Popular Posts

Saturday, February 10, 2024

1 Julai Santo Yustinus, Martir, Santo Simeon, Pengaku Iman, Beato Oliver Plunkett, Uskup Agung dan Martir, Santo Teodorikus, Abbas, Santo Pambo, Pertapa dan Santo Simeon Salos, Pengaku Iman

Santo Yustinus, Martir


Yustinus lahir dari sebuah keluarga kafir di Nablus, Samaria, Asia Kecil pada permulaan abad kedua kira-kira pada kurun waktu kematiannya Santo Yohanes Rasul. Yustinus mendapat pendidikan yang baik semenjak kecilnya. Kemudian ia tertarik pada pelajaran falsafah untuk memperoleh kepastian tentang makna hidup ini dan tentang Allah. Suatu ketika ia berjalan-jalan di tepi pantai sambil merenung pelbagai soal. Ia bertemu dengan seorang orang tua. Kepada orang tua itu, Yustinus menanyakan pelbagai persoalan yang sedang dibincangkannya. Orang tua itu menerangkan kepadanya segala hal tentang nabi Israel yang diutus Allah, tentang Yesus Kristus yang diramalkan kepada nabi serta tentang agama Kristen. Ia dinasehati agar berdoa kepada Allah memohon terang surgawi. Di samping falsafah, ia juga belajar Kitab Suci. Ia kemudiannya dipermandikan dan menjadi pembela kekristenan yang tersohor. Sesuai kebiasaan zaman itu, Yustinus pun mengajar di tempat-tempat umum, seperti alun-alun kota, dengan mengenakan pakaian seorang filsuf. Ia juga menulis tentang pelbagai masalah, terutamanya yang mempelajari pembelajaran ajaran iman yang benar. Di sekolahnya di Roma, banyak kali diadakan perdebatan umum guna membuka hati banyak orang bagi kebenaran iman Kristen. Yustinus bangga bahawa ia menjadi seorang Kristen yang saleh, dan ia bertekad meluhurkan kekristenan dengan hidupnya. Dalam bukunya, "Percakapan dengan Truphon Yahudi", Yustinus menulis: "Meski kami orang Kristen dibunuh dengan pedang, disalibkan, atau di buang ke moncong- moncong binatang buas, atau disiksa dengan belenggu api, kami tidak akan murtad dari iman kami. Sebaliknya, semakin hebat penyiksaan, semakin banyak orang demi nama Yesus, bertobat dan menjadi saleh." Di Roma, Yustinus ditangkap dan bersama para martir yang lain dihadapkan kepada penguasa Roma. Setelah banyak disesah, kepala mereka dipenggal. Peristiwa ini terjadi pada tahun 165. Yustinus dikenali sebagai seorang pembela iman terbesar pada zaman Gereja Purba.

Santo Simeon, Pengaku Iman


Simeon menempuh pendidikan di Konstantinopel dan hidup bertapa di tepi sungai Yordan. Lelaki berdarah Yunani ini kemudian menjadi rahib di biara Betlehem dan Gunung Sinai. Ia lebih suka hidup menyendiri dan menetap di seputar Pantai Laut Merah dan di puncak gunung. Namun kemudian pemimpin biara mengutusnya ke Perancis. Setelah menjelajahi berbagai daerah, ia secara sukarela hidup terkunci di dalam sebuah bilik di suatu biara di Trier, Jerman sampai saat kematiannya.


Beato Oliver Plunkett, Uskup Agung dan Martir


Oliver Plunkett lahir di Loughcrew, County Meath, Ireland pada tahun 1629. Pendidikan imamatnya berlangsung di Roma di bawah bimbingan pamannya yang telah lama menjadi imam. Pada tahun 1654, ia ditahbiskan menjadi imam. Karya imamatnya bermula dengan mengajar teologi di Kolose Penyebaran Iman di Roma. Putera kelahiran Ireland ini menjadi seorang imam yang pandai sekali dalam mengajar. Di Roma ia mewakili Uskup-uskup Ireland di Takhta Suci. Pada tarikh 9 Julai 1669, Oliver diangkat menjadi Uskup Agung Armagh dan Primat Ireland. Dalam jabatannya itu Oliver terbukti menjadi seorang pemimpin Gereja yang patut diteladani. Dalam 4 tahun karyanya sebagai uskup, ia telah berjaya memperoleh 48,000 menjadi Katolik. Jumlah ini menunjukkan suatu prestasi yang menakjubkan sekali dalam situasi penganiayaan umat Katolik Ireland semasa itu. Selain giat dalam bidang pewartaan Injil dan Katekase, ia juga giat mengembangkan pendidikan Katolik, mengadakan sinode-sinode untuk mengatur hidup Gereja dan pembangunan iman umat, menabhiskan sejumlah imam dan melaksanakan kegiatan imam-imamnya. Pemimpin Gereja Protestan mula bersahabat dengan Gereja Katolik pada masa kepimpinan Uskup Oliver Plunkett. Di samping kegemilangan yang diraihnya, ada pula banyak rintangan terhadap karyanya. Ia terpaksa tinggal di suatu tempat persembunyian tatkala aksi perlawanan terhadap Gereja Katolik semakin menjadi-jadi. Pada bulan Disember 1678 Uskup Oliver ditangkap dan dipenjarakan kerana tuduhan-tuduhan palsu daripada Titus Oates. Titus menuduh Oliver mengorganisir kepada imam Yesuit untuk melancarkan perlawanan terhadap raja Charles II. Kerana tuduhan ini, Oliver dihadapkan ke mahkamah Ireland pada tahun 1680. Mahkamah tidak berjaya menghukumnya kerana tuduhan itu tidak benar. Oliver kemudian diadili lagi untuk kedua kalinya di hadapan pengadilan Inggeris dengan tuduhan pengkhianatan. Ia dituduh membiayai suatu ekspedisi militer Perancis untuk menyerang Ireland. Oliver yang tidak merasa melakukan hal itu tegas menolak tuduhan itu. Tetapi pihak mahkamah menjatuhkan hukuman atas diri Oliver tanpa ampun. Uskup Oliver adalah salah satu tokoh Katolik terakhir yang mati digantung di Inggeris kerana imannya dan perjuangannya menyebarkan iman Katolik. Kematiannya pada tanggal 11 Julai 1681 menandai akhir suatu abad penganiayaan terhadap umat Katolik di Inggeris.

Santo Teodorikus, Abbas


Teodorikus lahir di Menancourt, dekat Rheims, Perancis Selatan pada pertengahan abad V. Ketika menanjak dewasa, ia dipaksa mengawini seorang gadis yang disenangi oleh keluarganya. Teodorikus, karena rasa hormatnya yang tinggi kepada orang-tuanya , mengikuti saja keinginan mereka.
Tetapi setelah beberapa lama hidup bersama wanita itu sebagai suami-istri, dengan izin istrinya, Teodorikus meninggalkan keluarganya dan menjadi seorang calon imam di Rheims. Santo Remigius, uskup kota itu, menabhiskan dia menjadi imam dan mengangkatnya sebagai pimpinan komunitas biara Mont d'Or (= Gunung Emas) di Champagne.
Dibawah kepemimpinannya, biara Mont d'Or menjadi suatu pusat kegiatan keagamaan yang terkenal. Banyak orang yang berkunjung ke biara itu diteguhkan imannya setelah mendengar khotbah-khotbah Teodorikus. Setelah kematiannya pada tahun 533, penghormatan kepada Teodorikus tersebar diseluruh negara Perancis. Santo Teodorikus disebut juga dengan nama Santo Thierry.


Santo Pambo, Pertapa


Semenjak masa mudanya Pambo mengasingkan diri ke sebuah tempat pertapaan di gurun pasir Mesir. Hidupnya keras, sederhana dan serba kekurangan. Karena dia tidak pandai membaca, ia berguru pada seorang pertapa lain dalam hal membaca dan menghafal ayat-ayat Mazmur. Selain tidak pandai membaca, Pambo juga dikenal sebagai seorang pertapa yang tidak suka banyak bicara. Namun ia dikenal sebagai pembimbing rohani yang disenangi.
Apabila orang meminta nasehat dan bimbingan mengenai suatu soal kerohanian, Pambo selalu meminta waktu terlebih dahulu untuk merenung dan berdoa. Maksudnya agar dia bisa memberi jawaban yang benar dan memuaskan sesuai dengan kehendak Allah. Santo Athanasius, Uskup Aleksandria, yang kagum akan kesalehan hidup Pambo, mengundang dia ke Aleksandria untuk memberi kesaksian tentang ke-Allah-an Kristus, berhadapan dengan ajaran sesat Arianisme yang merajalela di kalangan umat.
Kepada rekan-rekannya, Pambo mengatakan: "Berpuasa dan memberi derma dari hasil keringat sendiri amatlah mulia, namun itu belumlah cukup untuk menjadi seorang rahib yang berkenan kepada Allah". Pambo meninggal dunia pada tahun 390.


Santo Simeon Salos, Pengaku Iman


Simeon dijuluki 'Si Gila' (= ho Salos; Yun) sebab setelah bertapa selama 29 tahun di gurun dekat Laut Mati dan pulang ke Homs (Siria) ia bertingkah seperti orang gila. Maksudnya supaya dia dianggap hina dan dapat berkawan dengan orang-orang yang paling dikucilkan masyarakat (gelandangan, orang lumpuh, pelacur, dan lain-lain). Sikap seperti ini masih dihargai dan ditiru oleh sementara biarawan di Rusia.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

No comments:

Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Bab 20

  Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Abraham dan Abimelekh Bab 20 Kej 20:1 Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia...