenes. Menurut asal usulnya Lectio Divina adalah pembacaan Kitab Suci oleh orang-orang Kristiani untuk memupuk iman, harapan dan kasih. Lectio Divina sudah setua Gereja yang hidup dari Sabda Allah dan tergantung daripadanya seperti air dari sumber (Dei Verbum 7,10,21).
4). Akar pemikiran dan tafsiran kitab suci kembali ke Origen pada abad ke-3, selepas itu Ambrose mengajarnya kepada Augustine dari Hippo. Amalan monastik Lectio Divina pertama kali ditubuhkan pada abad ke-6 oleh Benedict of Nursia dan kemudiannya diformalkan sebagai proses empat langkah oleh Carthusian Guigo II semasa abad ke-12. Pada abad ke-20, perlembagaan Dei verbum Majlis Vatikan Kedua mengesyorkan Lectio Divina Kepada masyarakat umum dan kepentingannya telah disahkan oleh Pope Benedict XVI pada permulaan abad ke-21.
5). Sebelum permulaan komuniti monastik Barat sumbangan utama kepada asas Lectio Divina datang dari Origen pada abad ke-3, dengan pandangannya tentang "Kitab Suci sebagai sakramen". Dalam surat kepada Gregory dari Neocaesarea Origen menulis: "[Apabila anda mengabdikan diri kepada bacaan ilahi... carilah makna kata-kata ilahi yang tersembunyi daripada kebanyakan orang". Origen percaya bahawa The Word (iaitu Logos) telah menjelma dalam Kitab Suci dan oleh itu boleh menyentuh dan mengajar pembaca dan pendengar. Origen mengajar bahawa pembacaan Kitab Suci boleh membantu bergerak melampaui pemikiran asas dan menemui kebijaksanaan yang lebih tinggi yang tersembunyi dalam "Firman Tuhan".
6). Gereja Katolik kita dan dengan sikap iman mendalam sungguh menghormati Kitab Suci. Dalam konstitusi dogmatik tentang Wahyu Ilahi: DEI VERBUM, Konsili Vatikan II memberi ulasan yang menegaskan, demikian: “Kitab Ilahi seperti Tubuh Tuhan sendiri selalu dihormati oleh Gereja, yang - terutama dalam Liturgi suci- tiada hentinya menyambut roti kehidupan dari meja sabda Allah maupun Tubuh Kristus, dan menyajikannya kepada Umat beriman. Kitab-kitab itu bersama dengan tradisi suci selalu telah dipandang dan tetap dipandang sebagai norma imannya yang tertinggi. Sebab kitab-kitab itu diilhami oleh Allah dan sekali untuk selamanya telah dituliskan, serta tanpa perubahan manapun menyampaikan sabda Allah sendiri, lagi pula memperdengarkan suara Roh Kudus dalam sabda para Nabi dan para Rasul. Jadi semua pewartaan dalam Gereja seperti juga agama Kristiani sendiri harus dipupuk dan diatur oleh Kitab Suci. Sebab dalam kitab-kitab suci Bapa yang ada di surga penuh cintakasih menjumpai para putera-Nya, dan berwawancara dengan mereka. Sedemikian besarlah daya dan kekuatan sabda Allah, sehingga bagi Gereja merupakan tumpuan serta keuatan, dan bagi putera-puteri Gereja menjadi kekuatan iman, santapan jiwa, sumber jernih dan kekal hidup rohani.” (DV 21).
7). Kerana alasan-asalan mulia inilah maka Konsili Vatikan II mendesak dengan sangat dan istimewa supaya semua orang beriman, terutama para religius, dengan seringkali membaca kitab-kitab ilahi memperoleh “pengertian yang mulia akan Yesus Kristus” (Flp 3:8).
Kitab Suci: Warisan Iman Kita.
Untuk mewahyukan Diri-Nya kepada kita dengan lebih penuh dan lebih lengkap, maka Allah bersabda kepada manusia dengan memakai kata-kata manusia di dalam Kitab Suci.(lih. DV 13). Gereja selalu menghormati Kitab Suci sebagai Sabda Allah, di dalam Kitab Suci Gereja menemukan santapan, kekuatan, dan dukungan. Gereja mengajarkan bahwa Allah adalah pengarang Kitab Suci. Dan inilah yang diartikan juga sebagai inspirasi biblis (alkitabiah). Allah menggunakan alat-alat manusiawi untuk melaksanakan maksud-Nya, namun manusia-manusia yang menjadi alat tadi hanyalah menulis apa yang dikehendaki Allah dan hanya yang dikehendaki-Nya.
“Dalam mengarang kitab-kitab suci itu Allah memilih orang-orang yang digunakan-Nya, yang sementara mereka memakai kemampuan dan kecakapan mereka sendiri, mereka bertindak sedemikian rupa sehingga, meskipun Dia berkarya di dalam mereka dan lewat mereka, sebagai pengarang yang sungguh-sungguh mereka hanya menulis apa yang dikehendaki-Nya, dan tidak lebih dari itu” (Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, DEI VERBUM No 11).
8). Manusia-manusia penulis Kitab Suci itu adalah orang-orang yang berasal dari zamannya masing-masing dengan ketidakmampuannya untuk menangkap keseluruhan wahyu Allah. Namun, Allah membimbing mereka sejauh mereka mampu menerima wahyu Ilahi itu. Kitab Suci sangatlah penting bagi Gereja, tapi Gereja Katolik bukanlah Gereja “yang hanya mempunyai satu sumber”. Seperti telah kita lihat sebelumnya, Gereja Katolik memperhatikan dua sumber kebenaran suci, Kitab Suci dan Tradisi. Kesalahpahaman mengenai pandangan Gereja ini selama bertahun-tahun telah menimbulkan dakwaan bahwa Gereja tidak menerima kitab-kitab Suci, atau tidak menghormati kitab-kitab suci, atau tidak memperbolehkan anggota-anggota Gereja membaca kitab-kitab suci.
9). Hal yang sebenarnya tidaklah demikian. Gereja merupakan penjaga dari kitab-kitab Suci. Apalagi – dibimbing oleh Tradisi yang sampai ke zaman para Rasul sendiri – Gereja membeda-bedakan tulisan-tulisan manakah yang harus dimasukkan ke dalam daftar Kitab Suci. Di samping itu, Gereja telah berusaha untuk menafsirkan Kitab Suci sejak dari masa awal. Menafsirkan Kitab Suci merupakan suatu ilmu yang berat dan sulit. Untuk memahami pesan dari pengarang, orang yang membacanya harus mengerti latar belakang dari penulis, gaya atau corak tulisannya, saat penulisan dan latar belakang budaya dari kitab tersebut, demikian juga lika-liku dari bahasa aslinya atau bahasa-bahasa yang digunakan. Usaha untuk memahami Kitab Suci dipersulit lagi dengan adanya macam-macam erti atau pemahaman yang dapat disimpulkan dari Kitab Suci.
10). Ada arti harfiah dan arti rohaniah. Erti rohaniah masih dapat dibagi-bagi, secara kiasan atau alegoris, secara moral dan secara analogis. Arti harfiah adalah makna yang disampaikan oleh kata-kata Kitab Suci dan ditemukan oleh ilmu tafsir Kitab Suci, atau “menyimpulkan maknanya” melalui suatu analisa bahasa atau analisa sejarah terhadap suatu naskah. Arti kiasan mengajak kita untuk melihat erti peristiwa-peristiwa dengan mengakui bahwa maknanya kerap kali terselubung dalam Kristus. Erti moral mengajak kita untuk bertindak sesuai dengan keadilan dan kebenaran yang ditemukan dalam Sabda Allah. Erti analogis mengajak kita untuk melihat peristiwa-peristiwa berdasarkan nilainya di dalam menuntun kita menuju ke Surga, tanah air kita yang sesungguhnya.
11). Gereja menghormati 45 kitab Perjanjian Lama sebagai kisah dari Allah dalam menyiapkan dunia untuk kedatangan Kristus. Kitab-kitab tadi berisikan kebenaran-kebenaran yang sangat berharga mengenai Allah, kehidupan manusia, dan misteri keselamatan kita yang abadi. Gereja menganggap keempat Injil Perjanjian Baru sebagai kisah tentang kehidupan Yesus dan permulaan Gereja. Kisah tadi diperluas dan dikembangkan dalam Kisah Para Rasul dan dalam Surat-surat dan tulisan-tulisan yang secara keseluruhan merupakan 27 Kitab Perjanjian Baru. Kedua perjanjian, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, merupakan satu kesatuan. Merupakan satu kesatuan sebab rencana Allah hanyalah satu. Kedua Perjanjian tadi merupakan satu kesatuan karena pewahyuan Allah mengenai Diri-Nya sendiri dan Putera-Nya adalah satu. Dengan demikian kisah dalam Kitab Suci merupakan suatu kesatuan yang utuh. Perjanjian Lama merupakan masa persiapan; Perjanjian Baru merupakan masa pemenuhan. Pemahaman terhadap kedua Perjanjian tadi akan menyebabkan kita dapat memahami dengan lebih baik seluruh sejarah keselamatan.
12). Kitab Suci sangat besar peranannya dalam pembinaan berkelanjutan bagi kehidupan iman Gereja. Kitab Suci merupakan sumber inspirasi yang besar dalam memberikan pengajaran dan penghiburan bagi umat Kristiani. (bdk. 2Tim 3:16; lih juga 2 Ptr 1:20-21). Kitab Suci merupakan bagian dalam ibadat atau liturgi. Kitab Suci meresapi seluruh penerimaan sakramen-sakramen kita. Kitab Suci merupakan inti dari doa resmi Gereja, Ibadat Harian. Kitab Suci juga merupakan dasar bagi sebagian besar kehidupan doa dan devosi dalam Gereja zaman sekarang ini. Kata-kata dari Santo Hieronimus pada abad keempat mengenai Kitab Suci masih sangat cocok untuk zaman kita sekarang ini: “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus” (lih. DV 25). Bahkan sejak Origenes (185-234) sampai Paus Benediktus XV (1854-1922) dan sesudah itu, orang-orang beriman telah melihat dan yakin bahwa seluruh Kitab Suci terpusat pada Kristus dan mempunyai maknanya dalam Dia.
13). Allah mewahyukan Diri-Nya kepada kita dengan macam-macam cara. Pewahyuan Diri-Nya merupakan suatu panggilan bagi kita. Panggilan tadi merupakan panggilan kasih. Panggilan-Nya mengharapkan dari kita masing-masing suatu jawaban pribadi, yaitu jawaban iman. Dengan iman kita memberikan diri kita seutuhnya kepada Allah dan dengan fikiran dan kehendak kita, kita menerima pewahyuan Allah. Penerimaan tadi disebut “ketaatan iman”. Menerima Sabda Allah semata-mata karena Allah, yang adalah Kebenaran itu sendiri, merupakan jaminan dari keasliannya. Kitab Suci menyajikan kepada kita sederetan saksi-saksi iman, mulai dari Abraham, bapa rohani kita di dalam iman, sampai kepada Maria, seorang pribadi yang dengan sangat sempurna mencapai “ketaatan iman”. Kesaksian mengenai jawaban mereka terhadap panggilan iman merupakan suatu contoh dan ilham bagi kita masing-masing dalam kita memberi jawaban secara pribadi.
14). Demikianlah kita menyadari bahwa iman merupakan suatu penyerahan yang bebas kepada Allah dan juga suatu pengakuan yang bebas terhadap seluruh kebenaran yang telah diwahyukan Allah. Penyerahan dan penerimaan tadi mencakup segala sesuatu “yang termuat dalam Sabda Allah, yang tertulis atau disampaikan, dan disarankan untuk dipercayai oleh Gereja sebagai sesuatu yang telah diwahyukan secara ilahi” (Dei Filius, No 3). Kitab Suci adalah sumber inspirasi yang besar bagi hidup manusia beriman. Kitab Suci merupakan juga sumber pertama dalam berteologi. Maka, akrab dengan Kitab Suci, rajin membacanya, sehingga makin mengerti isinya dan memperoleh pengertian yang mulia akan Yesus, merupakan hal yang sangat penting bagi pertumbuhan kehidupan spiritual kita. Di zaman yang modern ini, instruksi dari Komisi Kitab Suci Kepausan, yang direstui oleh Paus Pius XII, menganjurkan metode Lectio Divina ini kepada semua imam, sekulir dan religius (De Scriptura Sacra, 1950: EB 592). Tujuan yang mahu dicapai dari metode Lectio Divina adalah menciptakan dan mengembangkan “kasih yang berdaya guna dan terus-menerus” kepada Kitab Suci, yang merupakan sumber kehidupan batin dan buah dari kerasulan (EB 591 dan 567), dan juga untuk memajukan pemahaman yang lebih baik tentang liturgi dan menjamin bahwa Alkitab mendapatkan tempat yang semakin penting baik dalam studi teologi mahupun dalam doa.
Apakah itu Lectio Divina? Lectio Divina berasal dari perkataan Latin yang bermaksud:
1) Lectio: Bacaan.
2) Divina: Divine (Ilahi) atau dengan kata lain bacaan ilahi.
Lectio divina ada empat tahap:
1) Lectio (Bacaan).
2) Meditatio (Meditasi).
3) Oratio (Doa).
4) Contemplatio (Kontemplasi).
Lectio Divina bukanlah kaedah doa tetapi ia adalah kaedah meditasi ke atas Sabda Tuhan. Setiap tahap Lectio Divina mempunyai kepentingan dan arah tuju. Lectio Divina adalah proses dimana setiap yang melakukannya mengalami pengalaman yang mendalam akan Kasih Allah secara peribadi yang mana di ikuti oleh haluan yang sama. Ini melibatkan: fikiran, hati dan roh.
Fikiran: kita memusatkan akal fikiran kita kepada Sabda Tuhan.
Hati: kita membenarkan Sabda Tuhan menyentuh hati kita secara mendalam.
Roh: kita di segarkan kembali akan ertinya Sabda Tuhan yang sebenarnya di dalam kehidupan kita secara peribadi.
1. Lectio:
Dalam tahap ini, ia di namakan “membaca”atau “mendengar” kepada Sabda Tuhan. Disini, kita dibiasakan oleh ilham Roh Kudus. Dalam tahap ini, Sabda Tuhan dibacakan dengan secara perlahan dan membenarkan Sabda tersebut didengar secara dalaman ataupun luaran. Ia adalah proses hubungan perkembangan cintakasih manusia yang amat mendalam akan kehadiran Allah dalam peribadi Yesus Kristus. Bila ini berlaku, kita merindukan akan Allah dan Kasih-Nya.
2. Meditatio (meditasi):
Kita merenung dan mengambarkan apa yang kita baca /meditasikan terhadap Sabda tersebut. Sabda tersebut kita “kunyah” atau “telan” sehingga Sabda tersebut menghasilkan rasa. Inilah masanya kita mengalami akan Allah, menerima Allah di dalam kehidupan kita secara peribadi dan membuka diri kita terhadap Allah dengan penuh kepercayaan dan keyakinan. Ia mendorong kita untuk mempelajari dan menyedari siapakah Allah itu bagi kita serta apakah Allah mahu dari kita secara peribadi (Mark 10: 45).
3. Oratio (Doa):
Oratio adalah doa hati kerana ia adalah permulaan yang mendorong kita ke arah pengalaman doa oleh Tuhan itu sendiri. Ia adalah pengalaman dorongan secara spontan yang lahir dari hati kita. Disinilah hati kita terbuka akan dan oleh Tuhan itu sendiri agar terang-Nya masuk di dalam kehidupan kita. Ini kerana Allah mencintai kita tanpa batasan dan membawa kita keluar dari ilusi kita. Apakah halangan tersebut; (Galatia 5: 16 – 21) yang mana menghalang kita untuk menerima rahmat-Nya.
Dan jika ini dilakukan dengan penuh kesabaran, kita akan mengalami kerinduan akan kasih persekutuan iaitu; keinginan untuk memberi secara penuh dan penerimaan secara penuh akan sesama dan terhadap Tuhan (Galatia 5: 22 – 26; Efesus 4: 2 – 6; 1 Kor 13: 4 – 7).
4. Contemplatio ( kontemplasi ):
Contemplatio adalah masa yang benar- benar kita mengalami akan ketenangan dengan Allah dan di dalam-Nya. Kita di dorong untuk belajar untuk “hening/diam” iaitu satu jalan yang baru ( bukan untuk melakukan tetapi hanya untuk di perlakukan ) dimana segala fikiran dan konsep, imaginasi, rasa dan perasaan ditinggalkan untuk iman yang tidak dapat di rasa dan di lihat. Bila ini berlaku, kita akan masuk ke dalam yang tidak diketahui, melepaskan segala sesuatu yang selama ini kita anggap sebagai milik kita. Ia bukan sahaja penerimaan akan jemputan Tuhan tetapi untuk menerima dan mempercayakan diri kita akan kasih–Nya. Disinilah rahmat dan kasih Yesus Kristus hadir di dalam kehidupan kita. Mengenali akan ke-berada-an kita bererti mengetahui bahawa kita ini di cintai oleh Tuhan itu sendiri.
St. Pio de Pietrelcina telah mengatakan: (Priest Stigmatic 1887- 1968)
“Ketika saya mulai berdoa, saya merasa hatiku seperti diserang nyala api cinta yang hidup. Nyala api ini berbeza dengan nyala api di dunia yang malang ini. Nyala itu begitu lembut dan halus menyengat namun tidak menimbulkan sedikit pun rasa sakit. Ia sangat manis dan menyenangkan sehingga jiwa merasa sangat berbahagia dan sentiasa dipuaskan-Nya sehingga tidak ingin kehilangan”. Pengalaman seperti ini mendorong kita untuk keluar dari kegelapan kepada terang Kristus.
St. Louis de Montfort mengatakan: “Kita harus berdoa dengan penuh perhatian kerana Allah lebih mendengarkan ungkapan hati daripada ucapan bibir”.
We read………( Lectio)
Under the eye of God……(Meditatio)
Until the heart is touched………(Oratio)
And leaps to flame……(Contemplatio)
Bermaksud, hati kita diubah, dibentuk dan diperbaharui oleh Tuhan melalui Sabda-Nya.
Kesimpulan untuk Lectio Divina.
1). Cara melakukannya:
Ambillah masa yang sesuai dan tempat yang tiada gangguan. Sebaliknya dimulakan dengan doa.
Petikan yang dipilih haruslah di baca dengan tenang dan bukan dengan cara yang tergesa-gesa.
Kesedaran amat penting apabila melakukan Lectio Divina ini kerana, “segala tulisan yang di ilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3: 16).
2). Bagaimana caranya memulai Lectio Divina.
Kerana maksud dari Lectio Divina adalah untuk menerapkan Sabda Allah dalam kehidupan kita dan dengan demikian hidup kita diubah dan dipimpin olehnya, maka langkah-langkah Lectio Divina adalah sebagai berikut:
1. Ambillah sikap doa terlebih dahulu dan bawalah diri kita dalam hadirat Allah. Resapkanlah kehadiran Tuhan di dalam hati kita. Mohonlah agar Tuhan sendiri memimpin dan mengubah hidup kita melalui bacaan Kitab Suci hari itu dan Roh KudusNya.
2. Mohonlah kepada Roh Kudus untuk membantu kita memahami perikop serta bacaan yang telah dipilih itu dengan pengertian yang benar.
3. Bacalah perikop Kitab Suci tersebut secara perlahan dan dengan seksama, jika mungkin ulangi lagi sampai beberapa kali.
4. Renungkan untuk beberapa menit, akan satu kata atau ayat atau hal-hal yang disampaikan dalam perikop serta bacaan yang telah dipilih tersebut dan tanyakanlah kepada diri kita sendiri, “Apakah yang diajarkan oleh Allah melalui perikop ini kepada saya?”
5. Tutuplah doa dengan satu atau lebih resolusi/keputusan praktis yang akan kita lakukan dengan menerapkan asas ajaran yang disampaikan dalam perikop serta bacaan yang telah dipilih tersebut di dalam hidup dan keadaan kita sekarang ini.
6. Akhir sekali, bertekunlah di dalam doa dan renungankan Sabda Tuhan setiap hari. Jangan mengalah dan berputus asa. Jangan sesekali jatuh ke dalam godaan iblis yang mahu menjauhkan kita dari kasih Allah. Sering kali kita mudah mengalah kerana kesibukan kerja yang kita lakukan setiap hari serta keadaan diri kita yang letih dan penat serta mengantuk. Tetapi jika kita percaya akan pertolongan dan bantuan dari Tuhan kita juga mampu melakukannya kerana bersandar dan berharap kepada kuasa Tuhan yang pasti menolong. Ambilah dan pilihlah masa kita sendiri dan yang bersesuaian dengan cara hidup kita pada masa kini. Selamat mencuba dan Tuhan memberkati kita semua.
3). Peranan Lectio Divina:
1. Lectio Divina bukanlah suatu kaedah doa tetapi ia adalah suatu proses yang berterusan dimana memerlukan masa di antara Allah dan manusia itu sendiri. Dengan kata lain, kontemplasi ada di dalam Lectio itu sendiri.
2. Lectio Divina bukanlah kaedah untuk mencapai kekudusan secara automatik tetapi ia adalah secara spontan dan penyatuan dalam penyesuaian menuju secara berperingkat akan alam kontemplasi.
3. Lectio Divina adalah pengalaman manusia dalam perkembangan hubungan peribadi yang mendalam akan Kasih Allah dalam menuju kesatuan rohani akan kehadiran-Nya yang adalah misteri.
4). Penutup.
St. Teresa of the Child Jesus (1873 – 1897):
“Terutama Injil sangat mengesahkan bagi saya sewaktu saya melakukan doa batin; di dalamnya saya menemukan segala sesuatu yang dibutuhkan/di perlukan oleh jiwa saya yang lemah ini. Di dalamnya saya selalu menemukan pandangan baru, dan makna yang tersembunyi dan penuh rahsia” (ms auto. A 83v). Dengan kata lain, Lectio Divina dilakukan secara peribadi.
Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia
No comments:
Post a Comment