Santa Agnes, Perawan dan martir
Agnes hidup tahun 291-304. Ia terkenal sangat cantik dan simpatik. Tidaklah mengherankan bila banyak pemuda yang jatuh hati padanya dan bertekad mengawininya. Tetapi apa yang dialami pemuda pemuda itu? Mereka menyesal, kecewa bahkan marah karena lamaran mereka ditolak. Agnes, gadis rupawan itu berkaul tidak mau menikah karena ia telah berjanji untuk tetap perawan dan setia kepada Kristus yang mencintainya. Pemuda pemuda frustasi itu melaporkan Agnes kepada pengadilan Romawi dengan mengungkapkan identitasnya sebagai seorang penganut agama Kristen.
Dihadapan pengadilan Romawi, Agnes diuji, ditakut takuti bahkan dituduh menjalani kehidupan sebagai seorang pelacur. Ia diancam dengan hukuman mati dan dipaksa membawakan kurban kepada dewa dewa kafir Romawi. Tetapi Agnes tidak gentar sedikitpun menghadapi semua ancaman dan siksaan itu. Ia dengan gagah berani menolak segala tuduhan atas dirinya dan mempertahankan kemurnianya. Belenggu yang dikenakan pada tangannya terlepas dengan sendirinya. Bagi dia Kristus adalah segala-galanya. Dia yakin Kristus menyertainya dan tetap menjaga dirinya dari segala siksaan atas dirinya.
Akhirnya tiada jalan lain untuk menaklukkan Agnes selain membunuh dia dengan
pedang. Kepalanya dipenggal setelah dia berdoa kepada Yesus, mempelainya.
jenazahnya di kebumikan di jalan Nomentana. Kemudian diatas kuburnya didirikan
sebuah gereja untuk menghormatinya. Agnes dilukiskan sedang mendekap seekor anak domba (Agnus), lambang kemurnian,
memegang daun palem sebagai lambang keberanian. Pada hari pestanya setiap
tahun, dua ekor anak domba disembelih di Gereja santa Agnes di jalan Nomentana.
Bulu domba itu dikirim kepada Sri Paus untuk diberkati dan dipakai untuk
membuat hiasan atau mantel. Hiasan dan mantel itu kemudian dikembalikan kepada
Uskup Agung dari Gereja itu untuk dipakai sebagai simbol kekuasaannya.
Jonathan Fabian Ginunggil,
Most High Servant,
Jesus, Mary, Joseph Ministry of Love
(Blessed and Saints and the Nine Choirs of Angels)
No comments:
Post a Comment