Popular Posts

Friday, January 31, 2025

31 January 2025 (Friday) Saint John Bosco, Priest on Friday of week 3 in Ordinary Time. Saint John Bosco, Priest, Religious Founder Obligatory Memorial

31 January 2025 (Friday)

Saint John Bosco, Priest on Friday of week 3 in Ordinary Time.

Saint John Bosco, Priest, Religious Founder Obligatory Memorial.

First Reading: Hebrews 10: 32-39
Responsorial Psalm: Psalms 37: 3-4, 5-6, 23-24, 39-40
Alleluia: Matthew 11: 25
Gospel: Mark 4: 26-34

First Reading : 
Hebrews 10:32‐39

Remember all the sufferings that you had to meet after you received the light, in earlier days; sometimes by being yourselves publicly exposed to insults and violence, and sometimes as associates of others who were treated in the same way. For you not only shared in the sufferings of those who were in prison, but you happily accepted being stripped of your belongings, knowing that you owned something that was better and lasting. Be as confident now, then, since the reward is so great. You will need endurance to do God’s will and gain what he has promised.

Only a little while now, a very little while, and the one that is coming will have come; he will not delay. The righteous man will live by faith,vbut if he draws back, my soul will take no pleasure in him. You and I are not the sort of people who draw back, and are lost by it; we are the sort who keep faithful until our souls are saved.

Responsive Psalm : 
Psalm 36(37):3‐6,23‐24,39‐40

The salvation of the just comes from the Lord.

If you trust in the Lord and do good, then you will live in the land and be secure.
If you find your delight in the Lord, he will grant your heart’s desire.

The salvation of the just comes from the Lord.

Commit your life to the Lord, trust in him and he will act, so that your justice breaks forth like the light, your cause like the noon‐day sun.

The salvation of the just comes from the Lord.

The Lord guides the steps of a man and makes safe the path of one he loves.
Though he stumble he shall never fall for the Lord holds him by the hand.

The salvation of the just comes from the Lord.

The salvation of the just comes from the Lord, their stronghold in time of distress. The Lord helps them and delivers them and saves them: for their refuge is in him.

The salvation of the just comes from the Lord.

Second Reading :
There is no Second Reading.

Alleluia: Matthew 11: 25

R. Alleluia, alleluia.

25 Blessed are you, Father, Lord of heaven and earth; you have revealed to little ones the mysteries of the Kingdom.
(25.At that time Jesus exclaimed, 'I bless you, Father, Lord of heaven and of earth, for hiding these things from the learned and the clever and revealing them to little children).

R. Alleluia, alleluia.

Gospel : 
Mark 4:26‐34

Jesus said to the crowds: ‘This is what the kingdom of God is like. A man throws seed on the land. Night and day, while he sleeps, when he is awake, the seed is sprouting and growing; how, he does not know. Of its own accord the land produces first the shoot, then the ear, then the full grain in the ear. And when the crop is ready, he loses no time: he starts to reap because the harvest has come.’

  He also said, ‘What can we say the kingdom of God is like? What parable can we find for it? It is like a mustard seed which at the time of its sowing in the soil is the smallest of all the seeds on earth; yet once it is sown it grows into the biggest shrub of them all and puts out big branches so that the birds of the air can shelter in its shade.’

  Using many parables like these, he spoke the word to them, so far as they were capable of understanding it. He would not speak to them except in parables, but he explained everything to his disciples when they were alone.

Words of the Holy Father:

This is the message that this parable conveys to us: through Jesus’ teaching and action, the Kingdom of God is proclaimed, has burst into the field of the world and, like the seed, grows and develops by itself, through its own strength and according to humanly incomprehensible criteria. In its growth and development in history, it does not depend much on man’s doing, but is above all an expression of the power and goodness of God, of the strength of the Holy Spirit who brings forth Christian life in the People of God. At times history, with its events and its protagonists, seems to go in the opposite direction of the design of the heavenly Father, who wants justice, fraternity and peace for all his children. But we are called to live out these periods as seasons of trial, of hope and of vigilant expectation of the harvest. Indeed, yesterday like today, the Kingdom of God grows in the world in a mysterious way, in a surprising way, revealing the hidden power of the little seed, its victorious vitality. Within the folds of personal and social events which at times seem to signal the failure of hope, it is important to remain confident in God’s subdued but powerful way of acting. For this reason, in moments of darkness and of difficulty we must not lose heart, but remain anchored in faithfulness to God, to his ever-saving presence. Remember this: God always saves. He is the Saviour. (Angelus, 17 June 2018)

Santa Marcella, Martir.

Marcella dikenal sebagai putri bangsawan Romawi yang beragama Kristen. Ia menikah dengan seorang Pangeran Roma. Pernikahan ini tidak berlangsung lama karena suaminya meninggal dunia beberapa bulan kemudian. Pengalaman pahit ini membukakan baginya pintu masuk menuju suatu cara hidup baru yakni cara hidup religius asketis. Dengan cara hidup ini, Marcella bermaksud mengabdikan hidupnya kepada Tuhan semata mata dengan doa, puasa dan tapa sambil melakukan perbuatan perbuatan baik kepada para miskin dan melarat di kota Roma.

Cara hidup religius asketis yang dijalaninya mengikuti pola yang dipraktekkan oleh para rahib di dunia Timur. Dalam menjalani cara hidup tersebut, Marcella di bimbing oleh Santo Yerome. Banyak wanita Roma yang mengikuti Marcella. Mereka berdoa dan berpuasa serta mengenakan mode pakaian yang sama dengan yang dikenakan oleh Marcella. Bersama Marcella, mereka mengabdikan diri pada perlayanan orang orang miskin dan terlantar. Perkumpulan religius asketis ini terus berkembang pesat. Pengikut pengikutnya semakin bertambah banyak. Karena itu Marcella membangun beberapa biara di seluruh kota Roma. Karena komunitas ini berpengaruh luas di seluruh kota, Marcella kemudian di tangkap dan dianiaya oleh orang orang Goth (Jerman) yang pada waktu itu menguasai Roma. Marcella meninggal sebagai Martir Kristus kira kira pada akhir Agustus 410.

Santo Yohanes Bosko, Imam.

Yohanes Melkior Bosko lahir pada tanggal 16 Agustus 1815 di Becchi, sebuah desa dekat dengan kota Torino, Italia. Ketika menanjak remaja, anak petani yang sederhana ini tidak diperkenankan masuk sekolah oleh orang tuanya karena diharuskan bekerja di ladang. Dalam situasi ini ia diajar oleh seorang imam yang baik hati. Jerih payah imam tua itu menyadarkan orang tua Bosko akan pentingnya nilai pendidikan. Oleh karena itu sepeninggal imam tua itu, ibunya menyekolahkannya ke Castelnuovo. Pendidikan di Castelnuovo ini diselesaikannya dalam waktu satu setengah tahun. Kemudian ia mengikuti pendidikan imam di seminari Chieri dan ditabhiskan menjadi imam pada tahun 1841. Karyanya sebagai imam diabdikan seluruhnya pada pendidikan kaum muda. Ia membuka sebuah perkumpulan untuk menampung anak anak muda yang terlantar, buta huruf dan miskin. Cita citanya ialah mendidik para kawula muda itu menjadi manusia manusia yang berguna dan mandiri. Ia berhasil mengumpulkan 1000 orang pemuda dari keluarga keluarga miskin. Dengan penuh kesabaran, pengertian dan kasih sayang, ia mendidik mereka hingga mereka menjadi manusia yang baik dan bertanggung jawab. Salah seorang muridnya yang terkenal adalah Dominikus Savio, yang kemudian hari menjadi orang kudus.

Keberhasilannya ini terus membakar semangat untuk memperluas karyanya. Untuk itu ia mendirikan sebuah rumah yatim piatu dan asrama. Dengan demikian para pemuda itu dapat tinggal bersama dalam satu rumah untuk belajar dan melatih diri dalam ketrampilan ketrampilan yang berguna untuk hidupnya. Untuk pendidikan ketrampilan, Bosko merubah dapur di rumah ibunya menjadi sebuah bengkel sepatu dan bengkel kayu. Bengkel inilah merupakan Sekolah Teknik Katolik yang pertama. Sekolah ini tidak hanya menghindarkan pemuda pemuda dari kenakalan remaja, tetapi juga menciptakan pemimpin pemimpin di bidang industri dan teknik. Lebih dari itu, cara hidup Bosko sendiri berhasil membentuk kepribadian pemuda pemuda itu menjadi orang orang Kristen yang taat beragama bahkan saleh. Pada tahun 1859 atas restu Paus Pius IX (1846 - 1878), Bosko mendirikan sebuah tarekat religius untuk para imam dan bruder, yang dinamakan Kongregasi Salesian. Kemudian pada tahun 1872, bersama Santa Maria Mazzarello, Bosko mendirikan Serikat Puteri puteri Maria yang mengabdikan diri dalam bidang pendidikan kaum puteri. Bosko mendirikan banyak perkumpulan di sekolah. Ia dikenal sebagai perintis penerbitan Katolik dan rajin menulis buku buku dan pamflet. Ia pun mendirikan banyak gereja dan membantu meredakan pertentangan antara tahta Suci dengan para penguasa Eropa. Dalam karyanya yang besar ini, Bosko selalu menampilkan diri sebagai seorang imam yang saleh, penuh disiplin dan rajin berdoa. Ia menjadi seorang Bapa Pengakuan yang terpercaya di kalangan kaum remaja. Pada saat saat terakhir hidupnya, ia menyampaikan pesan indah ini: Katakanlah kepada anak anakku, Aku menanti mereka di surga. Ia meninggal dunia pada tahun 1888 dalam usia 72 tahun. Pada tanggal 2 Juni 1929, Yohanes Melkior Bosko dinyatakan sebagai Beato dan pada tanggal 1 April 1934 ia digelari Santo oleh teman dekatnya Paus Pius XI (1922 - 1939).

Santo Aidan, Uskup dan Pengaku Iman.

Aidan tinggal di sebuah biara di pulau Iona yang didirikan oleh Santo Kolumbanus. Biara inilah yang menghasilkan banyak imam misionaris untuk Skotlandia dan Inggris Utara. Aidan terkenal ketika pada tahun 634 ia diutus sebagai misionaris di Kerajaan Umbria Utara atas permintaan Santo Oswaldus, raja Umbria Utara.
Sebelumnya pernah seorang imam berkarya didaerah ini, namun ia kurang berhasil. Kepada Aidan ia mengutarkan alasan kegagalannya: Orang Umbria belum beradab, kepala batu bahkan masih liar. Sangat sulit kita mempertobatkan mereka. Aidan menjawab: Menghadapi orang orang kafir kita hendaknya terlebih dahulu memberikan kesaksian tentang seluruh iman ajaran Kristen dengan tingkah laku dan tutur kata kita yang sesuai dengan ajaran iman itu. Mungkin anda terlalu tegas terhadap mereka dan menyajikan ajaran ajaran iman dengan cara yang sulit dipahami. Suturut nasehat para Rasul, seharusnya anda lebih dahulu menyajikan kepada mereka ajaran ajaran yang mudah dicerna kemudian apabila mereka sudah dikuatkan oleh Sabda Allah, barulah ajaran ajaran yang lebih berat untuk dipahami dan dilaksanakan disajikan kepada mereka.
Aidan kemudian diutus ke kerajaan Umbria. Dengan cara hidupnya dan tutur katanya yang lemah lembut, ia bersama Raja Oswaldus berhasil mengkristenkan rakyat Umbria. Ia menjadi gembala yang disenangi karena contoh dan teladan hidup. Ia pun tidak segan segan menegur para petinggi kerajaan jika tingkah laku mereka tidak sesuai dengan tuntutan ajaran Kristen. Oswaldus bersama seluruh rakyat sangat senang kepada Aidan. Setelah ditabhiskan menjadi Uskup, Aidan menetap di pulau Lindisfarne yang kelak disebut Pulau Suci karena biara yang didirikannya disana menghasilkan banyak imam misionaris yang saleh. Aidan meninggal dunia pada tahun 651 dan hingga kini dihormati sebagai rasul bangsa Inggris Utara, sebagaimana Santo Agustinus dari Canterburry untuk Inggris Selatan.

Peringatan Wajib
St Yohanes Bosco
Ibr. 10:32-39; Mzm.37:3-4,5-6,23-24,39-40; Mrk. 4:26-34;
Warna Liturgi Putih

Ibr 10:32 Ingatlah akan masa yang lalu. Sesudah kamu menerima terang, kamu banyak menderita oleh karena kamu bertahan dalam perjuangan yang berat,

Ibr 10:33 baik waktu kamu dijadikan tontonan oleh cercaan dan penderitaan, maupun waktu kamu mengambil bagian dalam penderitaan mereka yang diperlakukan sedemikian.

Ibr 10:34 Memang kamu telah turut mengambil bagian dalam penderitaan orang-orang hukuman dan ketika harta kamu dirampas, kamu menerima hal itu dengan sukacita, sebab kamu tahu, bahwa kamu memiliki harta yang lebih baik dan yang lebih menetap sifatnya.

Ibr 10:35 Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya.

Ibr 10:36 Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.

Ibr 10:37 "Sebab sedikit, bahkan sangat sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-Nya.

Ibr 10:38 Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya."

Ibr 10:39 Tetapi kita bukanlah orang-orang yang mengundurkan diri dan binasa, tetapi orang-orang yang percaya dan yang beroleh hidup.

Mzm 37:3 Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia,

Mzm 37:4 dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.

Mzm 37:5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;

Mzm 37:6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.

Mzm 37:23 TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;

Mzm 37:24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

Mzm 37:39 Orang-orang benar diselamatkan oleh TUHAN; Ia adalah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan;

Mzm 37:40 TUHAN menolong mereka dan meluputkan mereka, Ia meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik dan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya.

Mrk 4:26 Lalu kata Yesus: "Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih di tanah,

Mrk 4:27 lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.

Mrk 4:28 Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu.

Mrk 4:29 Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba."

Mrk 4:30 Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya?

Mrk 4:31 Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi.

Mrk 4:32 Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya."

Mrk 4:33 Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan pengertian mereka,

Mrk 4:34 dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri.

Prepared and updated by:

Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.

Saint John Bosco

Born in Castlenuovo d'Asti on August 16, 1815, Saint John Bosco was educated in the faith and piety by his mother. At the age of nine, he had a dream which called him to dedicate himself to the education of young people. While still a boy, he began to entertain his peers with games alternated with work, prayer, and religious education. On becoming a priest in 1841, he chose as his motto: "Give me souls, take all the rest". He began his apostolate among poor young people with the founding of the Oratory, which he placed under the patronage of St. Francis de Sales.

He used his pastoral approach, founded on reason, faith, and loving-kindness, to influence young people to encounter Christ. Don Bosco, as he fondly came to be known, could read the hearts of his pupils, and they, in turn, knew him to be a saint. His unique influence over others is well illustrated by the occasion on which he was, after much hesitation, permitted to take 300 convicts from the city jail on a day's outing, unaccompanied by guards. St. Dominic Savio stands out among the most outstanding fruits of his work.

The source of his indefatigable activity and the effectiveness of his work was his "constant union with God" and his unlimited confidence in "Mary, Help of Christians," who he considered to be the inspiration and support of his mission. He left, as an inheritance for his Salesian sons and daughters, a form of religious life that was simple but founded on solid Christian virtue and on contemplation in action, which may be summed up in the words "work and temperance." He sought his best collaborators among his young people, thus establishing the Society of St. Francis de Sales. Together with St. Maria Domenica Mazzarello, he founded the Institute of the Daughters of Mary Help of Christians.

Finally, together with good and hard-working laymen and women, he created the Salesian Cooperators to work alongside him and sustain the education of young people, thus anticipating new forms of apostolate in the Church. The Salesians grew so rapidly in number and fervor that, at the founder's death on January 31, 1888, there were already 200 houses, and these had fostered 2,500 priestly vocations. Beatified by Pope Pius XI on June 2, 1929, Don Bosco was canonized by the same Pope on April 1, 1934. On January 31, 1888, Pope John Paul II declared him "The Father and Teacher of Youth." St. John Bosco is the patron saint of youth, editors and publishers.   

Saint John Bosco, pray for us that we may see Christ in all people, never condemning or judging, but working to build them up as a loving minister of God's compassionate heart.

Prepared and updated by:

Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.

Thursday, January 30, 2025

Saint Martina of Rome

Saint Martina of Rome, a noble virgin, was the daughter of a Christian Roman Consul. She lost her parents while she was very young. Being exceedingly fervent in the practice of Christianity, for the love of Christ, Martina distributed all her immense riches to the poor. During the reign of emperor Alexander Severus, she was ordered to offer sacrifices to the pagan gods. But courageously refused to do so and replied that she would sacrifice to none other than the true God. Whereupon she was several times scourged, and her flesh was torn with iron hooks and nails. Martina's whole body was cut with the sharpest swords, and she was scalded with boiling oil. But milk flowed from her wounds together with the blood, and the bystanders perceived a sweet fragrance. 

Martina's prayers were powerful in the presence of God. One day, she was taken to the temple of Diana; fire from heaven fell amid loud thunder and burnt the idol, which tumbled and crushed many of its priests and pagan worshipers. Then, Martina was condemned to be devoured by the enraged lion in the amphitheater, and miraculously, she was left untouched by it. She was also thrown on a burning pile, but by divine power, she likewise escaped unhurt. 

Sometimes, she was witnessed as lifted up and placed on a beautiful throne, surrounded by heavenly spirits singing divine praises. Some of the men who had inflicted these tortures upon her, being struck by the miracle and touched by the grace of God, embraced the Christian faith. After all these sufferings and tortures, she gained the glorious palm of martyrdom by being beheaded. Under the Pontificate of Urban the Eighth, Martina's body was discovered in an ancient Church, together with other holy martyrs, at the foot of the Capitoline hill. The Church was restored, and the remains of the Saint were placed there.

Saint Martina, pray for us to obtain the grace to remain faithful to Christ, even unto death.

Prepared and updated by:

Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.

30 January 2025 (Thursday) Thursday of week 3 in Ordinary Time. Ordinary Weekday

30 January 2025 (Thursday)

Thursday of week 3 in Ordinary Time.

Ordinary Weekday.

First Reading: Hebrews 10: 19-25
Responsorial Psalm: Psalms 24: 1-2, 3-4ab, 5-6
Alleluia: Psalms 119: 105
Gospel: Mark 4: 21-25

First Reading : 
Hebrews 10:19‐25

Through the blood of Jesus we have the right to enter the sanctuary, by a new way which he has opened for us, a living opening through the curtain, that is to say, his body. And we have the supreme high priest over all the house of God. So as we go in, let us be sincere in heart and filled with faith, our minds sprinkled and free from any trace of bad conscience and our bodies washed with pure water. Let us keep firm in the hope we profess, because the one who made the promise is faithful. Let us be concerned for each other, to stir a response in love and good works. Do not stay away from the meetings of the community, as some do, but encourage each other to go; the more so as you see the Day drawing near.

Responsive Psalm : 
Psalm 23(24):1‐6

Such are the men who seek your face, O Lord.

The Lord’s is the earth and its fullness, the world and all its peoples.
It is he who set it on the seas; on the waters he made it firm.

Such are the men who seek your face, O Lord.

Who shall climb the mountain of the Lord? Who shall stand in his holy place?
The man with clean hands and pure heart, who desires not worthless things.

Such are the men who seek your face, O Lord.

He shall receive blessings from the Lord and reward from the God who saves him. Such are the men who seek him, seek the face of the God of Jacob.

Such are the men who seek your face, O Lord.

Second Reading :
There is no Second Reading.

Alleluia: Psalms 119: 105

R. Alleluia, alleluia.

105 A lamp to my feet is your word, a light to my path.
(105. Your word is a lamp for my feet, a light on my path).

R. Alleluia, alleluia.

Gospel : 
Mark 4:21‐25

Jesus said to the crowd, ‘Would you bring in a lamp to put it under a tub or under the bed? Surely you will put it on the lamp‐stand? For there is nothing hidden but it must be disclosed, nothing kept secret except to be brought to light. If anyone has ears to hear, let him listen to this.’

  He also said to them, ‘Take notice of what you are hearing. The amount you measure out is the amount you will be given – and more besides; for the man who has will be given more; from the man who has not, even what he has will be taken away.’

Words of the Holy Father:

By what measure do I measure others? By what measure do I measure myself? Is it a generous measure, full of God's love, or is it a lowly measure? And by this measure I will be judged, not by another: that one, the very one I make. What is the level at which I set my bar? At a high level? We have to think about that. And we see this not only, not so much in the good things that we do or the bad things that we do but in the ongoing style of life. (...) And as a Christian I ask myself what is the touchstone, the touchstone to know if I am on a Christian level, a level that Jesus wants? It is the ability to humble myself, it is the ability to suffer humiliation. A Christian who is not capable of bearing the humiliations of life is lacking something. (…) This is the model. By the measure with which you measure will be measured to you', the same measure. If it is a Christian measure, following Jesus, in his way, with the same I will be judged, with much pity, with much compassion, with much mercy. But if my measure is worldly and I only use the Christian faith - yes, I do, I go to Mass, but I live as worldly - I will be measured by that measure. Let us ask the Lord for the grace to live Christianly and above all not to be afraid of the cross, of humiliation, because this is the way he has chosen to save us and this is what guarantees that my measure is Christian: the ability to bear the cross, the ability to suffer some humiliation. (Santa Marta, 30 January 2020)

Santo Gerardus, Pengaku Iman.

Gerardus adalah kakak Santo Bernadus. Ia mula - mula tidak mau masuk biara. Tetapi setelah terluka dalam perang, ditawan dan secara ajaib dibebaskan, ia mengikuti adiknya dalam kehidupan membiara dalam pertapaan yang menganut aturan keras. Ia meninggal dunia pada tahun 1138.

Santa Batildis, Pengaku Iman.

Ketika masih gadis, ia dijual kepada seorang pejabat istana, tetapi kemudian ia dinikahi oleh Raja. Sepeninggal suaminya ia memerintah sampai puteranya dewasa dan menggantikannya sebagai raja. Batildis kemudian menjadi suster biasa di Chelles, Perancis. Ia meninggal dunia pada tahun 680.

Santa Maria Ward, Pangaku Iman.

Maria Ward hidup antara tahun 1585-1645. Puteri bangsawan Inggris ini berkali kali terpaksa mengungsi karena ingin mengikuti misa Kudus. Sebab perayaan Ekaristi dilarang oleh Ratu Elisabeth. Pada umur 20 tahun ia melarikan diri ke Belgia untuk masuk biara Klaris. Ia mencoba dua kali, tetapi selalu gagal walaupun sudah berusaha setaat mungkin pada aturan biara. Akhirnya ia mendirikan kumpulan wanita yang hidup bersama tanpa klausura atau pakaian biara. Sebab, mereka mau kembali ke Inggris untuk memperkuat iman umat yang dianiaya. Beberapa kali pulang, di kejar kejar, dipenjarakan dan dihukum, namun ia dibebaskan lagi. Ia kemudian kembali ke Belgia, memimpin Puteri puteri Inggris dan berusaha mendapatkan pengakuan dari Sri Paus di Roma. Di Munchen ia dipenjarakan sebagai seorang bidaah, dan pada tahun 1631 Suster suster Jesuit-nya dilarang oleh Paus. Namun akhirnya ia rehabilitir dan perjuangannya supaya kaum wanita boleh merasul seperti kaum pria diterima oleh pejabat Gereja yang masih berpikiran kolot.

Beato Sebastianus, Imam.

Sebastianus berasal dari keluarga miskin. Keluarganya sangat mengharapkan agar ia membantu menghidupi keluarganya. Tetapi cita citanya untuk menjadi seorang imam lebih menggugah dan menarik hatinya daripada keadaan keluarganya yang serba kekurangan itu. Ia masuk seminari dan mengikuti pendidikan imamat. Banyak sekali tantangan yang ia hadapi selama masa pendidikan itu, terutama karena ia kurang pandai untuk menangkap semua mata pelajaran yang diajarkan. Ia sendiri sungguh sungguh insyaf akan kelemahannya. Satu satunya jalan keluar baginya adalah dengan melipatgandakan usaha belajarnya.
Perjuangannya yang gigih itu akhirnya memberikan kepadanya hasil akhir yang menyenangkan. Ia mencapai cita citanya menjadi imam. Karyanya sebagai imam dimulainya di Torino. Sebagaimana biasa, ia selalu melakukan tugasnya dengan rajin, sabar, bijaksana dan penuh cinta kepada umatnya. Tarekatnya sungguh senang karena mendapatkan seorang anggota yang sungguh sungguh menampilkan diri sebagai tokoh teladan dalam perbuatan perbuatan baik. Selama 60 tahun ia mengabdikan hidupnya pada Tuhan, Gereja dan umatnya.
Tuhan berkenan mengaruniakan kepadanya rahmat yang luar biasa yaitu kemampuan membuat mukzijat. Jabatan Uskup Torino yang ditawarkan kepadanya ditolaknya dengan rendah hati. Ia lebih suka menjadi seorang imam biasa diantara para umatnya. Tentang hal ini Sebastianus berkata: Apa artinya menjadi Abdi abdi Tuhan? Artinya, mengutamakan kepentingan Tuhan daripada kepentingan pribadi; memanjukan karya penyelamatan Allah dan Kerajaan-Nya kepada manusia. Semuanya itu harus dilakukan di tengah tengah umat.
Imannya yang kokoh kepada Allah dan kesetiannya kepada panggilan imamatnya, membuat dirinya menjadi satu terang dan kekuatan kepada sesama manusia, terlebih rekan rekan imamnya se tarekat. Ia meninggal dunia pada tahun 1740.

Hari biasa
Ibr.10:19-25; Mzm.24:1-2,3-4ab,5-6: Mrk. 4:21-25
Warna Liturgi Hijau

Ibr 10:19 Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus,

Ibr 10:20 karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri,

Ibr 10:21 dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.

Ibr 10:22 Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

Ibr 10:23 Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia.

Ibr 10:24 Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.

Ibr 10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.

Mzm 24:1 Mazmur Daud. Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.

Mzm 24:2 Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.

Mzm 24:3 "Siapakah yang boleh naik ke atas gunung TUHAN? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?"

Mzm 24:4 "Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.

Mzm 24:5 Dialah yang akan menerima berkat dari TUHAN dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.

Mzm 24:6 Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan Dia, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub." 

Mrk 4:21 Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian.

Mrk 4:22 Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap.

Mrk 4:23 Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

Mrk 4:24 Lalu Ia berkata lagi: "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.

Mrk 4:25 Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya."

Prepared and updated by:

Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.

Wednesday, January 29, 2025

Servant of God Brother Juniper

Brother Juniper is called ""the renowned jester of the Lord"" and was one of the original followers of St Francis of Assisi. In the year 1210, he was received into the Order of Friars Minor by St Francis himself. Francis sent him to establish ""places"" for the friars in Gualdo Tadino and Viterbo. When Saint Clare was dying, Juniper consoled her. He was devoted to the passion of Jesus and was known for his simplicity.

Several stories about Juniper in the 'Little Flowers of St. Francis' illustrate his exasperating generosity. Once, Juniper was caring for a sick man who had a craving to eat pig's feet. This friar went to a nearby field, captured a pig, cut off one foot, and served this meal to the sick man. The pig's owner was furious and immediately went to Juniper's superior. When Juniper saw his mistake, he apologized profusely. He also ended up talking with this angry man into donating the rest of the pig to the friars!

Another time, Juniper had been commanded to quit giving part of his clothing to the half-naked people he met on the road. Desiring to obey his superior, Brother Juniper once told a man in need that he couldn't give the man his tunic, but he wouldn't prevent the man from taking it either. Brother Juniper died in 1258 and is buried at Ara Coeli Church in Rome.

Prayer
Lord, enable us to humble ourselves like Brother Juniper and help us to extend the victory of Your cross.

Prepared and updated by:

Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.

Wednesday of week 3 in Ordinary Time. Ordinary Weekday

Wednesday 29 January 2025 (Wednesday)

Wednesday of week 3 in Ordinary Time.
Ordinary Weekday.

First Reading: Hebrews 10: 11-18
Responsorial Psalm: Psalms 110: 1, 2, 3, 4
Alleluia: Luke 8:11–18
Gospel: Mark 4: 1-20

First Reading : 
Hebrews 10:11‐18

All the priests stand at their duties every day, offering over and over again the same sacrifices which are quite incapable of taking sins away. He, on the other hand, has offered one single sacrifice for sins, and then taken his place forever, at the right hand of God, where he is now waiting until his enemies are made into a footstool for him. By virtue of that one single offering, he has achieved the eternal perfection of all whom he is sanctifying. The Holy Spirit assures us of this; for he says, first:

This is the covenant I will make with them when those days arrive; and the Lord then goes on to say:
I will put my laws into their hearts
and write them on their minds.
I will never call their sins to mind, or their offences. When all sins have been forgiven, there can be no more sin offerings.

Responsive Psalm : 
Psalm 109(110):1‐4

You are a priest for ever, a priest like Melchizedek of old.

The Lord’s revelation to my Master: ‘Sit on my right: your foes I will put beneath your feet.’

You are a priest for ever, a priest like Melchizedek of old.

The Lord will wield from Zion your sceptre of power: rule in the midst of all your foes.

You are a priest for ever, a priest like Melchizedek of old.

A prince from the day of your birth on the holy mountains; from the womb before the dawn I begot you.

You are a priest for ever, a priest like Melchizedek of old.

The Lord has sworn an oath he will not change. ‘You are a priest for ever, a priest like Melchizedek of old.’

You are a priest for ever, a priest like Melchizedek of old.

Second Reading :
There is no Second Reading.

Alleluia: Luke 8:11–18

R. Alleluia, alleluia.

The seed is the word of God, Christ is the sower;
all who come to him will live for ever.
(8. And some seed fell into good soil and grew and produced its crop a hundredfold.' Saying this he cried, 'Anyone who has ears for listening should listen!'
9.His disciples asked him what this parable might mean,
10.and he said, 'To you is granted to understand the secrets of the kingdom of God; for the rest it remains in parables, so that they may look but not perceive, listen but not understand.
11.'This, then, is what the parable means: the seed is the word of God)

R. Alleluia, alleluia.

Gospel : 
Mark 4:1‐20

Jesus began to teach by the lakeside, but such a huge crowd gathered round him that he got into a boat on the lake and sat there. The people were all along the shore, at the water’s edge. He taught them many things in parables, and in the course of his teaching he said to them, ‘Listen! Imagine a sower going out to sow. Now it happened that, as he sowed, some of the seed fell on the edge of the path, and the birds came and ate it up. Some seed fell on rocky ground where it found little soil and sprang up straightaway, because there was no depth of earth; and when the sun came up it was scorched and, not having any roots, it withered away. Some seed fell into thorns, and the thorns grew up and choked it, and it produced no crop. And some seeds fell into rich soil and, growing tall and strong, produced crop; and yielded thirty, sixty, even a hundredfold.’ And he said, ‘Listen, anyone who has ears to hear!’

  When he was alone, the Twelve, together with the others who formed his company, asked what the parables meant. He told them, ‘The secret of the kingdom of God is given to you, but to those who are outside everything comes in parables, so that they may see and see again, but not perceive; may hear and hear again, but not understand; otherwise they might be converted and be forgiven.’

  He said to them, ‘Do you not understand this parable? Then how will you understand any of the parables? What the sower is sowing is the word. Those on the edge of the path where the word is sown are people who have no sooner heard it than Satan comes and carries away the word that was sown in them. Similarly, those who receive the seed on patches of rock are people who, when first they hear the word, welcome it at once with joy. But they have no root in them, they do not last; should some trial come, or some persecution on account of the word, they fall away at once. Then there are others who receive the seed in thorns. These have heard the word, but the worries of this world, the lure of riches and all the other passions come in to choke the word, and so it produces nothing. And there are those who have received the seed in rich soil: they hear the word and accept it and yield a harvest, thirty and sixty and a hundredfold.’

Words of the Holy Father:

Jesus invites us today to look inside ourselves: to give thanks for our good soil and to tend the soil that is not yet good. Let us ask ourselves if our heart is open to welcome the seed of the Word of God with faith. Let us ask ourselves if our rocks of laziness are still numerous and large; let us identify our thorns of vice and call them by name. Let us find the courage to reclaim the soil, to effect a nice conversion of our heart, bringing to the Lord in Confession and in prayer our rocks and our thorns. In doing this, Jesus, the Good Sower will be glad to carry out an additional task: purify our hearts by removing the rocks and the thorns which choke his Word. (Angelus, 16 July 2017)

Santo Gildas Yang Bijaksana, Pengaku Iman.

Gildas terkenal di daerah Celtic selama abad keenam. Ia mempunyai suatu pengaruh yang besar dan tetap terhadap perkembangan kehidupan monastik di daerah Irlandia.
Finnian dari Clonard (470-552) bersama banyak pemimpin Irlandia belajar di bawah bimbingan Gildas di Inggris. Kemudian Gildas dibawa dari Wales ke Irlandia untuk mengajar di sekolah Armagh. Setelah mengajar beberapa tahun, ia diangkat sebagai rektor di sekolah itu. Pada tahun 540 ia kembali lagi ke Wales dan tinggal di pulau Flatholm, Inggris.
Gildas adalah seorang yang tulus dan beriman teguh. Ia menuduh teman temannya sebagai orang orang yang menyangkal kebenaran iman Kristen. Mereka dinamainya sebagai Pastor tak beriman yang menjual imamatnya dan pemimpin buta bagi para orang buta menuju kehancuran. Karyanya De Erdicio Brutanniae (Kehancuran Inggris) melukiskan pula pengetahuannya akan Kitab Suci dan karya karya klasik.
Tahun tahun terakhir kehidupannya, ia habiskan di sebuah pulau kecil, Morbihan Bay, Inggris. Di sana ia meninggal dunia pada tahun 570.

Santo Joseph Freinademetz, Imam.

Freinademetz lahir pada tanggal 15 April 1852 di Abtei, Tyrol Selatan, sebuah daerah di lembah pegunungan Alpen. Semenjak kecil, ia bercita cita menjadi iman. Kedua orangtuanya merestui cita  citanya yang luhur itu. Maka ia masuk seminari untuk mengikuti pendidikan imamat. Ia berhasil meraih cita cita tatkala ia di tabhiskan imam di Brixen pada tanggal 25 Juli 1875.
Karier imamatnya dimulai dengan menjadi Pastor di paroki Santo Martinus hingga tahun 1878. Pada waktu itu Beato Arnold Janssen mendirikan sebuah serikat religius baru, yang dinamakannya Societas Verbi Divini, Serikat Sabda Allah. Serikat yang berkedudukan di Steyl, Belanda ini mengabdikan diri pada pendidikan imam imam misionaris. Freinademetz yang memiliki semangat misioner bergabung bersama Arnold Janssen untuk mengembangkan serikat ini. Dia sendiri bercita cita menjadi seorang misionaris di Tiongkok. Untuk itu ia mempelajari bahasa Tiong Hoa dan adat istiadat Cina.
Cita citanya ini terwujud ketika ia diutus sebagai misionaris negeri Tiongkok bersama rekannya Pater Anzer. Pada tanggal 20 April 1879 mereka tiba di Hongkong. Uskup Raymondi yang memimpin Gereja di Hongkong menerima mereka. Tak lama kemudian Freinademetz ditempatkan di Propinsi Shantung. Disana ia bekerja bersama bruder Antonio, seorang biarawan Fransiskan.
Kemahirannya dalam berbahasa Tionghoa sungguh membantunya dalam pergaulan dengan umat setempat. Ia dengan cepat dapat menyesuaikan diri dengan kebiasaan kebiasaan umat di Shantung. Kepribadiannya yang menarik, sifatnya yang rendah hati, rajin, sederhana dan berkemauan keras membuat dia sangat dicintai oleh umatnya baik yang dewasa maupun anak anak. Semuanya itu sungguh memudahkan dia dalam karya pewartaannya.
Ia dengan tekun mengunjungi desa desa untuk mewartakan Injil dan melayani Sakramen, ditemani oleh seorang katekis. Kepadanya selalu diberitahukan agar berhati hati terhadap segala bahaya. Tetapi ia tidak gentar sedikitpun terhadap bahaya apa saja, karena ia yakin bahwa Tuhan senantiasa menyertainya.
Ketika dengan gigih membela umatnya dari rongrongan kaum revolusioner, ia ditangkap dan disiksa secara kejam. Tetapi semua penderitaan yang dialaminya tidak mengendurkan semangatnya untuk terus meneguhkan iman umatnya dan terus mewartakan Injil. Dalam keadaan sengsara hebat itu, ia bahkan terus berkhotbah untuk menyadarkan para penyiksanya akan kejahatan mereka. Akhirnya dia dilepaskan kembali dan biarkan menjalankan tugasnya seperti biasa. Setelah peristiwa itu, ia dipindahkan ke Shashien, sebuah paroki yang subur dan ramah penduduknya. Disana ia berhasil mempertobatkan banyak orang dengan khotbah dan pengajarannya.
Karena kepribadiannya dan keberhasilannya, ia diminta untuk menjadi Uskup. Tetapi hal ini ditolaknya. Akhirnya ia meninggal dunia pada tanggal 28 Januari 1908 karena penyakit Typus.

Hari biasa
Ibr. 10: 11-18; Mzm. 110:1,2,3,4; Mrk. 4:1-20.

Ibr 10:11 Selanjutnya setiap imam melakukan tiap-tiap hari pelayanannya dan berulang-ulang mempersembahkan korban yang sama, yang sama sekali tidak dapat menghapuskan dosa.

Ibr 10:12 Tetapi Ia, setelah mempersembahkan hanya satu korban saja karena dosa, Ia duduk untuk selama-lamanya di sebelah kanan Allah,

Ibr 10:13 dan sekarang Ia hanya menantikan saatnya, di mana musuh-musuh-Nya akan dijadikan tumpuan kaki-Nya.

Ibr 10:14 Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.

Ibr 10:15 Dan tentang hal itu Roh Kudus juga memberi kesaksian kepada kita,

Ibr 10:16 sebab setelah Ia berfirman: "Inilah perjanjian yang akan Kuadakan dengan mereka sesudah waktu itu," Ia berfirman pula: "Aku akan menaruh hukum-Ku di dalam hati mereka dan menuliskannya dalam akal budi mereka,

Ibr 10:17 dan Aku tidak lagi mengingat dosa-dosa dan kesalahan mereka."

Ibr 10:18 Jadi apabila untuk semuanya itu ada pengampunan, tidak perlu lagi dipersembahkan korban karena dosa.

Mzm 110:1 Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: "Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu."

Mzm 110:2 Tongkat kekuatanmu akan diulurkan TUHAN dari Sion: memerintahlah di antara musuhmu!

Mzm 110:3 Pada hari tentaramu bangsamu merelakan diri untuk maju dengan berhiaskan kekudusan; dari kandungan fajar tampil bagimu keremajaanmu seperti embun.

Mzm 110:4 TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek."

Mrk 4:1 Pada suatu kali Yesus mulai pula mengajar di tepi danau. Maka datanglah orang banyak yang sangat besar jumlahnya mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke sebuah perahu yang sedang berlabuh lalu duduk di situ, sedangkan semua orang banyak itu di darat, di tepi danau itu.

Mrk 4:2 Dan Ia mengajarkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Dalam ajaran-Nya itu Ia berkata kepada mereka:

Mrk 4:3 "Dengarlah! Adalah seorang penabur keluar untuk menabur.

Mrk 4:4 Pada waktu ia menabur sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis.

Mrk 4:5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.

Mrk 4:6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.

Mrk 4:7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah.

Mrk 4:8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, ia tumbuh dengan suburnya dan berbuah, hasilnya ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang seratus kali lipat."

Mrk 4:9 Dan kata-Nya: "Siapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!"

Mrk 4:10 Ketika Ia sendirian, pengikut-pengikut-Nya dan kedua belas murid itu menanyakan Dia tentang perumpamaan itu.

Mrk 4:11 Jawab-Nya: "Kepadamu telah diberikan rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang luar segala sesuatu disampaikan dalam perumpamaan,

Mrk 4:12 supaya: Sekalipun melihat, mereka tidak menanggap, sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti, supaya mereka jangan berbalik dan mendapat ampun."

Mrk 4:13 Lalu Ia berkata kepada mereka: "Tidakkah kamu mengerti perumpamaan ini? Kalau demikian bagaimana kamu dapat memahami semua perumpamaan yang lain?

Mrk 4:14 Penabur itu menaburkan firman.

Mrk 4:15 Orang-orang yang di pinggir jalan, tempat firman itu ditaburkan, ialah mereka yang mendengar firman, lalu datanglah Iblis dan mengambil firman yang baru ditaburkan di dalam mereka.

Mrk 4:16 Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira,

Mrk 4:17 tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.

Mrk 4:18 Dan yang lain ialah yang ditaburkan di tengah semak duri, itulah yang mendengar firman itu,

Mrk 4:19 lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan dan keinginan-keinginan akan hal yang lain masuklah menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah.

Mrk 4:20 Dan akhirnya yang ditaburkan di tanah yang baik, ialah orang yang mendengar dan menyambut firman itu lalu berbuah, ada yang tiga puluh kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, dan ada yang seratus kali lipat."

Prepared and updated by:

Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.
Warna Liturgi Hijau

Tuesday, January 28, 2025

28 January 2025 (Tuesday) Saint Thomas Aquinas, Priest, Doctor on Tuesday of week 3 in Ordinary Time. Saint Thomas Aquinas, Priest, Religious, Doctor Obligatory Memorial

28 January 2025 (Tuesday)

Saint Thomas Aquinas, Priest, Doctor on Tuesday of week 3 in Ordinary Time.

Saint Thomas Aquinas, Priest, Religious, Doctor Obligatory Memorial
First Reading: Hebrews 10: 1-10
Responsorial Psalm: Psalms 40: 2 and 4ab, 7-8a, 10, 11
Alleluia: Matthew 11: 25
Gospel: Mark 3: 31-35

First Reading : 
Hebrews 10:1‐10

Since the Law has no more than a reflection of these realities, and no finished picture of them, it is quite incapable of bringing the worshippers to perfection, with the same sacrifices repeatedly offered year after year. Otherwise, the offering of them would have stopped, because the worshippers, when they had been purified once, would have no awareness of sins. Instead of that, the sins are recalled year after year in the sacrifices. Bulls’ blood and goats’ blood are useless for taking away sins, and this is what he said, on coming into the world:

You who wanted no sacrifice or oblation,
prepared a body for me.
You took no pleasure in holocausts or sacrifices for sin; then I said, just as I was commanded in the scroll of the book, ‘God, here I am! I am coming to obey your will.’

Notice that he says first: You did not want what the Law lays down as the things to be offered, that is: the sacrifices, the oblations, the holocausts and the sacrifices for sin, and you took no pleasure in them; and then he says: Here I am! I am coming to obey your will. He is abolishing the first sort to replace it with the second. And this will was for us to be made holy by the offering of his body made once and for all by Jesus Christ.

Responsive Psalm : 
Psalm 39(40):2,4,7‐8,10,11

Here I am, Lord! I come to do your will.

I waited, I waited for the Lord and he stooped down to me; he heard my cry.
He put a new song into my mouth, praise of our God.

Here I am, Lord! I come to do your will.

You do not ask for sacrifice and offerings, but an open ear.
You do not ask for holocaust and victim.
Instead, here am I.

Here I am, Lord! I come to do your will.

Your justice I have proclaimed in the great assembly.
My lips I have not sealed; you know it, O Lord.

Here I am, Lord! I come to do your will.

I have not hidden your justice in my heart but declared your faithful help.
I have not hidden your love and your truth from the great assembly.

Here I am, Lord! I come to do your will.

Second Reading :
There is no Second Reading.

Alleluia: Matthew 11: 25
R. Alleluia, alleluia.

25 Blessed are you, Father, Lord of heaven and earth; you have revealed to little ones the mysteries of the Kingdom.
(25. At that time Jesus exclaimed, 'I bless you, Father, Lord of heaven and of earth, for hiding these things from the learned and the clever and revealing them to little children).

R. Alleluia, alleluia.

Gospel : 
Mark 3:31‐35

The mother and brothers of Jesus arrived and, standing outside, sent in a message asking for him. A crowd was sitting round him at the time the message was passed to him, ‘Your mother and brothers and sisters are outside asking for you.’ He replied, ‘Who are my mother and my brothers?’ And looking round at those sitting in a circle about him, he said, ‘Here are my mother and my brothers. Anyone who does the will of God, that person is my brother and sister and mother.’

Words of the Holy Father:

Jesus was like that: people first; serving people; helping people; teaching people; healing people. He was for the people. He did not even have time to eat. (…) His brethren came to the place where Jesus was teaching and they sent to him and called him. He was told: “‘Your mother and your brethren are outside, asking for you.’ And he replied: ‘Who are my mother and my brethren?’. And looking around on those who sat about him, he said ‘Here are my mother and my brethren! Whoever does the will of God is my brother, and sister, and mother’” (vv. 32-35). Jesus formed a new family, no longer based on natural ties, but on faith in him, on his love which welcomes us and unites us to each other, in the Holy Spirit. All those who welcome Jesus’ word are children of God and brothers and sisters among themselves. Welcoming the word of Jesus makes us brothers and sisters, makes us Jesus’ family. Jesus’ response was not a lack of respect for his mother and his brethren. Rather, for Mary it is the greatest recognition, precisely because she herself is the perfect disciple who completely obeyed God’s will. May the Virgin Mother help us to live always in communion with Jesus, recognizing the work of the Holy Spirit who acts in him and in the Church, regenerating the world to new life. (Angelus, 10 June 2018)

Santo Thomas dari Aquino, Imam dan Pujangga Gereja.

Thomas lahir di Aquino, dekat Monte Cassino, Italia pada tahun 1225. Keluarganya adalah sebuah keluarga bangsawan yang kaya raya. Ayahnya adalah Pangeran Landulph, berasal dari Aquino, sedang ibunya adalah Theodors, adalah putri bangsawan dari Teano.
Ketika berusia 5 tahun, Thomas dikirim pada para rahib Benediktin di biara Monte Cassino. Disana Thomas memperlihatkan suatu kepandaian yang luar biasa. Ia belajar dan tekun berefleksi serta tertarik pada segala sesuatu tentang Tuhan. Ketika berusia 14 tahun, Abbas Monte Cassino, yang kagum akan kepintaran Thomas mengirimnya ke Universitas Napoli.
Di Universitas itu, Thomas berkembang pesat dalam pelajaran filsafat, logika, retorik, musik dan matematika. Ia bahkan jauh lebih pintar dari guru gurunya pada masa itu. Di Napoli, untuk pertama kalinya ia bertemu dengan karya karya Aristoteles yang sangat mempengaruhi pandangan pandangannya di kemudian hari.
Thomas yang tetap menjauhi semangat duniawi dan korupsi yang merajalela di Napoli, segera memutuskan untuk menjalani kehidupan membiara. Ia tertarik pada corak hidup dan karya pelayanan para biarawan Ordo Dominikan yang tinggal di sebuah biara dekat kampus universitas tempat ia belajar. VERITAS (kebenaran) yang menjadi motto bagi para Biarawan Dominikan sangat menarik perhatian Thomas. Keluarganya berusaha menghalang halangi dia agar tidak menjadi seorang biarawan Dominikan. Mereka lebih suka kalau Thomas menjadi seorang biarawan Benediktin di biara Monte Cassino. Untuk itu berkat pengaruh keluarganya, dia diberi kedudukan sebagai Abbas di biara Monte Cassino. Tetapi Thomas dengan gigih menolak hal itu. Agar bisa terhindar dari campur tangan keluarganya, ia pergi ke Paris untuk melanjutkan studi. Tetapi di tengah jalan, ia ditangkap oleh kedua kakaknya dan dipenjarakan di Rocca Secca selama 2 tahun. Selama berada di penjara itu, keluarganya memakai berbagai cara untuk melemahkan ketetapan hatinya. Meskipun demikian, Thomas tetap teguh pada pendirian dan panggilannya.
Di dalam penjara itu, Thomas menceritakan rahasianya kepada seorang sahabat, bahwa ia telah mendapat rahmat istimewa. Ia telah berdoa meminta kemurnian budi dan raga pada Tuhan. Dan Tuhan mengabulkan permohonannya dengan mengutus dua orang malaekat untuk meneguhkan dia dan membantunya agar tidak mengalami cobaan-cobaan yang kotor dan berat.
Selama berada di penjara, Thomas di ijinkan membaca buku-buku rohani dan terus menerus mengenakan jubah Ordo Dominikan. Ia menggunakan waktunya untuk mempelajari Kitab Suci, Metafisika Aristotelesdan buku-buku dari Petrus Lombardia. Ia sendiri membimbing saudarinya dalam merenungkan Kitab Suci hingga akhirnya tertarik juga menjadi biarawati. Akhirnya keluarganya menerima kenyataan bahwa seorang Thomas tidak dapat dipengaruhi. Mereka membebaskan Thomas dan membiarkan dia meneruskan panggilannya sebagai seorang biarawan Dominikan.
Untuk sementara Thomas belajar di Paris.ia kemudian melanjutkan studinya di Cologna, Jerman di bawah bimbingan Santo Albertus Magnus, seorang imam Dominikan yang terkenal pada waktu itu.
Di Cologna, Thomas ditabhiskan menjadi imam pada tahun 1250. Pada tahun 1252 ia diangkat menjadi Professor Universitas Paris dan tinggal di biara Dominikan Santo Yakobus. Ia mengajar Kitab Suci dan lain-lainnya di bawah bimbingan seorang professor kawakan. Tak seberapa lama Thomas terkenal sebagai seorang pujangga yang tak ada bandingannya pada masa itu. Ia jauh melebihi Albertus Magnus pembimbingnya di Cologna dalam pemikiran dan kebijaksanaan.
Tulisan-tulisannya menjadi harta Gereja yang tak ternilai hingga saat ini. Taraf kemurnian hatinya tidak kalah dengan ketajaman akal budinya yang mengagumkan; kerendahan hatinya tak kalah dengan kecerdasan budi dan kebijaksanaannya. Oleh karena itu, Thomas diberi gelar Doctor Angelicus, yang berarti Pujangga Malaekat.
Pada tahun 1264, ia ditugaskan oleh Sri Paus Urbanus IV (1261 - 1264) untuk menyusun teks liturgi misa dan Ofisi pada pesta Sakramen Mahakudus. Lagu-lagu pujian (hymne) antara lainnya adalah Sacris Solemniis dan Lauda Sion menunjukkan keahliannya dalam sastra Latin dan Ilmu Ke-Tuha-nan.
Dalam suatu penampakan, Yesus Tersalib mengatakan kepadanya Thomas engkau telah meulis sangat baik tentang diri-Ku. Balasan apakah yang kau inginkan daripada-Ku? Thomas menjawab: Tidak lain hanyalah diri-Mu.
Dalam perjalanannya untuk menghadiri Konsili Lyon, Prancis, Thomas meninggal dunia di Fossa Nuova pada tahun 1274.

Santo Karolus Agung, Raja dan Pengaku Imam.

Karolus hidup antara tahun 742 - 814. Ia dikenal sebagai seorang negarawan dan kaisar Fraken yang gigih membela kePausan. Sebagai ahli pedang ia berhasil menyatukan hampir seluruh Eropa Barat dan Tengah di bawah pemerintahannya. Karolus Agung memajukan banyak biara Benediktin dan sekolah katedral serta mendirikan keuskupan-keuskupan. Ia menarik para Ilmuwan ke Istana dan memberikan semangat kepada para seniman. Hidup pribadinya tidak begitu mulus, namun ia dihormati sebagai seorang Santo di keuskupan Aachen, Jerman.

Santo Petrus Nolaskus, Pengaku Iman.

Petrus lahir tahun 1182 dari keluarga bangsawan Nolasco. Menjelang umur 25 tahun, ia dipaksa menikahi gadis pilihan orang tuanya namun dengan tegas ia menolak paksaan itu karena ia sudah menjanjikan kemurnian dirinya dan mempercayakan segala harta miliknya kepada Tuhan.
Di masa hidupnya, bangsa Moor yang beragama Islam menguasai sebagai besar negeri Spanyol. Perdagangan budak belian yang diambil dari Afrika Utara merupakan salah satu praktek kekafiran yang paling mencolok dari bangsa ini. Petrus menaruh keprihatinan besar pada nasib orang-orang Afrika Utara yang menjadi budak belian itu, terutama mereka yang telah menjadi Kristen. Semangat imannya untuk membebaskan orang-orang itu dari cengkraman orang Moor bergejolak kuat dalam batinnya. Akhirnya, didorong oleh suatu penglihatan ajaib, Petrus bersama Raymundus Penafort dan raja Yakobus dari Aragon mendirikan “Ordo Pembebasan Hamba Sahaya. Mereka mempersembahkan ordo ini kepada perlindungan Santa Maria. Dengan semangat iman dan cinta kasih sejati, ia bersama rekan-rekannya berhasil membebaskan banyak orang Kristen (tercatat 890 orang) dari belenggu perbudakan dan dari penjara-penjara Islam. Petrus bahkan mempertobatkan pemimpin- pemimpin bangsa Moor.
Semangat kerasulannya menarik banyak orang awam untuk turut serta bersamanya membebaskan sesamanya dari belenggu perbudakan dan belenggu dosa. Selama 25 tahun Petrus mengabdikan dirinya dalam karya pembebasan para budak belian itu. Semangatnya yang meluap-luap dalam karyanya itu, akhirnya terbentur dengan kesehatannya yang terus merosot karena termakan usia dan berat tugas penyelamatannya. Setelah ia mengamalkan iman dan Cinta Kasih Kristiani melalui tindakan serta teladan hidupnya, Petrus Nolaskus meninggal dunia tepat pada hari Raya Natal tahun 1256.

Santo Manfredus, Pengaku Iman.

Manfredus gemar membaca riwayat hidup para pertapa dan rahib, sehingga sesudah ditabhiskan menjadi imam dengan berkat uskupnya  ia menjadi pertapa di sebuah gua di pegunungan Alpen. Ia berpuasa keras dan berdoa terus-menerus, sehingga banyak orang yang meminta didoakan olehnya. Manfredus meninggal dunia pada tahun 1430.

Peringatan Wajib
St. Tomas Aquino
Ibr.10: 1-10 ; Mzm. 40:2,4ab,7-8a,10,11; Mrk. 3:31-35
Warna Liturgi Putih

Ibr 10:1 Di dalam hukum Taurat hanya terdapat bayangan saja dari keselamatan yang akan datang, dan bukan hakekat dari keselamatan itu sendiri. Karena itu dengan korban yang sama, yang setiap tahun terus-menerus dipersembahkan, hukum Taurat tidak mungkin menyempurnakan mereka yang datang mengambil bagian di dalamnya.

Ibr 10:2 Sebab jika hal itu mungkin, pasti orang tidak mempersembahkan korban lagi, sebab mereka yang melakukan ibadah itu tidak sadar lagi akan dosa setelah disucikan sekali untuk selama-lamanya.

Ibr 10:3 Tetapi justru oleh korban-korban itu setiap tahun orang diperingatkan akan adanya dosa.

Ibr 10:4 Sebab tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa.

Ibr 10:5 Karena itu ketika Ia masuk ke dunia, Ia berkata: "Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki?tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku?.

Ibr 10:6 Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan.

Ibr 10:7 Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku."

Ibr 10:8 Di atas Ia berkata: "Korban dan persembahan, korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau kehendaki dan Engkau tidak berkenan kepadanya" ?meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat?.

Ibr 10:9 Dan kemudian kata-Nya: "Sungguh, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu." Yang pertama Ia hapuskan, supaya menegakkan yang kedua.

Ibr 10:10 Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.

Mzm 40:2 (40-3) Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku,

Mzm 40:4 (40-5) Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!

Mzm 40:7 (40-8) Lalu aku berkata: "Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku;

Mzm 40:8 (40-9) aku suka melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada dalam dadaku."

Mzm 40:10 (40-11) Keadilan tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan-Mu dan keselamatan dari pada-Mu kubicarakan, kasih-Mu dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan kepada jemaah yang besar.

Mzm 40:11 (40-12) Engkau, TUHAN, janganlah menahan rahmat-Mu dari padaku, kasih-Mu dan kebenaran-Mu kiranya menjaga aku selalu!

Mrk 3:31 Lalu datanglah ibu dan saudara-saudara Yesus. Sementara mereka berdiri di luar, mereka menyuruh orang memanggil Dia.

Mrk 3:32 Ada orang banyak duduk mengelilingi Dia, mereka berkata kepada-Nya: "Lihat, ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar, dan berusaha menemui Engkau."

Mrk 3:33 Jawab Yesus kepada mereka: "Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku?"

Mrk 3:34 Ia melihat kepada orang-orang yang duduk di sekeliling-Nya itu dan berkata: "Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku!

Mrk 3:35 Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

Prepared and updated by:

Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.

Saint Thomas Aquinas

Saint Thomas Aquinas was born in 1225 as the youngest son of Landulf of Aquino and Theodora of Chieti. He began his studies at the famous Benedictine monastery, Monte Cassino when he was five years old. At age 14, Thomas entered Naples University, and there, he came in touch with the Dominicans, who influenced him greatly. At the age of eighteen, he resolved to join the Dominican Order. However, his family bitterly resented his decision and imprisoned him in a tower for two years. During his confinement, his sister brought him the Scriptures and books on Philosophy. Eventually, his mother permitted him to escape, and he rejoined the Dominicans. 

He was sent to Paris and he became a student of St Albert the Great. His quiet nature led many students to conclude that he was mentally delayed, and they gave him the nickname ""Dumb Ox."" One day, however, his teacher, Albert, decided it was time for everyone to realize how brilliant Thomas was, so he gave him a difficult question to answer and asked him to return the next day to present his answer to the class. After Thomas did so, his fellow students were in awe, and Albert said of him, ""You call him the Dumb Ox, but in his teaching, he will one day produce such a bellowing that it will be heard throughout the world.""
 
St. Thomas Aquinas wrote numerous books, sermons, commentaries of Scripture and even composed some of our Church's most beautiful hymns, including Pange Lingua. He continued as a teacher, preacher, and papal theologian in Paris, Naples, Orvieto, and Rome. This ""Angelic Doctor"" and ""Prince of Catholic Theologians"" first invoked God's assistance in contemplation and prayer before taking up any study. Thomas would become so absorbed in his work that a friar had to be appointed to ensure he did not forget his meals and rest.

His humility and sincerity come through in a story told by one early biographer who relates that as Thomas was praying one morning before the crucifix, he anxiously implored the Lord as to whether or not his writings were correct. Jesus spoke to him, saying, ""You have written well of Me, Thomas, what shall be your reward?"" Thomas replied, ""Nothing but You, Lord."" Among his many works, Saint Thomas is best known for the Summa Theologica, or ""Summary of Theology,"" which he never completed. Thomas died on 7th March 1274, during a commentary on  'Song of Songs'. In 1567, he was declared a Doctor of the Church by Pope Pius V, saying Thomas was ""the most brilliant light of the Church."" 

St. Thomas Aquinas, God revealed Himself to you through your interior life of prayer. Obtain for us the grace to draw ever closer to God, the source of all knowledge.

Prepared and updated by:

Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.

Monday, January 27, 2025

Monday 27 January 2025 (Monday) Monday of week 3 in Ordinary Time or Saint Angela Merici, Virgin. Ordinary Weekday/ Saint Angela Merici, Virgin, Religious Founder

Monday 27 January 2025 (Monday)

Monday of week 3 in Ordinary Time or Saint Angela Merici, Virgin.

Ordinary Weekday/ Saint Angela Merici, Virgin, Religious Founder.

First Reading: Hebrews 9: 15, 24-28
Responsorial Psalm: Psalms 98: 1, 2-3ab, 3cd-4, 5-6
Alleluia: Second Timothy 1: 10
Gospel: Mark 3: 22-30

First Reading : 
Hebrews 9:15,24‐28

Christ brings a new covenant, as the mediator, only so that the people who were called to an eternal inheritance may actually receive what was promised: his death took place to cancel the sins that infringed the earlier covenant. It is not as though Christ had entered a man‐made sanctuary which was only modelled on the real one; but it was heaven itself, so that he could appear in the actual presence of God on our behalf. And he does not have to offer himself again and again, like the high priest going into the sanctuary year after year with the blood that is not his own, or else he would have had to suffer over and over again since the world began. Instead of that, he has made his appearance once and for all, now at the end of the last age, to do away with sin by sacrificing himself. Since men only die once, and after that comes judgement, so Christ, too, offers himself only once to take the faults of many on himself, and when he appears a second time, it will not be to deal with sin but to reward with salvation those who are waiting for him.

Responsive Psalm : 
Psalm 97(98):1‐6

Sing a new song to the Lord for he has worked wonders.

Sing a new song to the Lord for he has worked wonders.
His right hand and his holy arm have brought salvation.

Sing a new song to the Lord for he has worked wonders.

The Lord has made known his salvation; has shown his justice to the nations.
He has remembered his truth and love for the house of Israel.

Sing a new song to the Lord for he has worked wonders.

All the ends of the earth have seen the salvation of our God.
Shout to the Lord, all the earth, ring out your joy.

Sing a new song to the Lord for he has worked wonders.

Sing psalms to the Lord with the harp with the sound of music.
With trumpets and the sound of the horn acclaim the King, the Lord.

Sing a new song to the Lord for he has worked wonders.

Second Reading :
There is no Second Reading.

Alleluia: Second Timothy 1: 10

R. Alleluia, alleluia.

10 Our Savior Jesus Christ has destroyed death and brought life to light through the Gospel.
(10.but it has been revealed only by the appearing of our Saviour Christ Jesus. He has abolished death, and he has brought to light immortality and life through the gospel,
11.in whose service I have been made herald, apostle and teacher).

R. Alleluia, alleluia.

Gospel : 
Mark 3:22‐30

The scribes who had come down from Jerusalem were saying, ‘Beelzebul is in him’ and, ‘It is through the prince of devils that he casts devils out.’ So he called them to him and spoke to them in parables, ‘How can Satan cast out Satan? If a kingdom is divided against itself, that kingdom cannot last. And if a household is divided against itself, that household can never stand. Now if Satan has rebelled against himself and is divided, he cannot stand either – it is the end of him. But no one can make his way into a strong man’s house and burgle his property unless he has tied up the strong man first. Only then can he burgle his house.

  ‘I tell you solemnly, all men’s sins will be forgiven, and all their blasphemies; but let anyone blaspheme against the Holy Spirit and he will never have forgiveness: he is guilty of an eternal sin.’ This was because they were saying, ‘An unclean spirit is in him.’

Words of the Holy Father:

Jesus reacted with firm and clear words (…) the sin against the Holy Spirit, is the one unforgivable sin (…) because it comes from closing the heart to God’s mercy which acts in Jesus. But this episode contains an admonishment which is useful to all of us. Indeed, it can happen that deep envy of a person’s goodness and good works can drive one to falsely accuse him or her. Here there is true, lethal poison: the malice with which, in a premeditated manner, one wants to destroy the good reputation of the other. May God free us from this terrible temptation! (…) Be careful, because this attitude destroys families, friendships, communities and even society. (Angelus, 10 June 2018)

Santa Angela Merici, Perawan.

Angela Merici lahir di Desenzano del Garda, Lombardia, Italia Utara pada tanggal 21 Maret 1474. Sepeninggal ibunya, Angela bersama kakaknya dipelihara oleh pamannya. Ketika itu Angela berumur 10 tahun. Bimbingan pamannya berhasil membuat Angela dan kakaknya menjadi orang-orang yang patuh dan taat beragama.

Sepeninggal kakaknya, Angela masuk ordo ketiga Santo Fransiskus. Kemudian ia kembali ke Desenzano setelah pamannya meninggal dunia pada tahun 1495. Di Desenzano ia mengalami suatu penglihatan di mana ia sedang mengajar agama kepada para pemuda-pemudi. Penglihatan ini memberikan semangat baginya untuk mendirikan sebuah perkumpulan untuk para pemudi. Untuk maksud itu, ia mengumpulkan beberapa kawannya untuk mengajar anak-anak gadis. Pada tahun 1516, Angela pindah ke Brescia dan mendirikan sebuah sekolah. Karya pendidikannya berkembang pesat dan disenangi oleh banyak orang.

Banyak kaum wanita diajaknya untuk membantu dia dalam karya pendidikannya itu. Bersama wanita- wanita ini, Angela mendirikan sebuah perkumpulan dibawah perlindungan Santa Ursula. Wanita-wanita yang menjadi anggota perkumpulannya dibiarkan tetap tinggal dengan keluarga, agar supaya mereka tetap berhubungan dengan dunia luar. Hal yang dituntut dari mereka adalah kesediaan melaksanakan tugas-tugas dengan penuh semangat.
Pengesahan dari Tahta Suci atas perkumpulan yang didirikan Angela tidak cepat diberi. Sambil menanti pengesahan dari Bapa Paus, Angela berziarah ke tanah Suci Yerusalem. Dalam perjalanannya itu, ia mengalami kejadian pahit: kedua matanya tiba-tiba menjadi buta. Namun peristiwa ini tidak mengendurkan semangatnya untuk mengunjungi Tanah Suci. Ia menlanjutkan perjalanannya sambil menyerahkan diri sepenuhnya pada penyelenggaraan Ilahi. Imannya dibalas Tuhan dengan suatu mukzijat. Penglihatannya pulih kembali ketika kembali dari ziarah itu, tepat di tempat dimana ia mengalami kebutaan. Kira-kira pada tahun 1533, datang lagi 12 orang wanita untuk membantu Angela dalam usaha pendidikan anak-anak miskin dan buta huruf. Mereka berpindah ke sebuah rumah dekat Gereja Santa Afra di Brescia. Disini ia mulai membentuk ordo baru, yang disebut Ordo Ursulin.

Sri Paus Paulus III (1534 - 1549) mengesahkan ordo ini pada tanggal 25 November 1535. Angela sendiri diangkat menjadi pimpinan ordo hingga hari kematiannya pada tanggal 27 Januari 1540 di Brescia, dekat Desenzano. Pada tanggal 30 April 1768, Sri Paus Klemens XIII (1758 - 1769) menggelari dia Beata dan kemudian digelari Santa pada tanggal 31 Mei 1807 oleh Sri Paus Pius VII (1800 - 1823).

Santa Angela Merici
Ibr. 9: 15,24-28; Mzm. 98:1,2-3ab,3cd-4,5-6; Mrk. 3:22-30
Warna Liturgi Hijau

Ibr 9:15 Karena itu Ia adalah Pengantara dari suatu perjanjian yang baru, supaya mereka yang telah terpanggil dapat menerima bagian kekal yang dijanjikan, sebab Ia telah mati untuk menebus pelanggaran-pelanggara yang telah dilakukan selama perjanjian yang pertama.

Ibr 9:24 Sebab Kristus bukan masuk ke dalam tempat kudus buatan tangan manusia yang hanya merupakan gambaran saja dari yang sebenarnya, tetapi ke dalam sorga sendiri untuk menghadap hadirat Allah guna kepentingan kita.

Ibr 9:25 Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri.

Ibr 9:26 Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan. Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya.

Ibr 9:27 Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,

Ibr 9:28 demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

Mzm 98:1 Mazmur. Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.

Mzm 98:2 TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa.

Mzm 98:3 Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.

Mzm 98:3 Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.

Mzm 98:4 Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!

Mzm 98:5 Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring,

Mzm 98:6 dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN!

Mrk 3:22 Dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem berkata: "Ia kerasukan Beelzebul," dan: "Dengan penghulu setan Ia mengusir setan."

Mrk 3:23 Yesus memanggil mereka, lalu berkata kepada mereka dalam perumpamaan: "Bagaimana Iblis dapat mengusir Iblis?

Mrk 3:24 Kalau suatu kerajaan terpecah-pecah, kerajaan itu tidak dapat bertahan,

Mrk 3:25 dan jika suatu rumah tangga terpecah-pecah, rumah tangga itu tidak dapat bertahan.

Mrk 3:26 Demikianlah juga kalau Iblis berontak melawan dirinya sendiri dan kalau ia terbagi-bagi, ia tidak dapat bertahan, melainkan sudahlah tiba kesudahannya.

Mrk 3:27 Tetapi tidak seorangpun dapat memasuki rumah seorang yang kuat untuk merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang kuat itu. Sesudah itu barulah dapat ia merampok rumah itu.

Mrk 3:28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya semua dosa dan hujat anak-anak manusia akan diampuni, ya, semua hujat yang mereka ucapkan.

Mrk 3:29 Tetapi apabila seorang menghujat Roh Kudus, ia tidak mendapat ampun selama-lamanya, melainkan bersalah karena berbuat dosa kekal."

Mrk 3:30 Ia berkata demikian karena mereka katakan bahwa Ia kerasukan roh jahat.

Prepared and updated by:

Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.

Saint Angela Merici

Saint Angela Merici is the Patron Saint of the sick, physically challenged people, and those grieving the loss of parents. She was born in Desenzano, Italy, on March 21, 1474. Her home was a true spiritual sanctuary; they lived in unity and love, contemplating God and praying daily. Among the lives of the saints, her father told her, the biography of St. Ursula made a remarkable impression on little Angela Merici and inspired her to follow her faith. Orphaned young, she went to Salo to live in her uncle's home. Angela moved back to her family home in Desenzano when her uncle died to begin a new life as a lay Franciscan. She spent her days in prayer, fasting, and service. Her reputation spread, and both young and old, rich and poor, religious and secular, men and women, sought her advice. 

While on a pilgrimage to the Holy Land in 1524, Angela was struck with blindness. She proceeded to visit the sacred shrines, seeing them with her spirit. Angela miraculously regained her eyesight after leaving the Holy Land. After her return, she had become a haven for the refugees from the many wars that racked Italy. There, she gathered a group that looked at Angela as an inspirational leader and a model of apostolic charity. Angela established groups of unmarried women of all classes in Brescia and other northern Italian cities. She wanted women to be in the world, but not of it. So they consecrated themselves to God and promised to remain celibate. But they lived at home with their families and sought ways to serve their neighbors. In 1535, Angela organized the groups into the "Company of St. Ursula," later called the Ursulines. The Company of Saint Ursula was the first secular institute for laity in the history of the Church.

She was elected superior of the institute in 1537. After founding the order, she wrote Testament and Souvenirs, in which she directed her nuns to emphasize gentleness, the significance of the individual, and the consequence of using persuasion over force. Merici became ill toward the end of 1539, but even while sick, she continued to receive visitors and hold religious discourse with them. She died in Brescia, Italy, on January 27, 1540. Merici was beatified by Pope Clement XIII in 1768 and canonized on January 24, 1807, by Pope Pius VII. 

St. Angela Merici, you devoted your life to caring for your spiritual children; intercede for us to care for those God has placed in our lives.

Prepared and updated by:

Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.

Sunday, January 26, 2025

Saint Timothy and Saint Titus

Saint Timothy was a disciple of St. Paul, preaching the Gospel and suffering for it with Paul. He was born in Listra to a Greek father and a Jewish mother. Converted by St. Paul around 47 AD, Timothy later joined him in the apostolic work. For 15 years, he worked with Paul and became one of his most trusted friends. He assisted Paul in instituting the Church in Corinth and helped him deal with a great disturbance in the local churches that Paul had founded. 

Saint Titus was a disciple and a fellow missionary of St.Paul. He was Greek, apparently from Antioch, but Paul would not let him be forced to undergo circumcision at Jerusalem. Titus is seen as a peacemaker, administrator, and a great friend to Paul. The second letter to Corinth provides insight into the depth of their friendship and their great fellowship in preaching the Gospel. Paul writes that he was strengthened not only by the arrival of Titus but also "by the encouragement with which he was encouraged in regard to you, as he told us of your yearning, your lament, your zeal for me, so that I rejoiced even more" (2 Corinthians 7:7). 

"In his two collaborators, Paul unites the men of circumcision and the men of non-circumcision; the men of the law and the men of the faith." (Vatican Archives). Paul wrote two letters to Timothy and one to Titus. They are the only two letters of the New Testament addressed not to communities but to people. According to Pope Benedict XVI, Timothy and Titus "teach us to serve the Gospel with generosity, knowing that this also involves a service to the Church itself." Saints Timothy and Titus are the Patron Saints of relief from stomach disorders. 

Saints Timothy and Titus, adorned with apostolic virtues, pray for us to live justly and devoutly in this present age, that we may merit reaching our heavenly homeland.

Prepared and updated by:

Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.

Saturday, January 25, 2025

26 January 2025 (Sunday) 3rd Sunday in Ordinary Time (Sunday of the Word of God) Third Sunday in Ordinary Time

26 January 2025 (Sunday)

3rd Sunday in Ordinary Time (Sunday of the Word of God)

Third Sunday in Ordinary Time

First Reading: Nehemiah 8: 2-4a, 5-6, 8-10
Responsorial Psalm: Psalms 19: 8, 9, 10, 15
Second Reading: First Corinthians 12: 12-30 or First Corinthians 12: 12-14, 27
Alleluia: Luke 4: 18
Gospel: Luke 1: 1-4; 4: 14-21

First Reading : 
Nehemiah 8:2‐6,8‐10

Ezra the priest brought the Law before the assembly, consisting of men, women, and children old enough to understand. This was the first day of the seventh month. On the square before the Water Gate, in the presence of the men and women, and children old enough to understand, he read from the book from early morning till noon; all the people listened attentively to the Book of the Law.

  Ezra the scribe stood on a wooden dais erected for the purpose. In full view of all the people – since he stood higher than all the people – Ezra opened the book; and when he opened it all the people stood up. Then Ezra blessed the Lord, the great God, and all the people raised their hands and answered, ‘Amen! Amen!’ Then they bowed down and, face to the ground, prostrated themselves before the Lord. And Ezra read from the Law of God, translating and giving the sense, so that the people understood what was read.

  Then Nehemiah – His Excellency – and Ezra, priest and scribe, and the Levites who were instructing the people, said to all the people, ‘This day is sacred to the Lord your God. Do not be mournful, do not weep.’ For the people were all in tears as they listened to the words of the Law.

  He then said, ‘Go, eat the fat, drink the sweet wine, and send a portion to the man who has nothing prepared ready. For this day is sacred to our Lord. Do not be sad: the joy of the Lord is your stronghold.’

Responsive Psalm : 
Psalm 18(19):8‐10,15

Your words are spirit, Lord, and they are life.

The law of the Lord is perfect, it revives the soul.
The rule of the Lord is to be trusted, it gives wisdom to the simple.

Your words are spirit, Lord, and they are life.

The precepts of the Lord are right, they gladden the heart.
The command of the Lord is clear, it gives light to the eyes.

Your words are spirit, Lord, and they are life.

The fear of the Lord is holy, abiding for ever. The decrees of the Lord are truth and all of them just.

Your words are spirit, Lord, and they are life.

May the spoken words of my mouth, the thoughts of my heart, win favour in your sight, O Lord, my rescuer, my rock!

Your words are spirit, Lord, and they are life.

Second Reading : 
1 Corinthians 12:12‐30

Just as a human body, though it is made up of many parts, is a single unit because all these parts, though many, make one body, so it is with Christ. In the one Spirit we were all baptised, Jews as well as Greeks, slaves as well as citizens, and one Spirit was given to us all to drink.

  Nor is the body to be identified with any one of its many parts. If the foot were to say, ‘I am not a hand and so I do not belong to the body’, would that mean that it stopped being part of the body? If the ear were to say, ‘I am not an eye, and so I do not belong to the body’, would that mean that it was not a part of the body? If your whole body was just one eye, how would you hear anything? If it was just one ear, how would you smell anything?

  Instead of that, God put all the separate parts into the body on purpose. If all the parts were the same, how could it be a body? As it is, the parts are many but the body is one. The eye cannot say to the hand, ‘I do not need you’, nor can the head say to the feet, ‘I do not need you.’

  What is more, it is precisely the parts of the body that seem to be the weakest which are the indispensable ones; and it is the least honourable parts of the body that we clothe with the greatest care. So our more improper parts get decorated in a way that our more proper parts do not need. God has arranged the body so that more dignity is given to the parts which are without it, and that there may not be disagreements inside the body, but that each part may be equally concerned for all the others. If one part is hurt, all parts are hurt with it. If one part is given special honour, all parts enjoy it.

  Now you together are Christ’s body; but each of you is a different part of it. In the Church, God has given the first place to apostles, the second to prophets, the third to teachers; after them, miracles, and after them the gift of healing; helpers, good leaders, those with many languages. Are all of them apostles, or all of them prophets, or all of them teachers? Do they all have the gift of miracles, or all have the gift of healing? Do all speak strange languages, and all interpret them?

Alleluia: Luke 4: 18

R. Alleluia, alleluia.

18 The Lord sent me to bring glad tidings to the poor, and to proclaim liberty to captives.
(18.The spirit of the Lord is on me, for he has anointed me to bring the good news to the afflicted. He has sent me to proclaim liberty to captives, sight to the blind, to let the oppressed go free, 19 to proclaim a year of favour from the Lord).

R. Alleluia, alleluia.

Gospel : 
Luke 1:1‐4,4:14‐21

Seeing that many others have undertaken to draw up accounts of the events that have taken place among us, exactly as these were handed down to us by those who from the outset were eyewitnesses and ministers of the word, I in my turn, after carefully going over the whole story from the beginning, have decided to write an ordered account for you, Theophilus, so that your Excellency may learn how well founded the teaching is that you have received.

  Jesus, with the power of the Spirit in him, returned to Galilee; and his reputation spread throughout the countryside. He taught in their synagogues and everyone praised him.

  He came to Nazara, where he had been brought up, and went into the synagogue on the sabbath day as he usually did. He stood up to read and they handed him the scroll of the prophet Isaiah. Unrolling the scroll he found the place where it is written:

The spirit of the Lord has been given to me, for he has anointed me.
He has sent me to bring the good news to the poor, to proclaim liberty to captives and to the blind new sight,
to set the downtrodden free, to proclaim the Lord’s year of favour.

He then rolled up the scroll, gave it back to the assistant and sat down. And all eyes in the synagogue were fixed on him. Then he began to speak to them, ‘This text is being fulfilled today even as you listen.’

Words of the Holy Father:

Today too, Our Lady tells all of us to “Do whatever he tells you”. These words are a precious legacy that our Mother left us. And indeed, the servants in Cana obey: “Jesus said to them, ‘Fill the jars with water.’ And they filled them up to the brim. He said to them, ‘Now draw some out and take it to the steward of the feast.’ So they took it” (vv. 7-8). Truly, a New Covenant is pledged at this wedding. And a new mission is entrusted to the servants of the Lord, namely, the entire Church: “Do whatever he tells you”. To serve the Lord means to listen and to put his Word into practice. It is the simple, essential recommendation of Jesus’ Mother. It is the programme for a Christian’s life.

I would like to highlight an experience which many of us have certainly had in life. When we are in difficult situations, when problems arise that we do not know how to resolve, when we feel a lot of anxiety and distress, when we lack joy, go to Our Lady and say: “We have no wine. The wine has run out: Look at the state I am in, look at my heart, look at my soul”. Say it to the Mother. And she will go to Jesus to say: Look at this one: he or she has no wine. And then, she will come back to us and say: “Do whatever he tells you”.

For each of us, drawing from the jar is tantamount to entrusting ourselves to the Word and to the Sacraments in order to experience God’s grace in our lives. Then we too, as the steward who tasted the water that had become wine, can say: “you have kept the good wine until now” (v. 10). Jesus always surprises us. Let us speak to the Mother so that she may speak to her Son and he will surprise us. (Angelus, 20 January 2019)

Santo Timotius dan Titus, Uskup.

Timotius dikenal sebagai rekan kerja dan pendamping terpercaya dari Santo Paulus dalam perjalanan-perjalanan misinya. Ia (kemungkinan) lahir di Lystra, sebuah kota di Asia Kecil. Ayahnya kafir, sedangkan ibunya beragama Yahudi. Bersama ibunya, Eunike dan neneknya Lois, Timotius bertobat dan menjadi Kristen pada saat Santo Paulus pertama kali mengunjungi Likaonia (2Tim 1:5). Semenjak masa mudanya, Timotius sudah mengenal Kitab Suci agama Yahudi dari ibunya. Bahkan kitab itu sudah menjadi bacaan utama.
Tujuh tahun kemudian ( - setelah menjadi Kristen) ketika Santo Paulus kembali ke Lystra Timotius sudah menjadi pemuda yang aktif dan saleh, dan bersemangat rasul. Ia dipuji oleh saudara saudara seiman di Lystra dan Ikonium (Kis16:2). Untuk menghilangkan pertentangan antara kaum Yahudi dan Yudeo Kristen, Timotius disunat (Kis16:3). Ia lalu menemani Paulus ke Berea. Disana ia tinggal bersama Silas, sementara Paulus melanjutkan perjalanannya. Kemudian, ia bertemu lagi dengan Paulus di Korintus (Kis 18:5) dan lalu menemani Paulus ke Yerusalem (Kis20:4).

Timotius dikenal sebagai seorang yang bersama Paulus menulis enam pucuk surat (1Tes1:1; 2Tes1:1; 2Kor1:1; Flp1:1; Kol1:1; [[Fil 1]]). Namanya tercantum lagi di surat-surat Penjara yang memberitakan tentang pengutusan Timotius untuk mengunjungi orang orang Kristen di Filipi. Karena tidak seorang padaku, yang sehati dan sepikir dengan dia dan yang begitu bersungguh sungguh memperhatikan kepentingan Yesus Kristus. Kamu tahu bahwa kesetiannya telah teruji dan bahwa ia telah menolong aku dalam pelayanan Injil sama seperti seorang anak menolong bapanya. Dialah yang kuharap untuk kukirimkan dengan segera, sudah jelas bagiku bagaimana jalannya perkaraku (Fil2:20-23).
Timotius sungguh dicintai dan disayang oleh Paulus. Hal ini dapat terlihat pada awal setiap surat yang ditujukan Paulus kepadanya: Anakku yang terkasih. Paulus sungguh kagum akan kesetiaan Timotius terhadap setiap ajarannya: Engkau telag mengikuti ajaranku, cara hidupku, pendirianku, imanku, kesabaranku, kasihku dan ketekunanku. Engkau telah ikut menderita penganiayaan dan sengsara seperti yang telah kuderita di Antiokia dan di Ikonium dan di Lystra. (2Tim3:10-11). Setelah Paulus dilepaskan dari penjara, ia mengangkat Timotius sebagai Uskup di Efesus. Ia dibunuh dengan kejam pada tahun 97.
Selain Timotius, Titus adalah seorang rekan seperjalanan Paulus. Ia berasal dari Antiokia di Asia Kecil. Ia lahir di dalam sebuah keluarga yang masih kafir. Karena pewartaan Paulus, Titus bertobat dan menjadi seorang Kristen yang aktif dalam karya pewartaan Injil. Ia menemani Paulus ke Yerusalem untuk menghadiri Konsili mengenai Hukum Musa. Sesudah itu, Paulus mengirim dia dua kali ke Korintus untuk menasehati orang-orang Kristen disana dalam beberapa masalah yang membahayakan kesatuan Iman dan kebenaran Iman.
Karena jasa-jasanya dan semangatnya dalam melayani Injil dan orang-orang Kristen, maka Paulus mengangkat Titus menjadi Uskup di Kreta. Paulus menabhiskan dia untuk melanjutkan misi yang telah di mulai di Pulau Kreta. Titus meninggal di Kreta.

Santa Paula, Janda.

Paula dikenal sebagai seorang wanita bangsawan Romawi. Sebagai seorang ibu rumah tangga, ia menjalankan kewajiban dengan penuh semangat cinta kasih. Kecuali itu, ia mengisi hari-hari hidupnya dengan suatu hidup yang saleh di hadapan Tuhan. Ketika ia memasuki umur 32 tahun, suaminya yang tercinta meninggal dunia. Sekarang ia sendiri harus bertanggung jawab terhadap anak-anaknya dalam semua kebutuhannya, rohani dan jasmani. Pendidikan iman bagi anak-anaknya sungguh mendapat perhatian utama.
Selagi berada dalam kepedihan yang mendalam karena kematian suaminya, Tuhan mengetuk hatinya untuk suatu kehidupan bakti hanya kepada-Nya. Paula yang sudah biasa menjalin hubungan dengan Tuhan melalui doa-doanya, mendengarkan suara Tuhan itu. Ia lalu mengabdikan hidupnya kepada Tuhan dengan hidup menyendiri dalam kesunyian tapa dan karya-karya amal kasih.

Santo Hieronimus dimintainya untuk menjadi pembimbing rohaninya. Setelah menjalani hidup demikian selama tiga tahun, ia meninggalkan anak-anaknya yang sudah dewasa dan berangkat ke Tanah Suci bersama seorang putrinya Eustakia. Ia bermaksud untuk menetap di Betlehem, kota yang dimuliakan sebagai tempat kelahiran Yesus sang Penebus. Ia memberikan devosi khusus kepada Kanak-kanak Yesus dengan berdoa dan bermatiraga. Paula yakin bahwa orang yang tidak pernah merenungkan kehidupan Yesus selagi kanak-kanak, sulit untuk menghayati kebenaran-Nya. Cintanya kepada Yesus, kanak- kanak Suci, melebihi cintanya kepada anak-anaknya sendiri. Bila berada di gua Betlehem, hatinya terharu dan sambil menangis ia berdoa: Aku memberi Salam kepadamu hai Betlehem, rumah Roti Kehidupan, yang turun dari surga dan dilahirkan oleh Maria Perawan Yang Suci.
Kepada semua orang yang berziarah di Betlehem, ia menyediakan tempat tempat penginapan dan dengan rajin melayani mereka. Untuk Santo Hieronimus dan para biarawannya, ia membangun sebuah rumah khusus. Rumah inilah yang kelak menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Paula meninggal dunia pada tahun 404 dalam usia 57 tahun.

Santo Stefanus Harding, Pengaku Iman.

Stefanus Harding lahir di tahun 1048. Pada masa mudanya ia memperoleh pendidikan di biara Sherborne di Dorsetshire. Kemudian sebagai seorang awam ia berziarah ke Roma. Dalam perjalanannya kembali, ia singgah di pertapaan Molesmes, di hutan belantara Burgundy, Prancis. Disana ia meminta bergabung dengan rahib-rahib yang tinggal di pertapaan itu.

Tetapi beberapa tahun kemudian ia mulai merasa tidak puas dengan cara hidup rahib yang ada disana. Menurut pendapatnya, mereka terlalu memperhatikan hal-hal kesenangan duniawi dan lupa mengembangkan kehidupan rohani yang mendalam. Dengan demikian semangat hidup awal yang mendasari pertapaan itu mulai ditinggalkannya. Kesan yang sama menghinggapi juga beberapa rahib yang lainnya. Maka bersama dengan rahib-rahib itu, Stefanus angkat kaki dari pertapaan itu dan berusaha mendirikan pertapaan baru. Pada tahun 1098, mereka mendirikan suatu pertapaan baru di Citeaux. Stefanus menjadi Abbas pertapaan itu pada tahun 1109. Ia berusaha membimbing perkumpulan baru yang berada dalam keadaan yang serba kekurangan itu: tidak ada dana dan sering kehabisan makanan. Selain itu, ia menghadapi kenyataan tidak adanya panggilan baru karena cara hidup mereka yang keras, dan penyakit misterius yang merenggut nyawa beberapa rekannya.

Tetapi pada waktu semangat hidup mereka mulai redup, datanglah 30 orang pemuda meminta diri untuk bergabung bersama mereka. 30 pemuda itu dipimpin oleh Bernadus, yang kemudian menjadi orang Kudus yang terkenal. Semenjak itu wajah pertapaan Citeaux mulai bersinar terang dan berkembang pesat. Dari Citeaux para rahib itu mulai mendirikan rumah-rumah pertapaan baru di Pontigny, Morimond, dan Clairvaux. Bernandus, ketika berusia 24 tahun diangkat sebagai Abbas Clairvaux. Setelah 9 biara didirikan, Stefanus menyusun Konstitusi Cistersian pada tahun 1119. ia kemudian mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Abbas pada tahun 1133, karena sudah lanjut umurnya dan mulai buta. Stefanus Harding meninggal dunia di Citeaux paa tahun 1134.

Santo Robertus Molesmes dkk: Alberik dan Stephan Harding, Pengaku Iman.

Robertus Molesmes terkenal sebagai pendiri ordo Cistersian. Ia lahir sekitar tahun 1024 di Champagne, Prancis. Ketika berusia 15 tahun, ia masuk Ordo Benediktin di Biara Moutier Lacelle, dekat Troyes. Sebagai seorang pemuda yang luar biasa, ia diangkat menjadi pemimpin biara sesudah menyelesaikan novisiatnya. Pada tahun 1068, ia menjadi Abbas di biara Santo Micheal dari Tonnerre di Langers. Di biara ini ia berusaha menyusun meskipun tidak berhasil  aturan-aturan yang lebih keras. Sementara itu, beberapa rahib yang bertapa di hutan Callan meminta Robert mengajari mereka aturan-aturan Santo Benediktus. Dengan restu Paus Aleksander II (1060 - 1073), Robert menjadi Superior kelompok ini. Pada tahun 1075 mereka mendirikan pertapaan di hutan Molesmes. Dibawah kepemimpinan Robert, komunitas ini berkembang pesat, menjadi makmur dan terkenal, tetapi lama kelamaan rahibnya mulai tidak taat lagi pada aturan ordo. Pada tahun 1098, kelompok rahib pembaharu sekitar 20 orang, termasuk 3 serangkai: Robert, Alberik dan Stephan Harding, meninggalkan pertapaan Molesme itu dan mendirikan sebuah komunitas baru di Citeuax, atau Cisterian, yang tidak jauh dari Dijon. Komunitas baru ini, dengan Robert sebagai pimpinannya, mendirikan satu ordo baru yang dikenal sebagai Ordo Cisterian. Tetapi kemudian atas pemohonan para Rahib Molesmes dan atas perintah Paus, Robert kembali ke pertapaan Molesmes untuk memperbaharui komunitas itu. Robert meninggal dunia di Molesmes pada tanggal 2 Maret 1110. Ia dinyatakan Kudus pada tahun 1222.

Hari Minggu Biasa III
Hari Minggu Sabda Allah
Neh. 8:3-5a,6-7,9-11; Mzm. 19:8,9,10,15; 1Kor. 12:12-30
Luke. 1: 1-4; 4: 14-21
Warna Liturgi Hijau

Neh 8:3 (8-4) Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.

Neh 8:4 (8-5) Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu. Di sisinya sebelah kanan berdiri Matica, Sema, Anaya, Uria, Hilkia dan Maaseya, sedang di sebelah kiri berdiri Pedaya, Misael, Malkia, Hasum, Hasbadana, Zakharia dan Mesulam.

Neh 8:5 (8-6) Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri.

Neh 8:6 (8-7) Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: "Amin, amin!", sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah.

Neh 8:7 (8-8) Juga Yesua, Bani, Serebya, Yamin, Akub, Sabetai, Hodia, Maaseya, Kelita, Azarya, Yozabad, Hanan, Pelaya, yang adalah orang-orang Lewi, mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu, sementara orang-orang itu berdiri di tempatnya.

Neh 8:9 (8-10) Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: "Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!", karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu.

Neh 8:10 (8-11) Lalu berkatalah ia kepada mereka: "Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!"

Neh 8:11 (8-12) Juga orang-orang Lewi menyuruh semua orang itu supaya diam dengan kata-kata: "Tenanglah! Hari ini adalah kudus. Jangan kamu bersusah hati!"

Mzm 19:8 (19-9) Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya.

Mzm 19:9 (19-10) Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,

Mzm 19:10 (19-11) lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah.

1Kor 12:12 Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.

1Kor 12:13 Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh.

1Kor 12:14 Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota.

1Kor 12:15 Andaikata kaki berkata: "Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?

1Kor 12:16 Dan andaikata telinga berkata: "Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh", jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh?

1Kor 12:17 Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman?

1Kor 12:18 Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.

1Kor 12:19 Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh?

1Kor 12:20 Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh.

1Kor 12:21 Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: "Aku tidak membutuhkan engkau." Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: "Aku tidak membutuhkan engkau."

1Kor 12:22 Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan.

1Kor 12:23 Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus.

1Kor 12:24 Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus,

1Kor 12:25 supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan.

1Kor 12:26 Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.

1Kor 12:27 Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.

1Kor 12:28 Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh.

1Kor 12:29 Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat,

1Kor 12:30 atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh?

Luk 1:1 Teofilus yang mulia, Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita,

Luk 1:2 seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.

Luk 1:3 Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu,

Luk 1:4 supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.

Luk 4:14 Dalam kuasa Roh kembalilah Yesus ke Galilea. Dan tersiarlah kabar tentang Dia di seluruh daerah itu.

Luk 4:15 Sementara itu Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia.

Luk 4:16 Ia datang ke Nazaret tempat Ia dibesarkan, dan menurut kebiasaan-Nya pada hari Sabat Ia masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab.

Luk 4:17 Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas, di mana ada tertulis:

Luk 4:18 "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku

Luk 4:19 untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

Luk 4:20 Kemudian Ia menutup kitab itu, memberikannya kembali kepada pejabat, lalu duduk; dan mata semua orang dalam rumah ibadat itu tertuju kepada-Nya.

Luk 4:21 Lalu Ia memulai mengajar mereka, kata-Nya: "Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya."

Prepared and updated by:

Jonathan Fabian Ginunggil,
Penampang, Sabah Malaysia.

Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Bab 20

  Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Abraham dan Abimelekh Bab 20 Kej 20:1 Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia...