Popular Posts

Saturday, December 30, 2023

28 Mei Beata Margaretha Pole, Martir, Santo Wilhelmus, Biarawan, Santo Bernardus dari Montjoux, Imam dan Santo Germanus dari Paris, Pengaku Iman

Beata Margaretha Pole, Martir


Margaretha lahir di sebuah desa dekat kota Bath, Inggris Selatan pada tanggal 14 Agustus 1473. Ia dikenal sebagai seorang wanita kebangsawan, pengiring ratu Katarina, permaisuri raja Henry VIII. Sepeninggal suaminya, Margaretha menjadi guru pribadi Putri raja Maria, anak Henry VIII. Dalam kedudukannya sebagai guru pribadi itu, raja Henry mengangkat Margaretha sebagai pangeran wanita Salisbury. Walaupun Henry mengenal baik kesucian hidup Margaretha, ia tidak segan-segan memecat Margaretha ketika Margaretha menentang perceraiannya dengan Katarina dan niatnya menikahi Anne Boleyn. Karena Reginaldus, Putra Margaretha, yang kemudian menjadi seorang kardinal mencela Henry karena tuntutannya untuk mengawasi Gereja, Henry memutuskan untuk melenyapkan keluarga Margaretha. Akhirnya Margaretha dipenggal kepalanya pada tahun 1541 karena dituduh mengkhianati raja. Margaretha dinyatakan sebagai ‘Beata’ (Yang Bahagia) pada tahun 1886.


Santo Wilhelmus, Biarawan


Wilhelmus adalah seorang jendral dari kaisar Karokus Agung yang berhasil menundukkan suku Bask da merebut Barcelona dari tangan orang Arab. Setelah kemenangan ini ia menjadi biarawan. Ia mendirikan sebuah biara di Gellone, Perancis. Anehnya ialah bahwa dalam biara yang didirikannya itu, ia sendiri bekerja sebagai tukang roti dan koki. Ia meninggal dunia pada tahun 812.

Santo Bernardus dari Montjoux, Imam

Bernardus dari Montjoux dikenal sebagai pelindung para pencinta pegunungan Alpen dan para pendaki gunung. Untuk membantu para wisatawan, Bernardus bersama pembantu-pembantunya mendirikan dua buah rumah penginapan. Dari nenek moyangnya, ia diketahui berketurunan Italia. Tanggal kelahirannya tidak diketahui dengan pasti, tetapi hari kematiannya diketahui terjadi pada tanggal 28 Mei 1081 di biara santo Laurensius, Novara, Italia.
Kisah masa kecilnya dan masa mudanya telah banyak dikaburkan oleh berbagai legenda. Meski demikian, suatu hal yang pasti tentang dirinya ialah tentang pendidikan imamatnya. Pendidikan imamatnya dijalaninya bersama Petrus Val d’ Isere, seorang Diakon Agung di Keuskupan Aosta. Aosta adalah sebuah kota di Italia yang terletak di pegunungan Alpen dan berjarak 50 mil dari perbatasan Prancis dan Swiss.

Karena semangat kerasulannya yang tinggi, ia diangkat menjadi Vikaris Jenderal Keuskupan Aosta. Dalam jabatan ini, Bernardus membawa angin pembaharuan di antara rekan-rekannya, biarawan-biarawan Kluni di Burgundia. Ia berusaha mendorong mereka merombak aturan-aturan biara yang terlalu klerikal dan keras. Ia mendirikan sekolah-sekolah dan rajin mengelilingi seluruh wilayah diosesnya.

Pada abad pertengahan, peziarah-peziarah dari Perancis dan Jerman rajin datang ke Italia melalui dua jalur jalan di pegunungan Alpen. Banyak dari mereka mati kedinginan karena badai salju, atau karena ditangkap oleh perampok di jalan. Melihat kejadian-kejadian itu, maka pada abad kesembilan Bernardus berusaha mendirikan dua buah rumah penginapan di antara dua jalur jalan it, tepatnya di gunung Jovis (Mentjoux), yang sekarang dikenal nama gunung Blanc. Dua rumah penginapan ini sungguh membantu para peziarah itu. Tetapi kemudian pada abad keduabelas, rumah-rumah itu runtuh diterpa badai salju. Sebagai gantinya mendirikan lagi dua buah rumah penginapan baru, masing-masing terletak di dua jalur jalan itu dengan sebuah biara berdiri di dekatnya. Kedua jalan ini sekarang dikenal dengan nama Jalan Besar dan Jalan Kecil Santo Bernardus. Untuk membina akhlak para petugas rumah penginapan dan anggota-anggota biarawan yang menghuni biara itu, Bernardus menetapkan aturan-aturan biara santo Agustinus. Ia menerima pengakuan dan ijin khusus dari Sri Paus untuk membimbing para novisinya dalam bidang karya pelayanan para wisatawan.

Karya mereka ini berkembang pesat dari hari ke hari didukung oleh seekor anjing pembantu. Tugas utama mereka ialah berusaha membantu para wisatawan dalam semua kesulitannya dengan makanan dan rumah penginapan, serta menguburkan orang-orang yang mati. Ketenaran karya pelayanan mereka ini kemudian berkembang dalam berbagai bentuk legenda. Kemurahan hati dan keramah-tamahan mereka menarik perhatian banyak orang, terutama keluarga-keluarga kaya. Keluarga-keluarga kaya ini menyumbangkan sejumlah besar dana demi kemajuan karya pelayanan santo Bernardus dan kawan-kawannya. Legenda tentang anjing pembantu Santo Bernardus masih berkembang hingga sekarang. Setelah berkarya selama 40 tahun lamanya sebagai Vikaris Jendral Bernardus meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 1081 di biara Santo Laurensius, Novara, Italia. Sri Paus Innocentius XI (1676-1689) menggelari dia ‘Kudus’ pada tahun 1681. Dan pada tahun 1923 oleh Sri Paus Pius XI (1922-1939), Bernardus diangkat sebagai pelindung para pencinta pegunungan Alpen dan para pendaki gunung.

Santo Germanus dari Paris, Pengaku Iman

Germanus atau Germain dikenal luas karena cinta kasihnya yang besar kepada orang-orang miskin dan gelandangan, karena kesederhanaan hidupnya. Ia lahir di Autun, Perancis pada tahun 496.

Setelah menjadi imam, ia diangkat menjadi Abbas biara Santo Symphorianus, yang terletak tak jauh dari Autun. Disini ia menjalani suatu kehidupan asketik yang keras dan giat membantu orang-orang miskin; kadang-kadang ia mengundang pengemis-pengemis untuk makan bersamanya di biara. Ketika raja Prancis. Childebert I (511-558), menunjuk dia sebagai Uskup Paris, ia tidak mengubah kebiasaan hidupnya yang keras dan perhatiannya kepada orang-orang miskin dan gelandangan. Menyaksikan teladan hidup Germanus, raja Childebert sendiri akhrinya menjadi dermawan: senang membantu orang miskin, membangun biara-biara dan gereja-gereja. Salah satu gereja yang terkenal adalah gereja santo Germanus yang didirikannya sesudah kematian santo Germanus.

Salah satu usaha utama Germanus ialah mendesak penghayatan cara hidup Kristen yang lebih baik di kalangan kaum bangsawan Prancis. Ia tidak henti-hentinya mengutuk orang-orang yang bejat cara hidupnya dan tidak tanggung-tanggung mengekskomunikasikan Charibert, raja Frank yang hidupnya penuh dosa. Germanus meninggal dunia pada tanggal 28 Mei 576.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Tuesday, December 26, 2023

Berkat “Urbi et Orbi” dan Indulgensi Penuh dari Bapa Suci Sri Paus (Gereja Katolik) Pemimpin Gereja Katolik Roma

Berkat “Urbi et Orbi” dan Indulgensi Penuh dari Bapa Suci Sri Paus (Gereja Katolik) Pemimpin Gereja Katolik Roma.


To my beloved brothers and sisters in the Lord Jesus Christ,


We are thankful to God for His love and forgiveness that we have received during this season of fasting and abstinence. Now, Jesus Christ who has risen from the dead is the joy and gladness of us all. With this Christmas Urbi et Orbi, let us all continue to persevere in prayer and do and carry out all our daily lives according to His plan and will. This is our responsibility as followers of Christ. May we be won over by the peace of Christ.


Praise and thanks be to God that we have all received Urbi et Orbi from Pope Francis. Be thankful for this love and forgiveness of God. I believe all of you present at St. Peter's Square rejoiced and happy in this extraordinary blessing of Urbi et Orbi. And I on behalf of the Catholic community here also remain loyal and follow this Urbi et Orbi broadcast through the youtube channel that has been aired. I see your joy and happiness, your smiles and the waving of your hands. I pray that the presence of all of you in this place will further strengthen our relationship with each other as God's holy people.


The Urbi et Orbi blessing is the most solemn form of apostolic blessing in the Catholic Church and is reserved for the Pope. It is a form of public blessing that the Pope gives for the first time immediately after his election to the papal throne and every year on Christmas and Easter days and in other exceptional circumstances.


Urbi et Orbi ('to the city [of Rome] and to the world') denotes a papal address and apostolic blessing given by the pope on certain solemn occasions.


The blessing “Urbi et Orbi” grants remission for the temporal punishment of sins that are already forgiven; that is, it confers a plenary indulgence under the conditions determined by Canon Law and made explicit by the Catechism of the Church (Nos. 1471-1484).


To earn the indulgence, it is critical to regret past sins and commit to confessing and receiving the Eucharist as soon as possible. The Urbi et Orbi blessing is effective for anyone who receives it with faith and reverence, including those who watch it online or through mass media such as television or radio.


Etymology.


The term Urbi et Orbi evolved from the consciousness of the ancient Roman Empire. The invocation is expressed by the pope in his capacity as both the bishop of Rome (urbs = city; urbi the corresponding dative form; compare: urban) and the head of the Roman Catholic Church throughout the world (orbis = earth; orbi the corresponding dative form; compare: orbit).


The formula is found more frequently in the language of the Church, as in the inscription at the Lateran Basilica, which is: omnium urbis et orbis Ecclesiarum mater et caput - "the head and mother of all churches of the city and of the earth" = the principal and mother of all churches of the world.


In the 4th century, Pope Damasus I wrote in a letter to the bishops of Illyricum: Unde iustum est, omnes in Universo Romanorum Orbe Doctores legis, ea, quae legis sunt, sapere, et non fidem doctrinis variis maculare. - (English: "Hence, it is just, that all doctors of the law in the Universe of the World of the Romans, those, who are of the law, are wise, and do not teach the faith with various doctrines.")


The ritual of the papal blessing Urbi et Orbi developed in the 13th century during the reign of Pope Gregory X, who consulted Niccolò and Maffeo Polo before his election.


Occasions.


The Urbi et Orbi address and blessing is the most solemn form of blessing in the Catholic Church, and is reserved for the most solemn occasions. These occasions include Easter, Christmas, and the proclamation of a newly elected pope concluding a conclave.


Urbi et orbi blessings are usually given from the central loggia of Saint Peter's Basilica in Rome, at noontime, and are broadcast worldwide through the European Broadcasting Union and other linkups. The address concludes with greetings in many languages in relation to the feast celebrated.


The Roman Catholic Church grants a plenary indulgence by the willful grace and intent of the pope, on the usual conditions, to those who "devoutly receive" the blessing that the pope imparts Urbi et Orbi.


For any ordinary plenary indulgence, the "usual conditions" are:


Reception of sacramental confession through a Catholic priest within 20 days (before or after) of performing the specific work.


Reception of Eucharistic communion within 20 days (before or after) of performing the specific work.


Prayers for the intentions of the pope designated for that particular month or occasion, usually at the same time the work is performed, though recitation some days before or after also suffices.


Gaining a plenary indulgence requires that a baptized Roman Catholic must also exclude any attachment to sin, even venial sin.


Since 1985, this indulgence is granted not only to the people in Saint Peter's Square, but also to those who though unable to be physically present, "piously follow" it by radio or television.


This is now extended to all who receive the papal blessing over the Internet ("the new communications medium"), since the blessing is preceded by an announcement by a cardinal (usually the cardinal protodeacon): "His Holiness Pope N. grants a plenary indulgence in the form laid down by the Church to all the faithful present and to those who receive his blessing by radio, television and the new communications media. Let us ask Almighty God to grant the Pope many years as leader of the Church and peace and unity to the Church throughout the world."


The only yearly occasions for the Urbi et Orbi blessing are Christmas and Easter. Besides that, another systematic occasion for the Urbi et Orbi comes at the end of a papal conclave when the new pope makes his first appearance to the world following his election. In addition, Popes John Paul II, Benedict XVI, and Francis started with a short speech, with the latter requesting prayers from the faithful, and John Paul II deliberately mispronouncing the word “correct” in Italian in an effort to gain the support of the followers below. The people were nervous about having a non-Italian as pope for the first time since the Dutch born Pope Adrian VI who reigned from January 1522 to September of 1523.


On 27 March 2020, Pope Francis imparted an extraordinary Urbi et Orbi blessing in response to the COVID-19 pandemic. He stood in the door of Saint Peter's Basilica, at the head of Saint Peter's Square (without the presence of the public) following a prayer. For this blessing, the Apostolic Penitentiary loosened the requirements to receive the Eucharist and go to confession, due to the impossibility for people affected by lockdowns and suspension of liturgies. The Salus Populi Romani image and the crucifix from the church of San Marcello al Corso were brought to the square for the occasion. The Pope did not use the formula of the apostolic blessing; instead, he performed a Benediction of the Blessed Sacrament.


Formulæ of apostolic blessing.


Latin:


Sancti Apostoli Petrus et Paulus: de quorum potestate et auctoritate confidimus, ipsi intercedant pro nobis ad Dominum.℟: Amen.Precibus et meritis beatae Mariae semper Virginis, beati Michaelis Archangeli, beati Ioannis Baptistae et sanctorum Apostolorum Petri et Pauli et omnium Sanctorum, misereatur vestri omnipotens Deus; et dimissis omnibus peccatis vestris, perducat vos Iesus Christus ad vitam æternam.℟: Amen.Indulgentiam, absolutionem, et remissionem omnium peccatorum vestrorum, spatium veræ et fructuosae pœnitentiae, cor semper paenitens, et emendationem vitae, gratiam et consolationem Sancti Spiritus; et finalem perseverantiam in bonis operibus tribuat vobis omnipotens et misericors Dominus.℟: Amen.Et benedictio Dei omnipotentis, Patris, et Filii, et Spiritus Sancti, descendat super vos et maneat semper.℟: Amen.


English translation:


May the Holy Apostles Peter and Paul, in whose power and authority we trust, intercede for us before the Lord.℟: Amen.Through the prayers and merits of Blessed Mary ever Virgin, Saint Michael the Archangel, Saint John the Baptist, the holy apostles Peter and Paul, and all the saints, may Almighty God have mercy on you and forgive all your sins, and may Jesus Christ bring you to everlasting life.℟: Amen.May the almighty and merciful Lord grant you indulgence, absolution and the remission of all your sins, a season of true and fruitful penance, a well-disposed heart, amendment of life, the grace and comfort of the Holy Spirit and final perseverance in good works.℟: Amen.And may the blessing of Almighty God, the Father, and the Son, and the Holy Spirit, come down on you and remain with you forever.℟: Amen.


Former practice.


Prior to the occupation of Rome by the army of the Kingdom of Italy (20 September 1870), this blessing was given more frequently and at specific basilicas at Rome:


Saint Peter's Basilica—Holy Thursday, Easter, the Feast of Saints Peter and Paul, and at the papal coronation.


Archbasilica of St. John Lateran—Ascension (sometimes this was postponed until Pentecost), and when a new pope was enthroned as Bishop of Rome.


Basilica of Saint Mary Major—Assumption.


On the occasion of a Holy Year the pope gave the blessing on other occasions too for the benefit of pilgrims. In the jubilee year of 1650 Pope Innocent XI did so at Epiphany, Pentecost, and All Saints. He and later popes gave such special-occasion blessings from the balcony of the Quirinal Palace, which was then the papal residence.


After the occupation, Pope Pius IX considered himself a "prisoner in the Vatican" and in protest ceased to give the blessing. The practice was later resumed, though in a more limited manner, following the resolution of the so-called "Roman Question" (i.e., the legal relationship between the Holy See and the Italian government).


Kepada saudara dan saudari yang tidak dapat bersama-sama dengan Pope Francis, kami mendorong anda semua untuk ikut serta extraordinary blessing "Urbi et Orbi" ini di masa hadapan serta hari-hari yang seterusnya. Berkat Urbi et Orbi adalah bentuk berkat kerasulan yang paling khusyuk dalam Gereja Katolik dan dikhaskan untuk Paus. Ia adalah satu bentuk berkat awam yang Paus berikan buat kali pertama sejurus selepas pemilihannya ke takhta Paus dan setiap tahun pada hari Krismas dan Paskah dan dalam keadaan luar biasa lain.


Berkat Apostolik (atau Berkat Kepausan) adalah sebuah berkat spesial dalam liturgi Gereja Katolik Roma. Jika Paus memberikan berkat ini, maka berkat ini disertai dengan indulgensi penuh.


Kata “Urbi et Orbi” (all’urbe e all’orbe) berasal dari frase Bahasa Latin, yang bererti kota Roma dan dunia. Jadi secara singkat dan sederhana berkat “Urbi et Orbi” adalah berkat apostolik Paus untuk kota Roma dan untuk seluruh dunia atau lebih di fahami lagi adalah untuk semua orang.


Berkat “Urbi et Orbi” adalah berkat yang tidak dapat dilakukan oleh uskup lain. Berkat ini menjadi milik khusus Paus sebagai Uskup Roma dan Pemimpin tertinggi Gereja Universal. Paus biasanya memberikan berkat “Urbi et Orbi” pada tiga kesempatan: Hari Raya Natal, Hari Raya Paskah dan sesaat setelah terpilih menjadi Paus.


Sedangkan apa yang terjadi pada 27 Mac 2020 Jumaat adalah sesuatu yang bersifat “esktraordinari” dalam kaitan dengan Pandemik Covid-19 (Pandemi: Yunani-Pan-demos: semua rakyat/semua manusia).


Boleh dikatakan bahawa berkat “Urbi et Orbi” dalam situasi darurat seperti Pandemik Covid-19 ini unik dalam sejarah dan belum pernah terjadi sebelumnya. Sejak mendiang Paus Yohanes Paulus II, Paus biasa mengawalinya dengan membawakan ucapan (renungan) peribadinya bersama-sama dengan berkat “Urbi et Orbi” dan doa kuno yang diucapkan dalam bahasa Latin.


Ada dua sumber doktrinal gereja yang berbicara tentang indulgensi penuh ini iaitu Kitab Hukum Kanonik dan Katekismus Gereja Katolik.


Pada kan.992 KHK 1983, kita boleh menemukan informasi tersebut tentang indulgensi. Dikatakan indulgensi adalah “penghapusan di hadapan Allah hukuman-hukuman sementara untuk dosa-dosa yang kesalahannya sudah dilebur, yang diperoleh oleh orang beriman kristiani yang berdisposisi baik serta memenuhi persyaratan tertentu yang digariskan dan dirumuskan, diperoleh dengan pertolongan Gereja yang sebagai pelayan keselamatan, secara otoritatif membebaskan dan menerapkan harta pemulihan Kristus dan para Kudus” bdk. KGK. 1471).


Sedangkan untuk indulgensi penuh (indulgenza plenaria, plenary indulgence) diertikan sebagai penghapusan seluruh hukuman (siksa dosa) sementara yang timbul kerana dosa-dosanya yang telah diampuni. Jika seorang umat menerima indulgensi penuh dan tiba-tiba meninggal dunia segera sesudahnya, maka ia diyakini tidak perlu menjalani pemurnian dalam purgatorium (api penyucian).


Dalam konteks Pandemik Covid-19, Takhta Suci Vatikan melalui Lembaga Penitenziaria Apostolik pada 19 Mac 2020 lalu telah mengeluarkan sebuah dekrit yang boleh menjadi panduan bagi kita. Yang mana dikatakan bahawa untuk mendapatkan indulgensi penuh, pasien virus corona yang menjalani karantina, para petugas kesehatan dan anggota keluarga yang memberi diri mendampingi dan merawat mereka dengan tahu akan risiko serius penularannya cukup dengan sederhana melafalkan Pengakuan Iman (Aku Percaya), Bapa Kami dan Salam Maria.


Sedangkan untuk kita yang lain (yang mendoakan mereka: pasien, para petugas kesehatan dan keluarga) ada pula cara-cara mendapatkan indulgensi penuh iaitu datang ke Sakramen Mahakudus atau adorasi Ekaristi, membaca Kitab Suci setidaknya selama setengah jam, berdoa Rosario, Jalan Salib, mendaraskan doa Koronka Kerahiman Ilahi, dengan ujud penghentian fenomena epidemik Covid-19, penghiburan bagi mereka yang sakit dan keselamatan kekal bagi mereka yang dipanggil Tuhan.


Indulgensi penuh juga dapat diperoleh oleh umat beriman yang pada titik kematiannya tidak dapat menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit dan Viaticum: dalam kondisi seperti ini dianjurkan untuk paling tidak menggunakan salib.


Konsep dan bentuk berkat Apostolik.


Berkat Apostolik dapat dibezakan atas dua jenis. Pertama, Berkat Apostolik khusus dari Paus atau uskup diosesan dapat diberikan (hingga tiga kali dalam satu tahun, pada hari yang ia tetapkan sendiri, meskipun ia hanya menghadiri misa tersebut). Pada saat menjelang atau ketika sudah meninggal, maka berkat dapat juga diberikan oleh seorang imam. Para imam yang baru ditahbiskan juga diperbolehkan memberikan Berkat Apostolik pada akhir misa tersebut. Berkat Apostolik yang paling dikenal adalah saat berkat Paus saat memberikan Urbi et Orbi, Hari Raya Kelahiran Tuhan Yesus Kristus, Hari Raya Kebangkitan Tuhan, dan saat setelah pemilihannya sebagai Penerus Santo Petrus. Sejak tahun 1967, penerimaan berkat melalui radio oleh Paus dari Vatikan dinilai sebagai hal efektif, dan sejak tahun 1985, termasuk penerimaan dari televisyen.


Sebagai tambahan, setiap pengeluaran berkat dari Paus untuk audiensi (khalayak orang ramai) yang tepat juga dapat disebut sebagai Berkat Apostolik. Sebagai contoh, berkat di Lapangan Santo Petrus pada hari Minggu dan hari cuti umum, saat Doa Angelus disampaikan. Hal ini mulai berlangsung sejak tahun 1450 oleh Paus Nikolas V. Namun, Berkat Paus dikeluarkan pada akhir ucapan kepada khalayak orang ramai atau pada akhir surat ucapan resminya. Hal ini terkait rapat dengan status Paus sebagai penerus Santo Petrus dan Para Rasul.


Secara umum, kedua berkat ini bukan berkat dari peribadi, tetapi memohon kepada Tuhan agar Ia berkenan memberikan berkatnya kepada yang hadir.


Pelaksanaan.


Pada saat seorang uskup diosesan memberikan Berkat Apostolik, berkat ini diberikan pada akhir Perayaan Ekaristi, menggantikan berkat yang biasa. Sangat baik, jika dalam suatu Misa akan diberikan Berkat Apostolik, pada pengantar menjelang Pernyataan Tobat diberitahukan bahawa akan diberikan Berkat Apostolik, sehingga umat dapat merenungkan dan menyesali dosa-dosanya, serta menyiapkan diri menerima indulgensi tersebut. Pada misa tersebut, dalam bagian Doa Umat ditambahkan doa untuk ujud-ujud Paus.


Sebelum memberikan Berkat Apostolik, Uskup mengenakan mitra dan diakon (atau imam) yang mendampingi Uskup menyatakan kepada umat akan adanya Berkat Apostolik. Diakon (atau imam) sesudah Uskup menyampaikan "Tuhan sertamu" mengajak umat, "Marillah menundukkan kepala untuk menerima berkat".


Saat membaca rumusan yang berbunyi "Bapa, Putera dan Roh Kudus", imam atau uskup tersebut kemudian melakukan tanda salib tiga kali di udara menghadap umat. Kemudian, umat akan menundukkan badan sambil melakukan tanda salib biasa.


Benedictio Urbi et Orbi est forma sollemnissima benedictionis apostolicae in Ecclesia catholica et papae reservatur. Forma est benedictionis publicae, quam Papa statim post electionem suam ad solium pontificium dat primum et singulis annis in Nativitate et diebus Paschae et in aliis adiunctis extraordinariis.


La benedizione Urbi et Orbi è la forma più solenne di benedizione apostolica nella Chiesa cattolica ed è riservata al papa. È una forma di benedizione pubblica che il papa impartisce per la prima volta subito dopo la propria elezione al soglio pontificio e ogni anno nei giorni di Natale e Pasqua e in altre circostanze eccezionali.


Sanctitati Vestrae, Beatissime Pater Francisce, hoc primum eximiam benedictionem a Sancta Sede Urbi et Orbi accepi. Hac amoris ac veniae a Deo benedictione, quam a Te Christi Vicario accepi, oro ut vita mea moveatur ad sanctitatem et sanctitatem Iesu Christi. Amor meus omnibus ibi deferat. Gratias tibi ago pro omnem.


A Vostra Santità, Santo Padre Francesco, è la prima volta che ricevo dalla Santa Sede la benedizione straordinaria “Urbi et Orbi”. Con questa benedizione di amore e di perdono di Dio che ho ricevuto da te come Vicario di Cristo, prego che la mia vita si muova verso la santità e santità di Gesù Cristo. Trasmetti il ​​mio amore a tutti loro lì. Grazie di tutto.


Riferimenti;

Se c'è una lingua o una parola errata e poco chiara per questo uso dell'italiano, per favore correggimi l'ordine corretto delle frasi qui. Grazie.


Editio;

Si qua in usu linguae vel verbi vel linguae Latinae falsae sint, corrigas sententiam ut me hic corrigas. Gratias tibi.


Jonathan Fabian Ginunggil,

Most High Servant / Pelayan Atasan Tertinggi,

Jesus, Mary, Joseph Ministry of Love / Yesus, Maria, Yusuf Pelayanan Kasih

(Blessed and Saints and the Nine Choirs of Angels)

Sunday, December 24, 2023

27 Mei Santo Agustinus dari Canterbury, Uskup dan Pengaku Iman dan Santo Yulius, Martir

Santo Agustinus dari Canterbury, Uskup dan Pengaku Iman


Agustinus dikenal sebagai Uskup Agung dari Canterbury, Inggris. Kehidupan masa mudanya, demikian juga masa kecilnya, tidak diketahui dengan pasti, kecuali bahwa ia berasal dari sebuah keluarga berkebangsaan Roma. Ia masuk biara Benediktin Santo Andreas yang didirikan oleh Gregorius Agung. Oleh Paus Gregorius ini, Agustinus bersama 39 orang temannya diutus ke Inggris untuk mempertobatkan orang-orang Inggris yang masih kafir. Ia menjadi pemimpin rombongan itu. Di antara rekan-rekannya, Agustinus dikenal sebagai Ahli Kitab Suci dan berjiwa rasul. Perjalanan dari Roma ke Inggris cukup melelahkan, bahkan menakutkan mereka karena banyak cerita ngeri beredar tentang orang-orang Inggris yang menjadi sasaran misi mereka. Sebagai pemimpin rombongan, Agustinus berusaha meneguhkan kawan-kawannya.

Melihat ketakutan yang semakin besar itu, Agustinus memutuskan untuk kembali ke Roma guna mendiskusikan dengan Paus Gregorius tentang kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Dengan iman dan semangat baru, Agustinus kembali menemui kawan-kawannya sambil membawa surat kuasa dari Sri Paus. Surat kuasa dan doa Sri Paus Gregorius membuat mereka berani lagi untuk melanjutkan perjalanan menuju Inggris. Mereka melewatkan musim dingin di Paris, lalu melanjutkan perjalanan pada musim semi tahun 597. Mereka mendarat di Thanet, dan dari sini mereka menantikan ijinan dari raja untuk memasuki Inggris. Beberapa orang juru bahasa diutus menghadap raja raja Ethelbert. Beberapa hari kemudian, Raja Ethelbert sendiri datang menemui para rahib itu. Ia memberikan jaminan keselamatan kepada Agustinus dan kawan-kawannya sehingga mereka tidak mengalami banyak hambatan dalam tugasnya.

Para rahib berarak menemui raja dengan membawa sebuah Salib Suci dan gambar Yesus sambil bernyanyi sehingga arakan itu terasa khikmat dan mengesankan. Oleh raja mereka diizinkan mewartakan Injil dan menetap di ibukota Inggris, Canterbury. Rejeki hidup harian mereka pun dijamin oleh raja. Mereka mulai menjalankan aturan hidup biara Benediktin seperti biasa sambil mewartakan Injil dan mengajar agama. Teladan hidup mereka yang saleh menarik hati penduduk. Raja sendiri dan beberapa pembantu minta diajari agama dan akhirnya dibaptis pada Pesta Pentekosta.
Pada hari raya natal 597 lebih dari 10.000 orang Anglosakson dipermandikan. Hasil ini sangat menggembirakan hati para misionaris Benediktin itu. Peristiwa ini diberitakan kepada Sri Paus Gregorius Agung. Sri Paus membalas surat Agustinus dan kawan-kawannya sambil mengajak mereka agar tetap rendah hati: “Apabila engkau mengingat bahwa engkau selalu berdosa terhadap Penciptamu dengan perkataan, perbuatan dan kelalaian, baiklah ingatan itu pun melenyapkan segala kesombongan yang mungkin timbul di dalam hatimu”.

Sebagai Uskup Agung Canterbury, Agustinus sungguh berjasa bagi Gereja Katolik Inggris. Ia adalah perintis Gereja disana. Ia membuka dua lagi keuskupan di Inggris, tetapi tidak dapat mempersatukan umat Britania yang telah lama menjadi Kristen itu. Tetapi sebagai perintis, ia sangat berjasa untuk menghantar orang-orang Anglosakson kepada pengenalan akan Kristus dan InjilNya.
Pada tanggal 26 Mei 604, Agustinus meninggal dunia dan dimakamkan di luar tembok Canterbury, dekat sebuah gereja baru yang dibangunnya.


Santo Yulius, Martir


Veteran Romawi ini menjalani dinas militer selama 27 tahun. Ia ditangkap karena memeluk agama Kristen. Bersama dengan Santo Valensio dan Santo Hesikius, ia dipenjarakan di Silistria, Rumania sampai dijatuhi hukuman pancung karena tidak mau menyembah berhala.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Saturday, December 23, 2023

Apakah itu Jubli menurut ajaran dan penjelasan dari Gereja Katolik serta Tradisi kita

Apakah itu Jubli?

“Jubli” ialah nama yang diberikan kepada tahun tertentu; nama itu berasal daripada instrumen yang digunakan untuk menandakan pelancarannya. Dalam kes ini, instrumen yang dimaksudkan ialah yobel iaitu tanduk domba jantan yang digunakan untuk mengumumkan Hari Pendamaian (Yom Kippur). Cuti (Yahudi) ini berlaku setiap tahun tetapi ia mengambil makna yang istimewa apabila ia menandakan permulaan tahun Jubli. Kita boleh menemui petunjuk awal tentangnya di dalam Alkitab: tahun Jubli perlu ditandakan setiap 50 tahun kerana ini akan menjadi tahun "tambahan" yang akan berlaku setiap tujuh minggu dalam tujuh tahun iaitu setiap 49 tahun ( rujuk Imamat 25:8-13). Walaupun ia tidak mudah untuk diatur ia bertujuan untuk ditandakan sebagai masa untuk mewujudkan semula hubungan yang betul dengan Tuhan dan antara satu sama lain, dan dengan semua ciptaan, dan melibatkan pengampunan hutang, pemulangan yang diselewengkan, tanah, dan tempoh terbiar untuk ladang.
Memetik dari Nabi Yesaya, Injil Lukas menggambarkan misi Yesus dengan cara ini: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Lukas 4:18-19; lih. Yesaya 61:1- 2). Yesus menghayati kata-kata ini dalam kehidupan sehari-harinya, dalam pertemuannya dengan orang lain dan dalam hubungannya, yang semuanya membawa pembebasan dan penukaran.
Pada tahun 1300, Paus Bonifasius VIII memanggil Jubli pertama, juga dikenali sebagai "Tahun Suci," kerana ia adalah masa di mana kekudusan Tuhan mengubah kita. Kekerapan Tahun Suci telah berubah dari semasa ke semasa: pada mulanya, ia disambut setiap 100 tahun; kemudian, pada 1343 Pope Clement VI mengurangkan jurang antara Jubli kepada setiap 50 tahun, dan pada 1470 Pope Paul II membuatnya setiap 25 tahun. Terdapat juga Tahun Suci "luar biasa": contohnya, pada tahun 1933 Pope Pius XI memilih untuk memperingati ulang tahun Penebusan yang ke 1900 dan pada tahun 2015 Pope Francis mengisytiharkan Tahun Kerahiman sebagai jubli yang luar biasa. Cara penandaan Tahun Jubli juga telah berubah sepanjang berabad-abad: pada asalnya Tahun Suci terdiri daripada ziarah ke Basilika Roma Santo Petrus dan Santo Paulus kemudian tanda-tanda lain telah ditambah seperti Pintu Suci. Dengan mengambil bahagian dalam Tahun Suci seseorang diberikan indulgensi pleno.

Bulla Kepausan.

Bulla kepausan merupakan suatu jenis tertentu paten surat (letters patent) atau piagam yang dikeluarkan oleh seorang Paus dari Gereja Katolik Roma. Istilah yang digunakan untuk dokumen ini berasal dari segel berbahan timah hitam (bulla) yang ditambahkan pada bagian akhir untuk mengautentikasinya.


Sejarah.


Bulla kepausan telah digunakan setidaknya sejak abad ke-6, tetapi istilah ini belum digunakan sampai sekitar akhir abad ke-13, dan kemudian baru digunakan secara internal untuk keperluan administratif yang tidak resmi. Namun pada abad ke-15 menjadi resmi penggunaannya ketika salah satu layanan dari Pejabat Kepausan dinamakan "pencatatan bulla-bulla" (registrum bullarum).


Bulla Paus.


Bulla paus atau titah-perintah/warta paus (papal bull) merupakan suatu jenis paten surat tertentu (letters patent) atau piagam yang dikeluarkan oleh seorang Paus Gereja Roamm Katolik. Istilah yang digunakan untuk dokumen ini berasal dari suatu cop mohor diperbuat daripada timah hitam (bulla) yang ditambahkan pada lipatan tertutup surat sebagai tanda pengesahan penulis atau pewartanya.


Format.


Isi teks warta ini tiada bentuk yang khusus, malah ia boleh dikarang seringkasnya. Bahagian penutup ia terdiri daripada suatu "datum" pendek yang tertera tempat, tarikh dan tahun pemerintahan Paus serta tandatangan Paus tersebut. Suatu cap mohor dikenakan bersebelahan datum ini.


Titah perintah ini adakalanya ditandatangani Paus sendiri dengan format "Ego N. Catholicae Ecclesiae Episcopus" ("Saya, ______ , Uskup Gereja Katolik") bersama monogram peribadinya, tandatangan para saksi serta suatu cap mohor. Tugasan tersebut kini lebih dilakukan sebuah anggota Kuria Roma bagi pihak beliau, biasanya oleh Setiausaha Negara Kardinal, maka sebarang monogram tidak dipakai.


Tradisi menetapkan bahawa setiap Jubli diisytiharkan melalui penerbitan 'Bull of Indiction' Papal (atau Pontifical). Dengan 'Bull' bermaksud dokumen rasmi, biasanya ditulis dalam bahasa Latin, mengandungi meterai Paus, yang bentuknya memberikan namanya kepada dokumen itu sendiri.

Pada masa lalu meterai itu biasanya diperbuat daripada plumbum dan berlubang serta di hadapan, imej gambar Santo Petrus dan Paulus, pengasas Gereja Roma dan di belakang pula ada nama Paus semasa. Kemudian setem dakwat menggantikan meterai logam yang bagaimanapun terus digunakan untuk dokumen yang lebih penting.

Setiap Bulla dikenal pasti dengan perkataan awalnya. Sebagai contoh, Santo Yohanes Paulus II mengisytiharkan "the Great Jubilee of the Year 2000" dengan “Bull Incarnationis Mysterium” (The Mystery of the Incarnation) manakala Pope Francis mengisytiharkan "the Extraordinary Jubilee of Mercy" (2015-2016) dengan “Bull Misericordiae vultus” (The face of mercy).

Bulla yang mengumumkan Jubli yang menunjukkan tarikh permulaan dan akhir Tahun Suci biasanya dikeluarkan pada tahun sebelumnya iaitu bertepatan dengan Hari Raya Kenaikan Yesus Kristus. Untuk Jubli 2025 penerbitan dijangka pada tahun 9 Mei 2024.

Logo Jubli.

Logo itu menunjukkan empat figura bergaya mewakili seluruh umat manusia yang datang dari empat penjuru bumi. Mereka berpelukan antara satu sama lain untuk menunjukkan perpaduan dan persaudaraan yang sepatutnya menyatukan semua rakyat. Sosok di hadapan memegang salib. Ia bukan sahaja tanda iman yang dipeluk oleh tokoh utama ini tetapi juga harapan yang tidak boleh ditinggalkan kerana kita sentiasa memerlukan harapan terutamanya pada saat-saat kita sangat memerlukan. Terdapat ombak yang bergelora di bawah angka itu yang melambangkan hakikat bahawa ziarah kehidupan tidak selalu berjalan lancar di perairan yang tenang. Selalunya keadaan kehidupan harian dan peristiwa di dunia yang lebih luas memerlukan panggilan yang lebih besar untuk berharap. Itulah sebabnya kita harus memberi perhatian khusus kepada bahagian bawah salib yang telah memanjang dan berubah menjadi bentuk sauh yang diturunkan ke ombak. Sauh terkenal sebagai simbol harapan. Dalam jargon maritim 'sauh harapan' merujuk kepada sauh simpanan yang digunakan oleh kapal yang terlibat dalam gerakan kecemasan untuk menstabilkan kapal semasa ribut. Perlu diingat bahawa imej itu menggambarkan perjalanan penziarah bukan sebagai usaha individu tetapi sebaliknya sebagai sesuatu yang komunal yang ditandai dengan kedinamikan yang semakin meningkat yang membawa seseorang semakin dekat dengan salib. Salib dalam logo sama sekali tidak statik tetapi ia juga dinamik. Ia membungkuk ke arah kemanusiaan dan tidak meninggalkan manusia sendirian tetapi menghulurkan kepada mereka untuk menawarkan kepastian kehadirannya dan keselamatan harapan. Di bahagian bawah logo terdapat moto Tahun Jubli 2025: Peregrinantes in Spem (Pilgrims in hope) diwakili dalam huruf hijau.

Pilgrims of Hope.

Original text: Pierangelo Sequeri
English translation: Andrew Wadsworth
 
Like a flame my hope is burning,
may my song arise to you:
Source of life that has no ending,
on life’s path I trust in you.
 
Ev’ry nation, tongue, and people
find a light within your Word.
Scattered fragile sons and daughters
find a home in your dear Son.
 
Like a flame my hope is burning,
may my song arise to you:
Source of life that has no ending,
on life’s path I trust in you.
 
God, so tender and so patient,
dawn of hope, you care for all.
Heav’n and earth are recreated
by the Spirit of Life set free.
 
Like a flame my hope is burning,
may my song arise to you:
Source of life that has no ending,
on life’s path I trust in you.
 
Raise your eyes, the wind is blowing,
for our God is born in time.
Son made man for you and many
who will find the way in him.
 
Like a flame my hope is burning,
may my song arise to you:
Source of life that has no ending,
on life’s path I trust in you.

The Jubilee Prayer:

Father in heaven,
may the faith you have given us
in your son, Jesus Christ, our brother,
and the flame of charity enkindled
in our hearts by the Holy Spirit,
reawaken in us the blessed hope
for the coming of your Kingdom.
 
May your grace transform us
into tireless cultivators of the seeds of the Gospel.
May those seeds transform from within both humanity and the whole cosmos
in the sure expectation
of a new heaven and a new earth,
when, with the powers of Evil vanquished,
your glory will shine eternally.
 
May the grace of the Jubilee
reawaken in us, Pilgrims of Hope,
a yearning for the treasures of heaven.
May that same grace spread
the joy and peace of our Redeemer
throughout the earth.
To you our God, eternally blessed,
be glory and praise for ever. Amen.

Preghiera del Giubileo:

Padre che sei nei cieli,
la fede che ci hai donato nel
tuo figlio Gesù Cristo, nostro fratello,
e la fiamma di carità
effusa nei nostri cuori dallo Spirito Santo,
ridestino in noi, la beata speranza
per l’avvento del tuo Regno.
 
La tua grazia ci trasformi
in coltivatori operosi dei semi evangelici
che lievitino l’umanità e il cosmo,
nell’attesa fiduciosa
dei cieli nuovi e della terra nuova,
quando vinte le potenze del Male,
si manifesterà per sempre la tua gloria.
 
La grazia del Giubileo
ravvivi in noi Pellegrini di Speranza,
l’anelito verso i beni celesti
e riversi sul mondo intero
la gioia e la pace
del nostro Redentore.
A te Dio benedetto in eterno
sia lode e gloria nei secoli. Amen.

Doa Tahun Yubileum:
 
Bapa yang ada di surga,
semoga iman yang telah Engkau anugerahkan kepada kami
dalam Putra-Mu, Yesus Kristus, saudara kami,
dan nyala api cinta kasih
yang dicurahkan ke dalam hati kami oleh Roh Kudus,
membangkitkan pengharapan yang mulia
akan kedatangan Kerajaan-Mu di dalam diri kami.
 
Semoga rahmat-Mu mengubah kami
menjadi penabur-penabur yang gigih akan benih- benih Injil
yang menghidupkan umat manusia dan seluruh alam semesta
dalam penantian yang penuh iman
akan surga dan bumi baru,
ketika mengalahkan kekuatan Jahat,
kemuliaan-Mu akan dinyatakan untuk selama- lamanya.
 
Semoga rahmat Tahun Yubileum ini
menghidupkan kembali dalam diri kami, Para Peziarah Pengharapan,
kerinduan akan harta surgawi,
dan curahkanlah bagi seluruh dunia,
sukacita dan damai
dari Sang Penebus kami.
Bagi-Mu, ya Allah yang Mahakuasa,
pujian dan kemuliaan sepanjang segala masa. Amin.

Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia

26 Mei Santo Philipus Neri, Pengaku Iman dan Santa Mariana dari Quito, Pengaku Iman

Santo Philipus Neri, Pengaku Iman


Riwayat hidup Philipus Neri ini menggembirakan karena sifat dan kepribadiannya yang menarik. Pippo Buono, yang berarti Pippo yang baik adalah nama panggilan Philipus semasa kecilnya. Ia lahir di Florence dari sebuah keluarga Notaris. Ia mendapat pendidikan yang baik terutama dalam sastra latin. Pada tahun 1534 ia tiba di Roma. Ia bermaksud melanjutkan perjalanannya ke India tetapi Allah memilihnya menjadi Rasul di kota Abadi itu. Philipus yang pada saat itu masih berstatus awam memberikan pengajaran kepada beberapa orang anak untuk memperoleh sedikit biaya hidup. Karyanya ini membuat banyak orang mengenal dia terutama di kalangan para pemuda. Banyak pemuda diundangnya ke rumahnya. Disana mereka berdiskusi, menyanyi, berdoa, dan kadang-kadang berlatih pidato singkat mengenai sesuatu pokok masalah tertentu. Pada mulanya tidak terlintas keinginan untuk membentuk suatu perkumpulan tetap. Tetapi kemudian mereka berkeputusan untuk membentuk suatu perkumpulan di bawah perlindungan Suci Bunda Maria. Mereka hidup bersama dalam satu rumah tanpa mengikrarkan kaul-kaul.


Setelah Philipus Neri ditabhiskan menjadi imam pada tahun 1551, perkumpulan ini berkembang meluas ke seluruh Roma. Philipus terus meningkatkan perlayanan kepada pemuda-pemuda itu. Kini ia menuntut agar para muridnya benar-benar menyerahkan diri seutuhnya kepada Tuhan. Ia tidak mengharapkan banyak dari para muridnya, kecuali kerendahan hatinya kepada Tuhan saja. Meskipun demikian perkumpulannya tidak terlalu keras. Philipus Neri bukanlah seorang pemulih ketertiban, bukan juga seorang Teolog kenamaan atau seorang politikus. Ia, orang biasa, tetapi hidupnya merupakan rentetan mukzijat yang tidak henti-hentinya. Tidaklah jarang ia mengalami ekstase. Ia dapat membaca suasana batin orang lain dan mengenal rahasia-rahasia pribadi orang. Ia dapat meramalkan masa depan seseorang dan apa yang akan terjadi atas dirinya. Untuk menyembuhkan orang dari sakitnya, cukuplah ia menyentuh orang itu. Demikian juga semua orang yang gelisah dan susah hatinya karena berbagai masalah. Beliau tetap riang-gembira, jujur, ramah kepada setiap orang. Ia memberi semangat dan harapan kepada orang-orang di sekelilingnya dengan kepercayaan, cinta kasih dan kegembiraannya, sehingga banyak orang terhibur karenanya. Setiap hari di tempat pengakuannya dikerumuni oleh orang banyak, bahkan kardinal-kardinal pun datang meminta nasehat dan bimbingan. Ia dijuluki ‘Pelopor Anti Reformasi’. Pada tanggal 26 Mei 1595 Philipus Neri meninggal dunia dalam usia 80 tahun. Ia dihormati gereja sebagai Rasul kota Roma.


Santa Mariana dari Quito, Pengaku Iman


Mariana de Paredes Y. Flores yang dijuluki “Bunga lily dari Quito” lahir di Quito, Ekuador pada tahun 1618. Ayahnya seorang bangsawan kaya raya Spanyol. Tetapi sayang sekali bahwa semenjak kecilnya, Mariana sudah ditinggal mati kedua orangtuanya. Hidupnya ditanggung oleh seorang kakaknya perempuan yang sudah berumah tangga. Meski hidup sebagai anak yatim-piatu, Mariana memiliki suatu keistimewaan adikodrati. Semenjak kecilnya, ia sudah menaruh minat besar pada hal-hal kerohanian dan kehidupan bakti kepada Tuhan. Ia rajin sekali berdoa dan mengikuti perayaan Misa Kudus. Sebelum batas waktu untuk menerima Komuni Suci seperti yang ditentukan aturan Gereja, ia sudah diperkenankan oleh pastor paroki untuk menerima Komuni Suci. Ketika berusia 12 tahun, ia mengatakan kepada kakaknya niatnya untuk membentuk sebuah perkumpulan untuk mempertobatkan bangsa Jepang yang masih kafir. Niat luhur ini gagal. Sebagai gantinya, ia berniat lagi menjalani hidup bertapa di daerah pegunungan dekat Quito. Niat ini pun gagal lagi. Kawan-kawannya mendesak ia masuk biara. Namun semuanya ini selalu saja menemui jalan buntu.


Menyaksikan semua kegagalan ini, ia mulai menyadari bahwa Tuhan mempunyai suatu rencana lain atas dirinya. Tuhan lebih menghendaki agar dia tetap tinggal di rumah kakaknya sambil menjalani hidup menyendiri dalam kemiskinan, matiraga dan doa-doa. Untuk itu dengan bantuan kakaknya, ia membangun sebuah gubuk sederhana guna melaksanakan rencana Tuhan itu di bawah bimbingan seorang Yesuit sebagai pembimbing rohani dan bapa pengakuan. Dia tidak pergi kemana-mana kecuali ke Gereja untuk berdoa dan merayakan Misa Kudus. Matiraganya sangat luar biasa. Hal ini mengkhawatirkan banyak orang di sekitarnya, bahkan membuat mereka bertanya-tanya “Mengapa Bapa Pengakuannya membiarkan gadis remaja ini menjalani hidup sekeras itu?” Setiap hari Jumat malam, ia berbaring di dalam sebuah peti mayat seperti layaknya seorang yang benar-benar mati. Tangan dan kakinya diikat dengan rantai. Sementara itu, waktu tidurnya dalam sehari hanya tiga jam saja. Sisa waktunya dipakai untuk melakukan latihan rohani. Cara hidup ini memang aneh di mata kakaknya. Tetapi justru itulah kehendak dan rencana Allah atas dirinya. Sebagai pahalanya, Tuhan mengaruniakan kepadanya kemampuan meramal dan membuat mukjizat.


Pada tahun 1645, kota Quito digetarkan oleh gempa bumi yang dahsyat disertai wabah penyakit menular yang ganas. Menghadapi bencana ini, timbullah tekad dalam dirinya untuk mengorbankan diri sebagai tebusan bagi dosa-dosa penduduk kota Quito. Tekad ini disampaikannya secara tegas kepada Tuhan. Gempa dahsyat itu berhenti, demikian pula wabah penyakit menular itu. Sebagai gantinya, Mariana sendiri jatuh sakit dengan komplikasi berat sampai akhirnya meninggal dunia pada tanggal 26 Mei 1645 dalam usianya 25 tahun. Segenap penduduk kota Quito yang selamat dari bahaya maut itu sangat sedih karena kematian Mariana. Mereka menyebut dia ‘Bunga Lili dari Quito’ karena kesalehan hidupnya di tengah-tengah penduduk kota yang buruk kelakuannya. Ia digelari ‘Kudus’ pada tahun 1950.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Wednesday, December 20, 2023

25 Mei Santo Gregorius VII, Paus dan Pengaku Iman, Santa Magdalena Sofia Barat, Pengaku Iman, Santo Beda, Pengaku Iman dan Pujangga Gereja dan Santa Maria Magdalena de Pazzi, Perawan

Santo Gregorius VII, Paus dan Pengaku Iman


Saat terakhir kehidupan Gregorius di jalani di tempat pengasingan. Ia meninggal dunia di Salerno, Sisilia pada tanggal 25 Mei 1085. Ia seorang pencinta keadilan dan perdamaian. Hal ini dapat disimak dari kata-katanya yang terakhir sebelum ajalnya: “Aku telah mencintai keadilan dan perdamaian dan membenci kelaliman. Karena itu aku meninggal di pengasingan.”


“Mencintai keadilan dan perdamaian dan berjuang untuk menegakkannya demi kebaikan Gereja” adalah warna dasar seluruh kehidupan Gregorius. Hildebrand nama kecil Gregorius VII, lahir di Toskania, Italia Tengah pada tahun 1020 dari sebuah keluarga sederhana. Setelah menjadi rahib di sebuah biara Ordo Benediktin di luar negeri, ia dikirim belajar di biara Santa Maria di Roma. Karena kemampuan dan prestasinya sungguh luar biasa, ia dipindahkan ke Schola Cantorum, sebuah sekolah ternama di Roma. Di sini ia dibimbing oleh Yohanes Gratian, seorang imam yang menjadi Paus pada tahun 1045, dengan nama ‘Gregorius VI’. Oleh Gregorius VI, Heldebrand diangkat menjadi Sekretaris Pribadi. Tetapi kemudian dalam Konsili Sutri pada tahun 1046 yang diprakarsai oleh kaisar Jerman Henry III, Gregorius VI (1045-1046)-pengganti Paus Benediktus IX-dipaksa meletakkan jabatannya sebagai Paus karena dituduh melakukan praktek Simonia (= membeli jabatan Paus dengan uang). Sebagai gantinya, Konsili memilih Klemens II (1046-1047).


Setelah pemecatannya, Gregorius VI meninggalkan kota Roma dan mengungsi ke pegunungan Alpen ditemani oleh Hildebrand. Dari tempat pengungsian itu, Hildebrand pergi ke Jerman. Disana ia menjalin hubungan erat dengan Uskup Bruno dari Toul. Bersama Uskup Bruno, ia ikut membaharui kehidupan Gereja. Tatkala Uskup Bruno terpilih menjadi Paus (Paus Leo IX, 1049-1054), Hildebrand menemaninya ke Roma. Disana ia ditabhiskan menjadi Diakon Agung, suatu jabatan penting yang bertugas mengurus hubungan Tahkta Suci dengan negara-negara lain. Selain itu, ia dipercayakan jabatan sebagai pengawas keuangan kePausan. Sebagai rekan kerja terdekat Paus Leo IX, Hildebrand turut aktif melaksanakan berbagai program pembaharuan hidup menggereja.

Situasi Gereja pada masa itu sangat memprihatinkan. Berbagai kebiasaan buruk merajalela di kalangan raja-raja dan kaisar. Mereka tanpa segan-segan turut campur tangan dalam urusan-urusan yang sebenarnya menjadi urusan intern Gereja. Sering terjadi praktek pelantikan Imam dan Uskup dilakukan oleh raja atau kaisar, hanya karena dipandang dapat memberikan keuntungan kepada kerajaan atau kekaisaran. Jabatan Imam dan Uskup bahkan Paus dapat dibeli dengan uang. Soal kelayakan pribadi tidak diperhitungkan sama sekali. Kecuali itu, imam-imam pun tidak menghayati imamatnya dengan baik. Karya pembaharuan Gereja digalakkan untuk melenyapkan berbagai praktek itu.


Keberhasilan awal dari usaha Hildebrand diperolehnya di biara Santo Paulus di Roma. Dengan pengaruhnya yang besar ia berhasil mengembalikan citra kehidupan imamat di antara kaum imam-imam yang hidup di dalam biara itu. Umat di Roma mulai bangkit lagi dengan semangat baru untuk menghayati imannya secara sungguh-sungguh. Oleh karena itu, ketika Leo IX meninggal dunia, orang-orang Roma dengan suara bulat memilihnya menjadi pengganti Leo IX. Tetapi Hildebrand yang ketika itu sedang bertugas di Prancis segera meminta agar umat memilih saja orang lain. Ia sendiri pun berjuang untuk mengangkat Gebhard, Uskup kota Eichstadt sebagai pengganti Leo IX. Pada tahun 1055, Gebhard menjadi Paus dengan nama Viktor II (1055-1057). Sepeninggal Viktor II (1057), Frederick dari Monte Casino diangkat menjadi Paus dengan nama Stefanus IX (1057-1058). Setahun kemudian ia meninggal dunia dan diganti oleh Uskup Gerhard dari Florence dengan nama Nikolas II (1059-1061).


Pada masa kepemimpinan Paus Nikolas II terjadi dua peristiwa penting. Pertama, terbitnya dekrit pembaharuan aturan pemilihan Paus baru. Pemilihan ini sepenuhnya berada dalam tangan para Kardinal, tanpa campur tangan kaisar. Kedua, penandatanganan naskah perjanjian dengan bangsa Normandia yang menguasai Italia Selatan. Kedua peristiwa ini terjadi atas prakarsa Hildebrand, yang menjabat sebagai Diakon Agung. Peraturan baru mengenai pemilihan Paus mulai diterapkan Hildebrand ada waktu pemilihan Paus Aleksander II (1061-1073).

Sepeninggal Aleksander II, peraturan baru itu seolah tidak berlaku. Umat secara spontan dan suara bulat memilih Hildebrand sebagai Paus, mengingat kesalehan hidupnya dan berbagai prestasinya dalam menangani urusan-urusan Gereja. Karena berpegang teguh pada aturan pemilihan yang baru, Hildebrand bersikeras menolak keinginan umat itu. Namun akhirnya ia menerimanya juga karena ketulusan hati umat. Ia menduduki Tahkta Santo Petrus dengan nama Gregorius VII (1073-1085).


Semenjak ia merestui keinginan umat untuk menjadi Paus, berbagai tugas yang berat yang menuntut penyelesaian segera bermunculan secara beruntun. Program yang telah dijalankannya selama 25 tahun terus dijalankan. Ia berjuang keras memberantas berbagai praktek buruk di kalangan awam (kaisar dan raja-raja) dan kalangan pejabat Gereja. Praktek memperjual belikan jabatan imam dan Uskup juga diberantasnya. Ia mengadakan sinode-sinode untuk membicarakan masalah-masalah itu sekaligus untuk mencarikan jalan keluarnya. Ia menegaskan kepada para Uskup agar tidak lagi membiarkan Gereja Kristus dipermainkan oleh orang awam yang tidak bertanggungjawab. Ketegasannya dan pelbagai usaha pembaharuannya mendapat perlawanan keras dari kaum awam, terutama kaisar. Di Spanyol, Prancis, terutama di Jerman di bawah kaisar Hendrik IV, para imam dan kaum awam dengan keras menentang kebijaksanaan Paus Gregorius VII. Meskipun demikian Gregorius tak tergoncangkan pendiriannya. Sebaliknya ia mengutus pembantu-pembantunya ke seluruh Eropa dengan kuasa penuh untuk memecat semua imam yang hidup tidak sesuai dengan imamatnya. Demikian juga semua orang yang menjadi imam dengan cara ‘simonia’.


Ia menerbitkan sebuah dekrit yang dengan keras melarang kaum awam, termasuk raja-raja dan kaisar untuk terlibat dalam hal pengangkatan pejabat-pejabatan Gereja. Ia mengekskomunikasikan semua imam yang menduduki jabatan suci dengan cara yang tidak benar dan sah menurut aturan Gereja. Bahkan ia memecat beberapa Uskup Saxon dan menggantinya dengan orang-orang pilihannya sendiri. Sebagai reaksi, kaisar Hendrik IV menahbiskan diakon Teolbaldo sebagai Uskup Agung Milan, Italia Utara. Gregorius menentangnya dengan tindakan ekskomunikasi.

Pada misa Natal 1075, Gregorius ditangkap dan dipenjarakan. Tetapi ia segera dibebaskan oleh umat Roma yang mencintainya. Hendrik segera mengadakan pertemuan dengan uskup-uskup Jerman di Worms pada tahun 1076. Mereka menuduh Gregorius melakukan berbagai tindakan kriminal dan dengan tegas menyatakan bahwa pengangkatannya sebagai Paus adalah tidak sah. Lebih lanjut mereka mendesak agar Gregorius segera turun Tahkta Santo Petrus.

Melihat bahwa Hendrik IV telah diekskomunikasikan oleh Gregorius, sejumlah besar Pangeran Jerman membelot dan bangkit melawan Hendrik. Mereka berkumpul di Tribur dan memberhentikan Hendrik sebagai kaisar Jerman. Menyaksikan peristiwa kacau ini, Hendrik segera mengambil tindakan berani yakni meminta pengampunan Paus. Dengan sejumlah kecil pengikutnya, ia berangkat menuju istana Kanossa, tempat peristirahatan Gregorius. Selama tiga hari, Hendrik berdiri di halaman istana Kanossa, sebagai seorang peniten yang mau bertobat. Mengingat kedudukannya sebagai seorang gembala umat yang berkewajiban mengampuni setiap umatnya yang bertobat, Gregorius akhirnya rela mengampuni Hendrik dan menarik kembali keputusan ekskomunikasinya setelah Hendrik berjanji untuk menaati aturan-aturan yang ditetapkan Paus dan Hukum Gereja.


Pengampunan ini membebaskan dia dari dosanya sekaligus ancaman para pangeran. Ia kembali ke Jerman untuk memulihkan kembali kedudukannya sebagai kaisar. Meski demikian, para pangeran tidak mengakuinya lagi. Mereka mengangkat Rudolf, seorang pangeran dari Swadia untuk menduduki tahkta kekaisaran. Perang segera berkobar. Rudolf terbunuh dalam perang itu. Dengan demikian Hendrik kembali berkuasa. Ia lalu kembali kepada perbuatannya, yakni mengangkat kaum awam untuk menduduki jabatan-jabatan Gereja. Ia mengancam Gregorius dengan mengangkat Guibertus, Uskup Agung Ravenna yang telah diekskomunikasikan Gregorius sebagai Paus tandingan, dengan nama Klemens III (1080-1100). Dan oleh Klemens III, Hendrik di nobatkan sebagai kaisar di Basilik Santo Petrus pada tanggal 31 Maret 1084.


Situasi ini tidak berakhir. Pangeran Robertus Guiscard, seorang sahabat Gregorius dari suku Normandia di Italia Selatan, berangkat ke Roma dengan kekuatan besar untuk memaksa Hendrik turun dari tahktanya. Dia berhasil mengalahkan Hendrik. Takhta KePausan kembali dipulihkan. Tetapi karena orang-orang Roma tidak suka kepada orang-orang Normandia, maka berkobarlah pertempuran hebat. Menghadapi kekacauan ini, Gregorius mengasingkan diri ke Salerno, Italia Selatan. Disana ia mengampuni kembali orang-orang yang telah diekskomunikasikannya, kecuali Hendirk IV dan Guibertus. Disana pula ia menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 25 Mei 1085. Gregorius VII, seorang Paus yang besar dan terkenal. Perjuangannya untuk menegakkan martabat Gereja dilanjutkan oleh Paus-Paus yang menggantikannya.


Santa Magdalena Sofia Barat, Pengaku Iman


Magdalena Sofia Barat (Madeleine Sophiebarat) lahir di Joigny, Burgundy, Perancis pada tanggal 12 Desember 1779. Di bawah bimbingan seorang kakaknya yang sudah menjadi imam, Magdalena dididik secara ketat dengan disiplin dan latihan-latihan matiraga. Pendidikan ini terasa sangat berat untuk seorang wanita yang masih muda belia. Namun itulah yang kiranya menjadi persiapan baik bagi Magdalena menuju keberhasilannya di masa depan.


Pada waktu itu, Varin, Pastor Paroki setempat memulai pembangunan sebuah perkumpulan yang mengabdikan diri secara khusus kepada karya pendidikan bagi para putri-putri. Perkumpulan ini menjadi bagian dari Serikat Yesus, dan dipersembahkan kepada perlindungan Hati Yesus yang MahaKudus. Ketika perkumpulan ini mulai berjalan, Magdalena bersama tiga orang kawannya mendaftarkan diri sebagai anggota pertama. Pada tahun berikutnya,keempat putri ini memulai kehidupannya di dalam perkumpulan itu sebagai postulan.

Setelah mendapat pendidikan intensif, Magdalena diutus ke kota Amiens untuk mengajar di sebuah sekolah yang ada disana. Tugasnya sebagai guru dijalankannya dengan sangat baik. Dalam waktu singkat, ia mendirikan sebuah biara di kota itu. Ia sendiri menjadi pemimpin biara itu, meskipun usianya tergolong masih sangat muda sekali, yaitu 23 tahun. Kepribadiannya yang menarik, kesalehan dan kebijaksanaannya membuat dia mampu membina biara ini dengan sukses. Magdalena memang seorang pemimpin yang penuh semangat dalam karya pengabdiannya. Pada usia 26 tahun, ia mengumpulkan dan membina sekelompok guru yang bercita-cita membangun kembali Pendidikan Katolik bagi putri-putri, yang sudah tidak berjalan karena revolusi Prancis.


Dalam waktu singkat kelompok guru baru yang tergabung di dalam Kongregasi Suster Hati Kudus (Sacre Coeur) ini menyebar ke seluruh Prancis untuk menjalankan misinya di bidang pendidikan bagi putri-putri. Magdalena sebagai pemimpin mendampingi suster-susternya dengan bijaksana dan penuh keberanian. Ia membimbing mereka sebagai pemimpin selama 63 tahun dengan hasil yang sangat memuaskan. Banyak sekolah dibukanya di banyak tempat. Di antara sekolah-sekolah itu, ada satu sekolah yang dikhususkan untuk menampung anak-anak dari biara Visitasi yang ada di Grenonle. Dari antaranya terdapat orang-orang seperti: Bl. Philippine Duchesne yang kemudian menyebarkan biara itu ke Amerika pada tahun 1818.


Kongregasi Hati Kudus ini kemudian mendapat pengakuan dan pengesahan dari Sri Paus Leo XII (1878-1903) pada tahun 1826. Pada tahun 1830, novisiatnya di Piters ditutup karena revolusi yang terjadi di negeri itu. Sebagai gantinya Magdalena mendirikan sebuah novisiat di Swiss. Dalam kepemimpinannya, Magdalena senantiasa menyemangati para susternya untuk mencari kemuliaan Tuhan Yesus dengan bekerja keras menyucikan jiwa-jiwa. Semboyannya ialah: “Memikul penderitaan untuk diri sendiri dan tidak membuat orang lain menderita”. Kebaktiannya yang mendalam kepada Hati Yesus yang MahaKudus membuat hatinya sendiri tetap tenang sampai hari kematiannya di Paris pada tanggal 21 Mei 1865. Sampai wafatnya, ia telah mendirikan lebih dari 100 biara dan sekolah di 12 negara.


Santo Beda, Pengaku Iman dan Pujangga Gereja


Beda, yang bergelar “Venerabilis” lahir di Inggris kira-kira pada tahun 672. Pada usia 7 tahun, ia masuk biara Benediktin di Wearmouth, Inggris Utara di bawah pemimpin Abbas Benediktus Biscop. Kemudian, dari sana ia dipindahkan ke biara Santo Paulus di Jarrow sambil mengadakan kunjungan-kunjungan singkat ke Lindisfarne dan York.


Kesucian, kepandaian dan kehalusan budinya membuat banyak orang tertarik kepadanya, dan rela menjadi muridnya. Hidupnya dipusatkan pada Ofisi Suci, studi, mengajar dan menulis. Dalam bidang studi, mengajar dan menulis, ia jauh lebih unggul daripada rekan-rekannya yang lain. Berbagai pokok iman ditulisnya dan dipelajari di biara-biara. Pengaruhnya terasa sekali dalam sekolah-sekolah biara pada abad pertengahan. Buku-bukunya di pakai sebagai buku standart bagi pendidikan di biara-biara. Ia menulis berbagai buku ilmu pengetahuan antara lain: Fisika, sebuah buku tentang Waktu/Tarikh. Ia mempopulerkan ide penanggalan peristiwa-peristiwa sebelum dan sesudah Masehi, meskipun beliau bukanlah pencetusnya.


Karyanya yang terbesar ialah komentar-komentar tentang Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Beliau sendiri menganggapnya sebagai sumbangan yang terbesar bagi Gereja. Pendekatannya terhadap Kitab Suci umumnya bersifat allegoris, walaupun ketika itu ia menempatkan tafsiran allegoris dan literal secara sejajar. Karyanya di warnai oleh ortodoksinya dalam teologi dan dalam penggunaan bahasa latinnya yang klasik. Dalam penggunaan sumber-sumber untuk buku-bukunya, ia menambahkan komentar-komentarnya dan penelitiannya sendiri, sehingga karya-karya teologisnya tidak semata-mata merupakan kompilasi tetapi merupakan ungkapan pikiran dan kepribadiannya. Santo Beda dikenal sebagai pintu masuk dalam sejarah Gereja Inggris. Ia adalah kebanggaan orang Katolik Angosakson dan satu-satunya Sarjana Gereja yang berkebangsaan Inggris. Karya-karyanya yang cermelang tentang Ilmu Pengetahuan dan tentang Kitab Suci membuat dia digelar sebagai Pujangga Gereja. Ia meninggal dunia pada tahun 735.


Santa Maria Magdalena de Pazzi, Perawan


Maria Magdalena lahir di Florence pada tanggal 2 April 1566. Maria adalah anak tunggal dari sebuah keluarga terkemuka di kota yang makmur dan indah itu. Semasa mudanya, tingkah lakunya menampakkan suatu keistimewaan. Ia berbudi halus dan memiliki pikiran yang tajam. Pada umur 10 tahun, pada pesta Khabar Malaikat ia menerima komuni pertama dan oleh bapa pengakuannya ia diperbolehkan menerima Komuni Suci setiap hari. Hal ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Ia selalu memberitahukan orang tuanya apabila ingin mengikuti perayaan Misa Kudus. Kebiasaannya ini lama kelamaan melahirkan dalam dirinya keinginan untuk mempersembahkan diri seutuhnya hanya kepada Yesus. Ia ingin hidup demi Yesus saja.


Keputusan ini sungguh mengecewakan orangtuanya. Karena dengan demikian keluarga bangsawan itu tidak akan mempunyai keturunan. Meskipun demikian kedua orangtuanya patuh pada kehendak Allah. Mereka yakin bahwa Tuhan mempunyai rencana yang baik pada mereka. Pada tahun 1582 Magdalena masuk biara Karmel “Maria Ratu para Malaikat”. Mangdalena sengaja memilih biara ini karena ia tahu bahwa di sana ia dapat menerima Komuni Suci setiap hari. Di dalam biara itu, Magdalena dengan sepenuh hati menaati semua peraturan biara dan menaati pemimpin biara. Ia memiliki keyakinan bahwa tak satupun peraturan dari tarekatnya tidak dikehendaki oleh Roh Kudus. Ia tidak suka mengecualikan dirinya dalam menjalankan tapa dan pantang, kecuali hal itu diperintahkan oleh Tuhan. Ia sering mengalami penglihatan ajaib dimana Yesus mengajarinya tentang kediaman Ilahi dalam hatinya demi menguatkan dia apabila dia ditimpa percobaan.


Suatu waktu datanglah berbagai cobaan dan sengsara menimpa dirinya. Selama lima tahun ia menanggung banyak penderitaan karena ditimpa berbagai macam jenis penyakit, siksaan batin yang berat dan lain-lainnya. Saat-saat itu, Magdalena benar-benar merasakan apa yang pernah dialami Yesus di atas Salib ketika Allah Bapa seolah-olah meninggalkan Dia. Tetapi Magdalena tetap dengan tabah menjalani dan menanggung semuanya itu. Semboyannya adalah: “Bukan kematian, melainkan penderitaan”. Memulihkan dosa-dosa, baik dosa pribadi maupun dosa-dosa seluruh umat manusia adalah cita-citanya yang utama. Sambil turut menanggung derita bersama Kristus, Magdalena ingin mengenakan pemulihan Penebus kepada manusia.


Ia tetap seorang suster yang rendah hati meskipun ia dianugerahi banyak karunia luar biasa. Pada pesta Pentakosta tahun 1590, malam gelap yang penuh penderitaan itu habis dan ia dipilih menjadi pemimpin novisiat hingga dua kali sampai dia diangkat menjadi pemimpin biara. Pada tahun 1607, Magdalena meninggal dunia setelah menderita penyakit yang berbahaya.


Disediakan dan dikemaskini oleh: Jonathan Fabian, Sabah Malaysia 

Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Bab 20

  Kitab Suci Katolik Perjanjian Lama (Kejadian) Abraham dan Abimelekh Bab 20 Kej 20:1 Lalu Abraham berangkat dari situ ke Tanah Negeb dan ia...