Popular Posts

Saturday, May 23, 2026

Santo Fulgensius dari Ruspe

Santo Fulgensius dari Ruspe

    Santo Fulgensius dari Ruspe atau nama asalnya Fabius Claudius Gordianus Fulgentius, adalah anak seorang senator Romawi di Afrika Utara. Ia lahir pada tahun 465 di Kartago (sekarang Wilayah Tunisia).  Ayahnya, Senator Gordianus meninggal saat ia masih berusia muda. Ibunya, Mariana, yang kemudian mendidiknya dalam ilmu pengetahuan dan membesarkannya dalam iman Kristiani. Kecerdasannya membuat Fulgensius dapat bekerja sebagai pegawai buruh di kota Kartago. Pekerjaan ini sungguh menjemukan baginya dan kerap menimbulkan pergolakan batin yang luar biasa. Karena itu Fulgensius berusaha mencari ketenangan dengan membaca kitab Mazmur dan juga tulisan-tulisan Santo Agustinus Hipo.  Semakin lama membaca, Flgensius semakin terinspirasi dengan ajaran dan kehidupan rohani Santo Agustinus. Hingga suatu saat Fulgensius memutuskan untuk meninggalkan kehidupan dunia dan mengikuti jejak Agustinus menjadi seorang biarawan.  

    Dia melamar pada uskup Faustus, yang saat itu tengah mendirikan sebuah biara di Byzacena setelah dipaksa keluar dari keuskupannya oleh Raja Huneric yang mendukung bidaah sesat Arian.  Uskup Faustus awalnya menolak Fulgesius. Ia sangat prihatin dengan keadaan fisik Fulgentius yang lemah, yang mungkin akan membuatnya sakit bila menjalani pola hidup ketat dalam biara.  Namun Faustus akhirnya memberi izin setelah melihat kesungguhan hati Fulgensius untuk hidup membiara.

    Mendengar Fulgensius masuk biara; Mariana ibunya menjadi sangat sedih. Dia bergegas ke gerbang biara, dan meminta agar anaknya dibiarkan pulang. Ia menangis sambil mengatakan pada semua orang bahwa gereja yang seharusnya melindungi para janda seperti dirinya, kini telah merampok putranya Fulgensius; satu-satunya yang tersisa dalam hidupnya.  Mariana baru mahu pulang setelah Fulgensius sendiri datang dan memohon restu ibunya supaya dia dibiarkan menjadi seorang biarawan.

    Beberapa tahun hidup damai dalam biaranya; serangan kaum arian akhirnya memaksa Fulgentius untuk mengungsi ke sebuah biara lain. Ia tinggal disana sambil mengajar dan berkotbah menentang bidaah Arian yang menyangkal bahwa Yesus adalah Tuhan. Kotbah-kotbahnya membuat kaum arian berang.  Seorang imam Arian kemudian membayar orang-orang Numidia untuk menangkap dan menyeksanya.  Selama beberapa hari mereka berhasil menangkap dan menyeksa Fulgensius namun ia kemudian berhasil melarikan diri.  Fulgentius berencana untuk pergi ke Alexandria mesir, namun ia berubah fikiran setelah mendengar bahawa kaum Arian telah menguasai Mesir. Kerana itu ia lalu memutuskan untuk pergi ke Roma.

    Di Roma, Paus meminta Fulgentius kembali ke Afrika dan tetap berjuang melawan bidaah Arian. Paus juga menetapkannya sebagai uskup Ruspe di Tunisia.  Uskup Fulgesius kemudian membuat semua orang di wilayah Keuskupannya terkesan dengan pengajarannya tentang iman yang benar. Banyak pengikut Arian yang dibawanya kembali kepangkuan gereja. Hal ini membuat kaum Arian marah dan membuat kekacauan.  Raja Thrasamund, yang adalah seorang Arian, memerintahkan agar Uskup Fulgensius dan semua uskup yang menentang Arian ditangkap dan dibuang ke Pulau Sardinia. Jumlah mereka yang dibuang ke Sardinia adalah hampir enam puluh orang; terdiri dari para Uskup dan para imam yang secara terang-terangan menentang Arian. Hidup dalam pembuangan di Sardinia sangat berat dan penuh penderitaan. Namun semua itu tidak pernah mengoyahkan iman para pahlawan gereja ini.  Paus di Roma yang tahu akan penderitaan mereka selalu mendukung mereka dengan mengirimkan bantuan tetap berupa bahan-bahan makanan dan uang.  Di tempat pembuangan ini, Fulgentius menulis banyak buku pembelaan iman.  

    Pada tahun 523, setelah kematian Raja Thrasamund dan pengaruh bidaah Arian mulai merosot. Kemudian Uskup Fulgentius kembali ke diosisnya di Ruspe. Dia bekerja keras untuk memulihkan Keuskupannya yang telah lama terbengkalai kerana ketidakhadirannya. Umatnya amat mencintai uskup yang kudus ini. Khotbah-kotbahnya yang mendalam sangat memukau para pendengarnya. Bahkan uskup agung Kartago Bonifasius, akan bercucuran airmata setiap kali mendengar Fulgentius berkhotbah. Ia akan selalu menyampaikan terima kasih kepada Tuhan kerana telah memberikan seorang pengkhotbah besar untuk gereja-Nya di Afrika Utara. Uskup Fulgentius bekerja di Ruspe sampai pada hari kematiannya pada tanggal 1 Januari tahun 533.

Jonathan Fabian Ginunggil,
Pelayan Atasan Tertinggi / Most High Servant,
Yesus, Maria, Yusuf Pelayanan Kasih / Jesus, Mary, Joseph Ministry of Love 
(Blessed and Saints and the Nine Choirs of Angels)

My vocation is Blessed and Saints.

"I am the most humble of all the Saints in Heaven" Mary, Mother of God."

"I am the handmaid of the Lord, said Mary ‘let what you have said be done to me."

Mother Mary is the most humble Saint in Heaven and she is also the Mother of God for us all
(Luke 1:38)

No comments:

The First Holy Martyrs of the Holy Roman Church

These “ proto-martyrs ” of Rome were the first Christians persecuted en masse by the Emperor Nero in the year 64 , before the martyrdom of ...