Popular Posts

Monday, April 21, 2025

21 April 2025 (Monday) / Easter Monday

21 April 2025 (Monday)

Easter Monday.

First Reading: Acts 2: 14, 22-33
Responsorial Psalm: Psalms 16: 1-2a and 5, 7-8, 9-10, 11
Alleluia: Psalms 118: 24
Gospel: Matthew 28: 8-15

First Reading : Acts 2:14,22‐33

On the day of Pentecost Peter stood up with the Eleven and addressed the crowd in a loud voice: ‘Men of Israel, listen to what I am going to say: Jesus the Nazarene was a man commended to you by God by the miracles and portents and signs that God worked through him when he was among you, as you all know. This man, who was put into your power by the deliberate intention and foreknowledge of God, you took and had crucified by men outside the Law. You killed him, but God raised him to life, freeing him from the pangs of Hades; for it was impossible for him to be held in its power since, as David says of him:
I saw the Lord before me always, for with him at my right hand nothing can shake me. So my heart was glad and my tongue cried out with joy; my body, too, will rest in the hope that you will not abandon my soul to Hades nor allow your holy one to experience corruption. You have made known the way of life to me, you will fill me with gladness through your presence. ‘Brothers, no one can deny that the patriarch David himself is dead and buried: his tomb is still with us. But since he was a prophet, and knew that God had sworn him an oath to make one of his descendants succeed him on the throne, what he foresaw and spoke about was the resurrection of the Christ: he is the one who was not abandoned to Hades, and whose body did not experience corruption. God raised this man Jesus to life, and all of us are witnesses to that. Now raised to the heights by God’s right hand, he has received from the Father the Holy Spirit, who was promised, and what you see and hear is the outpouring of that Spirit.’

Responsive Psalm : Psalm 15(16):1‐2,5,7‐11

Preserve me, Lord, I take refuge in you.
or
Alleluia, alleluia, alleluia!

Preserve me, God, I take refuge in you. I say to the Lord: ‘You are my God. O Lord, it is you who are my portion and cup; it is you yourself who are my prize.’

Preserve me, Lord, I take refuge in you.
or
Alleluia, alleluia, alleluia!

I will bless the Lord who gives me counsel, who even at night directs my heart. I keep the Lord ever in my sight: since he is at my right hand, I shall stand firm.

Preserve me, Lord, I take refuge in you.
or
Alleluia, alleluia, alleluia!

And so my heart rejoices, my soul is glad; even my body shall rest in safety. For you will not leave my soul among the dead, nor let your beloved know decay.

Preserve me, Lord, I take refuge in you.
or
Alleluia, alleluia, alleluia!

You will show me the path of life, the fullness of joy in your presence, at your right hand happiness for ever.

Preserve me, Lord, I take refuge in you.
or
Alleluia, alleluia, alleluia!

Second Reading :
There is no Second Reading.

Alleluia: Psalms 118: 24

R. Alleluia, alleluia.
24 This is the day the LORD has made; let us be glad and rejoice in it.
(24. This is the day which Yahweh has made, a day for us to rejoice and be glad).
R. Alleluia, alleluia.

Gospel : Matthew 28:8‐15

Filled with awe and great joy the women came quickly away from the tomb and ran to tell the disciples. And there, coming to meet them, was Jesus. ‘Greetings’ he said. And the women came up to him and, falling down before him, clasped his feet. Then Jesus said to them, ‘Do not be afraid; go and tell my brothers that they must leave for Galilee; they will see me there.’ While they were on their way, some of the guard went off into the city to tell the chief priests all that had happened. These held a meeting with the elders and, after some discussion, handed a considerable sum of money to the soldiers with these instructions, ‘This is what you must say, “His disciples came during the night and stole him away while we were asleep.” And should the governor come to hear of this, we undertake to put things right with him ourselves and to see that you do not get into trouble.’ The soldiers took the money and carried out their instructions, and to this day that is the story among the Jews.

Words of the Holy Father:

The Gospel (cf. Mt 28:8-15) shows us the joy of the women at Jesus’ Resurrection: the text says they abandoned the tomb with “great joy”, and “ran to tell his disciples” (v. 8). This joy, which is born precisely from the living encounter with the Risen One, is a powerful emotion, which impels them to spread and to tell what they had seen. (…) Jesus broke through the darkness of the tomb and lives forever. His presence can fill anything with light. With him, every day becomes a step in an eternal journey, and every “today” can hope for a “tomorrow”, every end a new beginning. Every instant is projected beyond the limits of time, towards eternity. (Regina Coeli, 1 April 2024)

Santo Anselmus, Uskup dan Pujangga Gereja.

Santo Anselmus lahir di Aosta, Piedmont, kira-kira pada tahun 1033. Ayahnya Gondolvo, seorang politikus dan bangsawan Lombardia, sedang ibunya Ermenberga, seorang wanita Burgundia yang kaya raya. Dari orangtuanya yang saleh itu, Anselmus mewarisi perangai yang lembut dan kerendahan hati. Anselmus bertumbuh besar menjadi seorang pemuda yang berbudi luhur dan suka beribadah. Oleh ayahnya Gundolvo, Anselmus yang brilian itu disiapkan untuk berkarya di bidang politik. Tetapi hal ini tidak sesuai dengan gerak nurani Anselmus.
Ketika berusia 27 tahun (1060), Anselmus masuk biara Benediktin di bec, dekat Rouen, Perancis. Disana ia belajar di bawah bimbingan Lanfranc, seorang teolog kawakan di Eropa. Segera terlihat oleh Lanfranc bahwa Anselmus adalah seorang pemuda yang luar biasa pandai serta saleh. Ketika Lanfranc menjadi pemimpin biara di Caen pada tahun 1066, Anselmus diangkat menjadi pemimpin biara di Bec. Dalam kepemimpinannya itu, Anselmus menata biara itu menjadi suatu pusat ilmu pengetahuan dan kerohanian. Prestasinya melampaui prestasi Lanfranc, gurunya. Ketika itu, ia mulai giat menulis dua buah bukunya: Monologion dan Proslogion. Pada tahun 1093, dalam perjalanannya mengunjungi wilayah-wilayah perlayanan di wilayah Bec; Anselmus dipilih menjadi Uskup Agung Canterbury oleh raja William II. Anselmus menyambut baik hal ini karena ia melihatnya sebagai kesempatan emas untuk membaharui Gereja di Inggris. Namun ia menolak untuk ditabhiskan sebelum raja William menyatakan kesediaannya mendukung Paus Urbanus II, (1088-1099) untuk melawan Paus tandingan Klemens III dan mengembalikan tanah-tanah yang dicaplok di Canterbury.
Tiga bulan kemudian Anselmus ditabhiskan, tetapi segera disusul dengan perselisihan antara dia dengan raja. William yang bermaksud menyerang Normadia, menuntut sejumlah besar uang dari Canterbury. Anselmus dengan tegas menolak tuntutan itu. Sebaliknya, William melarang Anselmus pergi Roma untuk menerima pakaian kebesarannya sebagai lambang martabatnya sebagai Uskup Agung dan juga mengajukan berbagai tuduhan kepada Paus Urbanus II untuk melumpuhkan Anselmus. Situasi ini dapat diatasi pada tahun 1095 ketika Anselmus berhasil memperngaruhi para bangsawan Inggris dalam sinode Rockingham untuk menentang campurtangan Raja William dalam urusan-urusan gereja. Kemudian pakaian kebesarannya itu dikirim ke Inggris dan Anselmus menobatkan dirinya untuk menghindarkan segala hal yang bukan-bukan dari raja William perihal martabatnya sebagai uskup Agung Canterbury.
Bagaimanapun juga, Anselmus masih agak takut untuk pergi ke Roma guna berkonsultasi dengan Paus tentang campur tangan William dalam urusan-urusan intern Gereja. Pada tahun 1097 William mengusir Anselmus, tetapi Anselmus tidak segera berangkat ketika William mencaplok kembali tanah-tanah di Canterbury. Ketika di pengasingan, Anselmus mengadakan Konsili Bari pada tahun 1098, dimana ia secara luar biasa mempertahankan istilah Fillioque ("dan dari Putra") yang ditolak oleh gereja Timur. Di tempat pengasingan ini, Anselmus berhasil menulis bukunya yang berjudul "Cur Deus Homo?" (Mengapa Tuhan menjadi manusia?).
Pada tahun 1100 William dibunuh. Penggantinya William I, mengajak Anselmus untuk kembali ke Canterbury. Dengan senang hati Anselmus kembali ke tahkta keuskupannya. Namun segera timbul lagi persoalan yang sama dalam hubungannya dengan Henry I. Masalah yang terbesar adalah tuntutan Henry atas penobatan uskup-uskup dan pemimpin biara dengan lencana yang khas sesuai dengan kekhasan spiritualitasnya. Karena perselisihan ini, Anselmus kembali lagi ke Roma untuk berkonsultasi dengan Paus. Sri Paus Paskalis II (1099-1118) yang menggantikan Paus Urbanus II, menegaskan sekali lagi kebijaksanaan yang telah ada. Raja Henry marah dan segera mengasingkan Anselmus dan menyita semua tanah di Canterbury. Sebagai balasannya, Anselmus menjatuhkan hukuman ekskomunikasi atas Henry. Namun dalam waktu singkat tindakan ekskomunikasi di pulihkan kembali. Pada tahun 1107 ketika diadakan di Westminster, timbul lagi masalah. Raja melepaskan tuntutannya untuk menobatkan uskup-uskup dan pemimpin-pemimpin biara tetapi tetap mempertahankan haknya untuk menerima penghormatan mereka sebagai warga negara.
Anselmus menggunakan dua tahun terakhir masa hidupnya untuk mendorong sinode-sinode regular, menghapuskan perdagangan budak belian dan meningkatkan penghayatan hidup selibat. Anselmus meninggal pada tahun 1109. Ia digelar sebagai "Pujangga Gereja" pada tahun 1720.

Santo Simon bar Sabbae, Uskup dan Martir.

Dalam tahun-tahun yang kuat dalam keimamatannya, Santo Simon bar Sabbae menghadapi ujian yang berat. Ia didatangi oleh para perampok yang menuntut agar ia melepaskan imannya atau mengorbankan hidupnya. Tanpa sedikit pun rasa takut, Santo Simon bar Sabbae berpaling kepada mereka dan berkata, "Imanku adalah harta karun hidupku. Menyerahkan iman berarti mengorbankan kekekalanku. Aku siap menghadapi kematian, tetapi aku tidak siap untuk menyangkal Kristus." Kata-kata ini merangkum keberanian dan kesetiaan yang mendefinisikan keberadaannya. Hidupnya merupakan bukti imannya yang tidak tergoyahkan dan pengabdiannya yang kuat kepada Tuhan. Di sinilah ia menunjukkan dedikasi yang luar biasa terhadap ajaran Kristus. Meskipun mengalami masa-masa sulit, ia dengan bersemangat mengkhotbahkan firman Tuhan dan berdiri teguh dalam menghadapi kesulitan. Selama masa pemerintahan Shapur II, ketika perintah keras terhadap umat Kristen diberlakukan, Santo Simon bar Sabbae memilih untuk berpegang teguh pada imannya. Ia menolak untuk tunduk kepada dewa matahari, meskipun tahu bahwa pembangkangan ini dapat merenggut nyawanya. Sebagai simbol komitmennya yang teguh terhadap agama Kristen, ia meninggal sebagai martir, dengan demikian membuka jalan menuju kekudusannya.

Lambang Keberanian dan Iman melalui perjuangan Santo Simon bar Sabbae.

Santo Simon bar Sabbae akhirnya dipenjara, disiksa namun tidak gentar, ia digiring ke eksekusi pada Jumat Agung, yang selamanya menghubungkan kemartirannya dengan pengorbanan Yesus Kristus. "Ya Tuhan, ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku. Berilah aku rahmat untuk menghadapi akhir ini dengan keberanian, seperti Putra-Mu, Yesus Kristus." Santo Simon bar Sabbae diakui sebagai orang suci dalam konteks Katolik, khususnya Gereja Ortodoks Timur dan Timur. Ia adalah uskup Persia di Seleucia-Ctesiphon , ibu kota Kekaisaran Sassanid. Santo Simon bar Sabbae bertugas selama periode penuh gejolak pada abad ke-4 Masehi, yang ditandai dengan penganiayaan agama yang hebat. Ketika raja Sassanid, Shapur II , menerapkan dasar penganiayaan terhadap umat Kristen, Santo Simon bar Sabbae secara aktif menentangnya, yang menyebabkan penangkapannya. Raja menawarkan kebebasan dan kekayaan kepada Santo Simon bar Sabbae jika ia mahu memeluk agama Zoroastrianisme, agama negara, dan membujuk para pengikutnya untuk melakukan hal yang sama. Namun, Santo Simon bar Sabbae dengan tegas menolak untuk meninggalkan kepercayaannya , bahkan ketika ia menghadapi siksaan berat dan kematian yang mengancam. Ia, bersama dengan banyak orang Kristen lainnya termasuk banyak paderi dan perawan yang ada pada itu dilaksanakan kerana imannya sekitar tahun 344 M. Karena keteguhannya dalam iman, Santo Simon bar Sabbae dianggap sebagai martir di Gereja Katolik Roma dan Gereja Ortodoks Timur. Hari rayanya dirayakan pada tanggal 21 April . Kisah tentang dedikasi yang tidak tergoyahkan dan pengorbanan yang tidak terhingga ini terus menginspirasi orang Kristen selama berabad-abad. Santo Simon bar Sabbae adalah tokoh yang dihormati di Gereja Katolik karena imannya yang kuat dan dedikasinya yang tidak tergoyahkan. Sumbangannya yang paling ketara tidak terletak pada hal-hal fisik, melainkan pada keperluan spiritual. Pertama, Santo Simon bar Sabbae dirayakan karena dedikasinya yang kuat terhadap imannya . Ia memimpin sebagai Metropolitan Seleucia-Ctesiphon selama masa penganiayaan berat terhadap umat Kristen. Meskipun hal ini menimbulkan bahaya besar, ia menolak untuk meninggalkan imannya atau mengorbankan nilai-nilainya, yang akhirnya menyebabkan ia mati martir. Kedua, ia dikenal karena keberanian dan keteguhannya. Menghadapi ancaman dari raja Sassanid Shapur II, Santo Simon bar Sabbae tidak melarikan diri atau bersembunyi, tetapi menghadapi kematiannya secara langsung. Dengan memperjuangkan apa yang diyakininya, ia menjadi teladan keberanian bagi para pengikutnya. Ketiga, penderitaan dan pengorbanannya yang besar telah memberikan kekuatan spiritual dan inspirasi bagi banyak orang lain . Kisahnya telah diceritakan dari generasi ke generasi, memberikan penghiburan dan dorongan bagi mereka yang mengalami kesulitan. Hari raya ini memberi kesempatan kepada umat beriman untuk mengenang dan menghormati iman, keberanian, dan pengorbanannya setiap tahun. Oleh karena itu, meski Santo Simon bar Sabbae tidak mendirikan institusi atau tulisan yang secara langsung mempengaruhi Gereja, komitmennya terhadap imannya, keberaniannya menghadapi penganiayaan, dan warisan yang berkelanjutan melalui perayaan hari rayanya merupakan sumbangannya yang jelas bagi Gereja Katolik. Santo Simon bar Sabbae adalah Uskup Agung Katolik Seleucia-Ctesiphon, Persia, selama periode penganiayaan Kristen pada waktu itu. Kehidupan dan kemartirannya merupakan perwujudan mendalam dari ajaran Gereja Katolik. Ia secara khusus mencontohkan prinsip-prinsip seperti kesetiaan, keberanian dalam menghadapi kesulitan, dan dedikasi terhadap kebebasan beragama. Santo Simon bar Sabbae berpegang teguh pada imannya yang teguh kepada Tuhan bahkan ketika raja Persia, Shapur II, menetapkan orang-orang Kristen sebagai musuh negara dan melaksanakan hukuman banyak orang karena keyakinan mereka. Meskipun ada risiko yang mengancam nyawanya sendiri, ia tetap teguh pada imannya, mewujudkan ajaran Gereja Katolik yang mendorong keteguhan iman bahkan di tengah cobaan dan kesengsaraan. Ketika diperintahkan oleh Raja untuk memungut pajak dari sesama umat Kristen, Santo Simon bar Sabbae menolak serta merta dan memilih untuk membela umatnya. Tindakan pembangkangan ini menyebabkan penangkapan, penyiksaan, dan kemudian dia akhirnya mencapai kemartirannya. Hal ini mencerminkan pengorbanan diri Yesus di kayu Salib, sebuah ajaran mendasar dalam Gereja Katolik, yang menekankan martabat dalam mempertahankan iman seseorang dengan segala cara, bahkan kematian. Santo Simon bar Sabbae menunjukkan kemampuan yang luar biasa untuk mengasihi dan mengampuni musuh-musuhnya, mengikuti ajaran Kristus dalam Khotbah di Bukit (Matius 5: 44-45), yang merupakan bagian penting dari Doktrin Katolik. Bahkan ketika menghadapi kematian, ia tidak menyimpan kebencian terhadap para penyeksanya, yang merupakan lambang kasih dan pengampunan tanpa syarat yang dianjurkan untuk ditunjukkan oleh setiap umat Katolik kepada orang lain. 

Sebagai kesimpulan, kehidupan dan kemartiran Santo Simon bar Sabbae mewakili ajaran Gereja Katolik dengan cara yang luar biasa, yang menunjukkan kesetiaan, keberanian, pengorbanan, dan kasih di tengah penganiayaan yang kejam. Kehidupannya merupakan bukti dari tindakannya dalam menghayati kebajikan ilahi ini meskipun menghadapi kesulitan yang sangat berat. Kehidupan dan kemartirannya terjadi selama Kekaisaran Sasania di Persia, di bawah pemerintahan Shapur II. Pada tahun 339 M , Raja Shapur II memberlakukan penganiayaan yang meluas terhadap orang-orang Kristen, yang dimotivasi oleh alasan politik dan agama. Meskipun mendapat ancaman dan tekanan yang meningkat, Santo Simon bar Sabbae menolak untuk memeluk agama Zoroastrianisme, agama negara Kekaisaran Persia. Ia dengan berani memilih untuk tetap teguh dalam imannya, menunjukkan kepatuhan yang teguh pada ajaran-ajaran Kristen. Tindakan pembangkangan ini membuatnya menjadi sasaran utama kemarahan Shapur. Santo Simon bar Sabbae ditangkap dan dibawa ke hadapan raja, yang menuntut agar ia bersujud dan mempersembahkan kurban kepada dewa matahari, dewa utama dalam kepercayaan Zoroaster. Sekali lagi, Santo Simon bar Sabbae dengan berani menolak. Marah dengan penolakannya, Raja Shapur memerintahkan agar anggota keluarga Santo Simon bar Sabbae dan rakan-rakannya dijatuhi hukuman. Tetap kuat di tengah peristiwa yang mengerikan itu, Santo Simon bar Sabbae mempertahankan keputusannya yang tegas untuk tidak tunduk kepada dewa lain selain dewa yang ia sembah. Menyaksikan hukuman terhadap keluarga dan rakan-rakannya tidak menggoyahkan kesetiaan Santo Simon bar Sabbae. Sebaliknya, hal itu menjelaskan imannya semakin teguh. Dalam tindakan perlawanan terakhir, Santo Simon bar Sabbae mengungkapkan kegembiraannya bahwa orang-orang yang dicintainya telah mendahuluinya menuju Kerajaan Surga. Melihat keteguhan iman Santo Simon bar Sabbae, Raja Shapur II murka. Ia mengeluarkan perintah untuk segera menghukum Santo Simon bar Sabbae. Uskup yang berani itu kemudian dipenggal, sehingga melengkapi kemartirannya. Keteguhan Santo Simon bar Sabbae dalam menghadapi penganiayaan kejam telah mengubahnya menjadi tokoh penting dalam sejarah Kristen dan simbol iman yang kuat. Hari rayanya dirayakan pada tanggal 21 April oleh Gereja Ortodoks Suriah, dan ia terus menginspirasi banyak orang percaya dengan kisah keberanian dan komitmennya terhadap iman. Santo Simon bar Sabbae bersama dengan 100 pengikutnya, menjadi martir karena menolak meninggalkan imannya. Pengorbanannya memperlihatkan kedalaman pengabdian dan kasih yang seharusnya dimiliki seseorang bagi Kristus. Meskipun menghadapi risiko, Santo Simon bar Sabbae terus menyebarkan Firman Tuhan. Semangat penginjilannya seharusnya memberi teladan kepada umat Katolik untuk berbagi iman mereka dengan orang lain, berdiri teguh dalam menghadapi kesulitan. Singkatnya, kehidupan dan pengorbanan Santo Simon bar Sabbae merupakan bukti keberanian, kesetiaan, dan cinta abadi kepada Kristus. Hal ini mendorong umat Katolik untuk berpegang teguh pada iman mereka, terlepas dari tantangan yang dihadapi dunia. Uskup kota Persia ini iaitu Santo Simon bar Sabbae tidak bersedia mengumpulkan pajak ganda dari orang-orang beriman dan tidak bersedia menyembah matahari. Oleh karena itu bersama banyak orang Kristen lain, ia dihukum mati pada hari Jumat Suci tahun 344.

HARI SENIN DLM OKTAF PASKAH
Kis. 2:14,22-32; Mzm. 16:1-2a,5,7-8,9-10,11; 
Mat. 28:8-15
Warna Liturgi Putih

Kis 2:14 Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: "Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini.
Kis 2:22 Hai orang-orang Israel, dengarlah perkataan ini: Yang aku maksudkan, ialah Yesus dari Nazaret, seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu, seperti yang kamu tahu.
Kis 2:23 Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa durhaka.
Kis 2:24 Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu.
Kis 2:25 Sebab Daud berkata tentang Dia: Aku senantiasa memandang kepada Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
Kis 2:26 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram,
Kis 2:27 sebab Engkau tidak menyerahkan aku kepada dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.
Kis 2:28 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; Engkau akan melimpahi aku dengan sukacita di hadapan-Mu.
Kis 2:29 Saudara-saudara, aku boleh berkata-kata dengan terus terang kepadamu tentang Daud, bapa bangsa kita. Ia telah mati dan dikubur, dan kuburannya masih ada pada kita sampai hari ini.
Kis 2:30 Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan Daud sendiri di atas takhtanya.
Kis 2:31 Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan.
Kis 2:32 Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi.
Mzm 16:1 Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.
Mzm 16:2 Aku berkata kepada TUHAN: "Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!"
Mzm 16:5 Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.
Mzm 16:7 Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.
Mzm 16:8 Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.
Mzm 16:9 Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram;
Mzm 16:10 sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.
Mzm 16:11 Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.
Mat 28:8 Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.
Mat 28:9 Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.
Mat 28:10 Maka kata Yesus kepada mereka: "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku."
Mat 28:11 Ketika mereka di tengah jalan, datanglah beberapa orang dari penjaga itu ke kota dan memberitahukan segala yang terjadi itu kepada imam-imam kepala.
Mat 28:12 Dan sesudah berunding dengan tua-tua, mereka mengambil keputusan lalu memberikan sejumlah besar uang kepada serdadu-serdadu itu
Mat 28:13 dan berkata: "Kamu harus mengatakan, bahwa murid-murid-Nya datang malam-malam dan mencuri-Nya ketika kamu sedang tidur.
Mat 28:14 Dan apabila hal ini kedengaran oleh wali negeri, kami akan berbicara dengan dia, sehingga kamu tidak beroleh kesulitan apa-apa."
Mat 28:15 Mereka menerima uang itu dan berbuat seperti yang dipesankan kepada mereka. Dan ceritera ini tersiar di antara orang Yahudi sampai sekarang ini.

Prepared and updated by:
Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.

No comments:

Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Bab 20

  Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Abraham dan Abimelekh Bab 20 Kej 20:1 Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia...