Popular Posts

Monday, May 25, 2026

Bulla Unam Sanctam - Bonifasius VIII, 1302, Dogma Keselamatan dan Kuasa Gereja

Bulla Unam Sanctam - Bonifasius VIII, 1302, Dogma Keselamatan dan Kuasa Gereja

UNAM SANCTAM

SURAT BULLA PAUS BONIFASIUS VIII

18 November 1302

Terdesak oleh iman, Kami diwajibkan percaya dan mempertahankan bahwa Gereja itu Satu, Kudus, Katolik dan juga Apostolik. Dengan teguh Kami percaya akan Gereja itu dan dengan sederhana Kami mengakui bahwa di luar dirinya tidak ada keselamatan maupun pengampunan dosa, sebagaimana yang diserukan oleh Mempelai dalam Kidung Agung (VI, 8): “Dialah satu-satunya merpatiku, idam-idamanku. Dialah satu-satunya dari ibundanya, yang terpilih dari ia yang mengandungnya,” dan dia melambangkan Tubuh Mistis yang satu dan tunggal, dikepalai Kristus dan Kristus dikepalai Allah (1 Korintus 11:3). Oleh sebab itulah di dalam dia, hanya ada satu Tuhan, satu iman, satu pembaptisan (Efesus IV, 5). Dahulu, di kala air bah, hanya ada satu bahtera Nuh, pertanda Gereja. Bahtera itu telah sempurna dalam satu hasta, hanya ada seorang nakhoda dan pembimbingnya, yakni Nuh, dan kita membaca bahwa di luar bahtera ini, segala sesuatu yang ada di bumi mengalami kebinasaan.

Kami menghormatinya sebagai Gereja yang tunggal, sebab Tuhan telah berkata melalui mulut sang nabi: “Ya Allah, bebaskanlah jiwaku dari pedang dan milikku satu-satunya dari cengkeraman anjing.’ (Mazmur XXI, 20). Sang nabi telah mendoakan jiwanya, yakni dirinya sendiri, kepala dan tubuhnya; dan tubuh ini, yakni Gereja, disebutnya satu-satunya, oleh sebab keesaan Mempelai, iman, sakramen-sakramen, serta kasih Gereja. Dia inilah jubah Tuhan, jubah tak berjahit, jubah tak berkoyak namun yang diundikan (Yohanes XIX, 23-24). Oleh sebab itulah pada Gereja yang satu dan tunggal ini, hanya ada satu tubuh dan satu kepala, bukan dua kepala bagaikan seekor monster; yakni, Kristus dan Vikaris Kristus, Petrus dan penerus Petrus, sebab Tuhan yang berbicara kepada Petrus sendiri berkata: “Gembalakanlah domba-domba-Ku” (Yohanes XXI, 17), maksud-Nya adalah domba-domba-Ku secara umum, bukan beberapa domba atau domba-domba lain secara khusus, maka dari itulah Kami memahami bahwa Ia menyerahkan semuanya kepada dia (Petrus).

Dengan demikian, jikalau orang-orang Yunani atau orang-orang lain seumpama berkata bahwa mereka tidak diserahkan kepada Petrus dan para penerusnya, mereka harus mengakui diri mereka bukanlah domba-domba Kristus, sebab Tuhan kita berkata dalam Yohanes, “hanya ada satu kandang domba dan satu gembala.” Kami diberi tahu oleh nas-nas Injil, bahwa dalam Gereja ini dan dalam kuasanya, ada dua bilah pedang, yakni pedang rohani dan pedang duniawi. Sebab ketika para Rasul berkata: “Lihatlah, ada dua buah pedang” (Lukas, XXII, 38), maksudnya adalah di dalam Gereja, sebab para Rasul di kala itu sedang berbicara, dan Tuhan tidak menjawab bahwa pedangnya ada terlalu banyak, namun cukup. Tentunya orang yang menyangkal bahwa pedang duniawi ada dalam kuasa Petrus belum mendengar baik-baik perkataan Tuhan yang bersabda: Sarungkanlah pedangmu (Mat. XXVI, 52). Maka dari itu, kedua-duanya ada dalam kuasa Gereja, maksudnya pedang rohani dan pedang bendawi, yang rohani digunakan untuk Gereja, namun yang bendawi oleh Gereja; yang pertama digunakan oleh tangan imam; yang kedua digunakan oleh tangan para raja dan tentara, namun sekehendak imam dan asalkan tidak dia larang.

Namun demikian, pedang yang satu harus tunduk kepada pedang yang lain dan kuasa duniawi tunduk kepada kuasa rohani. Sebab karena sang Rasul berkata: “Tiada pemerintahan yang tidak berasal dari Allah dan pemerintahan yang ada, ditetapkan oleh Allah” (Roma XIII, 1-2), namun mereka tidak akan dinobatkan jikalau pedang yang satu tidak tunduk kepada pedang yang lain dan jikalau yang lebih rendah, istilahnya, tidak dihantar naik oleh yang lain.

Sebab, seturut Dionisius yang Terberkati, hukum keilahian menetapkan bahwa hal-hal terendah mencapai tempat tertinggi melalui perantara-perantara. Lantas, seturut tatanan alam semesta, segala sesuatu tidak terbimbing kembali kepada keadaan tertata secara setara dan serta-merta, namun yang terendah melalui perantara, dan yang lebih rendah melalui yang lebih tinggi. Maka dari itu, harus kita akui secara lebih jelas bahwa dalam martabat dan kemuliaan, kuasa rohani melampaui kuasa duniawi apa pun, sebab hal-hal rohani melampaui hal-hal duniawi. Hal ini juga kita lihat dengan jelas melalui bayaran, pemberkatan dan konsekrasi persepuluhan, melalui penerimaan kuasa sendiri dan melalui kepemerintahan atas negara-negara sekalipun. Sebab dengan kebenaran sebagai saksi Kami, kuasa rohanilah yang berhak mendirikan kuasa duniawi dan memberi penilaian apabila kuasa duniawi tidak baik adanya. Dengan demikian, genaplah nubuat Yeremia mengenai Gereja dan kuasa gerejawi: “Lihatlah, pada hari ini engkau kutempatkan atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan”, dan seterusnya.

Maka dari itu, jikalau kuasa duniawi berbuat salah, ia akan dihakimi oleh kuasa rohani: namun jjika kuasa rohani kecil berbuat salah, ia akan dihakimi oleh kuasa rohani yang lebih tinggi; namun jikalau kuasa rohani yang tertinggi dari segala kuasa rohani berbuat salah, ia hanya dapat diadili oleh Allah, dan bukan oleh manusia, seturut kesaksian sang Rasul: “Manusia rohani menilai segala sesuatu dan dirinya sendiri tidak dinilai oleh seorang pun” (1 Korintus II, 15) . Namun otoritas ini (kendati telah diberikan kepada manusia dan dilaksanakan oleh manusia) tidak bersifat manusiawi, namun justru bersifat ilahi, dikaruniakan kepada Petrus oleh sabda ilahi dan diteguhkan kepadanya (Petrus) serta para penerusnya oleh Dia yang diakui Petrus, sebab Tuhan sendiri berkata kepada Petrus, “Apa pun yang kauikat di atas bumi akan terikat di dalam Surga”, dst. (Matius XVI, 19). Oleh sebab itu, barang siapa melawan kuasa yang telah ditetapkan oleh Allah ini, ia melawan ketetapan Allah (Roma XIII, 2), kecuali dirinya, seperti yang dilakukan Manikheus, mereka-reka dua permulaan, yang adalah kesesatan dan Kami nilai sebagai bidah, sebab seturut kesaksian Musa, bukan pada awal-awalnya, namun pada awalnya Allah menciptakan langit dan bumi (Kejadian I, 1).

Di samping itu, Kami mendeklarasikan, Kami memproklamasikan, Kami mendefinisikan bahwa setiap makhluk manusia berkeperluan mutlak demi beroleh keselamatan, untuk tunduk kepada Paus Roma.

Catatan dan Rujukan:

Diterjemahkan dari sumber bahasa Inggris berikut:

The Catholic Historical Review [Reviu Sejarah Gereja], Vol. VII, April 1927 – Januari 1928, diterbitkan oleh The Catholic University of America, Washington D. C., 1928, hal. 194-197.

Jonathan Fabian Ginunggil,
Pelayan Atasan Tertinggi / Most High Servant,
Yesus, Maria, Yusuf Pelayanan Kasih / Jesus, Mary, Joseph Ministry of Love 
(Blessed and Saints and the Nine Choirs of Angels)

My vocation is Blessed and Saints.

"I am the most humble of all the Saints in Heaven" Mary, Mother of God."

"I am the handmaid of the Lord, said Mary ‘let what you have said be done to me."

Mother Mary is the most humble Saint in Heaven and she is also the Mother of God for us all
(Luke 1:38)

No comments:

The First Holy Martyrs of the Holy Roman Church

These “ proto-martyrs ” of Rome were the first Christians persecuted en masse by the Emperor Nero in the year 64 , before the martyrdom of ...