Mengenal Sakramen-sakramen Gereja Katolik.
Pendahuluan.
Sebagai pengikut Tuhan Yesus Kristus, kita haruslah memiliki kepercayaan terhadap keselamatan apa yang telah diajarkan oleh Gereja Katolik kita. Apa yang saya berikan disini hanyalah untuk membantu bagi mereka yang mahu menjawab segala persoalan hidup yang berkaitan rapat dengan pendapat orang lain. Sering kali saya mendengar bahawa terdapatnya orang-orang tertentu melibatkan diri dari segi perdebatan mengenai iman katolik. Saya juga telah mendapat maklum balas bahawa ajaran Gereja Katolik itu tidak berdasarkan kepada Alkitab Katolik. Ada yang menggunakan alkitab-alkitab mereka sebagai bahan bukti untuk menyokong ajaran mereka. Tradisi Suci dan Gereja Katolik sering kali dipertikaikan dan adanya menolak kuasa ajaran daripada Magisterium Gereja Katolik. Jika saya menilai kembali tanda-tanda zaman ini, saya berpendapat bahawa kita perlu tahu apa itu iman katolik sebenarnya. Ajaran-ajaran sesat sudah wujud sejak dari dahulu lagi. Mari kita lihat kembali ajaran-ajaran sesat ini yang boleh mengelirukan kita semua. Saya akan mengambil beberapa contoh yang cukup jelas disini mengapa Gereja Katolik kita melawan ajaran-ajaran sesat ini (bidaah) dan bagaimanakah ajaran Gereja Katolik kita itu dijelaskan secara benar.
Penjelasan mengenai ajaran-ajaran sesat (bidaah)
1. Ajaran sesat Arian (arianisme)
Arius adalah seorang imam Aleksandria. Dia mengajarkan bahwa Yesus bukanlah Tuhan Allah Sejati. Dia juga menyangkal keilahian Yesus. Untuk melawan ajaran sesat ini diadakan konsili ekumenis pertama iaitu konsili Nicea I tahun 325. Mari kita lihat tentang Syahadat Kaesarea ini. Syahadat ini dianjurkan oleh Eusebius dari Kaesarea dalam konsili Nicea I, kerana syahadat iman ini juga dipakai dalam Gerejanya berikut isi syahadat dari Kaesarea :
"kami percaya akan satu Allah,
Bapa yang mahakuasa,
Pencipta hal-hal yang kelihatan dan tak kelihatan:
Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Sang Sabda dari Allah,
terang dari terang,
hidup dari hidup,
Putera Allah yang Tunggal,
yang pertama lahir dari ciptaan,
dilahirkan dari Bapa,
sebelum segala abad,
segala sesuatu dijadikan oleh-NYA,
Ia menjadi daging untuk keselamatan kita,
dan hidup di antara manusia,
dan menderita,
dan bangkit lagi pada hari ketiga,
dan naik kepada Bapa,
dan datang lagi dalam kemuliaan,
untuk mengadili orang hidup dan mati;
kami percaya pula akan satu Roh Kudus."
Syahadat Eusebius kalau kita lihat memang ortodoks dan sesuai dengan ajaran Gereja. Tetapi Syahadat ini tidak secara tegas melawan bidah Arianisme (ajaran Arius). Oleh kerana itu, konsili Gereja Katolik telah memakai syahadat Eusebius sebagai dasar pembicaraan saja dan kemudian mencadangkan perbaikan dengan penambahan-penambahan pada syahadat dari Kaesarea. Berikut adalah rumusan dari Konsili Nicea I ini yang nampak jelas di dalam rumusannya tentang Yesus Kristus:
"Kami percaya akan satu Allah,
Bapa yang Mahakuasa,
pencipta segala Sesuatu,
yang kelihatan dan tak kelihatan,
Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah,
dilahirkan dari Bapa,
satu-satunya yang dilahirkan,
dari hakikat Bapa,
Allah dari Allah,
Terang dari terang,
Allah benar dari Allah benar,
dilahirkan, bukan dijadikan,
sehakikat degan Bapa,
segala sesuatu dijadikan Oleh-Nya,
segala sesuatu di surga dan segala sesuatu di bumi,
turun (dari sorga) untuk kita manusia,
dan untuk keselamatan kita,
dan menjadi daging,
menjadi manusia,
menderita,
dan bangkit pada hari ketiga,
naik ke surga,
dan untuk mengadili orang hidup dan mati.
dan akan Roh Kudus.
dan mereka yang berkata "ada saat Dia tidak ada"',
dan"sebelum dilahirkan Dia tidak ada",
bahwa" Ia menjadi ada dari yang tidak ada",
atau mereka yg mengatakan bahwa Anak Allah adalah
"dari substansi atau esensi lain",
atau "diciptakan",
atau "dapat berganti"',
atau "dapat berubah"',
merekalah yang dikutuk oleh gereja katolik dan Apostolik."
Syahadat perbaikan tersebut diatas selanjutnya disebut di Syahadat dari Nicea.
2. Ajaran sesat Macedonius
Ajaran Macedonius ini melawan dan menyangkal keilahian Roh Kudus sehingga diperlukan pengertian yang khusus terutama apa yang telah dibahas pada konsili
Konstantinoel iaitu pada tahun 381. Dan kemudian diselenggarakan untuk melawan Bidaah Macedonius ini. Berikut adalah keputusan sidang di konsili Konstantinopel tentang syahadat.
"Kami percaya akan satu Allah,
Bapa yang Mahakuasa,
pencipta langit dan bumi,
dan segalasesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan;
Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah yang Tunggal,
dilahirkan dari Bapa,
sebelum segala abad,
Terang dari terang
Allah benar dari Allah benar,
dilahirkan,
bukan dijadikan,
sehakikat dengan Bapa,
segala sesautu dijadikan oleh-Nya,
yang turun dari sorga untuk kita manusia,
dan untuk keselamatan kita,
dan menjadi daging oleh Roh Kudus,
dari Perawan Maria,
dan menjadi manusia,
dan disalibkan waktu ponsius Pilatus,
dan sengsara,
dan dimakamkan,
dan bangkit pada hari ketiga menurut kitab suci,
naik ke surga,
dan duduk disisi kanan Bapa,
dan akan datang kembali dengan mulia,
dan untuk mengadili orang hidup dan mati,
Kerajaan-Nya tak akan berakhir;
Dan akan Roh Kudus,
Tuhan dan pemberi Hidup,
Yang berasal dari Bapa,
Yang bersama Bapa dan Putra disembah dan dimuliakan,
Yang bersabda dengan perantaraan para nabi:
Akan gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolic;
Kami mengakui satu pembaptisan,
akan pengampunan dosa,
Kami menantikan kebangkitan orang mati,
Dan hidup di akhirat.
3. Ajaran Sesat Nestorius
Nestorius adalah seorang uskup dari Konstantinopel. beliau
mengajarkan bahwa Yesus memiliki 2 kodrat dan 2 peribadi iaitu Allah dan
manusia. Ajaran nestorius ini ditentang keras oleh Cyrilius seorang uskup dari
Aleksandria. Konsili Efesus berhasil menyelesaikan perselisihan dan salah faham ini dan mengutuk ajaran Nestorius dan membenarkan ajaran Cyrilius.
Konsili Efesus ini telah menekankan akan kesatuan Peribadi Yesus. Dan juga
konsili ini menyetujui apa yang telah dirumuskan dalam konsili-konsili
sebelumnya.
4. Ajaran Sesat Eutyches
Eutyches mengajarkan bahwa kedua Kodrat Yesus itu, Allah dan
manusia tercampur dan tidak berbeza-beza. Untuk melawan ajaran Eutyches ini maka
diadakanlah konsili Kalcedon, iaitu pada tahun 451. Konsili ini mengambil
keputusan tegas untuk meyingkirkan semua ajaran sesat dan menegaskan kembali
iman yang benar. Dimana konsili ini menegaskan bahwa kodrat keallahan dan
kemanusiaan Yesus tetap berbeza. Yesus adalah sungguh-sungguh Allah dan
sungguh-sungguh manusia. Dalam konsili Kalcedon inilah secara resmi disahkannya
syahadat iman yang terkenal dengan Syahadat Niceani atau lebih dikenal dengan
Syahadat Nicea-Konstantinopel (syahadat panjang). Tetapi nama resminya adalah syahadat
Niceani.
"Kami (Aku) percaya akan satu Allah,
Bapa yang Mahakuasa,
pencipta langit dan bumi,
dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan;
Dan akan satu Tuhan Yesus Kristus,
Putra Allah yang Tunggal
Ia lahir dari Bapa,
sebelum segala abad,
Allah dari Allah,
Terang dari terang
Allah benar dari Allah benar,
Ia dilahirkan, bukan dijadikan,
sehakikat dengan Bapa,
segala sesuatu dijadikan oleh-Nya,
Ia turun dari sorga,
untuk kita manusia,
dan untuk keselamatan kita,
dan Ia menjadi daging oleh Roh Kudus,
dari Perawan Maria,
dan menjadi manusia,
Ia pun disalibkan untuk kita
waktu Ponsius Pilatus.
Ia wafat kesengsaraan dan dimakamkan,
pada hari ketiga Ia bangkit,
menurut kitab suci.
Ia naik ke surga,
duduk disisi kanan Bapa,
Ia akan datang kembali dengan mulia,
mengadili orang hidup dan yang mati,
Kerajaan-Nya tak akan berakhir;
Kami (Aku) percaya akan Roh Kudus
Ia Tuhan yang menghidupkan
Ia berasal dari Bapa dan Putera,
Yang serta Bapa dan Putera,
disembah dan dimuliakan.
Ia bersabda dengan perantaraan para nabi,
Kami (Aku) percaya akan gereja,
yang satu, kudus, katolik dan apostolic.
Kami (Aku) mengakui satu pembaptisan,
akan pengampunan dosa.
Kami (Aku) menantikan kebangkitan orang mati
dan hidup di akhirat
amen.
Terdapatnya penambahan pada rumusan "Allah dari Allah" sebelum terang dari terang (diambil dari konsili Nicea) dan penambahan "Putra" pada rumusan "Ia berasal dari Bapa" pada bahagian rumusan tentang roh Kudus. Ini terjadi sejak Konsili Toledo tahun 589. Dan berikut adalah hasil akhir daripada Syahadat Panjang.
Sakramen.
Kata sakramen berasal dari bahasa Latin Sacramentum, iaitu hal-hal yang berkaitan dengan yang kudus atau yang ilahi. Sakramen juga bererti tanda keselamtan Allah yang diberikan kepada Manusia.
"Untuk mengkuduskan manusia, membangun Tubuh Kristus dan akhirnya mempersembahkan ibadat kepada Allah"(SC 59).
Karena Sakramen sebagai tanda dan sarana keselamatan, maka menerima dan memahami sakramen hendaknya ditempatkan dalam kerangka iman dan didasarkan kepada iman. Sakramen biasanya diungkapkan dengan kata-kata dan tindakan. Maka sakramen dalam Gereja Katolik mengandung 2 (dua) unsur hakiki yaitu :
Dalam Gereja Katolik terdapat 7 sakramen iaitu :
- Sakramen Baptis
- Sakramen Ekaristi
- Sakramen Tobat
- Sakramen Krisma
- Sakramen Perkahwinan
- Sakramen Pengurapan Orang Sakit
- Sakramen Imamat
1. Sakramen Baptis / Permandian
Baptisan dan hidup baru.
Banyak orang Protestan mengatakan dan percaya bahwa Sakramen Pembaptisan hanya sebuah simbol. Dalam Gereja Katolik Sakramen Pembaptisan tidak hanya sebagai simbol tetapi adalah sebuah sakramen. Sakramen Pembaptisan (menurut Gereja Katolik) membuat kita lahir baru. Dasar kitab suci dari ajaran tentang Sakramen Pembaptisan ini cukup banyak antara lain:
Injil Santo Yohanes 3:5 "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah" pada ayat ini Yesus menekankan pentingnya Babtis sebagai jalan untuk masuk dalam Kerajaan Allah.
Dan di dalam Kis 2:38 Santo Petrus mengatakan "Bertobatlah dan
hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus
Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh
Kudus." Santo Petrus menekankan perlunya Sakramen Pembaptisan untuk pengampunan dosa dan
syarat untuk menerima karunia Roh Kudus.
Santo Paulus di dalam Titus 3:5 "pada waktu itu Dia telah
menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi
karena rahmat-Nya oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang
dikerjakan oleh Roh Kudus" lalu dalam Kis 22:16 "Dan sekarang,
mengapa engkau masih ragu-ragu? Bangunlah, berilah dirimu dibaptis dan
dosa-dosamu disucikan sambil berseru kepada nama Tuhan!"
Dari beberapa ayat diatas jelaslah bahwa Sakramen Pembaptisan bukan
hanya sebuah lambang atau simbol (jikalau itu simbol untuk apa Para Rasul
menekankan perlunya Sakramen Pembaptisan) tetapi Sakramen Pembaptisan memang membuat kita lahir baru,
karena Sakramen Pembaptisan itu berhubungan erat sekali dengan Roh Kudus yang membuat kita
lahir baru. Bila kita perhatikan di dalam Injil Santo Yohanes 3:5 "Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak
dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah" kata "air dan Roh"
(Pembaptisan dan Roh Kudus) memiliki suatu hubungan erat yang tidak dapat
dipisahkan. Hubungan yang erat antara Pembaptisan dan Roh Kudus yang tidak terpisahkan inilah yang membuat kita memperoleh hidup baru pada saat kita
dibaptis karena hubungan yang erat antara Roh Kudus dan Pembaptisan sehingga
ketika Santo Paulus berbicara mengenai pembaptisan ia tidak menyebut Roh Kudus
"Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam
Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah
dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama
seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa,
demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru." (Roma 6:3-4).
Sakramen Pembaptisan bukan perbuatan manusiawi belaka tetapi pembaptisan adalah
tanda dan sarana Rahmat Allah (iaitu kelahiran/hidup baru) dimana Allah
berkarya melalui para pelayan (Imam, Diakon, dan lain) yang melakukan pembaptisan. Jadi Sakramen Pembaptisan adalah karya Allah sendiri yang mencurahkan Roh Kudus-Nya. Sakramen Pembaptisan tidak dapat
dibezakan/dipisahkan dari Iman kepada Yesus dan dari Pencurahan Roh Kudus. Sakramen Pembaptisan merupakan perwujudan iman seseorang kepada Yesus dan Iman itu
berhubungan dengan pencurahan Roh Kudus (sila rujuk 1 Kor 12:3) "Karena
itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh
Roh Allah, dapat berkata: "Terkutuklah Yesus!" dan tidak ada
seorangpun, yang dapat mengaku: "Yesus adalah Tuhan", selain oleh Roh
Kudus."
Dari uraian diatas jelaslah bahwa Sakramen Pembaptisan bukan hanya sebuah
simbol tetapi benar-benar membuat kita lahir baru karena peranan dari Roh Kudus
yang membuat kita lahir baru di dalam pembaptisan. Oleh karena hal itulah Santo Petrus menegaskan perlunya Sakramen Pembaptisan bagi keselamatan "Juga kamu sekarang
diselamatkan oleh kiasannya (kiasannya=air bah {lihat ayat sebelumnya untuk
lebih jelas}), iaitu baptisan--maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan
jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah--oleh
kebangkitan Yesus Kristus" (1 Pet 3:21)
Setelah berbicara banyak mengenai Hakekat Pembaptisan yang membuat kita lahir baru, ada baiknya kita membahas mengenai masalah Pembaptisan cara selam ini. Pembaptisan selam dalam
gereja Pantekosta dimutlakkan dan mereka terkadang (tidak semuanya)
mengatakan pembaptisan selain cara selam tidak sah.
Dan secara umum terkadang mereka mengajukan bukti dari Matius 3:16
"Yesus segera keluar dari air" kata "keluar dari air"
menurut mereka bererti Yesus sebelumnya berada di dalam air. Menurut Gereja Katolik kita kata
"keluar dari air" tidak menunjukkan berapa banyak bahagian tubuh yang
terendam (yang menarik bahwa lukisan kristen kuno tentang pembaptisan
Yesus pada Katakombe dan lain-lain pada zaman yang dekat dengan zaman para rasul
digambarkan bahwa Yesus masuk ke air hanya paras lutut).
Yang agak rumit disini adalah pembahasan dari kata Babtizo (kata Yunani untuk membaptis) yang menurut mereka bererti "menenggelamkan sesuatu dalam air". Sebenarnya kata Babtizo memiliki beberapa erti iaitu "menenggelamkan" dan erti yang lain "mencelupkan". Ada hal yang menarik bahwa di dalam Injil Santo Lukas 11:38 "Orang Farisi itu melihat hal itu dan ia heran, karena Yesus tidak mencuci tangan-Nya sebelum makan" kata "Mencuci" dalam Lukas 11:38 dalam bahasa Yunani babtizo tetapi dalam hal ini tentu bukan kata menenggelamkan, tetapi mungkin hanya mencelupkan (dalam tradisi yahudi ada tempayan yang digunakan untuk pembasuhan sebelum makan) tetapi rasanya tidak beretika dan tidak bersih jika seseorang mencelupkan tangannya (yang kotor) ke dalam tempayan itu (sementara tempayan itu digunakan untuk pembasuhan tidak hanya untuk satu orang) tentunya orang akan mengambil gayung dan mengambil air dari tempayan itu lalu mengucurkannya ke tangan. Jadi jelaslah penggunaan kata "babtizo" sangat fleksibel tidak hanya menenggelamkan.
Oleh karena itu Tradisi Baptis Kristen sangat
fleksibel (tidak hanya dengan diselam saja) berikut kesaksian dari Dokumen 12
Rasul (berasal dari abad II M) mengatakan bahwa jika tidak ada air yang cukup
untuk membaptis maka pembaptisan dengan pengucuran airpun adalah sah. Hal itu
juga ditegaskan dalam dokumen Didache (sekitar tahun 100 Masehi) yang berisi
hal yang sama dan juga pernyataan dari Santo Agustinus. Dan untuk pengetahuan bahawa gereja Protestan yang termasuk aliran utama (Lutheran, Calvinis) menggunakan
cara Pembaptisan mirip seperti Katolik. Kita tahu kitab suci tidak memberikan
petunjuk yang jelas dengan cara apakah Para Rasul membaptis (apakah dengan cara
selam, dibasuh, atau dengan cara lain) tetapi kesaksian Santo Yustinus Martir bahwa
pembaptisan dilakukan dengan cara "masuk ke air" dan menurut banyak
sejarah Gereja, pembaptisan dilakukan dengan cara menenggelamkan orang dan ini
merupakan cara Pembaptisan pada Gereja perdana yang akhirnya berevolusi menjadi
Ritus yang lebih sederhana. Cara (Ritus) apapun yang digunakan untuk
pembaptisan tetap tidak mengubah hakekat Sakramen Pembaptisan, bahkan menurut
informasi di beberapa Gereja Katolik di Amerika terdapat "kolam"
untuk membaptis.
Penjelasan daripada Konsili Vatikan II mengenai keselamatan tanpa Sakramen Pembaptisan.
Di dalam Dokumen Konsili Vatikan II Lumen Gentium No 16 dikatakan bahwa "Mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan tulus hati mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal." Apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik kita ini melalui Dokumen Konsili Vatikan II adalah untuk menjelaskan bahawa Tuhan itu kasih dan melalui ciptaanNya kita boleh mengenal betapa baiknya kasih Allah terhadap manusia. Dan jika kita melihat sekilas pandang ajaran dari Dokumen Konsili Vatikan II Lumen Gentium No 16 bertentangan dengan 1 Tim 2:5 "Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, iaitu manusia Kristus Yesus". Tetapi ajaran Konsili Vatikan II menegaskan bahwa mereka "yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus" boleh diselamatkan karena Yesus menjadi tebusan bagi semua orang (lihat Mat 20:28; Mrk 10:45; 1Tim 2:6). Ajaran Konsili Vatikan II juga tidak bertentangan dengan Mrk 16:15 dan Yoh 3:18 karena menurut pendapat daripada Gereja Katolik kita, Mrk 16:15 dan Yoh 3:18 tidak perlu ditafsirkan secara harafiah dalam erti yang tepat.
Dan kedua daripada ayat itu menekankan tentang perlunya iman dan Pembaptisan agar orang dapat selamat. Namun bagi "yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus" haruskah mereka juga dihukum? Ajaran Konsili Vatikan II ini juga tidak mengakui bahwa semua agama itu sama dan Gereja Katolik merasa perlu untuk mewartakan Injil Tuhan dan kita wajib memperkenalkan Yesus Kristus yang adalah Jalan, Kebenaran dan Kehidupan dan Gereja Katolik sendiri memiliki kepenuhan cara-cara keselamatan (lihat Redemptoris Missio 55, Ensiklik Evangelii Nuntiandi, dokumen Konsili Vatikan II Digitatis Humanae 14, Ad Gentes 6 dan 7). Oleh karena itulah Gereja Katolik kita tidak pernah melupakan perutusan agung yang diberikan Yesus Kristus kepada kita semua "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Mat 28:19-20). Daripada petikan Injil Santo Matius ini 28:19-20 menjelaskan bahawa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan yang pasti dan singkat untuk menuju dan masuk ke Rumah Allah Bapa di Syurga.
Bahan rujukan:
1. Alkitab Katolik
2. Dokumen Konsili Vatikan II
3. Katekismus Gereja Katolik
Jonathan💞Joanne (Penampang💓Papar)
Pelayan Atasan Tertinggi / Most High Servant,
Yesus, Maria, Yusuf Pelayanan Kasih / Jesus, Mary, Joseph Ministry of Love
(Blessed and Saints and the Nine Choirs of Angels)
My vocation is Blessed and Saints.
"I am the most humble of all the Saints in Heaven" Mary, Mother of God.
"I am the handmaid of the Lord, said Mary ‘let what you have said be done to me."
Mother Mary is the most humble Saint in Heaven and she is also the Mother of God for us all
(Luke 1:38)
No comments:
Post a Comment