Popular Posts

Tuesday, October 31, 2023

5 April Santo Vinsensius Ferreri, Pengaku Iman dan Santa Yuliana dari Kornillon, Pengaku Iman

Santo Vinsensius Ferreri, Pengaku Iman


Santo Vinsensius Ferreri dikenal sebagai pembuat mukjizat, wartawan hari kiamat dan pentobat orang-orang berdosa. Ia lahir pada tanggal 23 Januari 1350 di Valensia, Spanyol. Ferreri adalah seorang anak yang dikaruniai rahmat istimewa. Pada usia 14 tahun, ia telah menyelesaikan pendidikan awalnya dalam bidang filsafat di Valensia. Pada usia 17 tahun, Ferreri di terima dalam ordo Dominikan dan dikirim ke Barcelona, Spanyol pada tahun berikutnya. Setelah beberapa lama ia mengajar filsafat di Lerdia, Spanyol, ia kembali ke Barcelona pada tahun 1373.
Setelah lama belajar di Toulouse, Prancis, kepribadian dan cara hidup Ferreri menarik hati kardinal Pedro de Luna (yang kemudian menjadi Paus Benediktus XIII pada tahun 1394-1423 di Avignon) ketika terjadi skisma besar di kalangan Gereja Barat. Pada tahun 1379, Luna mengangkat Ferreri sebagai pembantunya untuk menangani persoalan kePausan di Avignon. Ketika kardinal Luna dipilih menjadi Paus, Ferreri menjadi penasehat dan bapa pengakuan pribadi Paus di Avignon. Ia menolak penunjukkan atas dirinya menjadi seorang kardinal dan pemimpin beberapa kantor Gereja karena ia lebih suka berkarya sebagai seorang misionaris di antara umat. Kira-kira pada tahun 1398, ia diserang demam yang membahayakan. Ketika itu, ia mengalami penampakan Yesus bersama Santo Dominikus dan Fransiskus Asisi. Dalam penglihatan itu, Yesus memerintahkan dia untuk mewartakan Injil di antara bangsa-bangsa. Setelah penampakan itu, Ferreri kembali dan bersiap diri untuk menjalankan perintah Yesus.
Selama 20 tahun, Ferreri mengelilingi Spanyol, Italia, Jerman dan Switzerland untuk mewartakan Injil bagi pertobatan orang-orang berdosa. Khotbahnya selalu dilaksanakan di luar gereja karena ruangan Katedral tidak bisa menampung jumlah umat yang hadir. Tuhan menganugerahi kepadanya kemampuan berbahasa sehingga khotbahnya dapat dimengerti oleh para pendengarnya yang berbahasa latin, bahkan oleh petani sederhana sekalipun.
Sekali peristiwa, dalam khotbahnya ia meramalkan bahwa Benediktus dari Siena, seorang hadirin yang turut mendengar khotbahnya ketika itu, kelak akan dihormati oleh gereja sebagai Santo. Juga kepada Alphonso Borja, Ferreri mengatakan bahwa ia akan menggelarkan Santo kepada Ferreri ketika ia menjabat sebagai Paus. Ramalan-remalannya kemudian terpenuhi ketika ia meninggal.
Proses penyelidikan terhadap Ferreri dilakukan. Setelah 873 mukjizat diperiksa dan dinyatakan benar, maka panitia penyelidik menghentikan pekerjaannya. Mukzijat terbesar adalah cara hidupnya yang keras penuh dengan doa, matiraga dan tapa, tetapi tetap bersemangat dalam melaksanakan tugasnya sebagai pewarta. Vincentius Ferreri meninggal di Vannes, Inggris, pada tanggal 5 April 1419.


Santa Yuliana dari Kornillon, Pengaku Iman


Hari raya Tubuh Darah Kristus (Corpus Christi)-yang sama dengan hari raya Sakramen MahaKudus-masuk dalam lingkaran penanggalan atas wahyu Tuhan kepada Santa Yuliana dari Kornillon. Prosesnya sangat rumit dan lama serta meminta pengorbanan yang tidak kecil dari suster Yuliana sendiri. Penglihatan ajaib yang dialaminya membawa dia kepada penderitaan yang lama hingga hari raya itu direstui oleh pemimpin tertinggi Gereja dan dirayakan oleh seluruh Gereja. Pesta ini dirayakan pada minggu biasa setelah masa Paskah, tepatnya pada hari minggu biasa sesudah hari raya Tritunggal MahaKudus.
Yuliana lahir di Liege, Belgia pada tahun 1192. Pada umur 5 tahun, ia sudah menjadi anak yatim piatu. Maka ia dititipkan di sebuah biara di Mount Cornillon. Pada tahun 1200 terdapat di gunung ini dua buah biara santo Agustinus: yang satu untuk kaum pria dan yang satu untuk wanita. Disana terdapat beberapa buah rumah, ada usaha perkebunan dan peternakan sapi. Di beberapa rumah para biarawan / wati itu merawat banyak orang sakit lepra. Untuk menghindari bahaya ketularan penyakit lepra, maka Yulianus bersama adiknya Agnes dipisahkan disebuah rumah pertanian yang tidak jauh dari rumah induk. Disitu mereka diasuh oleh Sr. Sapiensia. Tugas mereka adalah belajar, membersihkan rumah, memelihara bunga-bunga dan menjaga sapi. Kedua kakak-beradik ini selalu ikut serta dalam doa, perayaan Ekaristi dan upacara-upacara lainnya. Yuliana menaruh hormat yang tinggi kepada Sakramen MahaKudus yang diterimanya setiap kali mengikuti perayaan Ekaristi. Ia juga suka sekali membaca buku-buku karya Santo Agustinus, Santo Bernardus, dan lain-lainnya di perpustakaan.

Pada usia 16 tahun, Yuliana mengalami suatu penglihatan ajaib. Ia melihat bulan purnama yang aneh sekali; pinggirannya tercabik. Ia ragu-ragu memastikan arti penglihatan itu, apakah itu suatu godaan dari roh jahat atau pewahyuan Tuhan. Ia berdoa memohon agar Yesus menerangkan kepadanya arti penglihatan itu. Dua tahun kemudian Yesus menampakkan diri kepadanya dan menerangkan arti penglihatan itu: bahwasannya bulan itu adalah lingkaran tahun Liturgis Gereja dengan berbagai hari raya. Sedangkan cabikan pada pinggiran bulan purnama itu menandakan bahwa lingkaran tahun liturgi gereja belum sempurna oleh karena tidak adanya hari raya khusus untuk menghormati sakramen MahaKudus. Yuliana di minta oleh Yesus untuk menyampaikan kepada pemimpin Gereja agar segera menetapkan suatu hari khusus untuk menghormati Sakramen MahaKudus. Dengan takut-takut, Yuliana berkata: "Ah Tuhan! Jangan aku yang Kautugaskan untuk menyampaikan hal itu. Serahkan saja tugas ini kepada seorang imam yang saleh dan terpelajar!". Tetapi Yesus menjawab: "Kaulah orang yang kuanggap layak untuk tugas luhur ini. Justru orang lemah namun berbakti kepada-Ku layak untuk menjalankan tugas ini!".

Hari dan tahun berjalan terus hingga Yuliana menjadi suster di biara St. Agustinus Mount Carnillon. Karena kedudukannya masih rendah, ia tidak berani membuka rahasia penampakan itu dan pesan Tuhan Yesus. Barulah ketika ia terpilih menjadi prior pad atahun 1225, ia mulai membuka rahasia penampakan dan pesan Tuhan itu. Mula-mula ia mengutarakan pesan Tuhan itu kepada Eva, seorang pertapa wanita yang saleh dan pintar. Eva selanjutnya berbicara dengan para imam, antara lain dengan Hugo, Propinsial Ordo Dominikan, Uskup J. Pantelleon dan para ahli dibidang liturgi dan teologi. Sementara itu, Yuliana terus berdoa agar semua orang dapat menerima baik pesan Tuhan yang disampaikan kepadanya. Pada dasarnya pemimpin Gereja setempat dan para ahli itu tidak menolak memasukkan Pesta Sakramen MahaKudus dalam liturgi gereja. Hasil pertama diperolehnya pada tahun 1246 yaitu tatkala hari raya Corpus Christi itu disetujui dan diresmikan oleh Uskup J. Pantellon .
Namun sejak itulah Yuliana mengalami banyak penderitaan. Banyak orang termasuk imam-imam mencap Yuliana sebagai orang yang kerasukan setan. Dan banyak dakwaan dan kritik lain terhadapnya yang menuduh dia memanfaatkan kedudukannya sebagai pemimpin biara untuk ambisi pribadi mempromosikan penemuannya tentang hari raya Sakramen MahaKudus itu. Ia dipecat dari kedudukannya sebagai pemimpin biara dan diusir dari biara itu. Ia lalu pergi bergabung dengan Eva di pertapaannya. Akhirnya setelah mengalami begitu banyak penderitaan fisik dan batin, Yuliana meninggal pada tanggal 5 April 1258.
Sepeninggal Yuliana, Eva wanita pertapa itu melanjutkan perjuanggannya, didukung oleh Uskup J. Pantalleon. Delapan tahun kemudian Hugo, Propinsial Dominikan yang mengenal baik Yuliana, terpilih menjadi Paus di Roma dengan nama Paus Urbanus IV (1261-1264). Taklama kemudian pada tahun 1264 Paus Urbanus IV menetapkan hari raya Tubuh dan Darah Kristus sebagai pesta gereja. Kemudian Paus Klemens V (1305-1314) mengesahkannya pada tahun 1312.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

4 April Santo Isodorus dari Sevilla, Uskup dan Pujangga Gereja, Santo Benediktus Moor, Biarawan dan Santo Platon, Pengaku Iman

Santo Isodorus dari Sevilla, Uskup dan Pujangga Gereja


Isodorus lahir di Cartagena, Spanyol pada tahun 560. Ia dikenal sebagai seorang Uskup yang tergolong dalam bilangan pujangga gereja karena perjuangannya demi kemajuan gereja, kebudayaan dan pendidikan di Spanyol. Ia dididik di Sevilla oleh Leander, kakaknya sendiri, yang pada waktu itu menjabat sebagai Uskup Sevilla. Selagi duduk di bangku sekolah, ia tidak mencapai kemajuan berarti dalam berbagai ilmu yang diperolehnya. Walaupun ia belajar dengan penuh semangat, namun hasil yang diperolehnya tidaklah memuaskan. Hal ini menimbulkan kekecewaan besar; ia pun menyerah, putus asa, dan tidak mau lagi berjuang. Lalu ia memutuskan untuk pulang saja ke kampung halamannya.

Dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya, ia mendapat suatu pengalaman menarik di sebuah sumber air. Di sumber air itu, ia melihat suatu batu besar yang berlubang karena titik-titik air yang menimpanya. "Mengapa batu yang demikian keras dapat ditembusi oleh titik-titik air yang lemah dan tak berdaya itu?" tanyanya dalam hati. Pengalaman ini menumbuhkan suatu kesadaran baru dalam hati. Lalu ia memutuskan kembali kepada kakaknya Leander untuk melanjutkan studinya.

Isodorus mendapat pendidikan yang keras di bawah bimbingan kakaknya Leander. Pengalaman di sumber air itu memberinya semangat baru untuk terus tekun belajar dan pantang mundur. Akhirnya ia memetik hasil gemilang. Ia menjadi seorang yang pintar dan bijaksana. Sepeninggal kakaknya Leander, ia ditahbiskan menggantikan Leander pada tanggal 13 Maret 619. Pekerjaan dan rencana-rencananya untuk memajukan keuskupan Sevilla, terutama mempertobatkan suku Goth Barat yang sesat, diteruskan dan diselesaikan. Ia pun tegas terhadap semua ajaran sesat yang berkembang di dalam keuskupannya dengan membuat peraturan-peraturan baru.

Selama masa kepemimpinannya sebagai Uskup Sevilla, Isodorus memimpin Konsili Sevilla kedua pada tahun 916 dan Konsili Toledo keempat pada tahun 633. Pada Konsili ini, ia memperjuangkan agar setiap keuskupan di Spanyol didirikan sebuah seminari atau Sekolah Katedral. Selain itu ia berjuang meningkatkan studi kedokteran, hukum, seni, bahasa Yunani dan Hibrani. Selama 36 tahun ia berkarya mengabdikan dirinya demi kemajuan keuskupan Sevilla. Ia membangun gereja-gereja, biara-biara, terutama menulis buku-buku ilmiah yang diberi judul "Etymologiae" atau "Orginis", buku biografi, sejarah dunia mulai dari penciptaan, karya-karya teologi, aturan-aturan biara dan sejarah suku Vandal, Goth, dan Suevi. Selain itu, ia menyelesaikan sebuah karya tulis dari Leander kakaknya, yakni Misale Mozarabik yang ditujukan untuk mempertobatkan suku bangsa Goth. Buku-buku yang ditulisnya dipakai di seluruh Eropa selama berabad-abad.

Meskipun dia sibuk dengan berbagai tugas, ia selalu menyempatkan diri untuk berdoa, berpuasa dan merenungkan Kitab Suci. Semuanya ini menjadikan dia sebagai seorang uskup yang saleh, bijaksana dan rendah hati. Seluruh umat sangat senang dengan dia karena kasih sayangnya kepada mereka. Ia meninggal dunia pada tahun 636. Kemudian pada tahun 1598 digelari kudus dan tahun 1722 digelari sebagai pujangga gereja.


Santo Benediktus Moor, Biarawan


Benediktus Moor lahir di sebuah desa kecil dekat Messina, Sisilia, pada tahun 1526. ia adalah orang negro pertama yang digelari Kudus oleh Gereja. Ia disebut juga "Benediktus Hitam", karena warna kulitnya yang hitam pekat. Orang tuanya adalah budak belian asal Etiopia yang bekerja pada seorang orang kaya di Sisilia. Karena kesalehan hidup mereka, sang majikan memberikan status merdeka pada Benediktus.

Oleh orang tuanya yang saleh itu, Benediktus mendapat pendidikan yang baik terutama dalam hal-hal yang menyangkut penghayatan iman Kristen. Ia berkembang menjadi orang Kristen yang saleh. Seorang imam Fransiskus yang menyaksikan cara hidup Benediktus segera mengajaknya untuk masuk ordo Fransiskan. Benediktus menyambut baik ajakan ini. Ia menjadi seorang Bruder dan bekerja sebagai juru masak di biara Santa Maria di Palermo. Kesalehan hidupnya membawanya ke jenjang pimpinan biara, kendatipun ia tidak tahu menulis dan membaca. Dalam kepemimpinannya, ia berhasil menciptakan suati suasana baru dalam biaranya.

Banyak orang yang datang meminta nasehat dan bimbingan rohani padanya. Ia dianugerahi kemampuan untuk menerangkan masalah-masalah doktrinal dan rohani. Ia meninggal pada tahun 1589.


Santo Platon, Pengaku Iman


Platon lahir pada tahun 735. Ia menjadi Abbas di sebuah biara di gunung Olympus, Yunani dan berhasil memperbaharui semangat hidup rohani dalam biara itu. Pada usia senjanya, ia meletakkan jabatannya dan menjadi seorang pertapa dengan cara hidup yang sangat keras. Ia diasingkan karena melancarkan perlawan terhadap kaisar yang terus-menerus melakukan kawin-cerai.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia

3 April Santo Richard dari Chicherster, Uskup dan Pengaku Iman, Santo Yosef, Martir dan Santo Sixtus I, Paus dan Martir

Santo Richard dari Chicherster, Uskup dan Pengaku Iman


Richard lahir di Wych (sekarang: Droithwich), Inggris pada tahun 1197. Orang-tuanya tergolong bangsawan yang kaya-raya. Sepeninggal ayah-ibunya Richard bersama kakaknya mulai jatuh miskin. Kemiskinan ini menyebabkan Richard masuk Universitas Oxford sebagai seorang mahasiswa yang miskin. Ia mengalami banyak hambatan terutama dalam soal keuangan. Kendatipun demikian, ia berhasil meraih gelar Master di Universitas Oxford. Setelah itu melanjutkan lagi studinya di Universitas Paris dan Bologna, hingga meraih gelar Doctor dalam bidang hukum kanon.

Pada tahun 1235 ia ditunjuk menjadi rektor Universitas Oxford, tetapi tak lama kemudian ia meletakkan jabatan ini dan menjadi penasehat Santo Edmundus Rich, Uskup Agung Canterbury. Pada waktu itu, Edmund meninggal dunia pada tahun 1240 di Siossy, dekat Provins, Prancis, Richard sedang menyiapkan diri untuk menerima tabhisan imamatnya. Ia ditabhiskan di Orleans, Perancis pada tahun 1243, lalu kembali ke Inggris untuk bekerja sebagai pastor paroki. Namun, di Inggris ia kembali ditugaskan kembali sebagai penasehat Bonifasius dari Savoy, Uskup Agung Canterbury pengganti Edmund.
Pada tahun 1244, Richard dipilih oleh Bonifasius menjadi Uskup Chischester untuk menggantikan Uskup Ralph Neville yang meninggal dunia pada tahun itu. Penunjukkan ini menimbulkan pertikaian antara Bonifasius dan Raja Henry III. Raja tidak menyetujui pengangkatan Richard, karena ia lebih suka pada Robert Passelew yang dipilih oleh banyak imam untuk menduduki tahkta keuskupan Chicherster menggantikan Ralp Neville. Bonifasius menolak memberi pengesahan atas Robert Passelew dan tetap mendukung Richard sebagai Uskup Chichester. Raja menjatuhkan hukuman kepada para pemimpin dioses dan menolak mengesahkan penunjukkan atas diri Richard. Pada tahun 1245-sementara pertikaian ini terus berlanjut-Bonifasius dengan dukungan kuat dari Sri Paus di Roma menabhiskan Richard menjadi Uskup Chicherster di Lyons, Perancis.

Raja Henry tidak mengakui otoritas Paus dalam masalah ini dan tidak tunduk kepada pimpinan Dioses. Henry menyita seluruh kekayaan Gereja dan penghasilan keuskupan. Tindakan ini membuat Richard tidak dapat melaksanakan tugasnya dengan baik hingga hukuman ekskomunikasi dijatuhkan atas diri Henry pada tahun 1246.
Richard seorang Uskup yang sederhana dan banyak melakukan perbuatan-perbuatan amal. Dengan cinta yang tulus ia aktif melayani orang-orang sakit dan miskin. Demi kehidupan orang-orang ini, ia rela menjual harta miliknya. Ia ramah terhadap imam-imamnya dan berusaha sekuat tenaga untuk meningkatkan pendidikan dan pembinaan hidup rohani mereka. Dengan semangat ini ia berhasil menenangkan kesetiaan imam-imam dan seluruh umat, sekalipun ia menggalakkan suatu program yang tegas. Ia juga melakukan banyak hal untuk memperbaharui liturgi gereja dan menuntut imam-imamnya untuk merayakan upacara-upacara gerejani dengan kewibawaan yang tinggi dan dalam keadaan ber-rahmat. Setelah menjalani suatu kehidupan yang keras dengan berbagai usaha untuk memajukan keuskupannya, Richard meninggal dunia di Dover pada tahun 1235 ketika ia sedang berkhotbah untuk mendorong umat melancarkan suatu perang salib terhadap bangsa Sarasin.

Santo Yosef, Martir


Yosef hidup antara tahun 816-886. Ia mengungsi ketika daerahnya digempur oleh orang Islam. Ia kemudian ditangkap oleh bajak laut dan dijual sebagai hamba. Setelah ditebus ia mengikuti temannya, uskup Ignasios dari Konstantinopel, ke dalam pembuangan. Di pengasingan itulah ia menyusun kidung-kidung gerejani yang indah sekali, sehingga ia dijuluki "Yosef Hymnograph".


Santo Sixtus I, Paus dan Martir


Pria berdarah Romawi ini dipilih menjadi Paus menggantikan Paus Aleksander II (105-115) pada tahun 115. Ia memimpin Gereja Kristus selama 10 tahun sampai pada tahun 125. Namanya tercantum di dalam buku Para Martir Roma.
Beberapa peraturan, konon dihubungkan dengan beliau sebagai pembuatnya, antara lain: hanya para imam pelayan sakramen saja yang diperbolehkan menyentuh bejana-bejana kudus; para imam hendaknya mendaraskan Sanctus dalam perayaan misa Kudus bersama-sama dengan umat, dan uskup-uskup yang dipanggil ke Roma hendaknya memperkenalkan dan menyebarluaskan surat-surat Apostolik yang diterimanya di Roma setelah mereka kembali ke keuskupannya masing-masing.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Sunday, October 29, 2023

2 April Santo Fransiskus dari Paula, Pertapa, Santa Teodosia, Perawan dan Martir dan Santa Maria dari Mesir, Pengaku Iman

Santo Fransiskus dari Paula, Pertapa


Fransiskus lahir di Paula, Italia Selatan pada tahun 1416. Pada waktu itu kedua orangtuanya sudah lanjut umur. Tepatlah bila dikatakan bahwa Fransiskus adalah "karunia Tuhan yang istimewa" bagi kedua orangtuanya yang sudah bertahun-tahun hidup tanpa kehadiran seorang anak. Hasrat menimang seorang anak mendorong kedua orangtuanya berdoa tak kunjung henti kepada Tuhan dengan perantaraan Fransiskus dari Asisi. Kehamilan sang ibu pada usianya yang sudah lanjut itu menunjukkan bahwa Tuhan sungguh menaruh telinga pada keluh kesah mereka. Maka tatkala ibunya melahirkan, bayi itu diberi nama Fransiskus mengikuti nama Santo Fransiskus dari Asisi, perantara doa mereka.

Ketika berusia 13 tahun, ia disekolahkan di sekolah Santo Markus, milik imam-imam Fransiskan. Dalam usia sebegitu muda, Fransiskus sudah menjalani suatu cara hidup yang keras dengan disiplin yang tinggi. Ia rajin berziarah terutama ke Asisi dan Roma. Sekembalinya ke Paula, daerah asalnya, ia menjadi seorang pertapa di sebuah gua dekat pantai Laut Tengah. Tak lama kemudian datang lagi dua orang laki-laki bergabung bersamanya bertapa di gua itu.

Karena tertarik pada cara hidup mereka itu, maka orang-orang yang tinggal disitu mendirikan bagi mereka sebuah rumah tinggal sederhana dan sebuah kapela sebagai tempat mereka berdoa dan bersemadi. Bersama dua orang rekannya itu, Fransiskus mendirikan Ordo Rahib miskin pada tahun 1436. Ordo itu berkembang pesat dan sangat aktif. Tujuhbelas tahun kemudian setelah Paus Paulus II (1464-1471) merestui pendirian ordo itu, Fransiskus membangun sebuah biara di sekitar gua itu, lalu dua buah biara lagi masing-masing di Calabria dan Sisilia.
Kesalehan hidup Fransiskus dibalas Tuhan dengan menganugerahkan kepadanya kemampuan membuat mukjizat dan kemampuan meramal. Banyak orang mengenal dia sebagai pertapa yang saleh, dan sering datang kepadanya meminta bimbingan dan doanya. Sewaktu dia datang ke istana Raja Perancis, Louis XI (1461-1483) di Plessis-les Tours, ia berkata kepada Raja: "Janganlah mengharapkan mukjizat dari padaku. Mintalah itu pada Tuhan dan bertobatlah atas segala dosamu. Setelah itu siapkanlah dirimu untuk masuk ke dalam kehidupan bersama Allah".
Sekali peristiwa, Raja Ferdinand I dari Napoli, Italia ingin menyumbangkan sejumlah besar uang kepadanya untuk keperluan biara dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Tetapi sumbangan uang itu dengan halus ditolaknya. Kepada pesuruh raja ia berkata: "Lebih baiklah kalau uang itu dikembalikan saja kepada orang-orang yang miskin dan tertindas karena keserakahan raja". Mendengar kata-kata Fransiskus itu, Fernidand marah dan segera menyuruh orang untuk membunuh Fransiskus. Tetapi hal itu tidak sampai terlaksana karena para pesuruh raja itu segan membunuh Fransiskus yang saleh itu.
Fransiskus kemudian menjadi penasehat dan pembimbing rohani Raja Karol VIII atas permintaan raja. Sebagai balas jasa, Karel VIII pengganti Louis XI, mendirikan sebuah biara bagi Fransiskus di Plessis. Di biara inilah Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 2 April 1507.


Santa Teodosia, Perawan dan Martir


Teodosia lahir di Tyre, Phoenicia, bagian Timur kekaisaran Romawi pada tahun 288. Menurut Eusebius, sejarahwan Gereja (206?-340?). Teodosia lahir di Kaesarea, dekat Tyre di Palestina sekitar tahun 306.
Pembunuhan atas dirinya terjadi tatkala ia sedang menghibur orang-orang Kristen yang dipenjarakan pada masa penganiayaan.

Santa Maria dari Mesir, Pengaku Iman


Maria lahir kira-kira pada abad kelima. Ia dikenal sebagai seorang pegawai istana dan seorang aktris istana yang terkenal. Ia juga dikenal luas sebagai seorang wanita penghibur di istana.
Awal kehidupannya sebagai manusia baru terjadi sewaktu ia berziarah ke Yerusalem untuk menyaksikan Salib Suci Yesus yang ditemukan oleh Santa Helena, ibu Kaisar Konstantinus Agung. Ia bertobat dan percaya kepada Yesus. Selanjutnya ia bertapa selama 47 tahun di gurun pasir, tepi sungai Yordan.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

1 April Blessed Nonius Alvares Pereira, Pengaku Iman

Blessed Nonius Alvares Pereira, Pengaku Iman


Nonius Alvares Pereira, sepupu pendiri keluarga Braganza, lahir di Santares (Portugal) pada tanggal 24 Juli 1360. Ia adalah Polisi kerajaan Portugal, seorang Kesatria dan Prior yang terkenal di Ordo St. Setelah itu, ia meninggalkan segalanya dan menjadi bruder dalam ordo Karmelit, di mana ia menunjukkan pengabdiannya yang luar biasa kepada Bunda Maria dan dengan rendah hati menjalankan tugas-tugas yang paling kejam di biara. Beliau tidak ragu-ragu untuk meminta sedekah dari rumah ke rumah dan beliau sangat dermawan dan dermawan terhadap orang miskin. Ia meninggal pada tanggal 1 April 1431, iaitu Minggu Paskah.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Apakah itu Lectio Divina menurut ajaran Tradisi Gereja Katolik kita

[LECTIO DIVINA]


Pendahuluan.


1). Sebelum kita memulakan dan memahami apakah itu Lectio Divina menurut ajaran Tradisi Gereja Katolik kita, marilah kita melihat kembali secara teliti ajaran Gereja kita serta pemahaman yang tertulis disini agar hati dan fikiran kita di bimbing oleh Roh Kudus. Ini amat penting kerana tanpa bantuan dan bimbingan dari Roh Kudus kita semua boleh tersesat dan keliru untuk berdoa khususnya untuk melakukan dan mempraktikkan Lectio Divina ini di dalam kehidupan seharian kita.


2). Secara umumnya prinsip-prinsip Lectio Divina diungkapkan sekitar tahun 220, yang kemudian dipraktekkan oleh para biarawan Katolik, terutama pada masa monastik dari Santo Pachomius, Agustinus, Basil, dan Benedict. Paus Benediktus XVI dalam khotbahnya pada tahun 2005 menyatakan, "Saya secara khusus ingin mengingatkan kembali dan merekomendasikan tradisi kuno lectio divina: membaca Kitab Suci dengan tekun dan disertai dengan doa yang menghasilkan dialog yang intim di mana pembaca akan mendengar Allah yang sedang berbicara, dan dalam doa, menanggapi Dia dengan hati yang terbuka dan penuh kepercayaan."


3). Lectio Divina ( bahasa Latin untuk "Bacaan Ilahi") ialah amalan monastik tradisional membaca kitab suci, meditasi dan doa yang bertujuan untuk menggalakkan perhubungan dengan Tuhan dan untuk meningkatkan pengetahuan tentang Tuhan. Ini merupakan sebuah cara untuk berdoa dengan Kitab Suci yang memanggil orang untuk mempelajari, menyelami, mendengarkan, dan akhirnya berdoa dari Sabda Tuhan. Istilah Lectio Divina berasal dari Origenes. Menurut asal usulnya Lectio Divina adalah pembacaan Kitab Suci oleh orang-orang Kristiani untuk memupuk iman, harapan dan kasih. Lectio Divina sudah setua Gereja yang hidup dari Sabda Allah dan tergantung daripadanya seperti air dari sumber (Dei Verbum 7,10,21).


4). Akar pemikiran dan tafsiran kitab suci kembali ke Origen pada abad ke-3, selepas itu Ambrose mengajarnya kepada Augustine dari HippoAmalan monastik Lectio Divina pertama kali ditubuhkan pada abad ke-6 oleh Benedict of Nursia dan kemudiannya diformalkan sebagai proses empat langkah oleh Carthusian Guigo II semasa abad ke-12. Pada abad ke-20, perlembagaan Dei verbum Majlis Vatikan Kedua mengesyorkan Lectio Divina Kepada masyarakat umum dan kepentingannya telah disahkan oleh Pope Benedict XVI pada permulaan abad ke-21.


5). Sebelum permulaan komuniti monastik Barat sumbangan utama kepada asas Lectio Divina datang dari Origen pada abad ke-3, dengan pandangannya tentang "Kitab Suci sebagai sakramen". Dalam surat kepada Gregory dari Neocaesarea Origen menulis: "[Apabila anda mengabdikan diri kepada bacaan ilahi... carilah makna kata-kata ilahi yang tersembunyi daripada kebanyakan orang". Origen percaya bahawa The Word (iaitu Logos) telah menjelma dalam Kitab Suci dan oleh itu boleh menyentuh dan mengajar pembaca dan pendengar. Origen mengajar bahawa pembacaan Kitab Suci boleh membantu bergerak melampaui pemikiran asas dan menemui kebijaksanaan yang lebih tinggi yang tersembunyi dalam "Firman Tuhan".


6). Gereja Katolik kita dan dengan sikap iman mendalam sungguh menghormati Kitab Suci. Dalam konstitusi dogmatik tentang Wahyu Ilahi: DEI VERBUM, Konsili Vatikan II memberi ulasan yang menegaskan, demikian: “Kitab Ilahi seperti Tubuh Tuhan sendiri selalu dihormati oleh Gereja, yang - terutama dalam Liturgi suci- tiada hentinya menyambut roti kehidupan dari meja sabda Allah maupun Tubuh Kristus, dan menyajikannya kepada Umat beriman. Kitab-kitab itu bersama dengan tradisi suci selalu telah dipandang dan tetap dipandang sebagai norma imannya yang tertinggi. Sebab kitab-kitab itu diilhami oleh Allah dan sekali untuk selamanya telah dituliskan, serta tanpa perubahan manapun menyampaikan sabda Allah sendiri, lagi pula memperdengarkan suara Roh Kudus dalam sabda para Nabi dan para Rasul. Jadi semua pewartaan dalam Gereja seperti juga  agama Kristiani sendiri harus dipupuk dan diatur oleh Kitab Suci. Sebab dalam kitab-kitab suci Bapa yang ada di surga penuh cintakasih menjumpai para putera-Nya, dan berwawancara dengan mereka. Sedemikian besarlah daya dan kekuatan sabda Allah, sehingga bagi Gereja merupakan tumpuan serta keuatan, dan bagi putera-puteri Gereja menjadi kekuatan iman, santapan jiwa, sumber jernih dan kekal hidup rohani.” (DV 21).


7). Kerana alasan-asalan mulia inilah maka Konsili Vatikan II mendesak dengan sangat dan istimewa supaya semua orang beriman, terutama para religius,  dengan  seringkali membaca kitab-kitab ilahi memperoleh “pengertian yang mulia akan Yesus Kristus” (Flp 3:8).


Kitab Suci: Warisan Iman Kita.


Untuk mewahyukan Diri-Nya kepada kita dengan lebih penuh dan lebih lengkap, maka Allah bersabda kepada manusia dengan memakai kata-kata manusia di dalam Kitab Suci.(lih. DV 13). Gereja selalu menghormati Kitab Suci sebagai Sabda Allah, di dalam Kitab Suci Gereja menemukan santapan, kekuatan, dan dukungan. Gereja mengajarkan bahwa Allah adalah pengarang  Kitab Suci. Dan inilah yang diartikan juga sebagai inspirasi biblis (alkitabiah). Allah menggunakan alat-alat manusiawi untuk melaksanakan maksud-Nya, namun manusia-manusia yang menjadi alat tadi hanyalah menulis apa yang dikehendaki Allah dan hanya yang dikehendaki-Nya.

“Dalam mengarang kitab-kitab suci itu Allah memilih orang-orang yang digunakan-Nya, yang sementara mereka memakai kemampuan dan kecakapan mereka sendiri, mereka bertindak sedemikian rupa sehingga, meskipun Dia berkarya di dalam mereka dan lewat mereka, sebagai pengarang yang sungguh-sungguh mereka hanya menulis apa yang dikehendaki-Nya, dan tidak lebih dari itu” (Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi, DEI VERBUM  No 11).


8). Manusia-manusia penulis Kitab Suci itu adalah orang-orang yang berasal dari zamannya masing-masing dengan ketidakmampuannya untuk menangkap keseluruhan wahyu Allah. Namun, Allah membimbing mereka sejauh mereka mampu menerima wahyu Ilahi itu. Kitab Suci sangatlah penting bagi Gereja, tapi Gereja Katolik bukanlah Gereja “yang hanya mempunyai satu sumber”. Seperti telah kita lihat sebelumnya, Gereja Katolik memperhatikan dua sumber kebenaran suci, Kitab Suci dan Tradisi. Kesalahpahaman mengenai pandangan Gereja ini selama bertahun-tahun telah menimbulkan dakwaan bahwa Gereja tidak menerima kitab-kitab Suci, atau tidak menghormati kitab-kitab suci, atau tidak memperbolehkan anggota-anggota Gereja membaca kitab-kitab suci.


9). Hal yang sebenarnya tidaklah demikian. Gereja merupakan penjaga dari kitab-kitab Suci. Apalagi – dibimbing oleh Tradisi yang sampai ke zaman para Rasul sendiri – Gereja membeda-bedakan tulisan-tulisan manakah yang harus dimasukkan ke dalam daftar Kitab Suci. Di samping itu, Gereja telah berusaha untuk menafsirkan Kitab Suci sejak dari masa awal. Menafsirkan Kitab Suci merupakan suatu ilmu yang berat dan sulit. Untuk memahami pesan dari pengarang, orang yang membacanya harus mengerti latar belakang dari penulis, gaya atau corak tulisannya, saat penulisan dan latar belakang budaya dari kitab tersebut, demikian juga lika-liku dari bahasa aslinya atau bahasa-bahasa yang digunakan. Usaha untuk memahami Kitab Suci dipersulit lagi dengan adanya macam-macam erti atau pemahaman yang dapat disimpulkan dari Kitab Suci.


10). Ada arti harfiah dan arti rohaniah. Erti rohaniah masih dapat dibagi-bagi, secara kiasan atau alegoris, secara moral dan secara analogis. Arti harfiah adalah makna yang disampaikan oleh kata-kata Kitab Suci dan ditemukan oleh ilmu tafsir Kitab Suci, atau “menyimpulkan maknanya” melalui suatu analisa bahasa atau analisa sejarah terhadap suatu naskah. Arti kiasan mengajak kita untuk melihat erti peristiwa-peristiwa dengan mengakui bahwa maknanya kerap kali terselubung dalam Kristus. Erti moral mengajak kita untuk bertindak sesuai dengan keadilan dan kebenaran yang ditemukan dalam Sabda Allah. Erti analogis mengajak kita untuk melihat peristiwa-peristiwa berdasarkan nilainya di dalam menuntun kita menuju ke Surga, tanah air kita yang sesungguhnya.


11). Gereja menghormati 45 kitab Perjanjian Lama sebagai kisah dari Allah dalam menyiapkan dunia untuk kedatangan Kristus. Kitab-kitab tadi berisikan kebenaran-kebenaran yang sangat berharga mengenai Allah, kehidupan manusia, dan misteri keselamatan kita yang abadi. Gereja menganggap keempat Injil Perjanjian Baru sebagai kisah tentang kehidupan Yesus dan permulaan Gereja. Kisah tadi diperluas dan dikembangkan dalam Kisah Para Rasul dan dalam Surat-surat dan tulisan-tulisan yang secara keseluruhan merupakan 27 Kitab Perjanjian Baru. Kedua perjanjian, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, merupakan satu kesatuan. Merupakan satu kesatuan sebab rencana Allah hanyalah satu. Kedua Perjanjian tadi merupakan satu kesatuan karena pewahyuan Allah mengenai Diri-Nya sendiri dan Putera-Nya adalah satu. Dengan demikian kisah dalam Kitab Suci merupakan suatu kesatuan yang utuh. Perjanjian Lama merupakan masa persiapan; Perjanjian Baru merupakan masa pemenuhan. Pemahaman terhadap kedua Perjanjian tadi akan menyebabkan kita dapat memahami dengan lebih baik seluruh sejarah keselamatan.


12). Kitab Suci sangat besar peranannya dalam pembinaan berkelanjutan bagi kehidupan iman Gereja. Kitab Suci merupakan sumber inspirasi yang besar dalam memberikan pengajaran dan penghiburan bagi umat Kristiani. (bdk. 2Tim 3:16; lih juga 2 Ptr 1:20-21). Kitab Suci merupakan bagian dalam ibadat atau liturgi. Kitab Suci meresapi seluruh penerimaan sakramen-sakramen kita. Kitab Suci merupakan inti dari doa resmi Gereja, Ibadat Harian. Kitab Suci juga merupakan dasar bagi sebagian besar kehidupan doa dan devosi dalam Gereja zaman sekarang ini. Kata-kata dari Santo Hieronimus pada abad keempat mengenai Kitab Suci masih sangat cocok untuk zaman kita sekarang ini: “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus” (lih. DV 25). Bahkan sejak Origenes (185-234) sampai Paus Benediktus XV (1854-1922) dan sesudah itu, orang-orang beriman telah melihat dan yakin bahwa seluruh Kitab Suci terpusat pada Kristus dan mempunyai maknanya dalam Dia.


13). Allah mewahyukan Diri-Nya kepada kita dengan macam-macam cara. Pewahyuan  Diri-Nya merupakan suatu panggilan bagi kita. Panggilan tadi merupakan panggilan kasih. Panggilan-Nya mengharapkan dari kita masing-masing suatu jawaban pribadi, yaitu jawaban iman. Dengan iman kita memberikan diri kita seutuhnya kepada Allah dan dengan fikiran dan kehendak kita, kita menerima pewahyuan Allah. Penerimaan tadi disebut “ketaatan iman”. Menerima Sabda Allah semata-mata karena Allah, yang adalah Kebenaran itu sendiri, merupakan jaminan dari keasliannya. Kitab Suci menyajikan kepada kita sederetan saksi-saksi iman, mulai dari Abraham, bapa rohani kita di dalam iman, sampai kepada Maria, seorang pribadi yang dengan sangat sempurna mencapai “ketaatan iman”. Kesaksian mengenai jawaban mereka terhadap panggilan iman merupakan suatu contoh dan ilham bagi kita masing-masing dalam kita memberi jawaban secara pribadi.


14). Demikianlah kita menyadari bahwa iman merupakan suatu penyerahan yang bebas kepada Allah dan juga suatu pengakuan yang bebas terhadap seluruh kebenaran yang telah diwahyukan Allah. Penyerahan dan penerimaan tadi mencakup segala sesuatu “yang termuat dalam Sabda Allah, yang tertulis atau disampaikan, dan disarankan untuk dipercayai oleh Gereja sebagai sesuatu yang telah diwahyukan secara ilahi” (Dei Filius, No 3). Kitab Suci adalah sumber inspirasi yang besar bagi hidup manusia beriman. Kitab Suci merupakan juga sumber pertama dalam berteologi. Maka, akrab dengan Kitab Suci, rajin membacanya, sehingga makin mengerti isinya dan memperoleh pengertian yang mulia akan Yesus, merupakan hal yang sangat penting bagi pertumbuhan kehidupan spiritual kita. Di zaman yang modern ini, instruksi dari Komisi Kitab Suci Kepausan, yang direstui oleh Paus Pius XII, menganjurkan metode Lectio Divina ini kepada semua imam, sekulir dan religius (De Scriptura Sacra,  1950: EB 592). Tujuan yang mahu dicapai dari metode Lectio Divina adalah menciptakan dan mengembangkan “kasih yang berdaya guna dan terus-menerus” kepada Kitab Suci, yang merupakan sumber kehidupan batin dan buah dari kerasulan (EB 591 dan 567), dan juga untuk memajukan pemahaman yang lebih baik tentang liturgi dan menjamin bahwa Alkitab mendapatkan tempat yang semakin penting baik dalam studi teologi mahupun dalam doa.


Apakah itu Lectio Divina? Lectio Divina berasal dari perkataan Latin yang bermaksud:


1) Lectio: Bacaan.


2) Divina: Divine (Ilahi) atau dengan kata lain bacaan ilahi. 


Lectio divina ada empat tahap: 


1) Lectio (Bacaan).


2) Meditatio (Meditasi).


3) Oratio (Doa). 


4) Contemplatio (Kontemplasi). 


Lectio Divina bukanlah kaedah doa tetapi ia adalah kaedah meditasi ke atas Sabda Tuhan. Setiap tahap Lectio Divina mempunyai kepentingan dan arah tuju. Lectio Divina adalah proses dimana setiap yang melakukannya mengalami pengalaman yang mendalam akan Kasih Allah secara peribadi yang mana di ikuti oleh haluan yang sama. Ini melibatkan: fikiran, hati dan roh.


Fikiran: kita memusatkan akal fikiran kita kepada Sabda Tuhan.


Hati: kita membenarkan Sabda Tuhan menyentuh hati kita secara mendalam.


Roh: kita di segarkan kembali akan ertinya Sabda Tuhan yang sebenarnya di dalam kehidupan kita secara peribadi. 


1. Lectio: 


Dalam tahap ini, ia di namakan “membaca”atau “mendengar” kepada Sabda Tuhan. Disini, kita dibiasakan oleh ilham Roh Kudus. Dalam tahap ini, Sabda Tuhan dibacakan dengan secara perlahan dan membenarkan Sabda tersebut didengar secara dalaman ataupun luaran. Ia adalah proses hubungan perkembangan cintakasih manusia yang amat mendalam akan kehadiran Allah dalam peribadi Yesus Kristus. Bila ini berlaku, kita merindukan akan Allah dan Kasih-Nya.    

    

2. Meditatio (meditasi): 


Kita merenung dan mengambarkan apa yang kita baca /meditasikan terhadap Sabda tersebut. Sabda tersebut kita “kunyah” atau “telan” sehingga Sabda tersebut  menghasilkan rasa.  Inilah masanya kita mengalami akan Allah, menerima Allah di dalam kehidupan kita secara peribadi dan membuka diri kita terhadap Allah dengan penuh kepercayaan dan keyakinan. Ia mendorong kita untuk mempelajari dan menyedari siapakah Allah itu bagi kita serta apakah Allah mahu dari kita secara peribadi (Mark 10: 45).


3. Oratio (Doa): 


Oratio adalah doa hati kerana ia adalah permulaan yang mendorong kita ke arah pengalaman doa oleh Tuhan itu sendiri. Ia adalah pengalaman dorongan secara spontan yang lahir dari hati kita. Disinilah hati kita terbuka akan dan oleh Tuhan itu sendiri agar terang-Nya masuk di dalam kehidupan kita. Ini kerana Allah mencintai kita tanpa batasan dan membawa kita keluar dari ilusi kita. Apakah halangan tersebut; (Galatia 5: 16 – 21) yang mana menghalang kita untuk menerima rahmat-Nya. 

Dan jika ini dilakukan dengan penuh kesabaran, kita akan mengalami kerinduan akan kasih persekutuan iaitu; keinginan untuk memberi secara penuh dan penerimaan secara penuh akan sesama dan terhadap Tuhan (Galatia 5: 22 – 26; Efesus 4: 2 – 6; 1 Kor 13: 4 – 7).   

  

4. Contemplatio ( kontemplasi ): 


Contemplatio adalah masa yang benar- benar kita mengalami akan ketenangan dengan Allah dan di dalam-Nya. Kita di dorong untuk belajar untuk “hening/diam” iaitu satu jalan yang baru ( bukan untuk melakukan tetapi hanya untuk di perlakukan ) dimana segala fikiran dan konsep, imaginasi, rasa dan perasaan ditinggalkan untuk iman yang tidak dapat di rasa dan di lihat. Bila ini berlaku, kita akan masuk ke dalam yang tidak diketahui, melepaskan segala sesuatu yang selama ini kita anggap sebagai milik kita. Ia bukan sahaja penerimaan akan jemputan Tuhan tetapi untuk menerima dan mempercayakan diri kita akan kasih–Nya. Disinilah rahmat dan kasih Yesus Kristus hadir di dalam kehidupan kita. Mengenali akan  ke-berada-an kita bererti mengetahui bahawa  kita ini di cintai oleh Tuhan itu sendiri. 


St. Pio de Pietrelcina telah mengatakan: (Priest Stigmatic 1887- 1968) 

“Ketika saya mulai berdoa, saya merasa hatiku seperti diserang nyala api cinta yang hidup. Nyala api ini berbeza dengan nyala api di dunia yang malang ini. Nyala itu begitu lembut dan halus menyengat namun tidak menimbulkan sedikit pun rasa sakit. Ia sangat manis dan menyenangkan sehingga jiwa merasa sangat berbahagia dan sentiasa dipuaskan-Nya sehingga tidak ingin kehilangan”. Pengalaman seperti ini mendorong kita untuk keluar dari kegelapan kepada terang Kristus.  

St. Louis de Montfort mengatakan: “Kita harus berdoa dengan penuh perhatian kerana Allah lebih mendengarkan ungkapan hati daripada ucapan bibir”.


     We read………( Lectio)

     Under the eye of God……(Meditatio)

     Until the heart is touched………(Oratio)

     And leaps to flame……(Contemplatio) 


Bermaksud, hati kita diubah, dibentuk dan diperbaharui oleh Tuhan melalui Sabda-Nya.


Kesimpulan untuk Lectio Divina.


1). Cara melakukannya:


Ambillah masa yang sesuai dan tempat yang tiada gangguan. Sebaliknya dimulakan dengan doa.

Petikan yang dipilih haruslah di baca dengan tenang dan bukan dengan cara yang tergesa-gesa. 

Kesedaran amat penting apabila melakukan Lectio Divina ini kerana, “segala tulisan yang di ilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Tim 3: 16).


2). Bagaimana caranya memulai Lectio Divina.


Kerana maksud dari Lectio Divina adalah untuk menerapkan Sabda Allah dalam kehidupan kita dan dengan demikian hidup kita diubah dan dipimpin olehnya, maka langkah-langkah Lectio Divina adalah sebagai berikut:


1. Ambillah sikap doa terlebih dahulu dan bawalah diri kita dalam hadirat Allah. Resapkanlah kehadiran Tuhan di dalam hati kita. Mohonlah agar Tuhan sendiri memimpin dan mengubah hidup kita melalui bacaan Kitab Suci hari itu dan Roh KudusNya.


2. Mohonlah kepada Roh Kudus untuk membantu kita memahami perikop serta bacaan yang telah dipilih itu dengan pengertian yang benar.


3. Bacalah perikop Kitab Suci tersebut secara perlahan dan dengan seksama, jika mungkin ulangi lagi sampai beberapa kali.


4. Renungkan untuk beberapa menit, akan satu kata atau ayat atau hal-hal yang disampaikan dalam perikop serta bacaan yang telah dipilih tersebut dan tanyakanlah kepada diri kita sendiri, “Apakah yang diajarkan oleh Allah melalui perikop ini kepada saya?”


5. Tutuplah doa dengan satu atau lebih resolusi/keputusan praktis yang akan kita lakukan dengan menerapkan asas ajaran yang disampaikan dalam perikop serta bacaan yang telah dipilih tersebut di dalam hidup dan keadaan kita sekarang ini.


6. Akhir sekali, bertekunlah di dalam doa dan renungankan Sabda Tuhan setiap hari. Jangan mengalah dan berputus asa. Jangan sesekali jatuh ke dalam godaan iblis yang mahu menjauhkan kita dari kasih Allah. Sering kali kita mudah mengalah kerana kesibukan kerja yang kita lakukan setiap hari serta keadaan diri kita yang letih dan penat serta mengantuk. Tetapi jika kita percaya akan pertolongan dan bantuan dari Tuhan kita juga mampu melakukannya kerana bersandar dan berharap kepada kuasa Tuhan yang pasti menolong. Ambilah dan pilihlah masa kita sendiri dan yang bersesuaian dengan cara hidup kita pada masa kini. Selamat mencuba dan Tuhan memberkati kita semua.


3). Peranan Lectio Divina: 

 

1. Lectio Divina bukanlah suatu kaedah doa tetapi ia adalah suatu proses yang berterusan dimana memerlukan masa di antara Allah dan manusia itu sendiri. Dengan kata lain, kontemplasi ada di dalam Lectio itu sendiri.


2. Lectio Divina bukanlah kaedah untuk mencapai kekudusan secara automatik tetapi ia adalah secara spontan dan penyatuan dalam penyesuaian menuju secara berperingkat akan alam kontemplasi.


3. Lectio Divina adalah pengalaman manusia dalam perkembangan hubungan peribadi yang mendalam akan Kasih Allah dalam menuju kesatuan rohani akan kehadiran-Nya yang adalah misteri.  


4). Penutup. 


St. Teresa of the Child Jesus (1873 – 1897):

“Terutama Injil sangat mengesahkan bagi saya sewaktu saya melakukan doa batin; di dalamnya saya menemukan segala sesuatu yang dibutuhkan/di perlukan oleh jiwa saya yang lemah ini. Di dalamnya saya selalu menemukan pandangan baru, dan makna yang tersembunyi dan penuh rahsia” (ms auto. A 83v). Dengan kata lain, Lectio Divina dilakukan secara peribadi.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Bab 20

  Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Abraham dan Abimelekh Bab 20 Kej 20:1 Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia...