Popular Posts

Sunday, October 20, 2024

RINGKASAN DAN RENUNGAN MENGENAI AJARAN GEREJA KATOLIK

RINGKASAN DAN RENUNGAN MENGENAI AJARAN GEREJA KATOLIK.

Virtues / Kebajikan.

The Virtues are good habits which strengthen the conscience and help us to do good and live well. There are two main kinds of Virtues: Human and Theological.

= Kebajikan adalah tabiat@kebiasaan (suatu perbuatan yang baik) yang mengukuhkan@menguatkan suara hati/hati kecil dan membantu kita untuk melakukan kebaikan dan hidup secara baik/benar. Kebajikan ada dua iaitu kebajikan manusiawi dan kebajikan ilahi.

The Human Virtues / Kebajikan Manusiawi.

The Human Virtues are the good habits that we develop and maintain through our own efforts. We call these Virtues “cardinal” because they are the hinges on which human goodness depends.

= Kebajikan manusiawi adalah perbuatan/tabiat yang baik yang kita kembangkan / hasilkan melalui usaha@kemampuan kita. Ini dipanggil sebagai kebajikan pokok (kardinal) sebagaimana kita manusia bergantung terhadapnya.

Ada empat kebajikan pokok iaitu kebijaksaan, keadilan, keberanian dan penguasaan diri.

The four Cardinal Virtues are Prudence, Justice, Fortitude and Temperance (Wisdom 8: 7).

1) Prudence enables me to judge and choose carefully what is right and good in my life. = (Kebijaksaan – membolehkan / membenarkan saya untuk menghakimi / mengadili dan memilih secara berhati-hati apa yang benar dan baik di dalam kehidupan saya).

2) Justice enables me to be fair and honest, treating others as I would want them to treat me. = (Keadilan – membolehkan / membenarkan saya untuk bersikap adil dan jujur untuk memperlakukan sesama sebagaimana saya mahu mereka memperlakukan perkara yang sama terhadap saya).

3) Fortitude enables me to overcome temptation, to conquer fear and face suffering bravely. = (Keberanian – membolehkan / membenarkan saya untuk mengatasi / menolak godaan, mengatasi ketakutan dan untuk berhadapan penderitaan / kesukaran dengan berani).

4) Temperance enables me to be balanced and moderate in using created things, such as food and drink. = (Penguasaan diri – membolehkan / membenarkan saya untuk mengimbangi dan mengurangkan@menyederhanakan cara pengunaan yang telah diciptakan seperti bahan makanan dan minuman).

We maintain and develop these virtues in our lives through effort, education and doing good. But we need the Grace of God through prayer and the Sacraments to follow what is good and avoid evil.

= Kita mengekalkan dan mengembangkan kebajikan-kebajikan ini di dalam kehidupan kita melalui usaha kita, pendidikan@pelajaran dan dalam melakukan perkara yang baik. Tetapi kita perlu bantuan rahmat Allah melalui doa dan Sakramen Gereja Katolik untuk mengikuti apa yang baik dan menjauhi@mengelak yang jahat.

The Theological Virtues (Kebajikan Ilahi – Iman, Harapan dan Kasih)

God the Holy Spirit gives us the higher Theological Virtues. We call these Virtues “theological” because they are the direct Gift of God and are not the fruit of our efforts.

= Allah Roh Kudus telah memberikan kita kebajikan Ilahi ini. Kebajikan ini dinamakan sebagai “theological” kerana ia adalah karunia yang berasal dari Allah sendiri dan bukannya hasil usaha kita.

The three Theological Virtues are Faith, Hope and Charity (1 Corinthians 13).

1) Faith enables me to believe in God and all that He has revealed. I make an act of Faith to show that I firmly believe in God and in truths that He has taught.

= Iman: membolehkan/membenarkan saya untuk mempercayai Allah serta wahyu-Nya. Dengan iman yang saya miliki, saya percaya akan Allah dan memperlihatkan iman saya dengan perbuatan / tindakan saya akan kebenaran yang Allah telah berikan / ajarkan.

2) Hope enables me to face the future, confidently trusting in God and wanting to be with Him forever. I make an act of Hope to show that I desire eternal life, and the means to obtain eternal life with God.

= Harapan: membolehkan/membenarkan saya untuk berhadapan / menghadapi masa hadapan dengan keyakinan akan kepercayaan terhadap Allah dan seterusnya untuk bersama dengan Allah untuk selamanya. Dengan perbuatan dan harapan yang saya tunjukkan / perlihatkan menunjukkan bahawa saya merindukan kehidupan kekal, dengan kata lain, untuk memperolehi kehidupan bersama Allah di Syurga untuk selamanya.

3) Charity (Love) enables me to love God and to love my neighbour as myself. I make an act of Love to show that I love God above all for His own sake, and my neighbour as myself for the love of God (Acts of Faith, Hope and Charity, (see Prayers, No. 32).

= Kasih: membolehkan/membenarkan saya untuk mencintai Allah dan sesama seperti diri saya sendiri. Dengan tindakan dan cintakasih ini memperlihatkan / menunjukkan bahawa saya mencintai Allah lebih dari segala sesuatu, dan mencintai sesama sebagaimana saya mencintai diri saya sendiri kerana kasih Allah.

The Gifts and Fruits of the Holy Spirit

God the Holy Spirit gives us his own higher Gifts so that we can live holy and moral lives.

The seven Gifts of the Holy Spirit are:

1) Wisdom = Kebijaksaan

2) Understanding = Pengertian

3) Right Judgement / Counsel = Nasihat

4) Courage / Fortitude = Keperkasaan

5) Knowledge = Pengenalan

6) Reverence / Piety = Kesalehan

7) Wonder and Awe / Fear of the Lord = Rasa takut kepada Allah

We receive these Gifts in the Sacrament of Confirmation (see No. 15).

These Gifts bear beautiful fruits in a happy moral and spiritual life.

The twelve Fruits of the Holy Spirit are:

1) Charity = Kasih

2) Joy = Sukacita

3) Peace = Damai sejahtera

4) Patience = Kesabaran

5) Kindness = Kebaikan                                   

6) Goodness (the quality of being good)  = kebaikan akhlak

7) Generosity = Kemurahan hati

8) Gentleness = Kelemahlembutan

9) Faithfulness = Kesetiaan

10) Modesty = Kerendahan hati/sifat rendah hati; kesopanan

11) Continence  /Self-control = Penguasaan diri

12) Chastity = Kemurnian

(Galatians 5: 22)

Kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, kerendahan hati, kesederhanaan dan kemurnian (KGK) 1832

Sin / Dosa.

Members of the Church, like all people, can still do wrong. Sin is any wilful thought, word and deed or failure to do something, which is an offence against the love and law of God. Sin is disobedience, a revolt against God (Genesis 3: 5), which harms us and sets us against one another.

= Seperti orang lain, kita sebagai umat Gereja-Nya boleh melakukan kesilapan / sesuatu yang salah. Dosa yang dilakukan sencara sengaja di fikiran, perkataan dan perbuatan adalah kesalahan menentang / menolak kasih Allah dan perintah-Nya. Dosa dilakukan kerana kita tidak taat kepada Allah, yang mana pemberontakan / melawan akan kasih dan perintah-Nya. Tindakan ini mencacatkan/merosakkan hubungan kita terhadap sesama.

In the face our sins, God is merciful. Jesus Christ came to save us from our sins, to free us from guilt and suffering, and to call us to conversion (Mark 1: 14, 15).

= Allah sangat berbelaskasihan walaupun kita berdosa terhadap-Nya. Yesus Kristus datang untuk menebus kita dari dosa dan membebaskan kita dari kesalahan dan penderitaan / kesengsaraan kita serta memanggil kita untuk bertobat (Mk 1: 14, 15).

In our life of conversion from sin, we learn that there are two different levels of sin: mortal sin and venial sin.

= Di dalam kehidupan ini kita perlunya bertobat daripada dosa kita. Oleh itu ada dua tahap dosa yang perlu kita pelajari dan ketahui iaitu dosa berat dan dosa ringan.

Mortal Sin / Dosa berat (Dosa besar).

When we break God’s law in a serious way, this is mortal sin (1 John 5: 16 – 17).

= Disini kita melakukan dosa berat dengan melanggar perintah Allah iaitu cintakasih-Nya – inilah yang dikatakan sebagai dosa berat.

I commit a mortal sin when I knowingly and willingly consent to do something which I believe to be a mortal sin.

By mortal sin my soul rebels against God. I lose Sanctifying Grace and all right to heaven. To commit a mortal sin is the greatest of all evils.

= Kita melakukan dosa berat ini dengan sengaja dan menuruti dosa tersebut. Perbuatan seperti ini menentang / melawan terhadap Allah. Disinilah kita kehilangan berkat@rahmat Allah untuk masuk ke Syurga. Dosa berat ini adalah dosa yang terbesar dari segala kejahatan. Disinilah kita perlunya pertobatan dan membuat pengakuan dosa dengan segera.

If I commit  mortal sin, I should at once make an act of perfect contrition (see Prayers, No. 32), and then go to Confession as soon as I reasonably can.

Perfect Contrition is sorrow for our sins because they offend God who is so good Himself and deserves to be loved so much by us. Perfect Contrition immediately takes away sins by giving Sanctifying Grace (see no. 27), and restores us to God’s friendship even before we go to Confession.

= Doa pertobatan kita adalah/kesedihan/kedukaan kita terhadap dosa berat tersebut kerana kita menentang Allah yang penuh dengan kebaikan dan belaskasihan. Kita perlu mendapat pengampunan dari Allah dengan membuat pengakuan dosa. Dosa berat pada umumnya dapat dihapuskan / disucikan oleh Allah dengan menerima Sakramen Pembaptisan. Dengan cara demikian kita memulihkan hubungan kita dengan Allah itu sendiri.

Melalui Sakramen Pembaptisan – menerima pengampunan dari Allah / menerima rahmat Kebajikan Ilahi iaitu Iman, Harapan dan Kasih.

But when we go to Confession, we are bound to tell all the mortal sins which have not been already confessed and forgiven in the Sacrament of Penance (see No. 18and Prayers, No. 34). Then we are sure of God’s forgiveness. Those who die in mortal sin are lost in hell forever.

= Jika kita ingin membuat pengakuan dosa, kita harus menyatakan/memberitahu segala dosa kita termasuk dosa berat yang telah kita lakukan termasuk dosa-dosa yang belum mendapat pengampunan dari Allah. Dengan cara ini kita akan mendapat pengampunan dari Allah. Bagi mereka yang mati dalam keadaan berdosa berat, belum mengaku dosanya terutama dosa berat ini akan masuk ke neraka.

Venial Sin / Dosa kecil.

When we break God’s Law in a less serious way than mortal sin, this is venial sin.

I commit a venial sin when I knowingly and willingly consent to do something which I believe to be a venial sin.

By venial sin my love for God is lessened, and so I am in greater danger of failing into mortal sin. Receiving the Eucharist, acts of charity and prayer take away venial sins.

= Kita melakukan dosa ringan ini dengan melanggar perintah Allah iaitu cintakasih-Nya. Dosa ringan ini kita lakukan dengan menuruti dosa tersebut walaupun kita mengetahuinya. Disinilah hubungan cintakasih kita terhadap Allah semakin berkurangan disebabkan dosa ringan ini.

1862 – Dosa ringan dilakukan, apabila seorang melanggar peraturan hukum moral dalam materi (hal;perkara) yang tidak berat atau walaupun hukum moral itu dilanggar dalam materi (hal;perkara) yang berat, namum dilakukan tanpa pengetahuan penuh dan tanpa persetujuan penuh (KGK).


1875 – Dosa ringan merupakan gangguan moral yang dapat diperbaiki lagi dengan kasih ilahi, yang bagaimanapun tetap ada di dalam kita (KGK).


1876 – Pengulangan dosa, juga dosa ringan, membawa kepada kebiasaan buruk, antara lain kepada apa yang dinamakan dosa-dosa pokok (KGK).


Dosa-dosa pokok adalah – kesombongan, iri hati, hawa nafsu, kemarahan, keserakahan (ketamakan), kecemburuan, kemalasan.

The spread of Sin / Penyebaran Dosa.

As people repeatedly commit sins, vice spreads throughout the world. But the spread of sin cannot totally destroy our sense of right and wrong.

Some sin are particularly harmful because they lead to other sins.

= Kejahatan dapat merebak / mempengaruhi seluruh dunia jika manusia itu berbuat dosa. Tetapi dosa seperti ini tidak dapat menghancurkan / membinasakan pertimbangan@daya@kesedaran kita tentang apa yang benar dan yang salah. Terdapatnya dosa yang berbahaya@memudaratkan terutamanya / khususnya yang boleh membawa manusia itu untuk melakukan dosa.

The seven Capital (or source) Sins are / Tujuh dosa pokok:

1) Pride = Kesombongan

2) Covetousness = Iri hati

3) Lust = Hawa nafsu

4) Anger = Kemarahan

5) Gluttony = Keserakahan / Ketamakan

6) Envy = Kecemburuan

7) Sloth = Kemalasan


The four sins crying to heaven for vengeance are:

1) Wilful Murder

2) The Sin of Sodom

3) Oppression of the Poor

4) Defrauding labourers of their wages

(Genesis 4; Genesis 18; Exodus 2; James 5)

 

It is a sin to cooperate with others when they commit sins:

1) By sharing in their sins directly and voluntarily

2) By ordering, advising, praising or approving them

3) By not disclosing or hindering sinners when we are obliged to do so

4) By protecting evil-doers

Through repeated personal sins, human society itself can develop structures of sin which offend the goodness of God by causing great injustice and suffering.

 The Moral Law / Hukum Moral.

We need a moral law to teach us what is right and wrong, to form our consciences and guide us in the right path. The moral law has three levels:

= Kita perlukan Hukum Moral untuk mengajar / membimbing/mendidik kita untuk mengetahui yang baik dan yang salah. Ini bertujuan untuk membentuk kita suara hati kita dan memimpin kita kepada jalan yang benar. Terdapatnya tiga Hukum Moral iaitu hukum moral kodrati, hukum lama dan hukum baru (hukum Injil).

1) The Natural Moral Law / Hukum Moral Kodrati.

God has written His moral law in our human nature (Romans 2: 14 – 16). This moral law in human nature is called the Natural Law. It tells us that good is to be done and evil avoided. It is found within the reason of all people and it can never change. But we do not always understand its truths because we are fallen and sinful. We need the light of God’s revelation to understand the moral law.

= Hukum moral kodrati ini ada di dalam setiap hati manusia dan ia berasal dari Allah sendiri (Allah telah menulis/menanam di dalam hati kita). Ini mengajar kita bahawa yang baik kita lakukan dan yang jahat kita elakan. Hukum ini tidak dapat diubah kerana ia berada di dalam setiap peribadi kita. Kita tidak dapat memahami kebenarannya kerana kita mudah jatuh dan seorang yang berdosa. Disinilah kita perlukan terang wahyu dari Allah itu sendiri untuk memahami apa yang dimaksudkan dengan hukum moral kodrati ini.

2) The Old Law / 10 Hukum Perintah Allah.

God revealed His moral law to Moses in the Ten Commandments (see No. 29). The Ten Commandments shows us clear truths of the Natural Law. This is Old Law, set out in books of the Old Testament. It was also a solemn agreement, the Old Covenant, between God and His People Israel.

= Hukum lama ini datangnya dari Allah sendiri dan diberikan kepada Musa (10 hukum). 10 hukum ini memperlihatkan kepada kita akan kebenaran tentang hukum moral kodrati tersebut. Hukum lama ini bukanlah hukum yang lengkap tetapi ia dikatakan sebagai “guru / pengajar” – yang mempersiapkan jalan menuju kepada hukum baru iaitu Yesus Kristus sendiri.

The Old Law was not a perfect moral law, but it was a “teacher” preparing the way for the highest moral law, revealed in Jesus Christ.

3) The New Law of Jesus Christ / Hukum Baru.

Jesus Christ reveals the highest moral law, the New Law of His Gospel. The New Law is set out in the Gospel and books of the New Testament. It is also solemn agreement, the New Covenant, revealed in Jesus Christ and sealed by His blood, shed for us on the cross and offered in the Eucharist (see No. 16).

= Tuhan Yesus Kristus menampakkan/mendedahkan hukum baru yang tertinggi ini dan ia dapat di temui di dalam Injil-Nya dan juga di dalam Perjanjian Baru. Hukum ini adalah perjanjian yang sungguh-sungguh, Perjanjian Baru, di mana Yesus Kristus memperlihatkan / menampakkan / mendedahkan dan memeterai hukum ini dengan Darah-Nya yang mengalir di atas kayu salib-Nya dan dipersembahkan / berikan di dalam Ekaristi.

The New Law is the gift of the Holy Spirit which perfects the Old Law. It includes the Ten Commandment, but Our Lord goes further. We must love even our enemies: “Love your enemies, do good to those who hate you, bless those who curse you, pray for those who abuse you.” (Luke 6: 27).

= Hukum baru ini merupakan karunia dari Roh Kudus yang melengkapi hukum lama. Ia termasuklah dengan 10 hukum tetapi Yesus melakukannya dengan pengertian yang lebih dalam lagi. Kita mesti mencintai musuh-musuh kita: “Tetapi Aku berkata kepada kamu yang mendengarkan Aku: Kasihilah musuh kamu dan berbuatlah baik kepada mereka yang membenci kamu.” (Luk 6: 27). Yesus Kristus memberikan hukum baru cintakasih ini dengan berkata, “Inilah perintah-Ku: Hendaklah kamu saling mengasihi, seperti Aku mengasihi kamu.” (Yoh 15: 12).

Jesus Christ gave His New Law of love, when He said: “Love one another as I have loved you.” (John 15: 12 and see No. 29).

Disediakan dan dikemaskini oleh:

Jonathan Fabian Ginunggil,

Penampang, Sabah Malaysia.

No comments:

Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Bab 20

  Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Abraham dan Abimelekh Bab 20 Kej 20:1 Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia...