Popular Posts

Thursday, February 29, 2024

9 Julai Santa Veronika dari Binasko, Perawan, Santo Adrian Fortoscue, Martir dan Kesembilan Belas Martir kota Gorkum

Santa Veronika dari Binasko, Perawan


Veronica adalah seorang gadis desa dan anak petani sederhana di sebuah desa dekat kota Milano. Ia mempunyai bakat dan bawaan yang luar biasa untuk mengerjakan segala macam pekerjaan, termasuk pekerjaan-pekerjaan yang dianggap tak berarti. Tugas-tugas yang diserahkan kepadanya selalu diselesaikannya dengan baik dan penuh tanggung jawab.
Ia memang tidak tahu membaca dan menulis namun terbuka kepada Allah dan kokoh imannya. Hal ini membuat dia disenangi orang. Hal itu pulalah yang menghantar dia ke pintu gerbang hidup membiara. Gadis desa ini kemudian menjadi suster di biara Santa Martha di kota Milano.
Badannya yang kurang sehat karena ia sering sakit. Meskipun demikian ia tetap rajin melaksanakan setiap tugas yang dibebankan pimpinan kepadanya. Kehidupan rohaninya pun tetap dipeliharanya dengan doa dan Kurban Misa setiap hari. Semboyan hidupnya sederhana: "Saya akan terus bekerja selama saya masih sanggup dan selama masih ada waktu." Cita-citanya yang luhur untuk mengabdi Tuhan dan sesama setulusnya, mendorong dia untuk melakukan setiap pekerjaan dengan ujud yang murni. Ia tampak sabar dan tabah serta ramah kepada rekan-rekannya.
Kebiasaannya merenungkan sengsara Kristus memberi dia penghiburan dalam semua pengalamannya yang pahit. Akhirnya ia meninggal dunia dengan tenang pada tahun 1497.


Santo Adrian Fortoscue, Martir


Adrian lahir pada tahun 1476. Beliau adalah seorang perwira ordo Malta dan keponakan istri kedua Henry VIII. Karena tidak mengakui Raja Henry VIII sebagai kepala Gereja di Inggris, ia dipenggal di Tower, London pada tahun 1539.


Kesembilan Belas Martir kota Gorkum


Pada tanggal 26 Juni 1572 kota Gorkum jatuh ke tangan para bajak laut Belanda yang beragama Protestan. Penduduk memang mendapat jaminan keselamatan dan keamanan hidupnya, namun para imam dan biarawan tahu dan insyaf bahawa mereka akan mengalami banyak hambatan dalam karyanya, bahkan terancam juga hidup mereka. Untuk itu mereka seyogianya bersedia dan menanggung segala akibat buruk dari pendudukan itu. Mereka menyiapkan batin dengan mengaku dosa-dosanya dan menerima Komuni Kudus. Betullah dugaan mereka.

Para bajak laut itu segera menangkap dan memenjarakan mereka. Selama delapan hari mereka diadili dan disiksa. Di antara mereka terdapat dua orang Pastor Gorkum, yakni Pater Leonardus Vechel dan Pater Nikolas Poppel. Bersama mereka ada juga 9 orang imam dan 2 orang bruder Ordo Saudara-saudara Dina Santo Fransiskus, di bawah pimpinan Pater Nikolas Pieck. Beberapa hari kemudian ditangkap lagi Pastor Joanes, seorang imam Dominikan disebuah desa tak jauh dari Gorkum, seorang imam dan dua orang bruder Tarekat Santo Norbertus.

Pada tanggal 6 Juli para rohaniwan itu dibawa dengan kapal ke kota Brielle. Sepanjang perjalanan mereka terus disiksa dan tidak diberi makan. Keesokan harinya kapal itu berlabuh di pelabuhan Brielle. Lumey, kepala komplotan bajak laut itu datang menjemput mereka di pelabuhan. Mereka diolok-olok dan diarak menuju tiang gantungan yang sudah disiapkan di pasar. Mereka ditanyai perihal ketaatannya kepada Sri Paus di Roma dan imannya akan kehadiran Kristus di dalam Sakramen MahaKudus. Atas pertanyaan Lumey, seorang Bruder Fransiskan dengan tegas menjawab: "Saya meyakini semua yang diajarkan Gereja Katolik dan dipercayai oleh pemimpin biaraku."
Pater Nikolas Pieck, pemimpin biara Fransiskan itu dibebaskan karena keseganan para bajak laut itu terhadapnya. Tetapi Pater Nikolas sendiri tidak tega hati membiarkan rekan-rekannya disiksa. Ia menolak meninggalkan saudara-saudaranya sendirian menanggung penderitaan karena imannya. Lumey membujuk mereka untuk meninggalkan imannya dan menyangkal kepemimpinan Sri Paus atas Gereja. Namun usahanya ini sia-sia saja. Para martir itu dengan gigih mempertahankan imannya dan rela mati demi imannya.
Lumey yang sudah hilang kesabarannya itu segera memerintahkan anak buahnya untuk menggantung para martir itu ditiang gantungan. Seorang imam tua yang sudah berusia 70 tahun mendapat giliran terakhir. Para penjahat itu bimbang dan bermaksud melepaskan imam tua itu. Tetapi imam tua itu dengan senang hati menyerahkan diri untuk digantung agar dapat mati bersama saudara-saudaranya yang lain.
Demikianlah kesembilanbelas martir itu menjadi korban kebencian kaum Protestan Calvinis Belanda pada tanggal 9 Juli 1672, karena imannya akan kehadiran Kristus dalam Sakramen MahaKudus dan kesetiaannya kepada Sri Paus di Roma sebagai pemimpin Gereja.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Tuesday, February 27, 2024

Nuestra Senora del Pilar (Our Lady of the Pillar)

Nuestra Senora del Pilar (Our Lady of the Pillar).

Hari Pesta: October 12

Penampakan Maria yang pertama dalam sejarah muncul kepada Saint James the Apostle (Santo Yakobus), saudara kepada Saint John the Evangelist (Santo Yohanes), di tebing sungai Ebro di Saragossa, Sepanyol. Tidak seperti penampakan lain yang direkodkan, penampakan ini berlaku semasa kehidupan di dunia Bunda Maria, Bunda Allah.

Menurut tradisi, Bunda Maria telah berjanji kepada Saint James bahawa apabila dia sangat memerlukannya dalam misi sukarnya kepada orang-orang kafir di Sepanyol hari ini, dia akan muncul kepadanya untuk mendorongnya.

Pada tahun 40 A.D semasa berdoa pada suatu malam di tebing tobrt, Perawan Suci Maria muncul dengan Kanak-kanak Yesus berdiri di atas tiang dan meminta Saint James dan lapan muridnya untuk membina sebuah gereja di tapak itu dan berjanji bahawa “Ia akan berdiri dari saat itu hingga akhir zaman agar Tuhan dapat melakukan mukjizat dan keajaiban melalui doa permohonan pengantaraanku untuk semua orang yang menempatkan diri mereka di bawah perlindunganku.”

Gereja Our Lady of the Pilar di Zaragoza, adalah gereja pertama yang didedikasikan untuk Bunda Maria dalam sejarah dan ia kekal berdiri sehingga hari ini, setelah terselamat daripada pencerobohan dan peperangan - dalam Perang Saudara Sepanyol pada tahun 1936-1939 tiga bom telah dijatuhkan ke atas gereja dan tiada satu pun yang meletup. Bunda Maria juga dikatakan telah memberikan patung kayu kecil penampakan itu kepada Saint James yang kini berdiri di atas tiang di gereja.

Nuestra Señora del Pilar ialah pelindung bagi Sepanyol dan semua orang di Hispanik. Pada tahun 12 Oktober 1492, perayaan Virgin of the Pillar, adalah hari Christopher Colombus pertama kali melihat tanah Amerika, dan juga bila Misa pertama di Amerika dirayakan.

Perayaan Our Lady of the Pillar disambut pada 12 Oktober dan dia adalah Pelindung bagi orang Hispanik dan Spanish Civil Guard. Perayaan besar sembilan hari yang dikenali sebagai Fiestas del Pilar disambut di Saragossa (Zaragoza) setiap tahun sebagai penghormatan kepada Our Lady of the Pillar. Fiestas del Pilar moden seperti yang dibangunkan sejak abad ke-19, bermula pada hujung minggu sebelum 12 Oktober dan berakhir pada hari Ahad selepas 12 Oktober (iaitu berpindah tarikh di antara 5–13 dan 11–19 Oktober). Pesta ini juga telah diisytiharkan sebagai "national holiday of touristic interest" (Fiesta de Interés Turístico Nacional) oleh Ministerio de Comercio y Turismo pada tahun 1980.

Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia

Quomodo fiat Sanctus (Benedictus et Sanctus) Come diventare Santi (Beati e Santi)

Quomodo fiat Sanctus (Benedictus et Sanctus).


Deus omnes sanctos vocat. Uno modo, omnes homines in communione cum Ecclesia sancti sunt (CCC 946-948). Quilibet, etiam acatholicus, sanctus esse potest si gratiam sanctificantem habeant per donum inhabitationis Spiritus Sancti. Sanctus est omnis homo, qui in caelo cum Deo residet.

Sed quid de canone Sanctorum? Hoc est, eos homines quos Ecclesia agnoscit, veneratione et imitatione dignos esse? Ecclesia eos canonizat qui eximiae sanctitatis et virtutis vita vixerunt. Martyres quoque canonizat Ecclesia. Martyrium significat vitam suam fidei testem dare.

Canonizationis est processus formalis inquisitionis et agnitionis sanctorum. Singuli canonizati noti fiunt “Sancti”.


Ut patet, canonizatio hominem sanctum non facit. Solus Deus hominem sanctum facere potest. Canonizatio sanctitatis est agnitio. Statutum est quod inquisitores semel ab Ecclesia facta probationes colligent ad probandum hominem esse in caelo cum Deo.

Primus canonizationis gradus est tempus exspectans. Ecclesia post quinquennium debet transire a morte candidati. Cum homo perit, reprehensores eorum saepe ob reverentiam tacent. Motus experientia mortis influere potest habitus. Interstitium tempus patitur ut sensus desinat, ut ratio processum gubernet. Facilius est in occulto hominis vitam intelligere quam in dies post eorum transitum. In aliquibus casibus extraordinariis, Papa potest hanc moram moram facere.


Primus gradus est actor petens postulatorem in dioecesi candidato. Actor est qui de iure canonico coram Ecclesia agit. Postulator est qui primum canonizationis processum curat et regit. Postulator ab Episcopo dioecesano rogabit ut causam canonizationis aperiat. Vel aliter, episcopus ipse causam aperit. Causa aperta, candidatus canonizationis tamquam servus Dei refertur.

Episcopus suum opus incipit consulendo dioecesis fideles. Rem etiam coram Episcoporum conferentia deducet. Si nihil significantes obiectiones invenerit, servum Dei Sanctae Sedi exhibebit. Sancta Sedes "nihil obstat", id quod causam canonizationis non recusat, concedere.

Peracta Apostolica Sede licentia procedendi, Episcopus tribunal debet. Tribunal testimoniis colligendis incipit quomodo servus Dei vixit. Testes vocare possunt dum vitae hominis student. Eorum finis est ut testimonium perhibeat homo vitam sanctitatis et virtutis heroicae degere. Tribunal documenta cardinalium virtutum prudentiae, iustitiae, temperantiae et fortitudinis exspectabit, specificas eorum status in vita. Inventiones suas Episcopus Congregationi de Causis Sanctorum submittet.


Congregatio de Causis Sanctorum ad curiam Vaticanam pertinet. Congregatio e Civitate Vaticana Romae operatur. Congregatio nominat Relatorem ad postulatorem substituendum. Ex hoc loco, relator causam habebit.

Relator incipit colligendo omnia argumenta in casu. Propositum est probare servi Dei virtutem heroicam exercuisse vel martyrium passum esse. Relator deinde relationem "Posito" vocatam submittit.

Deinceps turma novem theologorum Posito student. Singuli suffragium habent utrum candidatus vitam heroicam vixerit an martyrium passus sit. Causa ad proximum gradum procedit si maior pars consentiat.

Causa dein subicitur novem Episcopis et Cardinalibus Congregationem constituentibus. Item suffragium ferant et, si causa transierit, Praefectus Congregationis relationem Romano Pontifici exhibeat.


Pontifex omnia a Praefecto exarata recognoscet. Si consenserit, licentiam dabit tunc Congregationi speciale decretum conficiendi. Decretum declarabit coram Ecclesia hominem vel venerabilem vel beatum esse.

Omnes servi Dei venerabiles fiunt nisi martyrium patiantur. Specialis causa sunt martyres, cum pro fide mortui sint. Beatos vero eos Congregatio decernit, quia martyres sine mora in coelum eunt.

Venerabilis significat Papa heroicam hominis virtutem agnoscit, sed nondum beati sunt. Sequamur exemplo venerabilium personarum. Beatus dicitur qui beatur. Beatificatio est agnitio quod homo in caelo est, et intercedat pro vivis in terris.

Ecclesia testimoniis indiget ut cognoscat si homo venerabilis in caelis est. Miracula documenta praebent Ecclesiae necessitates.

Miracula omni tempore fiunt, et sæpe fiunt, quia postulavit intercessio. Miraculorum plura genera. Investigare potest Ecclesia quando miraculum venerandae vel benedictae intercessioni tribuitur.


Cognitio rigorosa. Ecclesia commissio severam inquisitionem faciet. Ecclesia probationes colligit et testes ac peritos convocabit. In pluribus commissio naturalem et scientificam explicationem invenit. Aliquando vero commissio eventum supernaturalem invenit, quem nemo explicare potest. Tales eventus sunt miracula supernaturalia. Haec autem miracula omni tempore fiunt, non semper investigantur.

Si intercessio constat in miraculo, Ecclesia decretum ferat. Si est venerabilis, papa nunc dicet beatum. Hoc modo testimonio venera- bilis est in celo, et intercedat coram Deo pro fidelibus in terra.

Pro beatis unum miraculum sufficit ad eorum sanctitatem decernendam. Ecclesia secundum miraculum requirit venera- bilem, ut certum sit de eorum sanctitate.

Postquam Ecclesia miraculum beato tribuit homini, canonizatio sequetur. Pontifex processus beatos annuntians nunc partem canonis sanctorum concludet.


Come diventare Santi (Beati e Santi)


Dio chiama tutti gli uomini a essere santi. In un certo senso, tutte le persone in comunione con la Chiesa sono sante (CCC 946-948). Chiunque, anche un non cattolico, può essere santo se possiede la grazia santificante attraverso il dono della dimora dello Spirito Santo. Un santo è qualsiasi persona che risiede in cielo con Dio.

Ma che dire del canone dei Santi? Cioè quegli individui che la Chiesa riconosce degni di venerazione e di imitazione? La Chiesa canonizza coloro che hanno vissuto una vita di eccezionale santità e virtù. La Chiesa canonizza anche i martiri. Martirio significa donare la propria vita come testimonianza della fede.

La canonizzazione è il processo di indagine formale e di riconoscimento dei santi. Gli individui canonizzati diventano noti come "Santi".


Per essere chiari, la canonizzazione non rende una persona santa. Solo Dio può rendere una persona santa. La canonizzazione è un riconoscimento della santità. Si tratta di un decreto emanato dalla Chiesa una volta che gli investigatori raccolgono le prove per dimostrare che una persona è in paradiso con Dio.

Il primo passo verso la canonizzazione è un periodo di attesa. La Chiesa richiede che passino cinque anni dalla morte del candidato. Quando una persona muore, i suoi critici spesso tacciono, in segno di rispetto. L’esperienza emotiva della morte può influenzare gli atteggiamenti. Il periodo di attesa consente ai sentimenti di placarsi, quindi la ragione può governare il processo. È più facile comprendere la vita di una persona col senno di poi che nei giorni successivi alla sua scomparsa. In alcuni casi eccezionali, il papa può rinunciare a questo periodo di attesa.


Il primo passo prevede che il richiedente cerchi un postulatore nella diocesi del candidato. Il ricorrente è colui che porta davanti alla Chiesa una questione di diritto canonico. Un postulatore è una persona che supervisiona e guida il processo iniziale di canonizzazione. Il postulatore chiederà al vescovo diocesano di aprire la causa di canonizzazione. In alternativa, un vescovo può aprire lui stesso una causa. Una volta aperta la causa, il candidato alla canonizzazione viene definito “servo di Dio”.

Il vescovo inizia il suo lavoro consultando i fedeli della diocesi. Porterà la questione anche davanti alla sua conferenza episcopale. Se non troverà obiezioni significative, presenterà il servo di Dio alla Santa Sede. La Santa Sede può concedere il “nihil obstat”, cioè non si oppone alla causa di canonizzazione.

Dopo che la Santa Sede avrà concesso il permesso di procedere, il vescovo dovrà costituire un tribunale. Il tribunale inizia raccogliendo le prove di come ha vissuto il servo di Dio. Possono chiamare testimoni mentre studiano la vita della persona. Il loro scopo è trovare prove che la persona abbia vissuto una vita di santità e virtù eroiche. Il tribunale cercherà prove delle virtù cardinali di prudenza, giustizia, temperanza e fortezza, specifiche del loro stato di vita. Il vescovo presenterà i suoi risultati alla Congregazione delle Cause dei Santi.


Fa parte della curia vaticana la Congregazione delle Cause dei Santi. La Congregazione opera nella Città del Vaticano, a Roma. In sostituzione del postulatore la Congregazione nominerà una persona denominata relatore. Da questo momento in poi il relatore si occuperà del caso.

Il relatore comincia raccogliendo tutte le prove del caso. Il loro obiettivo è dimostrare che il servo di Dio ha esercitato virtù eroiche o ha subito il martirio. Il relatore presenta quindi una relazione chiamata "Posito".

Successivamente, il team di nove teologi studia il Posito. Ciascuno vota se il candidato ha vissuto una vita eroica o ha subito il martirio. Se la maggioranza è d'accordo, la causa procede al passo successivo.

La causa viene poi sottoposta ai nove vescovi e cardinali che compongono la Congregazione. Anche loro votano e, se la causa passa, il prefetto della Congregazione presenterà una relazione al papa.


Il papa esaminerà tutto quanto presentato dal prefetto. Se sarà d'accordo, darà il permesso alla Congregazione di redigere un apposito decreto. Il decreto dichiarerà davanti alla Chiesa che una persona è venerabile o beata.

Tutti i servi di Dio diventano venerabili a meno che non subiscano il martirio. I martiri sono un caso speciale, poiché sono morti per la fede. La Congregazione li decreta invece beati perché martiri vanno al cielo senza indugio.

Venerabile significa che il papa riconosce le virtù eroiche di una persona, ma non è ancora beata. Dovremmo seguire l'esempio delle persone venerabili. Beato si riferisce a una persona che è beatificata. La beatificazione è il riconoscimento che una persona è in cielo e può intercedere per i vivi sulla Terra.

La Chiesa ha bisogno di prove per sapere se una persona venerabile è in paradiso. I miracoli forniscono le prove di cui la Chiesa ha bisogno.

I miracoli accadono continuamente e spesso accadono perché una persona ha chiesto l'intercessione. Ci sono molti tipi di miracoli che possono verificarsi. La Chiesa può indagare quando un miracolo è attribuito all'intercessione di un venerabile o di un beato.


L'indagine è rigorosa. Una commissione della Chiesa svolgerà un'indagine rigorosa. La Chiesa raccoglierà le prove e chiamerà testimoni ed esperti. Nella maggior parte dei casi la commissione trova una spiegazione naturale e scientifica. Ma a volte la commissione riscontra un evento soprannaturale, che nessuno riesce a spiegare. Tali eventi sono miracoli soprannaturali. Sebbene tali miracoli accadano continuamente, non sempre vengono indagati.

Se nel miracolo è evidente l'intercessione, la Chiesa può emanare un decreto. Se la persona è venerabile, il papa ora la dichiarerà beata. Ciò significa che ci sono prove che il venerabile è in cielo e può intercedere davanti a Dio per conto dei fedeli sulla Terra.

Ai beati basta un miracolo per decretarne la santità. La Chiesa esige un secondo miracolo dai venerabili, per avere la certezza della loro santità.

Una volta che la Chiesa attribuisce un miracolo a una persona beata, ne seguirà la canonizzazione. Il papa concluderà il processo annunciando che il beato fa ormai parte del canone dei santi.


Riferimenti;

Se c'è una lingua o una parola errata e poco chiara per questo uso dell'italiano, per favore correggimi l'ordine corretto delle frasi qui. Grazie.


Editio;

Si qua in usu linguae vel verbi vel linguae Latinae falsae sint, corrigas sententiam ut me hic corrigas. Gratias tibi.


Paratus ac renovatus ab, 

Preparato e aggiornato da: 

Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Sunday, February 18, 2024

8 Julai Santo Adrianus III, Paus dan Santo Prokopius, Martir

Santo Adrianus III, Paus


Adrianus lahir dari sebuah keluarga berkebangsaan Romawi. Kisah masa mudanya tidak diketahui pasti. Ia menjadi Paus pada tanggal 17 Mei 884 dan memimpin Gereja sampai tahun berikutnya 885. Masa kePausannya yang begitu singkat diliputi berbagai kesulitan dan masalah karena merajalelanya perampokan dan kelaparan di seluruh kota Roma. Selain harus berusaha keras untuk menindas aksi-aksi kejahatan, ia juga berusaha keras meringankan beban penderitaan umat Roma akibat kelaparan hebat itu.
Pada tahun 885, ia diundang oleh seorang Kaisar Romawi Suci, Charles III (881-887), untuk menghadiri perjamuan bersama di Worms, Jerman Barat. Pada kesempatan perjamuan itu dibicarakan juga soal pergantian tahkta kekaisaran dan meningkatkan bahaya serangan suku bangsa Saracen dari Timur. Dalam perjalanan ke Worms itu, ia meninggal dunia di Modena, Italia Utara. Jenazahnya dikebumikan di gereja Santo Silvester Nonantola, dekat Modena.


Santo Prokopius, Martir


Penduduk asli Yerusalem ini menjadi lektor dan pengusir roh-roh jahat. Ia amat sederhana dan rendah hati, sehingga penduduk di sekitarnya sangat menghormati dia. Pada awal masa penganiayaan umat Kristen oleh Kaisar Diokletianus, ia dipaksa memuja berhala oleh kaisar. Tetapi Prokopius menjawab: "Tidaklah baik mengabdi kepada beberapa tuan. Aku hanya mengenal satu Kepala, satu Raja, yakni Kristus". Karena ketegasannya ini, ia dipenggal.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

7 Julai Santo Odo, Abbas

Santo Odo, Abbas


Odo lahir sebagai karunia khusus dari Allah. Ayahnya-seorang perwira militer Prancis-terus berdoa memohon dari Tuhan seorang anak laki-laki. Dan Tuhan mengabulkan permohonannya dengan mengaruniakan Odo kepadanya.

Ketika dipermandikan, sang ayah mempersembahkan Odo kepada perlindungan Santo Martinus dari Tours. Sepanjang hidupnya, Odo menaruh hormat dan devosi khusus kepada Santo Martinus. Ayahnya menginginkan Odo menjadi seorang ksatria yang tangkas menggunakan pedang. Tetapi Tuhan merencanakan sesuatu yang lain dari kehendak ayahnya.

Kesehatan Odo yang terus terganggu dan karena itu tidak layak untuk menjalani hidup kemiliteran, menjadi suatu alasan kuat baginya untuk menolak rencana ayahnya. Sementara itu keinginannya untuk menjadi seorang imam semakin membara. Akhirnya ia secara terbuka mengatakan keinginan dan cita-citanya itu kepada ayahnya. Lalu dengan restu ayahnya, Odo berangkat ke Tours untuk menjalani pendidikan imamat.

Odo masuk ordo Santo Benediktus. Pada tahun 927, ia dipilih menjadi Abbas di biara Cluni. Sebagai pemimpin biara, ia bersikap tegas dalam hal pelaksanaan aturan-aturan hidup membiara, tetapi bijaksana dan lembut kepada rekan-rekan sebiara. Ia pun tetap menjadi seorang pengagum Santo Martinus dengan devosi-devosinya.
Ia pergi ke Roma dan di sana ia jatuh sakit. Ia segera kembali ke Tours, karena keinginannya untuk meninggal di sana dan dikuburkan di samping Santo Martinus. Ia tiba di Tours tepat pada pesta Santo Martinus. Setelah menyiapkan diri selama beberapa hari, Odo meninggal pada tahun 18 November 942.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Thursday, February 15, 2024

5 Julai Santo Antonius Maria Zakaria, Pengaku Iman

Santo Antonius Maria Zakaria, Pengaku Iman


Hidup santo Antonius sangat singkat namun benar-benar dihayati dan diisi dengan berbagai perbuatan amal-kasih dan karya-karya demi menegakkan martabat Gereja dan kemuliaan Kristus. Ia lahir di Cremona, Italia Utara pada tahun 1502. Ketika menginjak usia remaja, orang-tuanya menyekolahkan dia di kota kelahirannya. Ia kemudian melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Padua. Setelah menamatkan studinya, ia kembali bekerja di Cremona. Sebagai seorang dokter, ia berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan banyak orang sakit. Di samping itu, sebagai cendekiawan beriman, ia memberi nasehat-nasehat rohani kepada orang-orang yang dirawatnya dan mengajak mereka untuk berdoa bersama. Antonius selalu berusaha agar mereka yang mendekati ajalnya sedapat mungkin meninggal dunia dengan tenang dalam keadaan ber-rahmat. Semua orang terutama para pasiennya sangat menyayangi dia karena semangat pengorbanannya yang tak kenal lelah.

Sementara itu, minatnya untuk mengabdikan diri semata-mata pada Tuhan dan sesama semakin kuat dalam hatinya. Ia sadar bahwa Tuhan memanggilnya untuk suatu tugas suci bagi kemuliaan nama-Nya. Untuk itu, Antonius belajar teologi untuk lebih dalam mengenal ajaran-ajaran iman. Ia kemudian ditahbiskan menjadi imam dan berkarya di tempat asalnya. Semangat pengabdiannya dibakar oleh cinta kasihnya yang tulus kepada Allah dan sesama dan dihiasi semangat hidup miskin dan tapa.

Situasi Gereja pada zaman itu tidaklah menyenangkan. Banyak umat hidup tidak sesuai dengan imannya. Demikian juga banyak imam. Setelah beberapa tahun bekerja di Cremona, ia pindah ke Milano. Rencananya sederhana namun jelas dan terang, yakni merasul dengan keteladanan hidup yang baik dan suci demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan umat. Umat mengembalikan imam-imam kepada penghayatan panggilan imamatnya secara murni, Antonius memprakarsai pertemuan rohani berkala dengan imam-imam. Sedangkan untuk mengembalikan semangat iman umat, ia menggalakkan usaha pengajaran iman bagi umat.

Bersama dua orang rekannya: Bartolomeus Ferrari (seorang ahli ilmu hukum) dan Yakoppo Antonius Morigia (seorang ahli ilmu pasti), Antonius mendirikan sebuah tarekat apostolis. Anggota-anggota dari tarekat baru ini mengikuti jejak rasul Paulus. Aturan hidup mereka didasarkan pada Surat-surat Santo Paulus. Oleh karena itu, mereka dinamakan Imam-imam Reguler Santo Paulus. Mereka juga dinamakan Imam-imam Bernabit, karena Gereja Paroki mereka di Milano berpelindungkan Santo Barnabas. Tarekat mereka ini menyelenggarakan juga pendidikan keterampilan untuk para pemudi dan menggerakkan mereka untuk melakukan karya-karya karitatif bagi orang-orang miskin dan terlantar. Dalam usaha pendidikan ini, Antonius dibantu oleh Datu Teralli, seorang janda yang bersemangat rasul. Dari taman pendidikan ini lahirlah kemudian Tarekat Suster-suster Angelika.

Semangat pengabdian Antonius pada sesama tampak jelas ketika kota Milano diserang wabah penyakit Pes, yang menelan banyak jiwa. Dalam situasi ini, Antonius bersama imam-imamnya dan puteri-puteri asuhannya tanpa mengenal lelah merawat para korban penyakit ganas itu. Mereka bahkan pergi jauh ke luar kota untuk menolong para korban penyakit itu sambil mewartakan Sabda Tuhan.
Antonius dikenal luas dikalangan rekan-rekannya sebagai seorang imam yang sederhana dan suci hidupnya. Ia lebih senang tetap menjadi seorang imam biasa agar lebih bebas untuk melayani umat. Oleh karena itu jabatan superior jenderal untuk tarekatnya dipercayakan kepada orang lain. Ia meninggal dunia pada tahun 1539 dalam usia 37 tahun. Dalam usia semuda itu, tenaganya benar-benar terkuras habis demi kemuliaan Tuhan dan martabat Gereja. Oleh Paus Pius IX (1846-1878), Antonius dinyatakan sebagai 'beato' pada tahun 1849 dan oleh Paus Leo XIII (1878-1903), ia dinyatakan 'Santo' pada tahun 1897.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

4 Julai Santa Elisabeth dari Portugal, Pengaku Iman dan Santo Ulrich atau Ulrikus, Uskup

Santa Elisabeth dari Portugal, Pengaku Iman


Puteri Raja Pedro III dari Aragon dan cucu Santa Elisabeth dari Hungaria ini lahir pada tahun 1271 dan meninggal dunia di Estremoz pada tanggal 4 Juli 1336. Ia dijuluki "Pembawa Damai" karena keberaniannya menghentikan pertikaian antara raja-raja Castile, Aragon dan Portugal pada abad ke-14. Teladan hidupnya di kemudian hari menjadi contoh bagi para ibu rumah tangga, terlebih-lebih bagi mereka yang mengalami penderitaan batin karena ulah suaminya.
Pada usia 12 tahun ia dinikahkan dengan Raja Dionisius I dari Portugal, seorang raja yang rajin dan adil tetapi bejat dalam pribadinya. Dia cepat cemburu dan tidak mempercayai kesetiaan isterinya, padahal ia sendiri tidak setia dan sering berbuat serong. Meskipun diliputi kebejatan moral suaminya, Elisabeth tetap teguh memegang prinsip-prinsip imannya. Setiap hari ia secara tetap berdoa memohon peneguhan Tuhan. Ia terkenal sebagai seorang permaisuri yang sederhana dalam hal makan-minum dan berpakaian. Kegiatan-kegiatan amalnya luar biasa. Ia membantu wanita-wanita yang tidak kawin, menyiapkan penginapan kepada para peziarah dan mendirikan sejumlah lembaga amal, seperti rumah sakit Coimbra, sebuah tempat penampungan bagi anak-anak yang terlantar, dan sebuah rumah bagi wanita-wanita pendosa yang bertobat. Di samping anak-anak kandungnya sendiri, ia juga merawat dan mendidik anak-anak suaminya yang lahir dari perkawinan gelapnya dengan wanita-wanita lain.
Kesucian hidup Elisabeth dan doa-doanya berhasil meluluhkan kekerasan Dionisius dan menghantarnya kepada pertobatan. Setelah bertobat, Dionisius meninggal dunia pada tahun 1325. Sepeninggal Dionisius, Elisabeth menjadi seorang biarawati dalam Ordo Fransiskan di Coimbra. Sambil terus mengusahakan perdamaian di antara raja-raja Castile, Aragon dan Portugal, Elisabeth akhirnya menghembuskan nafas terakhir ketika sedang dalam suatu perjalanan misi untuk menghentikan suatu konflik yang melibatkan juga puteranya Raja Alfonso IV. Ia dimakamkan di kota Coimbra. Pada tahun 1625, ia digelari 'Kudus' oleh Gereja.


Santo Ulrich atau Ulrikus, Uskup


Uskup dan sahabat Kaisar Jerman ini lahir pada tahun 890. Ia berusaha membangun sebuah tembok batu alam untuk melindungi kota Augsburg, Jerman dari serangan bangsa Hun yang kemudian berhasil dipatahkan oleh tentaranya.
Sebagai uskup, Ulrich mengadakan perjalanan keliling keuskupannya untuk berkhotbah dan meneguhkan iman umatnya, serta menegakkan keadilan. Ia mendirikan sebuah Katedral dan membuka seminari serta mendukung pendirian biara-biara. Di setiap pelosok keuskupannya, ia mendirikan banyak gereja dan kapel supaya umat dapat beribadat dengan baik.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Wednesday, February 14, 2024

3 Julai Santo Thomas, Rasul, Santo Helidorus, Uskup dan Santo Horst atau Horestes, Martir

Santo Thomas, Rasul


Thomas lahir di Galilea dan dikenal sebagai salah seorang dari Keduabelas Rasul Yesus. Perihal tempat dan waktu dia dipilih menjadi Rasul tidak dibeberkan di dalam Injil-injil. Banyak keterangan tentang pribadinya dapat kita temukan di dalam Injil Yohanes. Thomas-yang disebut juga 'Didimus' (artinya: kembar)-adalah seorang nelayan pembantu. Ia tidak memiliki perahu sendiri seperti Petrus dan Andreas. Hidupnya hampir selalu serba kurang. Hal inilah yang membuat dia bersikap selalu hati-hati, bersikap mudah putus asa atau kecewa dan cepat menyangka akan terjadi hal yang buruk atas dirinya. Banyak orang yang mempunyai gambaran yang kurang tepat tentang Thomas. Meskipun demikian, Thomas dikenal berani.

Thomas hadir dalam peristiwa pembangkitan Lazarus dan Perjamuan Terakhir. Di antara kedua belas Rasul, Thomas dikenal sebagai orang yang tidak mudah mempercayai sesuatu. Sikapnya ini terlihat dengan sangat jelas dalam kaitannya dengan peristiwa penampakan Yesus setelah kebangkitanNya (Yoh 20:24-29). Oleh karena itu di kalangan umat sering terdapat gambaran yang kurang baik tentang Thomas. Setiap kali namanya disebut, yang terbayang di benak mereka adalah seorang rasul yang tidak mau percaya kepada sesuatu hal yang belum disaksikannya sendiri.

Ketika Yesus mendengar bahwa Lazarus meninggal dunia, Ia berkeputusan untuk kembali ke Yudea, pada hal baru saja orang mau melempariNya dengan batu di daerah itu. Sesudah para Rasul gagal menahan Yesus, Thomas dengan tegas mengajak: "Mari, kita pergi juga! Biarlah kita mati bersama-sama dengan Dia". Thomas tak mau membiarkan Yesus pergi sendirian menantang bahaya. Thomas seorang yang terus terang, sangat lurus@tidak berniat jahat dan tidak malu-malu menyatakan ketidaktahuannya. Pada Perjamuan Terakhir, ketika Yesus berpamitan, Thomas bertanya dengan polos: "Kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan kesitu?" Keraguan Thomas ini mengundang Yesus untuk menyingkap rahasia Tritunggal yang mendalam itu: "Akulah jalan, Kebenaran dan Hidup. Tak seorang pun datang kepada Bapa tanpa melalui Aku. Kalau kamu mengenal Aku, kamu juga mengenal BapaKu". Sikap ragu-ragu Thomas tampak jelas sekali dalam sikapnya terhadap berita penampakan Yesus kepada para Rasul: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tanganNya dan sebelum aku mencucukkan jariku kedalam lambungNya, sekali-kali aku tidak akan percaya."

Tentang sikap Thomas ini, Santo Agustinus menulis: "Dengan pengakuannya dan dengan menjamah luka Tuhan, ia sudah mengajarkan kepada kita apa yang harus dan patut kita percayai. Ia melihat sesuatu dan percaya sesuatu yang lain. Matanya memandang kemanusiaan Yesus, namun imannya mengakui Ke-Allah-an Yesus, sehingga dengan suara penuh gembira tercampur penyesalan mendalam, ia berseru: Ya Tuhanku dan Allahku".
Kepadanya Yesus bersabda: "Karena kau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya ". Kata-kata Yesus ini masih berkumandang aktual hingga dewasa ini.

Tentang karya kerasulan Thomas sesudah itu, Kitab Suci tak menyebutkan apa-apa lagi. Juga tidak ada sepucuk surat peninggalan Thomas yang sampai kepada kita. Menurut tradisi, yang dibeberkan Santo Ambrosius dan Hieronimus, Thomas menyebarkan kabar gembira ke arah Timur dengan mengikuti jalan para pedagang, yaitu ke Sirya, Armenia, Persia dan India. Dekat Madras, di kota Malaipur, Thomas menerima mahkota kemartirannya. Orang Kristen India Selatan, lebih-lebih di sepanjang pantai Syro-Malabar, percaya bahwa Thomas menobatkan Raja Gondaphur dan bahwa mereka keturunan orang-orang Kristen abad pertama. Thomas mati ditusuk tombak, dan relikiunya masih tetap ada sewaktu makamnya dibuka kembali pada tahun 1523.


Santo Helidorus, Uskup


Helidorus lahir pada tahun 330. Ketika berziarah ke Yerusalem, ia bertemu dengan Santo Hieronimus dan menjalin persahabatan yang baik dengannya. Ajakan Hieronimus untuk bersama-sama tinggal di padang gurun ditolaknya. Helidorus kemudian pulang dan menjadi Uskup di Altino, Italia hingga kematiannya pada tahun 407.


Santo Horst atau Horestes, Martir


Bersama tunangannya, Eufemia, Horst menjadi pemimpin pemuda-pemudi Katolik di Byzantium (=Istanbul). Kegiatan mereka membimbing para muda-mudi ini menimbulkan amarah pihak pemimpin masyarakat dan semua orang lain yang tidak menyukai Gereja Katolik. Ketika ditangkap dan ditanyai, dengan terus terang mereka mengaku beriman Kristen, sehingga bersama muda-mudi lainnya, mereka dibunuh pada tahun 304.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Tuesday, February 13, 2024

Bagaimana untuk menjadi seorang Santo dan Santa Gereja Roman Katolik

Bagaimana untuk menjadi seorang Santo dan Santa Gereja Roman Katolik.

Tuhan memanggil semua orang untuk menjadi orang kudus. Dalam satu pengertian, semua orang dalam persekutuan dengan Gereja adalah orang-orang kudus (Katekismus Gereja Katolik 946-948).
946 Sesudah pengakuan akan "Gereja Katolik yang kudus" menyusul dalam syahadat "persekutuan para kudus". Artikel iman ini dalam arti tertentu 
adalah pengembangan dari yang terdahulu: "Apa itu Gereja, kalau bukan perhimpunan semua orang kudus?" (Niketas, symb. 10). Persekutuan para 
kudus itu adalah Gereja.
947 "Karena semua kaum beriman membentuk satu Tubuh saja, maka harta milik dari yang satu disampaikan kepada yang lain... Dengan demikian 
orang harus percaya... bahwa di dalam Gereja ada pemilikan bersama... Yang paling utama dari semua anggota Gereja adalah Kristus, karena Ia 
adalah Kepala... Jadi milik Kristus dibagi-bagikan kepada semua anggota, dan pembagian ini terjadi oleh Sakramen-Sakramen Gereja" (Tomas Aqu., symb. 10). "Kesatuan Roh, yang olehnya [Gereja] dibimbing, mengakibatkan bahwa apa yang telah ia terima, menjadi milik bersama semua orang" (Catech. R. 1, 10,24).
948 Ungkapan "persekutuan para kudus" dengan demikian mempunyai dua arti, yang berhubungan erat satu dengan yang lain: "Persekutuan dalam 
hal-hal kudus" [sancta] dan "persekutuan antara orang-orang kudus" [sancti]. Sancta sanctis, [yang kudus bagi orang-orang kudus] demikian selebran menyerukan dalam kebanyakan liturgi Gereja Timur, apabila ia mengangkat rupa-rupa kudus sebelum pembagian komuni. Umat beriman [sancti] diberi makan tubuh dan darah Kristus [sancta], supaya tumbuh dalam
persekutuan [koinonia] Roh Kudus dan melanjutkannya ke dunia.

Sesiapa sahaja walaupun bukan Katolik boleh menjadi kudus jika mereka memiliki rahmat yang menguduskan melalui karunia Roh Kudus yang berdiam. Orang Kudus ialah sesiapa sahaja yang tinggal di Syurga bersama Tuhan. Tetapi bagaimana dengan kanun Orang Kudus? Maksudnya, individu-individu yang diakui Gereja layak dihormati dan ditiru? Gereja mengkanonisasikan mereka yang telah menjalani kehidupan dengan kekudusan dan kebajikan yang luar biasa. Gereja juga mengkanonisasikan orang yang mati martir. Para Martir ini bermaksud menyerahkan nyawa sebagai saksi iman. Kanonisasi adalah proses penyelidikan formal dan pengiktirafan orang-orang kudus. Individu yang dikanunkan dikenali sebagai "Orang Kudus@Blessed and Saints." Untuk menjadi jelas, kanonisasi tidak menjadikan seseorang seorang kudus. Hanya Tuhan yang boleh menjadikan seseorang itu suci. Kanonisasi adalah pengiktirafan kesucian. Ia adalah dekri yang dibuat oleh Gereja apabila penyelidik@penyiasat mengumpulkan bukti untuk membuktikan seseorang berada di Syurga bersama Tuhan.

Langkah pertama dalam kanonisasi ialah tempoh menunggu. Gereja memerlukan lima tahun mesti berlalu dari kematian calon. Apabila seseorang meninggal dunia, pengkritik mereka sering diam, kerana menghormati. Pengalaman emosi kematian boleh mempengaruhi sikap. Tempoh menunggu membolehkan perasaan reda, jadi sebab boleh mengawal proses. Lebih mudah untuk memahami kehidupan seseorang di belakang daripada pada hari-hari selepas kematian mereka. Dalam beberapa kes luar biasa, Pope kita boleh mengetepikan tempoh menunggu ini. Langkah pertama melibatkan pempetisyen mencari postulator di keuskupan calon. Pemohon adalah orang yang membawa masalah undang-undang kanun ke hadapan Gereja. Postulator ialah orang yang mengawasi dan membimbing proses awal kanonisasi. Postulator akan meminta uskup diosesan untuk membuka sebab untuk kanonisasi. Sebagai alternatif, uskup boleh membuka usaha sendiri. Apabila puncanya terbuka, calon untuk kanonisasi dirujuk sebagai Hamba Tuhan@"Servant of God."

Uskup memulakan kerjanya dengan berunding dengan umat beriman keuskupan. Dia juga akan membawa perkara itu sebelum persidangan episkopalnya. Jika dia tidak mendapati bantahan yang ketara, dia akan menyerahkan hamba Tuhan itu kepada Takhta Suci. Takhta Suci boleh memberikan "nihil obstat," yang bermaksud ia tidak membantah sebab untuk kanonisasi. Selepas Takhta Suci memberikan kebenarannya untuk meneruskan, uskup mesti membentuk tribunal. Tribunal bermula dengan mengumpulkan bukti bagaimana hamba Tuhan itu hidup. Mereka boleh memanggil saksi semasa mereka mengkaji kehidupan orang itu. Tujuan mereka adalah untuk mencari bukti orang itu menjalani kehidupan kekudusan dan kebajikan heroik. Tribunal akan mencari bukti tentang nilai utama kebijaksanaan, keadilan, kesederhanaan, dan ketabahan, khusus untuk keadaan mereka dalam kehidupan. Uskup akan menyerahkan penemuannya kepada Congregation for the Causes of Saints@Dicastery for the Causes of Saints.

"Dicastery for the Causes of Saints" adalah sebahagian daripada kuria Vatican. Kongregasi bekerja di luar Vatican City, di Roma. Kongregasi akan melantik seorang yang dipanggil relator untuk menggantikan postulator. Mulai saat ini relator akan mengambil alih kes itu. Relator bermula dengan mengumpulkan semua bukti dalam kes itu. Matlamat mereka adalah untuk membuktikan hamba Allah menjalankan kebajikan heroik atau mengalami martir. Relator kemudian menyerahkan laporan yang dipanggil "Posito." Seterusnya pasukan sembilan ahli teologi mengkaji Posito. Mereka masing-masing mengundi sama ada calon itu menjalani kehidupan heroik atau mati martir. Puncanya meneruskan ke langkah seterusnya jika majoriti bersetuju ia sepatutnya.

Puncanya kemudian diserahkan kepada sembilan uskup dan kardinal yang membentuk Kongregasi. Mereka juga mengundi dan jika penyebabnya berlalu maka pengawas Kongregasi akan menyerahkan laporan kepada Pope. Kemudian Pope akan menyemak semua yang dikemukakan oleh pengawas. Jika dia bersetuju maka Pope akan memberi kebenarannya kepada Kongregasi untuk menggubal satu dekri khas. Dekri itu akan menyatakan di hadapan Gereja bahawa seseorang itu sama ada dihormati@"venerable" atau diberkati@"blessed". Semua hamba Allah menjadi mulia kecuali mereka mati martir. Para Martir adalah kes yang istimewa kerana mereka telah mati untuk iman. Kongregasi menetapkan mereka diberkati sebaliknya kerana martir ini pergi ke Syurga tanpa berlengah-lengah.

"Venerable" bermaksud Pope mengiktiraf kebajikan heroik seseorang tetapi mereka belum diberkati. Kita harus mengikuti contoh orang yang dihormati. "Blessed" merujuk kepada orang yang dibeatifikasi. Beatifikasi adalah pengiktirafan bahawa seseorang berada di Syurga dan boleh menjadi syafaat bagi yang hidup di bumi. Gereja memerlukan bukti untuk mengetahui sama ada orang yang dihormati@"venerable" berada di Syurga. Mukjizat memberikan bukti yang diperlukan oleh Gereja. Keajaiban berlaku sepanjang masa dan selalunya ia berlaku kerana seseorang telah meminta syafaat. Terdapat pelbagai jenis keajaiban yang mungkin berlaku. Gereja boleh menyiasat apabila mukjizat dikaitkan dengan perantaraan seorang yang dihormati@"venerable" atau yang diberkati@"blessed".

Siasatan adalah ketat. Sebuah komisi Gereja@"A Church commission" akan melakukan penyiasatan@penyelidikan yang rapi. Gereja mengumpulkan bukti dan akan memanggil saksi dan para pakar. Dalam kebanyakan kes komisi mendapat penjelasan saintifik yang semula jadi. Tetapi kadang-kadang komisi itu menemui kejadian ghaib yang tidak dapat dijelaskan oleh sesiapa pun. Peristiwa sedemikian adalah mukjizat keajaiban supranatural. Walaupun keajaiban seperti itu berlaku sepanjang masa ia tidak selalu disiasat. Jika syafaat terbukti dalam mukjizat Gereja boleh mengeluarkan dekri. Jika orang itu dihormati@"venerable", Pope kini akan mengisytiharkan orang itu diberkati@"blessed". Ini bermakna terdapat bukti yang dihormati@"venerable" berada di Syurga dan boleh menjadi syafaat di hadapan Tuhan bagi pihak yang beriman di bumi.

Bagi orang yang diberkati@"blessed", satu keajaiban sudah cukup untuk menentukan kesucian mereka. Gereja memerlukan mukjizat kedua bagi yang dihormati@"venerable" untuk memastikan kekudusan mereka. Sebaik sahaja Gereja mengaitkan keajaiban kepada orang yang diberkati@"venerable" kanonisasi akan mengikuti. Pope akan mengakhiri proses itu dengan mengumumkan orang yang diberkati itu@"venerable" kini sebahagian daripada kanon orang kudus.

Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia

Monday, February 12, 2024

2 Julai Santo Bernardinus Realino, Pengaku Iman, Santo Fransiskus di Girolamo, Imam Santo Yohanes Fransiskus Regis, Imam

Santo Bernardinus Realino, Pengaku Iman


Bernardinus lahir di Carpi, lembah sungai Po, Italia Utara pada tahun 1530. Setelah belajar ilmu kedokteran dan hukum, ia berturut-turut diangkat sebagai walikota di Fellizano, jaksa di Aleksandria dan sekretaris kedutaan Napoli.

Setelah Kloside, istrinya meninggal dunia, ia berkenalan dengan Serikat Yesus di Napoli. Perkenalan itu berawal dari khotbah-khotbah seorang imam Yesuit yang diikutinya dengan rajin. Khotbah-khotbah ini sungguh menarik sehingga ia memutuskan untuk lebih memperhatikan kehidupan rohaninya. Keputusan ini semakin diperkuat oleh penampakan istrinya sebanyak tiga kali dengan pesan supaya ia meninggalkan karier duniawinya. Pesan istrinya itu pun kemudian dikuatkan lagi oleh penampakan Bunda Maria padanya.

Terdorong oleh hal-hal diatas, Bernardinus memutuskan untuk mengajukan permohonan untuk menjadi anggota Serikat Yesus. Permohonannya diterima dan setelah mengikuti suatu pendidikan khusus, Bernardinus ditahbiskan menjadi imam. Selama beberapa tahun ia bekerja di Napoli. Sifatnya yang sopan dan ramah, penuh cinta dan pengertian kepada umatnya menyebabkan dia sangat dicintai oleh umat Napoli. Umat dengan berat hati melepaskan dia ketika dia dipindahkan ke Lecce, Propinsi Apulia, untuk mendirikan sebuah Kolose. Di Kolose Yesuit ini, Bernardinus memberi kuliah filsafat dan teologi. Hingga akhir hidupnya dalam masa kerja selama 42 tahun, Bernardinus menetap di Lecce.

Sebagaimana di Napoli, di Lecce pun Bernardinus sungguh dicintai. Ia menampilkan diri sebagai seorang pewarta iman yang tangguh, pengkhotbah ulung, pembimbing rohani dan bapa pengakuan yang disenangi umat. Kemasyuran namanya bukan saja karena gaya kepemimpinannya yang penuh kesabaran, pengertian dan cinta, tetapi juga lebih-lebih karena kesalehan hidupnya dan mukjizat-mukjizat penyembuhan yang dilakukannya.

Bernardinus sangat akrab dengan anak-anak dan muda-mudi. Ia menjadi penolong dan penghibur yang tidak kenal lelah bagi orang-orang yang malang. Ketika ajalnya mendekat, walikota Lecce mengumpulkan semua pembantunya dan pemimpin-pemimpin masyarakat setempat untuk berdoa bagi keselamatan jiwa Bernardinus. Kepada mereka ia berkata: "Kota kita telah diberkati Allah dengan satu anugerah istimewa, iaitu Paderi Bernardinus Realino. Beliau telah mengabdi kota ini selama 40 tahun dan telah melakukan banyak hal dengan hidupnya yang suci, karunia-karunia dan berbagai mujizat. Setiap orang dari kota ini, juga mereka yang berasal dari kota lain telah menikmati sedikit kebaikan hati Paderi Bernardinus. Oleh karena itu saya mengusulkan agar Paderi Bernardinus diangkat sebagai pelindung kota Lecce."
Ketika tiba saat terakhir hidupnya, Bernardinus berkata kepada para pemimpin masyarakat: "Dari surga kediamanku yang abadi, Aku akan selalu melindungi kota Lecce dan seluruh umat." Bernardinus Realino meninggal dunia pada tanggal 2 Juli 1616.


Santo Fransiskus di Girolamo, Imam


Imam Yesuit ini lahir pada tahun 1642. Ia berkarya sebagai pengkhotbah di sekitar Napoli, Italia. Ia rajin mengunjungi penjara dan mencari orang di tempat-tempat pelacuran dan gang-gang gelap untuk dibina menjadi manusia berguna bagi masyarakat. Khotbah-khotbahnya sungguh menarik dan karenanya ia banyak mentobatkan orang-orang berdosa. Ia pernah mentobatkan seorang wanita yang membunuh ayahnya dan kemudian melarikan diri ke luar negeri menjadi tentara. Fransiskus meninggal dunia pada tahun 1716.


Santo Yohanes Fransiskus Regis, Imam


Yohanes Fransiskus Regis lahir di Fontcourverte, wilayah keuskupan Norbonne, Prancis pada tahun 1579. Ia dididik di Kolose Beziers, milik Serikat Yesus. Pada tahun 1615, ketika berumur 18 tahun, ia masuk Serikat Yesus. Setelah mendapat pendidikan intensif di dalam tarekat itu, ia ditahbiskan menjadi imam pada tahun 1631.
Awal kariernya sebagai imam dimulainya di Languedoc. Wilayah kerja ini tergolong sulit, baik geografiknya maupun penduduknya. Keadaan geografisnya bergunung-gunung, baik di Prancis Tenggara maupun di perbatasan Swiss. Sedangkan penduduknya masih buta huruf, kurang beradab dan kasar tingkah lakunya. Banyak tantangan yang dihadapinya dalam karya pelayanan umat.

Meskipun demikian, Yohanes yang ramah, sopan dan lembut hati ini sungguh kuat pendiriannya dan pantang mundur dalam menghadapi semua kesulitan ini. Ia dengan penuh semangat naik-turun gunung untuk mengajar agama dan melayani Sakramen-sakramen demi membawa mereka kembali kepada Kristus. Pada musim panas, ia bekerja di kota, mengunjungi rumah-rumah sakit dan penjara-penjara. Disana ia mengajar, berkhotbah dan mendengarkan pengakuan. Ia membantu siapa saja yang datang kepadanya meminta bantuan.

Kesuksesannya di Montpellier dan Sommiers mendorong Uskup de la Baume dari Viviers memanfaatkan Yohanes sebaik-baiknya guna melayani umat. Yohanes bekerja keras selama lima tahun di wilayah itu untuk membawa kembali umat kepada penghayatan iman yang benar. Ia berhasil menobatkan sejumlah besar penganut agama Protestan.
Empat tahun terakhir hidupnya, Yohanes tinggal di Velay. Disana ia mendirikan sebuah perkumpulan yang giat dalam karya sosial untuk membantu para miskin. Ia meninggal dunia pada tahun 1640 di La Louvesc.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Saturday, February 10, 2024

1 Julai Santo Yustinus, Martir, Santo Simeon, Pengaku Iman, Beato Oliver Plunkett, Uskup Agung dan Martir, Santo Teodorikus, Abbas, Santo Pambo, Pertapa dan Santo Simeon Salos, Pengaku Iman

Santo Yustinus, Martir


Yustinus lahir dari sebuah keluarga kafir di Nablus, Samaria, Asia Kecil pada permulaan abad kedua kira-kira pada kurun waktu kematiannya Santo Yohanes Rasul. Yustinus mendapat pendidikan yang baik semenjak kecilnya. Kemudian ia tertarik pada pelajaran falsafah untuk memperoleh kepastian tentang makna hidup ini dan tentang Allah. Suatu ketika ia berjalan-jalan di tepi pantai sambil merenung pelbagai soal. Ia bertemu dengan seorang orang tua. Kepada orang tua itu, Yustinus menanyakan pelbagai persoalan yang sedang dibincangkannya. Orang tua itu menerangkan kepadanya segala hal tentang nabi Israel yang diutus Allah, tentang Yesus Kristus yang diramalkan kepada nabi serta tentang agama Kristen. Ia dinasehati agar berdoa kepada Allah memohon terang surgawi. Di samping falsafah, ia juga belajar Kitab Suci. Ia kemudiannya dipermandikan dan menjadi pembela kekristenan yang tersohor. Sesuai kebiasaan zaman itu, Yustinus pun mengajar di tempat-tempat umum, seperti alun-alun kota, dengan mengenakan pakaian seorang filsuf. Ia juga menulis tentang pelbagai masalah, terutamanya yang mempelajari pembelajaran ajaran iman yang benar. Di sekolahnya di Roma, banyak kali diadakan perdebatan umum guna membuka hati banyak orang bagi kebenaran iman Kristen. Yustinus bangga bahawa ia menjadi seorang Kristen yang saleh, dan ia bertekad meluhurkan kekristenan dengan hidupnya. Dalam bukunya, "Percakapan dengan Truphon Yahudi", Yustinus menulis: "Meski kami orang Kristen dibunuh dengan pedang, disalibkan, atau di buang ke moncong- moncong binatang buas, atau disiksa dengan belenggu api, kami tidak akan murtad dari iman kami. Sebaliknya, semakin hebat penyiksaan, semakin banyak orang demi nama Yesus, bertobat dan menjadi saleh." Di Roma, Yustinus ditangkap dan bersama para martir yang lain dihadapkan kepada penguasa Roma. Setelah banyak disesah, kepala mereka dipenggal. Peristiwa ini terjadi pada tahun 165. Yustinus dikenali sebagai seorang pembela iman terbesar pada zaman Gereja Purba.

Santo Simeon, Pengaku Iman


Simeon menempuh pendidikan di Konstantinopel dan hidup bertapa di tepi sungai Yordan. Lelaki berdarah Yunani ini kemudian menjadi rahib di biara Betlehem dan Gunung Sinai. Ia lebih suka hidup menyendiri dan menetap di seputar Pantai Laut Merah dan di puncak gunung. Namun kemudian pemimpin biara mengutusnya ke Perancis. Setelah menjelajahi berbagai daerah, ia secara sukarela hidup terkunci di dalam sebuah bilik di suatu biara di Trier, Jerman sampai saat kematiannya.


Beato Oliver Plunkett, Uskup Agung dan Martir


Oliver Plunkett lahir di Loughcrew, County Meath, Ireland pada tahun 1629. Pendidikan imamatnya berlangsung di Roma di bawah bimbingan pamannya yang telah lama menjadi imam. Pada tahun 1654, ia ditahbiskan menjadi imam. Karya imamatnya bermula dengan mengajar teologi di Kolose Penyebaran Iman di Roma. Putera kelahiran Ireland ini menjadi seorang imam yang pandai sekali dalam mengajar. Di Roma ia mewakili Uskup-uskup Ireland di Takhta Suci. Pada tarikh 9 Julai 1669, Oliver diangkat menjadi Uskup Agung Armagh dan Primat Ireland. Dalam jabatannya itu Oliver terbukti menjadi seorang pemimpin Gereja yang patut diteladani. Dalam 4 tahun karyanya sebagai uskup, ia telah berjaya memperoleh 48,000 menjadi Katolik. Jumlah ini menunjukkan suatu prestasi yang menakjubkan sekali dalam situasi penganiayaan umat Katolik Ireland semasa itu. Selain giat dalam bidang pewartaan Injil dan Katekase, ia juga giat mengembangkan pendidikan Katolik, mengadakan sinode-sinode untuk mengatur hidup Gereja dan pembangunan iman umat, menabhiskan sejumlah imam dan melaksanakan kegiatan imam-imamnya. Pemimpin Gereja Protestan mula bersahabat dengan Gereja Katolik pada masa kepimpinan Uskup Oliver Plunkett. Di samping kegemilangan yang diraihnya, ada pula banyak rintangan terhadap karyanya. Ia terpaksa tinggal di suatu tempat persembunyian tatkala aksi perlawanan terhadap Gereja Katolik semakin menjadi-jadi. Pada bulan Disember 1678 Uskup Oliver ditangkap dan dipenjarakan kerana tuduhan-tuduhan palsu daripada Titus Oates. Titus menuduh Oliver mengorganisir kepada imam Yesuit untuk melancarkan perlawanan terhadap raja Charles II. Kerana tuduhan ini, Oliver dihadapkan ke mahkamah Ireland pada tahun 1680. Mahkamah tidak berjaya menghukumnya kerana tuduhan itu tidak benar. Oliver kemudian diadili lagi untuk kedua kalinya di hadapan pengadilan Inggeris dengan tuduhan pengkhianatan. Ia dituduh membiayai suatu ekspedisi militer Perancis untuk menyerang Ireland. Oliver yang tidak merasa melakukan hal itu tegas menolak tuduhan itu. Tetapi pihak mahkamah menjatuhkan hukuman atas diri Oliver tanpa ampun. Uskup Oliver adalah salah satu tokoh Katolik terakhir yang mati digantung di Inggeris kerana imannya dan perjuangannya menyebarkan iman Katolik. Kematiannya pada tanggal 11 Julai 1681 menandai akhir suatu abad penganiayaan terhadap umat Katolik di Inggeris.

Santo Teodorikus, Abbas


Teodorikus lahir di Menancourt, dekat Rheims, Perancis Selatan pada pertengahan abad V. Ketika menanjak dewasa, ia dipaksa mengawini seorang gadis yang disenangi oleh keluarganya. Teodorikus, karena rasa hormatnya yang tinggi kepada orang-tuanya , mengikuti saja keinginan mereka.
Tetapi setelah beberapa lama hidup bersama wanita itu sebagai suami-istri, dengan izin istrinya, Teodorikus meninggalkan keluarganya dan menjadi seorang calon imam di Rheims. Santo Remigius, uskup kota itu, menabhiskan dia menjadi imam dan mengangkatnya sebagai pimpinan komunitas biara Mont d'Or (= Gunung Emas) di Champagne.
Dibawah kepemimpinannya, biara Mont d'Or menjadi suatu pusat kegiatan keagamaan yang terkenal. Banyak orang yang berkunjung ke biara itu diteguhkan imannya setelah mendengar khotbah-khotbah Teodorikus. Setelah kematiannya pada tahun 533, penghormatan kepada Teodorikus tersebar diseluruh negara Perancis. Santo Teodorikus disebut juga dengan nama Santo Thierry.


Santo Pambo, Pertapa


Semenjak masa mudanya Pambo mengasingkan diri ke sebuah tempat pertapaan di gurun pasir Mesir. Hidupnya keras, sederhana dan serba kekurangan. Karena dia tidak pandai membaca, ia berguru pada seorang pertapa lain dalam hal membaca dan menghafal ayat-ayat Mazmur. Selain tidak pandai membaca, Pambo juga dikenal sebagai seorang pertapa yang tidak suka banyak bicara. Namun ia dikenal sebagai pembimbing rohani yang disenangi.
Apabila orang meminta nasehat dan bimbingan mengenai suatu soal kerohanian, Pambo selalu meminta waktu terlebih dahulu untuk merenung dan berdoa. Maksudnya agar dia bisa memberi jawaban yang benar dan memuaskan sesuai dengan kehendak Allah. Santo Athanasius, Uskup Aleksandria, yang kagum akan kesalehan hidup Pambo, mengundang dia ke Aleksandria untuk memberi kesaksian tentang ke-Allah-an Kristus, berhadapan dengan ajaran sesat Arianisme yang merajalela di kalangan umat.
Kepada rekan-rekannya, Pambo mengatakan: "Berpuasa dan memberi derma dari hasil keringat sendiri amatlah mulia, namun itu belumlah cukup untuk menjadi seorang rahib yang berkenan kepada Allah". Pambo meninggal dunia pada tahun 390.


Santo Simeon Salos, Pengaku Iman


Simeon dijuluki 'Si Gila' (= ho Salos; Yun) sebab setelah bertapa selama 29 tahun di gurun dekat Laut Mati dan pulang ke Homs (Siria) ia bertingkah seperti orang gila. Maksudnya supaya dia dianggap hina dan dapat berkawan dengan orang-orang yang paling dikucilkan masyarakat (gelandangan, orang lumpuh, pelacur, dan lain-lain). Sikap seperti ini masih dihargai dan ditiru oleh sementara biarawan di Rusia.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Bab 20

  Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Abraham dan Abimelekh Bab 20 Kej 20:1 Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia...