21 February 2025 (Friday)
Friday of week 6 in Ordinary Time: or Saint Peter Damian, Bishop, Doctor.
Ordinary Weekday/ Saint Peter Damian, Bishop, Doctor.
First Reading: Genesis 11: 1-9
Responsorial Psalm: Psalms 33: 10-11, 12-13, 14-15
Alleluia: John 15: 15b
Gospel: Mark 8: 34 – 9:11
First Reading :
Genesis 11:1‐9
Throughout the earth men spoke the same language, with the same vocabulary. Now as they moved eastwards they found a plain in the land of Shinar where they settled. They said to one another, ‘Come, let us make bricks and bake them in the fire.’ (For stone they used bricks, and for mortar they used bitumen). ‘Come,’ they said ‘let us build ourselves a town and a tower with its top reaching heaven. Let us make a name for ourselves, so that we may not be scattered about the whole earth.’
Now the Lord came down to see the town and the tower that the sons of man had built. ‘So they are all a single people with a single language!’ said the Lord. ‘This is but the start of their undertakings! There will be nothing too hard for them to do. Come, let us go down and confuse their language on the spot so that they can no longer understand one another.’ The Lord scattered them thence over the whole face of the earth, and they stopped building the town. It was named Babel therefore, because there the Lord confused the language of the whole earth. It was from there that the Lord scattered them over the whole face of the earth.
Responsive Psalm :
Psalm 32(33):10‐15
Happy the people the Lord has chosen as his own.
He frustrates the designs of the nations, he defeats the plans of the peoples. His own designs shall stand for ever, the plans of his heart from age to age.
Happy the people the Lord has chosen as his own.
They are happy, whose God is the Lord, the people he has chosen as his own. From the heavens the Lord looks forth, he sees all the children of men.
Happy the people the Lord has chosen as his own.
From the place where he dwells he gazes on all the dwellers on the earth; he who shapes the hearts of them all; and considers all their deeds.
Happy the people the Lord has chosen as his own.
Second Reading :
There is no Second Reading.
Alleluia: John 15: 15b
R. Alleluia, alleluia.
15b I call you my friends, says the Lord, for I have made known to you all that the Father has told me.
(15. I shall no longer call you servants, because a servant does not know the master's business; I call you friends, because I have made known to you everything I have learnt from my Father).
R. Alleluia, alleluia.
Gospel :
Mark 8:34‐9:11
He called the people and his disciples to him and said,
'If anyone wants to be a follower of mine, let him renounce himself and take up his cross and follow me. Anyone who wants to save his life will lose it; but anyone who loses his life for my sake, and for the sake of the gospel, will save it. What gain, then, is it for anyone to win the whole world and forfeit his life? And indeed what can anyone offer in exchange for his life? For if anyone in this sinful and adulterous generation is ashamed of me and of my words, the Son of man will also be ashamed of him when he comes in the glory of his Father with the holy angels.'
And he said to them, 'In truth I tell you, there are some standing here who will not taste death before they see the kingdom of God come with power.' Six days later, Jesus took with him Peter and James and John and led them up a high mountain on their own by themselves. There in their presence he was transfigured: his clothes became brilliantly white, whiter than any earthly bleacher could make them. Elijah appeared to them with Moses; and they were talking to Jesus. Then Peter spoke to Jesus, 'Rabbi,' he said, 'it is wonderful for us to be here; so let us make three shelters, one for you, one for Moses and one for Elijah.' He did not know what to say; they were so frightened. And a cloud came, covering them in shadow; and from the cloud there came a voice, 'This is my Son, the Beloved. Listen to him.' Then suddenly, when they looked round, they saw no one with them any more but only Jesus. As they were coming down from the mountain he warned them to tell no one what they had seen, until after the Son of man had risen from the dead. They observed the warning faithfully, though among themselves they discussed what 'rising from the dead' could mean. And they put this question to him, 'Why do the scribes say that Elijah must come first?'
Words of the Holy Father:
The Bible, from the very beginning, warns us [of this]. Let us think of the account of the Tower of Babel (cf. Gen 11:1-9), which describes what happens when we try to reach heaven — our destination — ignoring our bond with humanity, with creation and with the Creator. It is a figure of speech. This happens every time that someone wants to climb up and up, without taking others into consideration. Just myself. Let us think about the tower. We build towers and skyscrapers, but we destroy community. We unify buildings and languages, but we mortify cultural wealth. We want to be masters of the Earth, but we ruin biodiversity and ecological balance. (…) Pentecost is diametrically opposite to Babel. (…) The Spirit creates unity in diversity; he creates harmony. In the account of the Tower of Babel, there was no harmony; only pressing forward in order to earn. There, people were simply instruments, mere “manpower”, but here, in Pentecost, each one of us is an instrument, but a community instrument that participates fully in building up the community. (…) With Pentecost, God makes himself present and inspires the faith of the community united in diversity and in solidarity. (General audience, 2 September 2020)
Santo Petrus Damianus, Uskup dan Pujangga Gereja.
Orangtua Petrus meninggal selagi ia masih kecil. Kakaknya yang sulung memikul tanggung jawab untuk membesarkan Petrus. Meskipun demikian, Petrus tidak menikmati suatu hidup yang baik dan membahagiakan di rumah kakaknya itu. Dia diperlakukan secara kejam. Menyaksikan keadaan Petrus, seorang saudaranya yang sudah menjadi imam, mengirim dia untuk belajar di Parma.
Di sekolah ini Petrus mengalami perkembangan yang sangat baik. Tingkah lakunya disenangi oleh banyak orang. Ia meraih prestasi yang luar biasa dalam semua mata pelajaran. Di antara kawan kawannya, Petrus dikenal sebagai anak yang suka menolong kawan kawannya yang mengalami kesusahan dan berbagai kesulitan. Ia memberikan uang kepada mereka meskipun tunjangan hidupnya sendiri tidak memadai. Setelah menjalani suatu sejarah hidup yang kelam dan panjang, ia akhirnya di tabhiskan menjadi Imam. Tekadnya menjadi imam ialah tidak mau mengabdi Tuhan setengah setengah. Karena itu ia mengambil keputusan untuk meninggalkan segala galanya, lalu menjadi rahib di pertapaan Fonte Avellana.
Kebijaksanaan, kepintaran dan kerendahan hatinya membuat dia disenangi oleh semua rahib di pertapaan itu. Akhirnya ia diangkat menjadi pemimpin pertapaan itu. Dalam kedudukannya sebagai pemimpin, pertapaannya mengalami perubahan perubahan yang menggembirakan. Ia juga sering diminta untuk membantu membereskan masalah masalah yang menimpa kehidupan biara baira lain. Ia pun diangkat menjadi penasehat pribadi untuk tujuh orang Paus. Karena semua prestasinya itu, Petrus Damianus akhirnya di pilih menjadi Uskup dan Kardinal di Ostia oleh Sri Paus Stephanus IX (1057 1058). Jabatan mulia ini kemudian diletakkan kembali karena ia lebih suka hidup menyendiri di biara pertapaan di Fonte Avellana.
Sungguhpun Petrus dikenal luas sebagai seorang Intelektual, namun ia tetap menampilkan dirinya setara dengan kawan kawannya. Ia dengan senang hati mengerjakan tugas tugas dari biaranya, mengikuti aturan aturan yang berlaku, menyelesaikan pekerjaan pekerjaan tangan seperti membuat sendok dari kayu, memperbaiki keranjang dll.
Pada tahun 1072, Petrus Damianus meninggal dunia. Tulisan tulisannya tentang berbagai soal iman sangat bermutu dan menjadi warisan Gereja yang bernilai tinggi. oleh gereja, Petrus Damianus di hormati sebagai Pujangga Gereja.
Santa Irene, Pengaku Iman.
Santa Irene adalah seorang puteri berkebangsaan Romawi yang hidup pada permulaan abad ke-4. Ia menikah dengan Kastullus dan dikarunia beberapa anak. Pada masa pemerintahan Kaisar Maksimianus, Kastullus dibunuh karena mengijinkan pertemuan umat Kristen dirumahnya. Irene sendiri bersama kedua orang anaknya ditangkap dan ditawan. Kedua anaknya meninggal di penjara karena wabah Malaria.
Ketika Maxentius berhasil merebut kekuasaan dari ayahnya, Irene di bebaskan. Tetapi Maxentius dibenci karena tindakannya yang sewenang wenang dan tidak adil. Irene terus saja ditimpa ketidakadilan. Ketika Valeria, gadis keponakan Irene, dipinang oleh putera bendaharawan Negara, seorang pemboros dan pemabuk, Irene dengan tegas menolak lamaran tersebut. Ibu Valeria telah meninggal dunia sebagai korban kebenaran sedang ayahnya ditawan karena imannya. Karenanya, Irene bertindak sebagai pengasuh dan pembela Valeria dan menolak bahkan mengusir dengan tegas pesuruh yang datang melamar Valeria.
Karena penolakan ini, Irene diseret ke hadapan pengadilan kota untuk diadili. Disini dengan berani Irene menjawab setiap pertanyaan hakim. Dia bahkan menantang hakim dengan berkata: Mengapa saya dihadapkan kesini? Belum cukupkah penghinaan terhadap keluargaku? Kami ditangkap dan ditahan. Ibu Valeria di bunuh, juga ayahnya. Semuanya karena nafsu dan dendam. Dan sekarang apakah Valeria lagi yang akan disiksa karena menolak keinginan pemboros dan pemabuk itu? Tidak! Selama aku masih hidup, sekali kali hal ini tidak akan terjadi. Bendaharawan itu mengenal baik siapa Irene. Ia tahu bahwa Irene adalah isteri Kastullus yang telah dihukum mati, dan ibu Kandidus, perwira militer Kaisar Konstatinus yang bermusuhan dengan Kaisar Romawi. Sebab itu tanpa pikir panjang ia menyuruh mengikat Irene dan menyeretnya ke dalam penjara.
Sementara itu, rakyat tidak tahan lagi dengan pemerintahan Maxentius yang sewenang wenang itu. Rakyat mulai menyusun rencana untuk menggulingkan dia. Diam diam mereka mengutus beberapa orang untuk meminta bantuan kepada Kaisar Konstantianus yang adil dan bijaksana. Kaisar Konstantianus menyambut permohonan itu dan segera melancarkan serangan untuk menggulingkan Maxentius. Maxentius lari dan menenggelamkan diri ke sungai Tiber. Semua tawanan dibebaskan, termasuk Irene. Ia bebas dari rencana pembunuhan ngeri atas dirinya pada hari pelantikan Maxentius sebagai Kaisar. Kandidus, anak Irene yang ikut dalam serangan melawan Maxentius, kembali bersama ibunya ke rumah. Selanjutnya Irene mengabdikan diri pada kepentingan orang orang yang mengalami penderitaan.
Santo Petrus Damianus, Uskup dan Pujangga Gereja.
Kej. 11:1-9; Mzm. 33:10-11,12-13,14-15; Mrk. 8:34-9:11.
Warna Liturgi Hijau
Kej 11:1 Adapun seluruh bumi, satu bahasanya dan satu logatnya.
Kej 11:2 Maka berangkatlah mereka ke sebelah timur dan menjumpai tanah datar di tanah Sinear, lalu menetaplah mereka di sana.
Kej 11:3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: "Marilah kita membuat batu bata dan membakarnya baik-baik." Lalu bata itulah dipakai mereka sebagai batu dan ter gala-gala sebagai tanah liat.
Kej 11:4 Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi."
Kej 11:5 Lalu turunlah TUHAN untuk melihat kota dan menara yang didirikan oleh anak-anak manusia itu,
Kej 11:6 dan Ia berfirman: "Mereka ini satu bangsa dengan satu bahasa untuk semuanya. Ini barulah permulaan usaha mereka; mulai dari sekarang apapun juga yang mereka rencanakan, tidak ada yang tidak akan dapat terlaksana.
Kej 11:7 Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing."
Kej 11:8 Demikianlah mereka diserakkan TUHAN dari situ ke seluruh bumi, dan mereka berhenti mendirikan kota itu.
Kej 11:9 Itulah sebabnya sampai sekarang nama kota itu disebut Babel, karena di situlah dikacaubalaukan TUHAN bahasa seluruh bumi dan dari situlah mereka diserakkan TUHAN ke seluruh bumi.
Mzm 33:10 TUHAN menggagalkan rencana bangsa-bangsa; Ia meniadakan rancangan suku-suku bangsa;
Mzm 33:11 tetapi rencana TUHAN tetap selama-lamanya, rancangan hati-Nya turun-temurun.
Mzm 33:12 Berbahagialah bangsa, yang Allahnya ialah TUHAN, suku bangsa yang dipilih-Nya menjadi milik-Nya sendiri!
Mzm 33:13 TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia;
Mzm 33:14 dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi.
Mzm 33:15 Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka.
Mrk 8:34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
Mrk 8:35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.
Mrk 8:36 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.
Mrk 8:37 Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
Mrk 8:38 Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus."
Mrk 9:1 Kata-Nya lagi kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat bahwa Kerajaan Allah telah datang dengan kuasa."
Mrk 9:2 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,
Mrk 9:3 dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.
Mrk 9:4 Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.
Mrk 9:5 Kata Petrus kepada Yesus: "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia."
Mrk 9:6 Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.
Mrk 9:7 Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia."
Mrk 9:8 Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.
Mrk 9:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.
Mrk 9:10 Mereka memegang pesan tadi sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan "bangkit dari antara orang mati."
Mrk 9:11 Lalu mereka bertanya kepada-Nya: "Mengapa ahli-ahli Taurat berkata, bahwa Elia harus datang dahulu?"
Prepared and updated by:
Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.
No comments:
Post a Comment